LOMSER..HURRY UP!

 

Kisah ini terjadi tahun 1995-1996 yang lalu. Sebagai seorang karyawan yang berprofesi sebagai Office Boy atau CS (Cleaning Service) yang di perusahaan tempat aku bekerja disebut “Janitor”, aku harus selalu siap kalau ada staf atau karyawan yang lain memintaku untuk mengerjakan sesuatu atau membantu mereka sekitar pekerjaan kantor.

 

Pekerjaan utamaku sebagai seorang Janitor adalah membersihkan kantor mulai dari ruangan-ruangan kantor, koridor sampai membersihkan WC. Juga menyediakan kopi atau teh, air minum dan kertas photo copy. Selain mengerjakan pekerjaan tersebut, aku juga sering diminta untuk membantu photo copy, mengantar surat, menyusun file/drawing, dll yang bersifat clerical job.

 

Tersebutlah seorang perempuan bernama ibu SM yang bekerja sebagai Front Officer di kantor itu. Ibu SM ini meski sudah tua tapi masih terlihat cantik dan energic. Jika para bosses ada yang menyuruh dia untuk mengerjakan sesuatu maka dia akan bereaksi extra cepat. Dia selalu ingin memberi the best service kepada semua orang dalam hal ini Client Representative, dimana kantor ini memang disediakan khusus untuk mereka.

 

Para boss-boss itu kalau menginginkan sesuatu misalnya untuk photo copy, mengantar surat, atau butuh kopi/teh/softdrink, tissue kotak, dan lain sebaginya, biasanya mereka menyampaikannya kepada ibu SM. Dan sudah pasti ujung-ujungnya instruksi ini jatuhnya kepadaku juga sebagai “executor”.

 

Karena aku kerja rangkap-rangkap maka sering sekali kalau ibu SM ini membutuhkan aku, tidak selalu ada di hadapan dia secepat yang ia inginkan, sementara dia maunya selalu extra cepat. So, tidak mengherankan kalau dia selalu memanggil aku minimal dua kali. Yang pertama “Lomser…” lalu kalau saya sudah jawab “ya. bu” maka akan disusul dengan panggilan kedua “Lomser…hurry up!”.

 

Sangat seringnya ibu SM ini memanggil aku dengan cara seperti itu, maka panggilan ini menjadi “istilah’ atau “trade mark” untuk memanggil aku. Jadi sepanjang proyek berlangsung yang kurang lebih 2 tahun itu, setiap orang yang memanggilku “Lomser..Hurry Up!”. Sungguh aneh.!!

 

 

chalk-batman-rescue

PERBEDAAN

Kelompok A mempunyai pandangan yang hampir mirip dengan kelompok B, sedang kelompok C tidak. Lalu kelompok A dan kelompok B bersepakat untuk menghabisi si kelompok C. Dan hal itupun terjadi.

Mirip bukan berarti sama. Rupanya perbedaan sedikit diantara kelompok A dan B membawa mereka pada suatu konflik yang kemudian berujung pada kematian kelompok B. Dan tinggallah kelompok A.

Rambut boleh sama hitam, tapi hati siapa tahu ? Rupanya hal  ini menjadi nyata di dalam tubuh kelompok A. Orang-orang yang didalam kelompok itupun memiliki perbedaan pandangan. Terjadilah konflik dan kekacauan yang ternyata jauh lebih parah dari pada ketika kelompok mereka (A) berusaha menghabisi kelompok lain (B) dan  (C).

 

 

Pesan :

Kalau kita tidak mau menerima perbedaan maka kita tidak akan pernah ada kedamaian.

Perbedaan bukan berarti pemisahan, bukan berarti menjadi akhir dari kebersamaan. Masih ada Musyawarah untuk mufakat.

 

Agt.03 – Salam Damai Indonesiaku.

Lomser Hutabalian

Orang dan Orang Utan

Membaca Intisari edisi Desember 2003 tentang orang utan, saya agak terkesima. Tulisan yang berjudul “Cerita saudara tua kita” itu menjelaskan banyaknya kesamaan antara orang (manusia) dengan orang utan.  Beberapa kesamaan itu antara lain : Tulang, gigi dan bulu sama banyaknya dengan manusia. Walau bulu orang utan kelihatan lebat bukan karena lebih banyak dari manusia melainkan hanya karena lebih panjang. Orang utan juga sering menangis, merengek,  dan mempunyai masa kehamilan sama seperti manusia. Begitu juga dengan data kesamaan DNA yang mencapai 98,7 %.

 orang-utan

Sifat dan kebiasaan terpuji yang dimiliki oleh manusia ternyata juga dimiliki oleh orang utan. Hanya saja sifat dan kebiasaan terpuji  itu masih tetap lestari pada orang utan, sedangkan pada manusia sifat-sifat itu sudah hampir-hampir punah. Malahan kecenderungan sifat manusia jaman sekarang ini sudah terbalik dari sifat-sifat terpuji yang pernah dimiliki.

 

Menurut penelitian, sifat-sifat terpuji yang dimiliki oleh orang utan yaitu : Anti konflik, Sosialis, Solider, menghargai dan mengasihi. Sementara pada manusia sifat-sifat seperti diatas sudah jarang dan sulit ditemukan pada zaman ini. Manusia justeru cenderung menciptakan konflik, Sosial rendah, tidak menghargai bahkan cenderung menginjak-injak hak azasi orang lain,  tidak ada iba melihat orang-orang yang melarat dan yatim-piatu, bahkan juga sering kita dengar bantuan sosial kepada masyarakat kecil, yang mengalami bencana dananya disunat dan hanya sebagian kecil yang sampai kepada orang yang seharusnya berhak.

 

Melihat kenyataan diatas maka timbullah suatu pertanyaan :

Lebih manusiaan mana antara orang dengan orang utan  ?

Atau

 Lebih binatangan mana antara orang dengan orang utan  ?

  

Des.03

Lomser Hutabalian

MENCINTAI-MU SELAMANYA.

 

Inilah kerinduanku Tuhan

Aku dapat mencintai-Mu selamanya

Sungguh…Tuhan

Aku rindu ‘tuk mencintai-Mu selamanya

 

Siramilah Tuhan

Benih kasih yang telah Kau tanam

Siramilah dengan kuasa Roh Kudus-Mu

 

Pupuklah Tuhan

Benih cinta yang telah Kau tumbuhkan

Pupuklah dengan kuasa firman-Mu

 

Bantu aku Tuhan ‘tuk menyalibkan keinginan duniawiku

Supaya aku hidup untuk segala keinginan-Mu

Memancarkan sinar kemulian-Mu

Hingga menembus setiap mata rohani dunia yang buta.

 

Sungguh,

Adalah kerinduanku Tuhan

‘Tuk dapat mencintai-Mu

Selamanya

 

Hutabalian72

DI BALIK JATUHNYA YERIKHO

DI BALIK JATUHNYA YERIKHO

 

 

Kisah jatuhnya kota Yerikho ke tangan orang Israel tidak terlepas dari kerja sama yang baik diantara elemen yang ada di bangsa itu. Walaupun  sangat mudah bagi Allah untuk meluluh lantakkan kota Yerikho tanpa orang Israel berbuat apa-apa tapi hal itu tidak dilakukan oleh Allah. Allah menghendaki mereka memiliki andil dengan bertindak sebagai bukti kepercayaan mereka kepada perintah Tuhan. 

 

Allah memerintahkan mereka untuk mengedari kota itu, membawa serta Tabut Perjanjian, membunyikan sangkakala dan bersorak dengan nyaring. Kalau kita lihat sebenarnya, logika atau dalil-dalil tidak dapat menerima apabila hanya karena mengitari tembok itu, membunyikan sangkakala dan bersorak, dapat meruntuhkan tembok itu yang sangat besar itu. Jelas dalam hal ini ada campur tangan Allah. Tanpa campur tangan Allah tentu tembok dan kota itu tidak akan dapat dikuasai oleh orang Israel.

 

Adapun elemen yang dipakai oleh Tuhan menurut yang tertulis di kitab Yosua 6 adalah :

1.       Prajurit

2.       Imam-imam

3.       Seluruh bangsa (umat)

 

Keterlibatan semua elemen untuk meruntuhkan tembok Yeriko dalam konteks jaman ini dapat menggambarkan kerjasama dan keterlibatan semua elemen yang ada di gereja Tuhan. Tuhan mau memakai semua elemen dan talenta yang ada untuk mendukung misi Allah.

 

Lebih jelas formasi yang diperintahkan Yosua sesuai dengan pentunjuk Allah untuk mengitari kota Yeriko adalah orang bersenjata (prajurit), kemudian di ikuti oleh imam-imam yang membawa sangkakala, lalu dibelakangnya ada tabut perjanjian (juga dibawa oleh imam –ayat 12), dan yang terakhir adalah barisan penutup (Ayat 6-9). Formasi ini sangat cocok dengan model pelayanan baik di dalam pengembangan gereja/pelayanan yang sudah ada, maupun dalam penginjilan untuk menjangkau jiwa-jiwa baru bagi Tuhan.

 

Orang bersenjata adalah para penginjil/pekerja-pekerja perintis, imam-imam adalah hamba-hamba Tuhan yang dipercaya menggembalakan dan menyuarakan (meniup sangkakala) suara Tuhan, Tabut adalah gambaran Yesus yang diberitakan sekaligus menjadi lambang kehadiran dan penyertaan Allah, sedangkan yang terakhir adalah barisan penutup mengacu pada jemaat yang menerima pengajaran firman dan sekaligus menjadi penopang kebutuhan tenaga dan/atau financial pelayanan.

Melalui kerjasama yang baik dan saling mendukung diantara semua elemen yang ada di tengah-tengah gereja Tuhan, sesuai dengan panggilan dan talenta masing-masing, pekerjaan Tuhan yang besar akan dapat dilakukan. Dan karena yang dilakukan adalah misi Tuhan dan oleh karena kehadiran Tuhan yang dilambangkan dengan Tabut Perjanjian akan selalu menyertai, maka pekerjaan yang dahsyat akan terjadi seperti peruntuhan tembok Yeriko.

 

Tuhan memberkati.

Lomser Hutabalian

KENAIKAN-NYA UNTUK KEPENTINGAN KITA

Kis. 1:9-11 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

Kenaikan Yesus Kristus merupakan satu kejadian dari satu paket proses penyelamatan manusia. Proses kenaikan ini tidak dapat dipisahkan dari yang lain yaitu kelahiran, kematian dan kebangkitan.

