Saudara Adalah Utusan Allah

 

Suatu ketika Yesus menyuruh murid-muridNya untuk memberitakan Kerajaan Allah kepada orang-orang Israel saja. (Mat. 10:5) tetapi kemudian dalam amanat agung yang disampaikan kepada murid sebelum Dia terangkat ke surga, Yesus mengutus mereka untuk menjangkau semua bangsa (Matius 28:19 band. Kis. 1:8). Ini artinya bahwa adalah lebih baik berita keselamatan dimulai ditempat dimana kita berada dan dilingkungan terdekat kita yaitu keluarga. Tetapi tidak tertutup kemungkinan supaya kita menjangkau orang lain walaupun belum semua keluarga dapat terjangkau dan bertobat. Mengapa? Karena orang-orang yang dekat dengan kitalah yang mengenal kita sebelum bertobat. Mereka akan melihat perubahan yang terjadi dalam diri kita sebelum menerima keselamatan dan setelah menerima keselamatan. Perubahan itulah yang akan menguatkan pemberitaan kita kepada mereka.

Jadi kita mengemban tugas untuk memberitakan kabar baik (Injil) kepada dunia sejauh kita dapat jangkau, agar mereka tidak masuk dalam penghakiman. Dalam konteks jaman ini, tentu tidak semua kita dapat menjangkau seluruh bangsa-bangsa di seluruh negara, kota-kota sampai kepelosok-pelosok. Tetapi kita tetap diharapkan memiliki andil walaupun kita tidak dapat pergi menjangkau mereka. Oleh karena itulah kita perlu mengutus orang-orang yang mau memberi diri sebagai missionaris atau penginjil-penginjil atau setidaknya kita dapat membantu penginjil-penginjil yang telah diutus dengan dana misi, supaya mereka tidak terhalang menjalankan tugas penginjilan.


Roma 10:13-15: Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Sama seperti Yesus telah diutus Bapa untuk menyelamatkan dunia dan menggenapi seluruh nubuatan tentang Dia (Gal. 4:4 ; Luk. 4:18-19), demikian juga kita telah diutus memberitakan kabar baik tentang keselamatan itu bagi orang-orang yang belum percaya. Allah sangat merindukan semua manusia untuk diselamatkan oleh karena itulah Dia mengutus murid-muridnya termasuk kita sekarang ini, untuk menjangkau dunia dimulai dari tempat dimana mereka berada.

Saudara Adalah Terang Dunia.

 

Sebagai orang percaya kita juga disebut terang dunia yang menerangi dunia ini dengan cahaya kebenaran. Dalam Matius 5:14 Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya juga termasuk kepada kita bahwa kita adalah terang dunia. Terang yang kita miliki bersumber dari terang Kristus dalam persekutuan kita denganNya. Terang Kristus tidak hanya memungkinkan kita berjalan di dalam terang (kebenaran) tapi kita sendiri menjadi terang bagi orang-orang yang masih tinggal di dalam kegelapan. Yoh. 8:12 :“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

 

            Sama seperti kita ketika belum percaya dan belum mengenal kebenaran itu, demikian juga jiwa-jiwa masih banyak yang tinggal di dalam kegelapan. Orang yang tinggal di dalam kegelapan tidak dapat melihat apa yang benar dan yang berkenan kepada Tuhan. Orang yang tinggal di dalam kegelapan tidak memiliki kepastian dalam hidup. Oleh karena itu kita sebagai anak-anak terang harus bercahaya supaya mata rohani mereka dapat melihat kemuliaan Allah yang dapat mereka miliki dengan demikian mereka juga akan memuliakan Allah. Matius 5:16,“ Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.“ (Band. Filipi 2:15)

 

Yohanes 1:4-5 mengatakan:“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.“ Kristus tidak akan pernah dikuasai oleh kegelapan, demikianlah kiranya kita sebagai anak-anak terang. Justeru terang yang ada pada kita akan dapat memperlihatkan hal-hal yang tersembunyi di dalam kegelapan. Efesus 5:11 berkata :“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.“

 

             Kristus telah memberikan contoh ketika ia menelanjangi segala dosa dan kemunafikan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, demikianlah kita juga harus mampu menunjukkan hal-hal yang salah yang tidak sesuai dengan firman Allah walaupun memang kadang-kadang menyakitkan.

Saudara Adalah Garam Dunia.

 

           Semua kita mengetahui bahwa garam sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia. Garam berfungsi untuk memberi rasa pada hampir semua jenis makanan untuk menyedapkan makanan tersebut. Garam juga berfungsi untuk mengawetkan jenis makanan tertentu.

 

            Matius 5:13 berkata:”Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tida ada lagi gunanya selain di buang dan di injak orang.” Kita disebut garam dunia, itu artinya bahwa kita harus memberi rasa kepada dunia ini.