Yesus berasal dari kemulian dan kekekalan
– Lahir ke dunia sebagai bukti kerendahan hati
– Mati di kayu salib sebagai bukti kasih
– Bangkit dari kubur sebagai bukti kuasa yang mengalahkan kematian
– Naik ke sorga sebagai bukti kuasa yang menyempurnakan dan
Kembali kepada kemuliaan dan kekekalan.

Ada yang menarik dengan kehadiran Malaikat dalam peristiwa penting pada Yesus

  • Dua (orang berpakaian putih) – Malaikat pada kenaikannya
  • Dua orang Malaikat pada waktu kebangkitannya (Yoh.20:11-13)
  • Ada Malaikat pada masa kelahirannya (kpd maria, gembala, orang majus)
  • Patung dua Malaikat di Tabut Perjanjian, dimana Tabut adalah tipology Kristus.

TETAPI tidak ada Malaikat pada saat kematianNya. Dan Yesus mengatakan: “Eli, Eli, lama sabakhtani”

Kenaikan menjadi bukti kuasa yang menyempurnakan karena dengan kenaikan ini Yesus kembali ke tempat dari mana Dia berasal. Dia kembali ke Surga dan menyempurnakan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan kita yaitu keselamatan yang kekal, dan pertolongan selama masih di dunia.

Ibrani 9:24 “Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.”

Ia harus naik ke surga untuk menyempurnakan pekerjaan-Nya. Ia sendiri menyempurnakan pekerjaan-Nya di Surga dan ia mengutus Roh Kudus untuk menyempurnakan kehidupan kerohanian manusia supaya layak masuk di dalam kesempurnan-Nya di sorga.

Apa yang dilakukan Kristus dalam hal ini?

1. Mengutus Roh Kudus.

Supaya kita dapat menerima semua pekerjaan Kristus yang sempurna yaitu keselamatan, berkat rohani dan berkat jasmani, kita harus disempurnakan oleh Roh Kudus. Kita harus menerima Roh kudus karena Roh Kudus menjadi jaminan bagi kita untuk memperoleh seluruh karya Allah yang sempurna.

Efesus 1:14 “Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya”.

Kis. 2:33 “Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.”

Roh Kudus adalah penolong, penuntun kepada seluruh kebenaran dan materai dari penebusan yang dikerjakan oleh Kristus

2. Menyediakan Tempat

Yohanes 14:2-3 “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”

Tuhan tahu bahwa yang terbaik bagi kita adalah bukan tinggal di dunia ini, melainkan melainkan dalam keabadian di Surga. Anda bisa search di google, atau cari dimana saja di seluruh jagad ini, bila anda menemukan tempat yang luar biasa hebat, atau tahta yang sangat agung, maka ingatlah, tempat yang disediakan Tuhan tidak bisa dibandingkan dengan semua itu.

2. Memenuhkan segala sesuatu dengan pemberian-pemberian.

Efesus 4:8-10 ”Itulah sebabnya kata nas: “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia. Bukankah “Ia telah naik” berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.”

Artinya Yesus tahu segala sesuatu apa yang ada diatas juga segala sesuatu yang ada di bumi. Dia tahu keperluan kita, Dia tahu kepentingan kita bukan hanya kepentingan kita disorga tetapi juga kepentingan kita di bumi. Dan Dia mau memenuhi seluruh kepentingan kita itu.

MENGENAL DIA DAN KUASA KEBANGKITANNYA

Filipi 3:10-11 “ Yang kekehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Bagian firman Tuhan dari suratan rasul Paulus kepada jemaat di Filipi ini merupakan pernyataan yang memberi kepastian tentang kebenaran yang sejati kepada jemaat di Filipi. Disini juga rasul Paulus memproklamirkan perubahan yang terjadi kepada dirinya setelah ia mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Bahwa ia yang dulunya adalah Saulus telah menjadi Paulus, Si Jahat yang telah bertobat, seorang ahli Taurat dan Farisi yang keras menjadi rasul yang lemah lembut.


Pertobatan Paulus terjadi saat ia membawa misi untuk menghancurkan pengikut Kristus. Dalam perjalanannya ke Damsyik, Yesus menyatakan diri kepada Paulus dengan cahaya yang memancar dari langit mengelilingi dia dan suara yang berkata “ Saulus, Saulus mengapakah engkau menganiaya Aku?” Disinilah terjadi pertobatan Paulus, dan pertobatan ini telah mengubah seluruh jalan hidupnya kemudian.


Dalam firman Tuhan ini rasul Paulus membuka “rahasia” keberhasilannya menjalani hidup yang berkenan kepada Allah (Ayat 11) yaitu “mengenal Dia dan kuasa Kebangkitan-Nya”.


MENGENAL DIA DAN KUASA KEBANGKITANNYA.


Saya percaya bahwa pengenalan kita akan Allah akan mempengaruhi jalan pikiran dan tindakan-tindakan kita dalam hidup kita. Orang yang tidak mengenal Tuhan akan menjalani kehidupan yang bertentangan dengan kebenaran Tuhan. Seberapa besar pengenalan kita akan Tuhan, maka sebesar itulah kita dapat berpikir, beriman dan mengalami kuasa Tuhan dalam hidup kita.

Misalnya, saya mengenal seorang kaya yang baik hati. Dia bukan saja baik hati tapi dia sangat mengasihi orang lain dan perduli kepada sesamanya. Dia selalu terbuka untuk menolong orang lain semampu dia lakukan. Tapi saya juga memiliki saudara yang kaya. Tapi saudara saya ini  sangat pelit dan selalu hitung-hitungan saat akan menolong orang lain. Dia menolong orang lain karena ia mengharapkan ada imbalan yang mengutungkan setidaknya imbalan yang setimpal. Nah.. Apabila suatu saat saya membutuhkan pertolongan, kepada siapakah saya lebih berani meminta pertolongan; kepada saudara saya yang pelit atau kepada orang lain yang baik hati. (Orang lain).Demikianlah kita mempunyai keberanian menghadap tahta Allah yang mulia, karena kita tahu betapa besar kasih-Nya bagi kita. (Ibrani 4:15-16).


Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, Ef. 1:17-19 dikatakan “dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh Hikmat dan Wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya; betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-nya  bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya.” Kita perlu mengenal dengan benar siapakah Yesus itu, kita perlu mengerti pengharapan yang kita miliki di dalam Yesus, dan mengalami betapa hebat kuasa-Nya bagi kita.


Mulai dari manusia yang pertama, Allah selalu berinisiatif menyatakan diri-Nya, menunjukkan Kasih dan Kuasa-Nya bagi umat manusia. Dan bagi kita jaman ini firman Tuhan yang tertulis menjadi sarana bagi kita untuk mengenal Dia dengan benar dan pernyataan Roh Kudus yang kita terima memberi hikmat bagi kita untuk mengenal dan mengalami kuasa-Nya yang hebat.


PENGHARAPAN APAKAH YANG TERKANDUNG DALAM PANGGILANNYA ?

.

1. Kita akan dibangkitkan pada akhir zaman.

Kebangkitan Yesus merupakan dasar iman kekristenan tentang keselamatan. Karena kematian Yesus tidak berarti apa-apa jika tidak ada kebangkitan. Kematian adalah puncak dari semua penderitaan dan siksaan. Kebangkitan Yesus menjadi pertanda bahwa Ia telah mengalahkan penderitaan dan kematian. Dia berkuasa atas kematian. Kuasa kebangkitan memberi harapan bagi kita yang percaya bahwa kita akan dibangkitkan pada akhir zaman saat Yesus datang kedua kali untuk menjemput milik kepunyaan-Nya yaitu kita orang percaya untuk menerima mahkota kehidupan yang kekal. (Yoh. 10:39-40). Kita memiliki janji yang pasti dari Tuhan.

2. Kita dijadikan ciptaan baru.

Kebangkitan berarti bahwa yang lama telah mati (terkubur). Ketika kita percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan kita, maka manusia lama kita telah terkubur dan kebangkitan-Nya menjadikan kita ciptaan baru. Ciptaan baru yang terjadi bukan menyangkut tubuh dan jiwa melainkan roh kita. Roh yang diciptakan kembali dalam diri kita adalah roh yang kudus dimana Allah yang kudus dapat berdiam di dalamnya, untuk menuntun dan menolong kita dalam menjalani kehidupan.

3. Penyertaan Tuhan sampai akhir zaman.

Dalam perjalanan hidup kita untuk menantikan hari Tuhan, kita masih akan menghadapi banyak tantangan karena kita masih tinggal di dunia ini. Kita tinggal di bumi yang sama, bersama orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Tetapi apapun tantangan yang diperhadapkan kepada kita, kita memiliki janji Tuhan Yesus bagi kita bahwa Ia akan menyertai kita sampai akhir zaman. (Mat. 28:20b). Penyertaan Tuhan akan memampukan kita untuk menghadapi tantangan dalam hidup kita. Penyertaan Tuhan juga akan memampukan kita melakukan tugas-tugas pelayanan kita walaupun kita menghadapi tantangan.

4. Kita menerima berkat jasmani dan rohani.

Dalam suatu penglihatan nabi Yehezkiel (Yeh. 48:30-35), Tuhan memperlihatkan suatu kota yang kudus. Disitu terdapat beberapa pintu gerbang yang di beri nama sesuai dengan nama kedua belas suku Israel. Dan kota disebut “Yehova-syamma” yang berarti ‘Tuhan hadir di situ.” Kota Kudus ini merupakan gambaran dari Yerusalem Baru (Wahyu 21:9-27), juga merupakan gambaran dari tanah Kanaan yang dibagikan kepada kedua belas suku Israel (Yosua 14).

Saudara dan saya adalah bani Israel rohani yang telah dikuduskan lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Oleh karena itu kita memiliki warisan di Kota Kudus Allah yaitu Kanaan yang melimpah susu dan madunya (berkat jasmani) dan Yerusalem Baru tempat kehidupan yang abadi penuh kemuliaan Allah (berkat rohani).

Tuhan Memberkati,

St. L. Hutabalian

SERAHKAN – PERCAYA – IA BERTINDAK

 

Mazmur 37:5 : “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”.

 

Mengapa perlu penyerahan diri?

1.    Kita berada dalam dunia yang penuh tantangan.

a.   Pekerjaan (mencari pekerjaan, tantangan dalam pekerjaan : atasan, teman, gaji, dll)

b.   Keluarga ( orang tua/mantu, suami/istri, anak-anak, dll)

c.   Financial (bagaimana memenuhi standar kecukupan)

d.   Kesehatan, dll

 

2.   Kita memiliki kemampuan yang terbatas.

Ketika tantangan itu ada di dalam kehidupan kita, sering kali kita merasa tidak sanggup untuk menghadapi. Karena keterbatasan kita, kita sering larut dalam kekwatiran. Padahal kekwatiran tidak dapat memberi kontribusi apapun yan baik bagi kita. Suatu ketika Tuhan Yesus dalam kitab Matius 6:27 berkata :”Siapakah diantara kamu yang karena kekwatirannya dapat menambahkah sehasta saja dalam hidupnya ?”

 

Kekwatiran memang tidak menghasilkan yang baik bagi kita. Kekwatiran justeru cenderung membuat kita stress, frustasi, putus asa dan kehilangan akal sehat atau pikiran yang jernih. Oleh karena itulah dalam Amsal 12:25a dikatakan :”kekwatiran dalam hati membungkukkan orang..”

 

3.   Karena ada Allah yang sanggup menolong kita dalam segala persoalan hidup.

a.   Hidup berbicara tentang semua aspek/sisi kehidupan.

b.   Setiap aspek bisa menjadi sumber kekwatiran.

c.   Oleh karena itu, kita perlu menyerah hidup kita dengan semua aspek yang ada di dalamnya.

 

Percaya

1. Penyerahan diri sepenuh hati, tidak ragu-ragu.

Iblis akan selalu berusaha mempengaruhi kita sehingga kita meragukan Tuhan. Dia akan melihat kelemahan kita dan dari sanalah ia masuk. Kalau kita terbiasa mengandalkan kekuatan kita maka ia akan masuk melalui itu. Segala sesuatu akan kita ukur dengan kemampuan kita yang ada : tamatan, pengalaman, keberadaan materi, dll.

 

2.   Keputusan dan tindakan orang percaya sepintas seperti kebodohan. Mengapa ? Karena kepercayaan akan dapat mengesampingkan logika dan hitung-hitungan manusia.

    Waktu Abram (Abrahan) dipanggil oleh Allah, dia belum tahu mengenai tempat yang di janjikan Tuhan kepadanya. Bagaimana keadaannya, dari jalan mana, berapa lama perjalanan, dll. Tapi Ia percaya kepada Tuhan dan ia berangkat.

Ibrani 11:8 “Karena iman, Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui”

 

    Nuh dan Bahtera , Allah menyuruh Nuh untuk membangun bahtera di atas bukit, ketika Allah akan menurunkan air bah untuk menghukum semua yang jahat pada jaman itu. Membangun bathera diatas bukit ada sesuatu yang tidak wajar menurut hitungan manusia. Sangat besar kemungkinan ia ditertawakan dan diejek. Tetapi karena ia mengenal Tuhan dan percaya kepada-Nya maka Nuh membuat apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya.

Ibrani 11: 7 ;”Karena iman, maka Nuh – dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan – dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyalamatkan keluarganya..”

 

Tuhan bertindak.

1.   Pembelaan Tuhan kepada Abraham ; kemenangan melawan raja-raja, kelimpahan  berkat  jasmani dan rohani.

2.    Pembelaan Tuhan kepada Yusuf dari antara saudara-saudaranya dan ketika ia ada  di Mesir.

3.    Pembelaan Tuhan kepada Musa ketika ia mengahadap Firaun juga ketika ia akan melewati laut Teberau.

4.    Pembelaan Tuhan kepada Yosua melawan bangsa-bangsa, menyeberangi sungai Yordan  dan ketika ia berhadapan dengan tembok Yeriko.

5.    Pembelaan Tuhan Yesus kepada orang yang sakit, lumpuh, buta, menderita, dll.

6.    Tuhan akan membela segala kebutuhan kita.

Matius 6:26 “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang disorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

 

Penutup

Ketika kita telah mengambil keputusan untuk mengikut Yesus, kita harus percaya pembelaan Tuhan yang ajaib bagi kita untuk menolong kita dalam setiap aspek hidup kita, dalam setiap persoalan yang kita alami.  Ketika kita percaya kepada Tuhan berarti kita harus mengandalkan Tuhan dalam hidup kita, dan ketika kita mengandalkan Tuhan maka berkat Tuhan menjadi bagian kita. Seperti yang di sampaikan nami Yeremi dalam Yeremia 17:7 “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan”

 

Tuhan Memberkati

Lomser Hutabalian

 

 

 

 

PEMBELAAN TUHAN PADA ORANG YANG DIURAPI

1 Samuel pasal 16 dan 17 adalah bagian dari kisah raja Daud yang diurapi oleh Tuhan menjadi raja atas Israel untuk menggantikan Saul yang telah di tolak oleh Tuhan karena ketidaksetiaannya pada perintah Tuhan.

Dari dua pasal ini (silahkan baca) kita mendapat beberapa pelajaran yaitu :

1.   Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, dia berpikir bahwa Eliab-lah yang dipilih Allah untuk diurapi menjadi raja karena parasnya dan perawakannya yang tinggi. Tetapi Tuhan berkata “…..Jangan pandang parasnya dan perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah, manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”(1 Sam 16:7). Pelajaran bagi kita adalah jangan tertipu dengan penampilan luar seseorang, atau jangan mudah menilai seseorang dengan penampilan luarnya tetapi kita lihat bagaimana hatinya dan kepribadiannya.

2.    Saul dan prajuritnya ketakutan mendengar tantangan musuhnya yaitu prajurit Filistin yang dikomandoi oleh Goliat yang bertubuh besar (6 hasta sejengkal = Kira-kira 3 meter). Mengapa Saul ketakutan? Karena Tuhan telah undur daripadanya. Dia takut melihat tantangan yang besar dihadapannya karena dia mengandalkan dirinya.

Hal yang sama mungkin sering terjadi dalam hidup kita. Kita ketakutan menghadapi tantangan bahkan kita takut menghadapi masa depan karena kita mengandalkan diri kita. Kita tidak menyadari bahwa ada Tuhan yang menjadi tempat kita bergantung dalam menjalani kehidupan.

3.    Daud berbeda dengan Saul ketika berhadapan dengan Goliat. Walaupun Goliat gagah perkasa, dengan peralatan perang dan perlindungan diri yang lengkap sedangkan Daud masih sangat muda dan tanpa peralatan perang selain lembing tapi dia tidak takut karena ia percaya dan mengandalkan Tuhan (1 Sam. 17:45). Dalam hal ini kita bisa belajar yaitu bukan tergantung besarnya tantangan/persoalan yang kita hadapi melainkan tergantung siapa yang kita percayai dan kita andalkan untuk menolong kita menghadapinya. Bukan tergantung pada “siapa kita“, melainkan “siapa di dalam kita“.

4.   Selalu ada peluang, selalu ada jalan/cara bagi Tuhan untuk membela orang percaya. Goliat sangat percaya diri menantang barisan orang Israel. Selain karena kegagahannya, ia juga memiliki persenjataan  dan alat perlindungan tubuh yang lengkap mulai dari kaki hingga kepala Goliat. Hanya sebagian kecil dari tubuhnya yang tidak terlindungi yaitu pada bagian wajah (1 Sam. 17:4-7). Namun yang terjadi adalah justru dari bagian yang kecil ini, Tuhan dapat memberi kemengan bagi Daud. Hikmatnya adalah : Apapun permasalahan kita, walaupun sepertinya tidak ada jalan keluar atau sepertinya terlalu berat untuk kita hadapi, tetapi selalu ada cara bagi Tuhan untuk membela kita

Kunci dari semua yang dialami oleh Daud ini adalah dia menerima urapan dari Tuhan. Dan sejak itu Roh Tuhan ada dalam diri Daud ( 1 Sam. 16:13).  Dan dia percaya pada pertolongan dan pembelaan Tuhan padanya ( 1 Sam 17:37 & 46)

Tuhan Yesus Memberkati

Lomser Hutabalian

MEMAHAMI FIRMAN TUHAN

 

PENDAHULUAN

 

Firman Tuhan adalah Pernyataan diri dan maksud Allah bagi manusia (Yoh. 1:1-18). Lewat firman-Nya yang disampaikan kepada nabi-nabi (PL) dan yang diilhamkan kepada rasul-rasul (PB) untuk dituliskan dalam kitab suci Alkitab, kita dapat belajar tentang Tuhan dan rancangan-Nya. Bagi kita disingkapkan tentang penciptaan, dosa, kematian, pengampunan, keselamatan, iman, pertolongan semasa hidup, dan lain-lain. Firman Tuhan memberi tuntunan bagi kita untuk menghidupi kehidupan yang baik dan yang berkenan kepada Tuhan.

 

Meskipun Firman Tuhan telah diterjemahkan kedalam bahasa yang kita mengerti, namun maksud-maksud yang terkandung di dalam Firman Tuhan itu sering kali tidak sesederhana pengertian harfiah. Karna begitu kayanya kebenaran yang terkandung di dalamnya maka perlu penggalian-penggalian untuk dapat memahami maksud yang terkandung di dalam Firman Tuhan itu.  

 

Seperti disebutkan diatas bahwa Firman Tuhan adalah pernyataan diri Tuhan Allah dan maksud-maksud-Nya bagi kita, maka belajar firman Tuhan merupakan suatu keharusan bagi kita. Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka memerlukan firman Allah untuk menghidupi kehidupan yang baik sesuai dengan maksud Tuhan.

 

MANFAAT FIRMAN TUHAN

 

2 Tim 3 :16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

 

Mengajar artinya memberi pelajaran supaya orang yang diajar memperoleh pengetahuan. Demikianlah Firman Tuhan memberi pengetahuan atau pengenalan bagi kita tentang Tuhan dan semua karya-Nya. Kebenaran-kebenaran Firman Tuhan juga menyatakan apa yang benar dan apa yang salah supaya kita bisa berbalik dari cara hidup yang tidak benar (Maz. 119:105). Dengan banyak belajar Firman Tuhan, wawasan berpikir kita akan semakin luas, kita diteguhkan oleh janji Tuhan yaitu keselamatan kepada hidup kekal (1 Yoh 2:25; Maz. 149:4) dan pemeliharaan-Nya bagi kita (Amsal 2:8). 

 

Dengan terus mempelajari Firman kita akan terdidik untuk tetap berjalan dalam koridor kebenaran Tuhan dan kita akan semakin elergi dengan perbuatan dosa.(Maz. 119:104).  Tuhan memperlengkapi umat-Nya dengan Firman untuk setiap perbuatan baik.

 

Yeremia 15:16 “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.”