 

            Agar garam itu berfungsi memberi rasa atau mengawetkan, maka garam itu garus membaur dan larut dengan makanan itu. Hal ini berbicara tentang pengaruh yaitu garam itu mempengaruhi makanan itu sehingga menjadi sedap rasanya. Demikianlah kita diharapkan dapat mempengaruhi dunia ini dengan segala apa yang kita miliki dari Allah secara khusus hikmat, pengetahuan dan perbuatan, sehingga kehadiran kita membawa manfaat yang baik dimana kita berada.

 

            Namun kita tetap harus hati-hati. Karena sama seperti garam yang terlalu banyak akan membuat makanan terlalu asin dan garam yang terlalu sedikit akan membuat makanan menjadi hambar, dan keduanya akan menjadi sia-sia, demikianlah kehadiran kita sebagai garam dunia haruslah dalam kewajaran dan tidak terlalu sensasional. Artinya kita harus menempatkan diri sedemikian rupa agar kita beroleh kesempatan memberi pengaruh (rasa) kepada orang-orang disekeliling kita. Misalkan untuk memasak sayur, garam yang ditaruh kira-kira 1 sendok, sedangkan untuk mengawetkan, garam ditaruh 5-6 sendok. Nah, kalau komposisi garam ini terbalik, maka dapat dipastikan fungsi garam itu akan menjadi sia-sia.

 

            Kita boleh tampil alim sealim-alimnya ditengah orang yang sudah percaya, tetapi janganlah kita terlalu alim ditengah-tengah orang yang belum percaya karena sikap itu justeru akan membuat mereka menjaga jarak dengan kita, sehingga kita tidak mempunyai banyak kesempatan memasukkan pikiran-pikiran kita kepada mereka.

 

Saudara Adalah Anak-Anak Allah.

 

Dalam banyak firman Tuhan, Yesus disebut Anak Allah. Bahkan Dia sendiri menyebut diri-Nya sebagai Anak. Sebenarnya sebutan Anak kepada Yesus sangat erat kaitannya dengan manusia agar setiap orang yang percaya juga mendapat bagian dalam identitas ke-anakan-Nya. Kristus disebut Anak dan Allah adalah Bapa-Nya supaya kita dapat bagian di dalamnya, sehingga kita disebut anak-anak Allah dan Allah adalah Bapa kita.  Yohannes 1:12,”Tetapi semua orang yang menerima-Nya (Yesus-red) diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” (band 1 Yoh. 2:23; Galatia 3:6)

 

Jadi hubungan kita dengan Tuhan bukan hanya sekedar hubungan antara Allah dengan umat, pencipta dengan ciptaannya, bukan juga hanya seperti gembala dengan domba tetapi juga hubungan antara Bapa dengan anak. Dengan posisi kita sebagai anak, kita memperoleh kesempatan untuk bergaul karib atau berhubungan dengan akrab dengan Allah. Ini sungguh luar biasa. Tuhan bergaul karib dengan Allah. Ketika Yesus menyebut Allah sebagai Abba

 

Dalam beberapa kesempatan Yesus Kristus menyebut Allah sebagai Abba. Abba dalam bahasa Aramic artinya deddy (B. Inggris) ayah (B.Indonesia) bukan hanya sekedar bapa. Bapa belum tentu ayah tetapi ayah sudah pasti bapa. Abba atau Ayah menunjukkan garis keturunan. Abba menunjukkan dari mana seseorang berasal. Galatia 4:6,”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”(Band Roma 8:15) Karena kita telah menyatu dengan Kristus dan telah mendapat bagian dari identitas ke-anak-anNya, maka kita juga berhak memanggil-Nya Abba.

 

Ketika Yesus berdoa, Dia selalu mengarahkan doanya kepada Bapa. Dia menyebut Allah dalam doa-Nya sebagai Bapa atau Abba. Dan saat Dia mengajarkan murid-murid dalam hal berdoa dan meminta kepada Allah, Dia mengajarkan para murid untuk meminta kepada Bapa. Ini menjadi suatu pelajaran bagi kita bahwa apabila kita berdoa dan meminta kepada Allah dalam doa kita, hal yang sangat perlu kita sadari bahwa kita sedang berdoa atau meminta kepada Bapa kita. Bapa atau Abba yang mengasihi kita, yang perduli dan yang bangga memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya Matius 6:7-8,”Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepada-Nya.” 

 

Dalam suatu kesaksian, raja Daud pernah berkata : Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku dipadang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. (Maz. 23:1-2). Jadi karena nama-Nya yang agung, Ia bangga memberi yang terbaik bagi anak-anakNya, dan juga mau agar anak-anakNya bangga memiliki Bapa seperti Dia.