 

(Manfaat Firman Tuhan ; baca juga Maz. 19:8 ; Maz.119:9,11,99-100,130 ; Yak. 1:21 ; Rm. 10:13)

 

MEMAHAMI FIRMAN TUHAN.

 

Menemukan makna Firman Allah adalah pekerjaan penting dalam pembelajaran orang percaya. Apalah artinya Firman itu kita dengar atau kita baca beribu kali kalau kita tidak memahami maksudnya bagi kita. Semua akan menjadi kesia-siaan belaka dan tidak akan mengubah hidup keimanan kita.  Jadi adalah keharusan bagi kita untuk mengerti firman Tuhan untuk mengubah hidup kita kepada yang lebih baik dan sempurna. (Efesus 4:21-23).

 

Beberapa hal berikut perlu kita perhatikan untuk membantu kita memahami Firman Allah bagi kita :

 

1. Memiliki hati seorang murid sejati.

 

Dalam beberapa kesempatan sewaktu Yesus mengajar orang-orang yang mengikut Dia, Dia mengakhiri perkataan-Nya dengan kalimat “siapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Markus 4:9).  Tentu yang Yesus maksudkan “hendaklah ia mendengar” bukan sekedar mendengar saja, karena pastilah setiap telinga berfungsi untuk mendengar dan setiap orang yang mempunyai telinga yang ada berkerumun di situ pastilah mendengar perkataan Yesus, namun yang Dia maksud adalah menyimak dengan sungguh-sungguh apa yang mereka dengarkan supaya mereka memperoleh pengertian dari perkataan-Nya itu.

 

Dalam suatu kelas tidak semua siswa bisa langsung mengerti keseluruhan apa yang disampaikan oleh guru mereka, ada yang mungkin agak lambat mengerti, ada yang cepat. Meski cepat atau lambat namun akhirnya setiap mereka akan mengerti apa yang disampaikan oleh guru kalau mereka sungguh-sungguh menyimak dan memiliki hati yang rindu untuk mengerti. Inilah murid yang sejati. Seorang murid sejati adalah orang yang sungguh-sungguh merindukan untuk mengerti , orang yang haus dan lapar akan pengertian Firman. Dan setiap orang yang haus dan lapar akan kebenaran Tuhan, mereka akan dipuaskan. (Mat. 5:6 ; Maz. 107:9 ; Wah. 21:6)

 

Tetapi hal ini tidak berlaku bagi orang-orang yang tidak sungguh-sungguh/acuh tak acuh atau yang disebut orang bebal, mereka tidak akan pernah bisa mengerti karena mereka tidak memberi hati untuk pengajaran.

 

2. Bersekutu dengan Roh .

 

Yohanes 16:13 berbunyi, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.”  Sama seperti ketika Roh Allah menuntun nabi-nabi dan rasul-rasul untuk menuliskan kitab-kitab, demikianlah Roh itu akan membimbing kita untuk mengerti kitab suci itu. Karena itu kita perlu meminta kepada-Nya memberi pengertian  ketika kita mendengar atau membaca Fiman Tuhan.  Persekutuan dengan Roh Tuhan bukan saja akan membantu kita untuk memahami Firman Tuhan, tetapi juga membantu kita mengambil hikmat dari kehidupan yang kita jalani. (1 Kor. 2:10)

 

3. Banyaklah Membaca.

 

Ada statemen/pernyataan yg mengatakan bahwa membaca adalah jendela dunia atau membaca adalah membuka cakrawala dunia. Kedua statemen ini memberi arti betapa sangat pentingnya membaca yang dapat menambah wawasan berpikir kita.

Alkitab mulai dari Kejadian sampai Wahyu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ada benang merah yang menghubungkan semua kitab-kitab di PL dan PB.  Dengan banyak membaca Firman Tuhan, akan membantu kita memahami Firman-Firman Tuhan yang lainnya. Tapi membaca janganlah hanya sekedar membaca tetapi haruslah disimak dengan baik.

Kalau kita membaca alkitab, jangan serampangan. Cobalah baca secara sistematis, mis. satu perikop, satu pasal atau satu kitab. Dan anda juga bisa baca ayat-ayat yang berhubungan yang biasa ditulis di catatan kaki.

Selain membaca alkitab, buku-buku rohani dan renungan harian bisa menjadi “menu” tambahan. Jika memungkinkan saudara juga bisa membaca ensiklopedia alkitab, secara khusus bagi mereka yang akan sering menyampaikan Firman Tuhan (berkotbah).

Kuasa Kehadiaran Allah.

Ketika Allah membawa orang Israel keluar dari tanah Mesir, Dia menyuruh mereka membuat Tabut yang terbuat dari kayu penaga dan dilapisi dengan emas. Tubut ini akan menjadi lambang kehadiran Tuhan ditengah-tengah umat Israel. Melalui adanya Tabut, disana Allah akan berbicara kepada umat Israel dan menyatakan kuasa-Nya. Selama ada Tabut Perjanjian ada ditengah-tengah mereka, mereka menikmati kuasa kehadiran Allah :  Ketika menyeberangi sungai Yordan (Yos. 3:7), meruntuhkan kota Yeriko (Yos. 6) dan memukul kalah musuh-musuh dalam perjalanan ke Kanaan. Namun setelah lama mereka di Tanah Kanaan yang melimpah susu dan madu itu, pada jaman Elia dan Samuel dipanggil oleh Tuhan menjadi imam, orang Israel telah lama kembali pada kebiasaan lama yaitu menjauh dari Tuhan. Maka mereka terpukul kalah oleh orang Filistin. Saat itulah mereka teringat kembali kepada Tabut Perjanjian.

tabut3

Hal yang sama seringkali terjadi ditengah-tengah umat Tuhan. Ketika hidup berkecukupan bahkan mungkin berkelimpahan, mereka melupakan Tuhan. Sampai kemudian pencobaan datang, baru ingat kembali kepada Tuhan.


1 Samuel 4 mengisahkan Israel dikalahkan oleh orang Filistin lalu orang Israel mengingat Tabut Perjanjian dan membawanya dari Silo ke perkemahan. Tetapi kehadiran Tabut ditengah-tengah mereka tidak membawa kemenangan kepada mereka seperti yang dulu-dulu. Mereka terpukul kalah oleh orang Filistin bahkan Tabut itu dibawa oleh orang Filistin. Mengapa terjadi demikian? Karena mereka telah lama melupakan Tabut itu. Mereka tidak dapat dengan mudah mengimani arti kehadiran Tabut Perjanjian itu ditengah-tengah mereka. Seperti itu juga umat Tuhan, apabila sudah lama melupakan persekutuannya dengan Tuhan, maka tidak mudah lagi baginya untuk membangun persekutuan yang indah dengan Tuhan. Maka tidak heran kita menemukan orang yang bolak-balik bersaksi bahwa dirinya lemah dan jauh dari Tuhan, tapi setelah bersaksi, tidak ada perubahan dalam dirinya. Tidak ada kebangunan rohani. Oleh karena itu janganlah melupakan persekutuan dengan Tuhan.


moses-ark1

1 Samuel 5 selanjutnya dikisahkan bahwa orang Filistin menempatkan Tabut duduk sejajar di Kuil dengan patung dewa Dagon. Tatapi patung dewa Dagon terjatuh sampai terbelah. Artinya bahwa Allah tidak dapat disejajarkan dengan ilah-ilah atau dewa-dewa. Bahkan Allah menghajar orang Filistin dengan borok dan hama tikus karena perlakuan mereka mensejajarkanNya dengan dewa Dagon. Jaman sekarang tidak sedikit orang yang menyebut diri Kristen telah mensejajarkan Tuhan dengan ilah-ilah jaman. Kekayaan, Pekerjaan dll telah menjadi ilah-ilah jaman ini. Manusia tidak lagi bergantung kepada Tuhan tetapi bergantung kepada pekerjaannya dan kekayaannya.


Pada 1 Samuel 6, orang Filistin mengembalikan Tabut Perjanjian beserta emas yang berbentuk borok-borok dan emas berbentuk tikus sebagai membayar tebusan salah.


Kira-kira 2000 tahun yang lalu, Yesus kembali membawa kehadiran Allah ditengah-tengah umat Manusia. Tabut Perjanjian adalah gambaran dari Tuhan Yesus. Pada Tabut terdapat dua patung malaikat pada kedua ujungnya, diantara tutup pendamaian (Kel. 25). Bandingkan ketika Maria pergi ke kuburan Yesus yang telah tersalib dan mati untuk mendamaikan manusia dengan Allah, ia menemukan dua orang malikat pada kedua ujung pembaringan mayat Yesus. Satu orang malaikat dibagian kepala, dan satu lagi dibagian kaki. (Yoh. 20:11-12).


Dalam Ibrani 9:4 disebutkan isi dari Tabut Perjanjian yaitu:

1. Buli-buli emas berisi manna ; Manna berbicara tentang kebutuhan jasmani yang dikirim Allah (Kel. 16). Kecukupan kebutuhan Jasmani yang disedikan Allah bagi orang yang percaya kepada Yesus.

2. Tongkat Harun yang pernah bertunas karena orang lewi dan pemimpin orang Israel memberontak kepada Musa dan Harun . (Bil. 16&17). ; berbicara tentang muzijat yang berlaku dalam diri Yesus. Kehidupan yang mengalahkan kematian. Yesus mati karena pemberontakan manusia kepada Allah. Dan Yesus telah mengalami kematian supaya manusia yang berontak itu memiliki hidup.

3. Loh-loh batu. Loh bertuliskan 10 hukum Allah. (Ul. 10:1-5) ; Berbicara bahwa dalam Yesus adalah firman yang menuntun dan yang menghidupkan. Mengenal Yesus lewat firman maka kita akan mengenal Allah dengan segala maksud-Nya bagi kita (band. Yohanes pasal 1).

Kalau kita memiliki Yesus berarti ada kehadiran Allah di dalam hidup kita. Dan kuasa kehadiran Allah itu dapat kita nikmati sepanjang kita terus percaya kepada-Nya.

Tuhan memberkati.

Salam,

Lomser Hutabalian

MENJADI SEORANG MURID KRISTUS

PENGERTIAN MURID

 

Pengertian umum dari murid adalah seorang pelajar. Pelajar adalah orang yang mau belajar, menimba ilmu pengetahuan dengan tujuan meningkatkan kwalitas diri. Kwalitas yang semakin baik merupakan cita-cita yang ingin dicapai ketika seseorang mau belajar. Apabila orang tua mau menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya tidak bertujuan untuk gagah-gagahan, menunjukkan kemampuan materi atau supaya anaknya sekedar tamat dan bisa mencari kerja, tatapi tujuan pokok adalah agar anak-anak itu pintar, berpengetahuan yang dapat meningkatkan kwalitas hidup mereka kelak dalam banyak aspek.

 

Dalam pengertian Alkitab juga hampir sama seperti dalam pengerti umum, hanya saja dalam pengertian Alkitab, bahwa murid juga adalah seorang pengikut (Follower). Sebagai pengikut, sang murid bukan saja bertujuan untuk mencari ilmu pengetahuan tapi juga pengabdian diri. Jadi murid Kristus adalah orang-orang yang mau diajar dan belajar tentang kebenaran firman Tuhan dan mau mengikut serta mengabdikan diri kepada Dia.

 

Di dalam alkitab kita bisa menemukan beberapa contoh tentang murid (pengikut) yang mengabdikan dirinya kepada gurunya antara lain Musa dengan Yosua (Bil 11:28). Pemilihan Allah kepada Yosua untuk menggantikan Musa bukanlah secara tiba-tiba. Selama Musa memimpin bangsa Israel, Yosua telah menjadi abdi yang setia (Kel. 33:11) dan yang mau belajar dari cara kehidupan dan kepemimpinan Musa. Hal ini dibuktikan bahwa Yosua sebagai salah satu orang yang dipilih untuk pergi mengintai tanah Kanaan. Ketika kelompok-kelompok yang diutus kembali dari pengintaian semua pesimis untuk menghadapi orang Kanaan, hanya Yosua dan Kaleb yang optimis karena mereka telah menjadi murid yang setia dan yang mau belajar dari Musa melalui perjalanan mereka (Bilangan 14:6-9).

 

Demikian juga antara Elia dengan Elisa, walaupun tidak banyak diceritakan bagaimana proses pemuridan itu sendiri  karena tidak banyak kisah yang menceritakan pelayanan mereka secara bersama-sama namun dari pernyataan Elisa ketika Elia akan terangkat ke sorga (2 raja 2) dan juga melihat dari pelayanan Elisa yang juga dahsyat bahkan kemudian Elisa menjadi pemimpin sekelompok nabi, pastilah ia belajar dari gurunyaa Elia .

 

Contoh lain adalah Yohanes Pembaptis dengan murid-muridnya (Mark 2:18), Yesus dengan 12 murid-Nya dan juga Paulus dengan muridnya Timotius, Titus, dsb.

 

 

  1. TUJUAN PEMURIDAN

 

A.                Mengajar umat Tuhan dengan pengetahuan firman Allah

 

Sebagaimana amanat Tuhan Yesus Kristus, yaitu untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid, disana dikatakan “..dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang yang telah kuperintahkan kepadamu….” (Mat.28:20), maka umat Tuhan harus diajar untuk mengerti perintah atau firman Allah dengan demikian umat Tuhan dapat melakukan firman Allah itu dengan benar. Karena tidak mungkin mereka melakukan firman Allah dengan benar kalau mereka tidak mengerti.

 

Selain menyatakan diri secara langsung kepada nabi-nabi, Tuhan menyatakan diri-Nya melalui firman yang tertulis (Alkitab).  Dari firman Tuhan, kita mengerti tentang Tuhan Lewat firman Tuhan bagi kita disingkapkan tentang penciptaan, dosa, kematian, pengampunan, keselamatan, iman dan pengharapan apa yang kita miliki selama kita masih di dalam dunia.  Lewat firman Tuhan juga yang dalam hubungan-Nya dengan kita sebagai manusia; Tuhan dalam diri Yesus Kristus menyatakan diri sebagai Juru Selamat, Gembala, Raja, Sahabat, yang kesemua pernyataan ini bertujuan agar kita tahu bagaimana memposisikan diri dihadapan Tuhan.

 

Yesus sendiri dalam pelayanan-Nya terus mengajar tantang Allah dan karya-Nya. Ia mengajar murid-muridnya dan umat Israel di bait Allah dan tempat-tempat umum. Dan sepeninggal Yesus, rasul-rasul melanjutkan misi Tuhan dengan terus mengajar. Kisah Para Rasul mengatakan bahwa rasul-rasul setiap hari mengajar di Bait Allah, dan memberitakan Injil ke berbagai penjuru (Kis. 5:42).  Rasul Paulus dalam surat-suratnya sangat menekankan bagaimana pentingnya pengajaran firman Tuhan. Tanpa mengesampingkan nilai tata ibadah dan karunia-karunia, dia menekankan bahwa pengajaran firman Tuhan menjadi hal yang sangat mendasar dan mutlak bagi kehidupan jemaat-jemaat Tuhan (Ef. 6:4; 1 Kor. 14:19; 1 Tim 4:11, dsb).

 

Menurut tradisi, orang Israel yang hidup pada masa Perjanjian lama selalu mengajarkan anak-anak mereka tentang hukum Taurat selama kira-kira 2 jam setiap hari. Dan pada masa jemaat mula-mula umat-umat Tuhan  juga diajar oleh rasul-rasul setiap hari (Kis.2:41-47). Sangat kontras dengan cara hidup orang kristen jaman ini. Hal ini bisa dipahami seiring kemajuan jaman yang semakin sibuk dengan urusan dunia (jasmani) yang sangat menyita waktu dan perhatian. Kemajuan jaman menuntut orang tidak lagi mengejar kecukupan primer tetapi kehidupan yang lebih dari cukup bahkan tak jarang mengejar kekayaan atau kelimpahan secara materi. Namun meski tidak dapat menghidupi kehidupan seperti jemaat mula-mula, sesungguhnya umat-umat Tuhan masih dapat dan memang seharusnya membagi waktu untuk terus belajar firman Tuhan dengan cara membaca dan merenungkan firman Allah dan juga melalui kehadiran pada pertemuan-pertemuan ibadah.

 

 

B.                Menjadikan umat Tuhan dewasa rohani.

 

Pemuridan juga bertujuan untuk menjadikan umat Tuhan dewasa rohani. Menjadi dewasa tidak datang secara instan tetapi membutuhkan proses yang terus menerus dan waktu. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi dewasa. Kedewasaan seseorang akan nampak dari cara berpikir, ucapan dan tindakan seseorang. Secara jasmani kedewasaan seseorang tidak dapat diukur dengan tubuh yang besar dan umurnya yang sudah tua, karena ada juga orang yang sudah tua dan yang badannya besar namun sikap dan perbuatannya seperti anak-anak. Jadi kedewasaan di ukur dari sikap dan perbutannya. Demikian juga kedewasaan rohani seseorang tidak  dapat diukur dengan lama-nya dia menjadi seorang kristen melainkan melalui sikap dan perbuatannya.  Proses pendewasaan itulah yang disebut pertumbuhan.

 

Satu hal yang pasti bahwa pertumbuhan harus dimulai dari benih. Dari benih inilah bertumbuh menjadi tunas, terus bertumbuh menjadi pohon dan terus bertumbuh hingga menghasilkan buah. Pertumbuhan rohani pun harus dimulai dari benih yaitu firman Allah yang terus bertumbuh di dalam kehidupan orang percaya. Layaknya tumbuh-tumbuhan yang terus-menerus membutuhkan suply makanan yaitu zat-zat yang terkandung di dalam tanah, air, oksigen dan sinar matahari untuk membentuk pertumbuhan, demikian juga umat Tuhan secara terus menerus membutuhkan firman Allah yang menyatu dengan hidup kita dan dan memberi pertumbuhan (Ef. 4:11-13). Pertumbuhan iman seorang murid akan terlihat bahwa tahap demi tahap atau dari waktu ke waktu sikap dan perbuatannya akan semakin baik seiring semakin bertambahnya pengetahuan akan firman Allah.

 

Pertumbuhan yang baik tidak melulu karena faktor benih dan air tapi juga faktor tanah. Dalam perumpamaan tentang seorang penabur (Luk. 8:4-15) dapat kita pelajari bahwa tumbuhan pada tanah yang keras dan berbatu-batu tidak akan bertumbuh dengan baik bahkan akan mati. Sedangkan pada tanah yang baik, tumbuhan akan bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah. Pada ayat 15 dikatakan “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” Mengeluarkan buah artinya berbuat atau melakukan firman itu. Jadi jelas bahwa pertumbuhan dalam permuridan itu tidak terlepas dari pembelajaran firman Tuhan dan applikasinya yang berkesinambungan.

 

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa kedewasaan terlihat dari sikap dan perbuatannya, maka seorang yang dewasa akan bijaksana dalam mengambil tindakan atau membangun kehidupannya. Dia mengerti tujuan hidupnya. Orang dewasa rohani akan dapat memimpin bukan di pandang secara organisasi tapi cara hidup.

 

Kedewasaan rohani juga terlihat dari cara seseorang menyikapi segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya. Manis dan pahit, susah dan senang, kaya atau miskin, disikapi dengan bijaksana. Kalaupun Tuhan mengijinkan sesuatu penderitaan terjadi maka penderitaan itu tidak akan menjauhkan dia dari persekutuan dengan Tuhan. Kalau Tuhan mengijinkan dia memiliki berkat materi, itupun tidak dapat menjauhkan dia dari Tuhan.

 

C.                Menjadi Serupa Dengan Kristus.

 

Menjadi serupa dengan Kristus adalah kehendak Allah atas manusia. Dalam Roma 8:29 “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung diantara banyak saudara.” Hal ini dapat terjadi melalui pemuridan, karena dalam pemuridan terjadi pembaharuan cara berpikir dan pembentukan karakter tahap demi tahap seiring dengan pengetahuan firman Allah sehingga pada akhirnya seorang murid akan serupa dengan Kristus. Menjadi seperti Kristus adalah proses yang panjang. Dalam proses ini terjadi pembentukan karakter, dan pembentukan karakter hanya bisa terjadi dengan senantiasi mengaplikasikan/mempraktekkan firman Tuhan dengan disiplin yang tinggi.

 

Karakter Kristus yang seharusnya kita teladani sebagai murid adalah seperti yang tertuang dalam Galatian 5:22-23 sebagai buah Roh yaitu  kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Pilipi (Pilipi 2:1-11) Rasul Paulus mengharapkan karakter ini bertumbuh dalam jemaat di Pilipi. Secara khusus pada ayat 5 dikatakan : “Hendaklah kamu dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus.”