 

Yoh.3 :35 mengatakan :”Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya.” Ini artinya bahwa segala sesuatu yang telah diserahkan kepada Kristus, kita juga dapat bagian di dalamnya karena kita telah mendapat bagian dari identitas ke-anakan-Nya (Yoh. 1:12 & Galatia 4:6). Juga Efesus 1:22,”Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Oleh karena itu sebagai anak yang telah menyatu dengan Kristus, maka apa yang diletakkan dibawah kaki Kristus, kita juga mendapat bagian di dalamnya.

Kita Orang Merdeka.

 

Lukas 4:18-19:” Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Firman Tuhan ini adalah nubuatan nabi Yesaya tentang Yesus yang dibacakan oleh Yesus sendiri setelah genap waktunya. Dari firman Tuhan ini kita bisa melihat misi Kristus di dalam dunia yaitu untuk membebaskan atau memerdekaan orang-orang tawanan. Yang dimaksud dengan orang tawanan disini adalah bukan tawanan-tawanan yang ada dipenjara dalam arti yang sebenarnya, melainkan manusia yang tertawan dalam hukum dosa (Taurat) dan hukum maut (Hukum akibat perbuatan dosa) – Roma 8:1-2.

           

            Menurut ensiklopedia, Taurat atau Tora adalah kumpulan peraturan dalam tatanan sosial dan keagamaan yang ada ditengah-tengah masyarakat. Dalam perkembangannya, lima kitab Musa yang berisi tata upacara keagamaan dan tatanan kemasyarakatan diletakkan oleh Ezra menjadi dasar hukum yang mengatur tatanan kehidupan orang Yahudi setelah masa pembuangan. (Krn 450 sm, Neh. dan di ikuti kemudian dengan kitab para nabi. Dari sinilah dipercaya asal usul kelompok ahli-ahli Taurat, yang bertugas memelihara hukum-hukum itu dan mengajarkannya (Luk. 2:46; Yoh. 18:20).

 

            Karena Hukum Taurat telah menjadi landasan hukum orang Yahudi, maka ahli-ahli Taurat ini dipercaya untuk urusan hukum sebagai hakim-hakim di Mahkamah Agama (Matius 22:35; Mrk. 14:43,53; dst) Mereka juga menyampaikan keputusan-keputusan tidak tertulis seperti adat istiadat sebagai hukum sosial yang harus dikerjakan. (Mrk. 7:5). Keinginan ahli-ahli Taurat untuk menerapkan hukum Taurat dan adat-istiadat secara ketat cenderung melahirkan legalisme sehingga mengesampingkan kasih. Karena menurut mereka, untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan hidup harus mematuhi hukum taurat, kitab para nabi (yang juga mengacu pada cara berpikir Taurat) dan adat istiadat Yahudi dengan sempurna. Di dalam Taurat Allah lebih digambarkan sebagai pribadi yang tegas bahkan cenderung kejam dan minim kasih. Maka tidak heran mereka yang hidup ketat di dalam hukum Taurat menjadi orang yang kejam sama seperti rasul Paulus sebelum dia menjadi pengikut Kristus.

 

            Namun ternyata tidak satu orangpun yang dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna, termasuk ahli Taurat sendiri seperti yang disaksikan oleh rasul Paulus sendiri dalam Kis. 15:10 :”Kalau demikian, mengapa kamu mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk (hukum Taurat), yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita, maupun oleh kita sendiri?”  Oleh karena itu tidak satu orangpun yang dapat selamat dengan mengandalkan hukum Taurat.

 

            Untuk itulah juga Kristus menjadi manusia, untuk menggenapi dan memenuhi semua tuntutan hukum Taurat di dalam diri-Nya, sehingga manusia beroleh kesempatan untuk selamat tanpa harus memenuhi/melaksanakan hukum Taurat. Gal 3:13,’Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”

 

            Dalam suratnya ke jemaat Efesus, rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus telah membatalkan hukum Taurat. Efesus 2:15-16 :”sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.”  Karena Taurat telah dibatalkan, maka Taurat itu tidak lagi berlaku sebagai dasar hukum dalam menjalani kehidupan. Manusia telah bebas dimerdekakan dari ikatan hukum Taurat. Oleh karena itulah kepada jemaat di Galatia rasul Paulus berpesan agar mereka jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.  Galatia 5:1:”Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”

 

            Lalu, ketika hukum Taurat tidak lagi berlaku bagi kita, apakah itu berarti kita bebas melakukan apa saja sesuai dengan kehendak kita? Tentu tidak. Karena kemerdekaan yang kita terima dari Allah adalah kemerdekaan dari hukum Taurat, bukan kemerdekaan untuk melakukan kejahatan dan dosa. Kemerdekaan yang kita terima bukan merupakan tiket atau surat ijin untuk bebas melakukan apa saja yang kita kehendaki. Justru kemerdekaan kita dari hukum Taurat menjadi awal atau titik tolak untuk memiliki persekutan yang indah dengan Tuhan di dalam ketaatan. Dalam kemerdekaan, kita tidak lagi dibatasi aturan Taurat dan adat istiadat untuk berhubungan dengan Allah. Kita sudah bisa berbicara secara pribadi langsung kepada Allah dari hati ke hati.