 

Kita tidak akan bisa menjadi seperti Kristus dalam keilahian-Nya namun kita menjadi seperti Kristus dalam kemanusiaan-Nya yang sempurna. Kita tidak memiliki kuasa seperti Tuhan tetapi kita memiliki otoritas untuk mengandalkan Kuasa Tuhan dalam hidup kita (Markus 16:17-18). Demikian juga dalam proses pembentukan karakter itu, kita tidak akan mampu untuk mempraktekkan dengan sempurna firman Allah yang kita terima tanpa pertolongan Tuhan.  Oleh karena itulah kita perlu terus bersekutu dengan Allah yang telah mengutus Roh-Nya menjadi penolong bagi kita. Dengan pertolongan Roh Allah pada akhirnya kita bisa menjadi seperti Kristus.

 

  1. SYARAT MENJADI MURID KRISTUS.

 

Dalam Lukas 14:26 dikatakan: Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, sudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu”

 

Firman Tuhan ini bukanlah sedang mau menciptakan konfrontasi atau menebar rasa kebencian diantara anggota keluarga dalam hal kita mengikut Yesus, tetapi yang dimaksud adalah bahwa kita harus mengutamakan Yesus diatas segalanya termasuk diatas kepentingan kekeluargaan.  Hal ini ditegaskan dalam Matius 10:37 yang berkata:”Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagiku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripadaKu, ia tidak layak bagikiu.”

 

Tentu saja kalau kita menghidupi kasih Tuhan, maka kita juga dituntut untuk mengasihi orang lain apalagi keluarga kita. Bahkan mengasihi orang lain merupakan tanda yang dituntut dari seorang murid (Yoh.13:34-35). Namun apabila diperhadapkan dengan satu pilihan diantara Tuhan dengan keluarga kita atau orang lain, maka kita diharuskan memilih Yesus walaupun akhirnya harus ada konfrontasi, inilah yang menjadi satu syarat kelayakan menjadi seorang murid Tuhan.

 

Kemudian dalam Matius 16:24 dikatakan:” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Artinya menjadi murid Kristus bukan perkara mudah atau gampangan seperti kehidupan kekristenan jaman sekarang ini yang cenderung “semau gue”.

 

Ada tiga komponen yang digariskan dalam Matius 16:24 sebagai syarat kelayakan sebagai pengikut (murid) yaitu “menyangkal diri”, “memikul salib” dan “mengikut”.

 

Menyangkal Diri.

 

Menyangkal diri maksudnya tidak mengandalkan diri dalam segala hal.  Mengakui bahwa kita tidak memiliki hak atas hidup kita, mengakui bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber keselamatan, pertolongan dan pemeliharaan. Bukan gagah perkasa kita tetapi oleh karena Tuhan.

 

Penyangkalan diri berarti bahwa kita tidak bisa kompromi dengan kebenaran diri kita sendiri. Kita tidak bisa membenarkan tindakan-tindakan kita kalau tidak sesuai dengan firman Allah. Apa yang kita pikirkan dan lakukan haruslah mengacu pada kehendak Allah dalam firman-Nya. Prinsip penyangkalan diri dapat kita lihat dalam diri para rasul seperti rasul Paulus yang dalam surat-suratnya kita bisa melihat pernyataannya bahwa apa yang dia pikirkan, apa yang dia lakukan semata-mata bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan. Dalam Roma 14:8 dia tuliskan:” Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup dan mati, kita adalah milik Tuhan” (Lih. 2 Kor. 5:15; Galatia 2:20).  Dalam Kis. 20:22-23 dia menyebut dirinya sebagai tawanan Roh, artinya dia tidak bisa tidak harus mengikuti kemauan Roh itu. Kemanapun Roh itu menyuruh dia, dan apapun yang dikehendaki Roh itu untuk dilakukan maka dia merasa wajib melakukannya sekalipun dia harus diperhadapkan ke penjara.

 

Filipi 1:20-21, Paulus mengatakan kerinduan dan harapannya yaitu bahwa Kristus dengan nyata dimuliakan dalam dirinya, baik oleh hidupnya maupun oleh matinya. Dan baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

 

Memikul Salib.

 

Syarat lain untuk menjadi murid adalah mau memikul salib (Lukas 14:27).  Salib merupakan instrument hukuman. Pada jaman kerajaan Romawi era Yesus di dunia, hukuman mati diberikan untuk kesalahan yang dianggap berat yang di buktikan di pengadilan atau yang dinyatakan  oleh beberapa saksi. Tentu saja Tuhan tidak sedang menyuruh kita untuk memikul salib karena kejahatan kita tetapi yang perlu disalibkan adalah pikiran dan tindakan atau keinginan duniawi yang bisa menimbulkan kejahatan.

 

Mengacu pada salib Kristus maka makna salib adalah pengorbanan diri dan ketaatan. Yesus Kristus disalibkan bukan karena dosa dan kesalahan yang Dia telah lakukan tetapi Ia disalibkan untuk menebus manusia dari dosa. Ia mengorbankan diri-Nya supaya orang-orang yang dikasihi-Nya memperoleh keselamatan.

 

Seperti pernyataan Yesus sendiri bahwa Dia datang kedalam dunia dan melakukan segala pekerjaan-Nya adalah untuk memenuhi kehendak Bapa yaitu keselamatan manusia lewat pengorbanan-Nya di kayu salib (Yohanes 6:38-39).  Bahkan ketika suatu malam dalam kemanusiaan-Nya menjelang perjalanan salib yang harus dijalani-Nya, Dia berdoa kepada Bapa supaya Bapa melalukan cawan (penderitaan salib) itu daripada-Nya tapi Dia katakan “..tapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi”.

 

Jalan salib adalah juga wujud ketaatan Yesus kepada Bapa. Dalam Filipi 2:6-8 “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.

 

Jadi untuk layak menjadi murid bagi Kristus harus mau menyalibkan keduniawian dan mau taat untuk melakukan kehendak Allah, meski harus mengalami penderitaan jasmani.

 

Mengikut Dia.

Kalau dikatakan mengikut itu artinya dengan setia mengikuti langkah Kristus dan dengan taat melakukan apa yang di firmankan-Nya. Ketika Yesus mengajak murid-murid yang pertama, Yesus mengatakan “ikutlah Aku” lalu mereka mengikut Yesus dan meninggalkan jala, perahu, ayah mereka untuk mengikut Yesus (Matius 4:18-22). Disini tidak ada tawar menawar, tidak ada pertimbangan untung-rugi, tetapi mereka langsung mengikut Yesus.

Seringkali orang-orang Kristen terhalang mengikut Yesus karena mereka tidak mau berkomitmen untuk mengutamakan panggilan Tuhan daripada hal-hal yang lain seperti yang bisa kita lihat sebagai contoh di dalam alkitab.

Suatu waktu dari antara orang-orang yang berkerumun, datanglah seorang  ahli taurat berkata kepada Yesus: “Guru, aku akan mengikuti Engkau, kemana saja Engkau pergi”  Tapi Yesus menjawab : ”Seriga mempunyai liang dan burung memiliki sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. (Matius 8:19-20). Jawaban Yesus ini merupakan suatu pernyataan bahwa Dia sebenarnya tidak mendapat tempat utama di hati orang Farisi ini.

Walaupun dia berkata akan mengikut Yesus, tetapi sesungguhnya Yesus tahu keberatan hatinya. Mengapa? Karena ia adalah seorang farisi yaitu seorang ahli Taurat yang miliki reputasi (nama besar) yang tinggi dan juga memiliki otoritas (kuasa) dalam system agama Yahudi. Yesus memperingatkan dia dalam kegelisahan hatinya. Satu sisi dia mau mengikut Yesus tapi sisi yang lain dan yang lebih dominan adalah kehormatan  dan kuasa sebagai orang Farisi berat untuk ditinggalkannya.

Seorang yang lain menunjukkan ketidaksiapannya untuk mengikut Tuhan yaitu  ketika Yesus mengatakan kepada dia “Ikutlah Aku”. Orang itu menjawab, “Izinkan aku terlebih dahulu menguburkan bapaku” (Lukas 9:59)  Tentulah dia tidak mungkin berada di tempat itu bersama dengan Yesus dan orang-orang yang berkerumun disitu kalau ayahnya sedang meninggal. Tapi konon ini merupakan gaya bahasa timur tengah yang berarti dia masih perlu tetap tinggal sampai ayahnya meninggal.  

Yesus kemudian mengatakan kepadanya: ”biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah kerejaan Allah dimana-mana” (Luk 9:10).  Dalam hal ini Yesus sedang mengatakan kepada dia untuk meninggalkan keduniawian dikerjakan oleh orang-orang duniawi;  Artinya kita tidak boleh terperangkap dengan mengijinkan masalah-masalah duniawi menghalangi prioritas sorgawi.  

Orang yang ketika berkata kepada Yesus :” Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan terlebih dahulu dengan keluargaku” (Lukas 9:61).  Mari kita lihat jawaban Yesus,”Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah.” (Lukas 9:62). Saya percaya bahwa tidak ada yang salah sebenarnya dengan berpamitan terlebih dahulu, tapi Tuhan Yesus melihat hati yang masih mendua di dalam orang ini. “Menoleh kebelakang” artinya masih ada kebimbangan dan pertimbangan.

Jadi untuk mengikut Tuhan dan menjadi seorang murid memang tidak mudah, ada harga yang harus dibayar yaitu keutamaan Kristus diatas segalanya. Kalau melihat cara hidup orang kristen umunya pada jaman sekarang, mereka tidak layak disebut murid Tuhan Yesus dalam perspektif (pandangan) alkitab. Karena kebanyakan orang kristen jaman sekarang telah menempatkan Yesus menjadi urutan kesekian diatas kepentingan yang lain.

Dalam konteks kehidupan kita sekarang ini, kita tidak lagi akan mengikut Yesus secara jasmani seperti ketika Ia memanggil ke dua belas muridnya dan muridnya mengikut Dia kemana saja Dia pergi untuk melayani, melainkan kita mengikuti visi dan misinya bagi dunia. Kepada Simon Petrus dan Andreas Yesus berkata akan menjadikan mereka menjadi penjala manusia (Mat. 4:19), dan kepada kesebelas murid Dia perintahkah untuk pergi, menjadikan semua bangsa menjadi murid, membabtis dan mengajar mereka melakukan perintah Yesus. Perintah Yesus inilah yang harus kita ikuti.

 

Inilah idealisme sebagai seorang murid, yaitu berkesinambungan dalam firman Tuhan (Yoh. 8:31), memberitakan firman, menjala manusia dan membawa kepada Kristus. Sudahkah kita menjadi murid? Berapa persenkah orang Kristen yang menyebut diri murid melakukan hal ini? Apakah anda melakukannya?

 

 

 

Apa Yang Terjadi di Kana ?

 

Kisah yang terjadi  di pesta perkawinan di Kana (Yoh. 2:1-11) adalah suatu kisah yang luar biasa karena disana kita dapat mempelajari banyak hal menyangkut kehidupan kita dan pertolongan Tuhan bagi kita. Alkitab mengatakan bahwa mujizat yang dilakukan Yesus di pesta ini adalah mujizat pertama yang dilakukan Yesus dalam pelayanannya di bumi. Mari kita melihat apa yang terjadi di Kana bisa menjadi berkat bagi kita.

 

Ayat 1-2: Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.

 

Di dalam keterbatasan Yesus sebagai manusia, Ia tidak selalu bisa hadir dan memberikan pertolongan nyata bagi manusia. Dalam kemanusiaannya Dia hanya bisa ada pada waktu tertentu, kesempatan tertentu dan tempat tertentu, seperti yang terjadi di Kana. Namun dalam ke Allahan-Nya di dalam Roh, Ia tidak lagi dibatasi ruang dan waktu.

 

Hari ketiga merujuk pada “waktu”, perkawinan merujuk pada “kesempatan/kegiatan” sedangkan Kana dan Galilea merujuk pada “tempat”. Saya percaya bahwa Allah berkeinginan untuk selalu ada dalam kehidupan keseharian kita untuk membawa pertolongan nyata. Kapanpun, dimanapun dan dalam hal apapun.

 

Dikatakan pada ayat diatas, “Yesus dan murid-muridnya diundang juga ke perkawinan itu”. Di sini menunjukkan bahwa yang mempunyai pesta mengenal Yesus. Mereka mengundang Yesus artinya mereka menghendaki kehadiran Yesus disana. Pertolongan Tuhan akan terus kita rasakan kapanpun, dimanapun dan dalam hal apapun ketika kita mengaminkan kehadiran-Nya di dalam hidup kita.

 

Ayat 3: Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur”.

 

Bagi orang yang Yahudi kehabisan anggur pada waktu pernikahan merupakan suatu hal yang sangat memalukan, karena anggur merupakan bagian dari sajian utama dalam pesta. Tetapi mengapa mereka bisa sampai kehabisan anggur, pada hal pesta ini adalah pesta perkawinan yang notabene adalah pesta sukacita?

 

Alkitab tidak menjelaskan hal itu. Namun mengacu pada alasan yang umum terjadi dalam suatu pesta mungkin dapat kita bagi setidaknya dalam dua sebab:

 

1.       Sebab dari dalam.

 

Ada kemingkinan yang memiliki pesta salah perhitungan. Perhitungan banyaknya anggur yang disediakan tidak sesui dengan jumlah undangan. Bisa jadi juga si pemilik pesta memperhitungkan/memprediksi  bahwa yang datang ke pesta paling ada setengah dari jumlah undangan, sehingga ia menyediakan anggur untuk sejumlah yang diperkirakan. Nah, ketika jumlah orang yang hadir benar-benar sesuai dengan jumlah undangan, maka sudah pasti mereka akan kekurangan anggur.

 

Sepanjang hidup kita, mungkin tidak dapat dihitung atau tidak dapat kita ingat lagi sudah berapa kali kita salah perhitungan dalam memutuskan berbagai hal dalam hidup kita. Sudah berapa kali kita salah langkah, sehingga membuat kita harus menanggung malu dan menderita. Ucapan dan tindakan kita yang tidak memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya bisa berakibat fatal bagi kita sendiri. Ucapan dan tindakan kita yang tidak baik juga dapat menimbulkan akar pahit bagi orang lain yang kemudian melahirkan kebencian, dendam dan amarah.

 

 

2.    Sebab  dari luar.

 

Kemungkinan adanya keserakahan dari antara para undangan.  Mereka mengambil kesempatan untuk meminum anggur sepuas-puasnya bahkan mungkin sampai membawa pulang. Tentu ini hanyalah satu kemungkinan. Namun dalam konteks jaman ini, hal seperti ini mungkin tidak sulit kita temukan, khususnya pesta yang diadakan di desa-desa. Seperti yang pernah saya temukan pada suatu pesta di kampung. Seorang ibu meminta berkali-kali makanan untuk seorang anaknya kepada pelayan yang berbeda. Setelah meminta kepada pelayan yang satu, dia membungkus dan menyimpannya dalam tas. Saat pelayan yang lain lewat, dia juga meminta hal yang sama untuk anak yang sama. Dan bukan hanya satu-dua yang saya temukan berbuat demikian.

 

Tidak semua hal yang tidak baik yang kita alami dalam hidup kita disebabkan oleh ulah kita sendiri. Bisa jadi oleh karena imbas perbuatan orang lain kita mengalaminya. Mungkin kita bertanya, “Mengapa Tuhan ijinkan cobaan terjadi dalam hidup kita?” Jawabannya dapat kita peroleh dari Yakobus 1:2-4 yang berkata:” Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

 

Pencobaan adalah bagian dari proses pendewasaan iman. Dengan pencobaan, kita secara tidak langsung di ajak berpikir dan merenungkan tentang kehidupan itu sendiri. Pencobaan membawa kita pada kedewasaan berpikir yang kemudian menghasilkan kedewasaan dalam bertindak. Saya percaya pencobaan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita adalah sesuai dengan kebutuhan dalam proses pendewasaan itu sendiri, seperti yang dikatakan firman Tuhan “tidak melebihi kekuatanmu sendiri”.

 

Oleh karena itu kita perlu belajar berpikir positif terhadap pencobaan yang kita alami. Hal yang perlu kita lakukan adalah menerima cobaan itu dengan ikhlas hati dan mempercayai bahwa dibalik semua pencobaan yang diijinkan itu ada maksud Allah yang indah bagi kita.

 

Ayat 4-5: Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

 

 

Maria menyampaikan permasalahan yang terjadi kepada Tuhan Yesus yaitu pesta itu kekurangan anggur. Maria tidak secara langsung meminta Yesus untuk bertindak namun Tuhan Yesus dapat membaca atau mengerti keinginan dari Maria ibunya sehingga Ia langsung berkata : “mau apakah engkau dari padaKu, ibu? SaatKu belum tiba”.

 

Apabila kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, sama seperti Maria, kita dapat mengenal kebaikan hati Bapak yang dapat menolong dalam permasalahan yang ada. Dan Allah mengerti apa yang kita inginkan daripadaNya walaupun kita tidak mengatakannya.

 

Ayat 6: Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.

 

Bejana air menunjuk kepada kita sebagai manusia atau sebagai umat Tuhan. Sama seperti anggur yang pertama adalah juga anggur yang baik yang disediakan si empunya pesta, namun tidak dapat memberi jaminan yang cukup untuk terhindar dari masalah atau persoalan. Niat dan perbuatan yang baik tidak dapat menjamin bahwa kita tidak akan pernah menghadapi persoalan. Sebagai manusia kita memiliki keterbatasan. Kita hidup di dunia yang penuh dosa dan kejahatan. Kita hidup serumah yang bernama bumi bersama-sama dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Oleh karena itu kita membutuhkan campur tangan Tuhan di dalam hidup kita. Kedahsyatan pekerjaan Tuhan akan memampukan kita tetap berdiri dalam iman dan pengharapan yang teguh meski kita menghadapi persoalan.

 

Ayat 7-9: Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya–ia memanggil mempelai laki-laki,

 

Untuk mengalami muzijat, kita perlu di penuhi air hidup yaitu firman Allah. (Eph 5:26; Jn 15:3). Banyaknya firman Allah kita ijinkan memasuki hidup kita akan menentukan banyaknya kekuatan Allah yang akan kita alami. Seperti perkenalan Yesus dengan para pelayan, Visi/rancangan Allah kita alami di karenakan kepatuhan kita pada perkataannya. Pelayan-pelayan itu tahu dari mana anggur itu berasal, tetapi “orang-orang penting” yang di pesta itu tidak tahu. Ketika seseorang melayani Kristus, dia belajar rahasia-Nya. (Amos 3:7; Yoh 15:15). Pelayan merasa gembira menjadi bagian dari mujizat dan mendapat pengertian akan pekerjaan Allah (Mat 14:19,20). Siapapun kita, memiliki kesempatan untuk mengalami muzijat Allah. Jangan engkau berfikir bahwa hanya orang-orang yang dianggap paling penting di dalam gereja yang dapat mengalami mujizat Allah. Atau hanya pendeta atau pelayan-pelayan altar saja. Bukan, melainkan kita semua yang mau melayani Tuhan dengan bentuk pelayanan apa pun yang dipercayakan kepada kita.

 

Ayat 10-11: Dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

 

Apa yang diberikan Tuhan adalah selalu yang terbaik.

Mujijat yang pertama pada musa adalah berubahnya air menjadi darah (Exo 7:19), yang berbicara tentang hukuman (PL/Taurat)

Mujijat pertama Yesus adalah air menjadi anggur dalam perkawinan di Kana, berbicara tentang anugerah, perjanjian yang lebih baik (PB/Injil) .Yesus mewujudkan keagungan Tuhan dan hasilnya adalah murid-murid percaya kepada-Nya (Rom 2:4)

 

 

DI ATAS SPRING BED TUA

Di atas spring bed tua itu aku berbaring. Spring bed tua yang aku beli dari salah satu tetanggaku yang pindah kota. Saat aku beli, spring bed ini belumlah seburuk ini, tapi usia yang sudah beberapa tahun telah menjadikannya renta. Sudah empat tahun ia membiarkan dirinya sebagai tempat pembaringan kami; kami tiduri, kami duduki bahkan diinjak-injak oleh anak-anakku. Pula sudah 2 tahun ia membiarkan dirinya dipakai oleh pemilik dia sebelumnya. Rasanya cukup wajar ia cepat renta karena harganya pun murah. Mana ada sih yang harga murah dengan kwalitas yang bagus? Namun meski harga murah dan rendah kwalitas, spring bed ini tentu sudah menjadi saksi bisu tentang banyak hal yang aku lakoni bersama isteriku dan dua buah hatiku.  Di spring bed ini aku bercanda ria dengan anak-anakku yang masih kecil, berbagi cerita dan cinta dengan isteriku dan juga menumpahkan air mata dalam doa-doaku.

 

Di spring bed tua ini pulalah, pada bulan Juni 2001 aku mendapat visi Tuhan. Visi yang mengubah pendirianku di kemudian hari. Dulu aku tidak terpikir untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Walaupun banyak dari keluargaku menjadi hamba Tuhan bahkan menjadi perintis beberapa sidang, tapi aku tidak mau menjadi hamba Tuhan. Mendiang kakekku dari ibu adalah seorang perintis beberapa sidang di daerah kecamatan Bandar Khalipah, Gr. Ev. Ambersius Sitanggang namanya. Sebagai murid jajaran pertama dari pendiri Gereja Pentakosta Indonesia yaitu mendiang Bpk. Pdt.Ev.R.Siburian, dia menjadi murid dan penginjil yang gigih dan berkuasa. Aku kagum kepadanya dan aku ingin seperti dia yang memberi rasa kepada banyak orang. Tapi aku tidak ingin menjadi hamba Tuhan. Cukuplah sebagai jemaat biasa. Paman-pamanku adik ibuku dan ayahku juga menjadi hamba Tuhan dan disusul oleh abangku juga menjadi hamba Tuhan dan sekarang sudah menjadi pendeta.

 

Ketika mendiang ayahku ikut merintis salah satu pelayanan kurang lebih 20 tahun yang lalu, yang kemudian menjadi suatu sidang, ia belum menjadi hamba Tuhan. Mulai dari ibadah perdana pada pos pelayanan ini sampai menjadi sidang diadakan di rumah kami. Ada kurang lebih 2.5 tahun ibadah raya minggu dan ibadah malam diadakan di rumah kami hingga akhirnya kami memiliki lahan dan membangun gedung gereja. Baik pada ibadah raya maupun pada ibadah-ibadah malam kami duduk dilantai beralaskan tikar, bersempit-sempit hingga ke teras rumah. RSS tipe 18 yang walaupun sudah direnovasi tidak terlalu luas. Sehingga dua set kursi di ruang tamu harus kami keluarkan ke teras setiap ada ibadah. Memang melelahkan, tapi puji Tuhan kami tidak mengeluh melakukannya. Hati kami justeru bersyukur dan semangat melihat semangat jemaat Tuhan yang luar biasa.

 

Kami juga bersyukur kepada Tuhan, kalau kami berkesempatan mengalami sedikit penderitaan dan penghinaan oleh karena pekerjaan Tuhan. Rumah yang merangkap gereja itu berada ditengah-tengah perumahan yang sempit dan berderet. Pujian dan doa yang kami adakan ternyata menjadi sumber kebisingan bagi tetangga kami yang umumnya non kristen. Sering mereka tidak nyaman dengan keadaan ini dan kemudian bereaksi. Kadang-kadang mereka melempari atap rumah kami dan juga meneriakkan penghinaan dengan kata-kata kotor. Kami di hina dan dikucilkan. Ah, itu belum seberapa dibandingkan dengan kehinaan dan penderitaan Yesus.

 

Semua pengalaman manis dan pahit yang kami alami dan garis keturunan hamba-hamba Tuhan tidak mengubah pendirianku. Aku tidak mau menjadi hamba Tuhan. Saat aku berniat dan mewujudkan untuk mendalami alkitab lewat sekolah alkitab pun tidak didasari keinginan untuk menjadi hamba Tuhan tapi karena ingin belajar dan mengetahui lebih dalam firman Tuhan. Juga karena termotivasi oleh sepupuku yang dalam setiap perbincangannya sering dikaitkan dengan firman Tuhan.

 

Tapi, di suatu pagi pada bulan Juni 2001 ketika aku berbaring dan tidur, di spring bed tua itu akan mendapat visi Tuhan. Ketika itu aku sedang menganggur, kalaupun ada kerja, cuma kerja serabutan alias mocok-mocok. Pagi itu aku tidur di spring bed tua itu karena tidak ada pekerjaan. Dalam tidurku aku bermimpi ada sepasang merpati putih masuk ke rumahku. Aku heran, dari mana datangnya merpati ini. Lalu ketika aku menangkap sepasang burung merpati ini, mereka dengan sangat jinak, tidak meronta sedikit pun. Lalu aku buatkan mereka “rumah-rumah” dibelakang rumahku. Mereka kelihatan senang tinggal di “rumah-rumah” yang aku buat ini. Ketika aku bangun, aku bertanya dalam hati “Adakah arti dari semua ini? Bukankah merpati putih itu sebagai lambang dari Roh Kudus? Tapi mengapa dua?”. Malamnya semua pertanyaanku dijawab oleh Tuhan. Sepasang hamba Tuhan yaitu Bpk. Pendeta (waktu itu masih Guru) gembala sidang tempat aku beribadah beserta dengan ibu datang ke rumahku. Mereka meminta aku untuk menjadi bagian dari hamba-hamba Tuhan dan menjadi Sintua. Sempat aku tolak dengan halus, aku bilang aku mau membantu pelayanan di gereja ini semampu aku bisa bantu tapi janganlah menjadi hamba Tuhan. Tapi oleh karena hikmat bapak pendeta ini dan juga karena teringat dengan mimpiku pagi tadi, akhirnya aku bersedia menjadi sintua.

 

2 Agustus 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

On the way to Batam.

 

 

Februari 1994, aku memasuki kota Batam. Waktu itu Batam masih belum seramai dan semaju sekarang ini. Disana sini masih banyak hutan dengan pohon-pohon yang rindang diantara kumpulan komplek perusahan dan daerah-daerah pemukiman. Rumah-rumah triplek dan kayu yang beratapkan getah masih mendominasi jumlah rumah di kota ini. Rumah-rumah ini menjamur diatas tanah otorita atau tanah yang telah dialokasikan kepada pengusaha namun belum digunakan. Sering terjadi masalah ketika pemilik lahan itu akan menggunakanya, biasanya ada perlawanan dan tuntutan ganti rugi. Mungkin karena itu pula rumah-rumah ini disebut rumah bermasalah menggantikan sebutan sebelumnya yaitu rumah liar (RULI).

 

 

 boat1

 

Perjalananku dari Medan ke kota ini tidaklah mulus. Karena mobil yang aku tumpangi dari Pekan Baru menuju pelabuhan Buton rusak, terpaksa kami terlambat sampai di pelabuhan Buton. Sementara kapal yang seharusnya membawa kami ke Batam sudah pergi beberapa jam sebelumnya. Semua penumpang tentu saja kebingungan. Apalagi aku yang belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Aku memang tidak pernah bepergian jauh kecuali ke Sibolga tempat tinggal pamanku. Di sini tidak ada penginapan. Yang ada beberapa rumah-rumah penduduk yang kebanyakan kecil dan tidak terlalu bagus.

 

 

Untunglah, ternyata masih ada satu kapal kecil. Tapi kapal ini seharusnya tidak sampai ke Batam, hanya kepulau sekitar pulau Batam. Beberapa orang dari pengurus pelabuhan itu akhirnya sepakat dengan orang kapal untuk membawa kami sampai ke Batam. Puji Tuhan, meskipun jumlah penumpang sudah over capacity tapi akhirnya kami sampai juga di Batam.

 

Jam 10 malam kami sampai di pelabuhan. Masalah belumlah selesai. Tapi aku bersyukur karena masih bisa berkata: “Dalam nama Yesus aku menginjakkan kaki di tanah ini” pada pijakan yang pertama ketika aku turun dari kapal. Aku meyakinkan diri bahwa di tanah ini aku akan diberkati luar biasa oleh Tuhan.

 

Ada beberapa taksi pelabuhan yang sedang menunggu. Tidak banyak, karena jam tiba kapal sudah lewat beberapa jam. Masalah timbul karena aku hanya memiliki alamat perusahaan tempat tanteku bekerja. Tidak ada alamat rumah karena merekapun masih tinggal di ruli. Juga tidak ada nomor telepon. Handphone sendiri masih barang yang sangat langka waktu itu. Sedangkan malam hari menurut orang yang duduk sebangku dengan aku di kapal  perusahaan umumnya tidak bekerja. Aku bingung kemana aku harus pergi. Ketakutan sempat menyelimuti diriku. Untunglah teman yang duduk sebangku dengan aku di kapal mengerti keadaanku. Aku memang sempat bercerita kepada dia di kapal bahwa aku tidak punya alamat selain alamat perusahaan. Lalu dia minta tolong kepada supir taksi agar aku diantar ke sebuah penginapan. Tentu saja penginapan yang murah, karena ia tahu aku perantau.

 

mobil-tua

 

Di dalam taksipun aku sempat diselimuti ketakutan. Jalan-jalan yang kami lewati begitu gelap. Tidak ada cahaya lain kecuali cahaya dari lampu mobil ini. Kucoba melihat dari kaca ke sisi kanan jalan yang ada hanya kegelapan. Juga kelemparkan pandangan ke arah kiri, akupun tidak melihat apa-apa selain pekatnya malam.  Aku coba beranikan diri bertanya kepada pak sopir, “kok, gelap seperti ini?”. “Wah, ini masih hutan semua dek” jawabnya. Aku sempat bimbang kalau-kalau supir ini tidak sedang membawa aku ketempat yang seharusnya yaitu ke penginapan seperti yang dipesankan oleh teman yang sebangku denganku di kapal. Tapi puji Tuhan setelah kurang lebih setengah jam perjalanan mulailah tampak cahaya dari lampu penerangan jalan dan juga dari gedung-gedung. Tidak terlalu lama kemudian akhirnya akupun sampai di penginapan.

Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak di penginapan. Hatiku belum benar-benar nyaman sebelum aku bertemu dengan tanteku. Akupun tidak terlalu yakin dengan kebersihan tempat ini. Dalam benakku tempat ini mungkin sering dipakai sebagai tempat maksiat. Tempat untuk melakukan apa yang disebut “short time“. Sebuah istilah yang aku ketahui dari temanku yang kebetulan pernah bekerja di sebuah hotel kecil. Hotel Melati kalau tidak salahnya sebutannya. Aku coba mengisi waktu dengan membaca Alkitab. Tapi akhirnya akupun “tumbang“ ketiduran. Mungkin karena sudah terlalu lelah.

 

Aku terbangun sekitar jam 9 pagi. Cepat-cepat aku mandi, berkemas dan keluar dari penginapan ini. Aku bertanya kepada penjaga penginapan ini bagaimana aku bisa sampai ke alamat yang aku miliki. Lalu dia menghantarkan aku untuk mengambil taksi. Kurang lebih setengah jam perjalanan aku tiba di perusahaan tempat tanteku bekerja. Akupun kemudian bertemu dengan dia.  Oh..Puji Tuhan legalah hatiku. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena menghantarkan aku dengan selamat.

batamview