 

            Telah kita pelajari bahwa ketika kita percaya dan menerima Kristus, kita menjadi ciptaan baru yaitu kita menerima roh yang baru yang berasal dari Allah yang memungkinkan Roh Allah/Roh Kristus tinggal di dalamnya. 2 Korintus 3:17 berkata:”Sebab Tuhan adalah Roh, dimana ada Roh Allah disitu ada kemerdekaan”.  Roh Allah yang ada di dalam kita itulah yang memerdekakan kita, dan Roh Allah itu pula yang kemudian menuntun kita untuk melakukan kehendak Allah dan firman Allah. 1 Korintus 2:10 &11 :”Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah…Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.”  Ketika kita tidak hidup oleh hukum Taurat maka kita hidup oleh Roh Allah. Orang yang hidup oleh Roh Allah, tidak menuruti keinginan daging (Galatia 5:16. Band. Tentang keinginan daging dan roh ; Galatian 5:17-23 & Roma 8:5-9).

Saudara Adalah Orang Benar

 

Tidak sedikit orang yang mengaku sudah lama menjadi orang kristen tidak mengerti identitasnya sebagai orang benar.  Mereka berupaya giat beribadah, juga giat mengikuti pelayanan-pelayanan bukan untuk mewujudkan ucapan syukur mereka kepada Tuhan, melainkan untuk menyandang predikat sebagai orang benar atau setidaknya supaya dianggap sebagai orang benar. Maka tidak heran sering kita mendengar orang berkata: “saya belum layak, kehidupan saya belum benar, saya belum pantas, saya begini, saya begitu, masa lalu saya hitam, dll” Tapi kita harus menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa ketika kita percaya kepada Kristus, dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru selamat dalam hidup kita, maka saat itu juga kita menjadi orang benar, betapapun hitam atau gelamnya masa lalu kita.

Ketika Yesus mengambil rupa seorang manusia maka Dia menjadi sama dengan manusia dengan tujuan agar manusia turut ambil bagian di dalam segala karya-Nya dan identitasnya. Mereka yang percaya kepada Kristus juga dapat bagian dari Kekudusan-Nya dan Kebenaran-Nya. Oleh karena itu bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus, mereka telah dikuduskan dan dibenarkan. Dengan kata lain dimata Allah saudara sama kudus dan sama benarnya dengan Yesus. Karena Yesus telah mengambil dosa kita dan memberikan kebenaran-Nya bagi kita. 2 Korintus 5:21,”Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Yohanes 17:19 dalam doa-Nya Yesus berkata,” dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun di kuduskan dalam kebenaran,” Juga 1 Korintus 1:30 berkata,”Tetapi oleh Dia kamu berada di dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”

Predikat sebagai orang benar ini adalah pemberian cuma-cuma dari Allah, bukan karena usaha kita atau karena kebaikan kita melakukan ibadah-ibadah atau karena keberhasilan kita meninggalkan kebiasaan masa lalu. Kebaikan apapun yang dilakukan oleh orang berdosa, tetaplah dipandang dosa karena penglihatan Allah yang utama bukan pada perbuatan baiknya melainkan pada statusnya sebagai orang berdosa. Jadi hanya karena anugerah Allah lewat penebusan yang dikerjakan Kristus kita dibenarkan. Roma 3:23-24 berkata :”Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”

Rasul Paulus adalah orang yang mempunyai keyakinan yang teguh kepada Taurat sebelum dia menerima Yesus. Fanastismenya kepada Taurat telah menjadikan dia seorang teroris yang membunuh banyak pengikut Kristus. Tetapi ketika dia mengenal Kristus, suatu kali dia berkata bahwa apa yang dulu dianggapnya keuntungan dianggapnya suatu kerugian atau sampah karena pengenalannya kepada Kristus. (Filipi 3:7-8). Tetapi kita lihat, bahwa Paulus tidak menjadikan masa lalunya yang jahat sebagai beban yang harus terus dipikul. Masa lalunya tidak membuat dia merasa bersalah dalam penyesalan yang berkepanjangan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena dia mempunyai keyakinan bahwa dia telah dibenarkan dan dosanya telah dihapus.

Yesaya 1: 18 mengatakan:”…sekalipun dosamu merah seperti kermiji akan menjadi putih seperti salju..” Jadi betapapun gelapnya masa lalumu, hitam pekatnya sepekat-pekatnya latar belakang kehidupanmu, detik dimana saudara percaya detik itu juga saudara menjadi orang benar dihadapan Allah.  Let by gone be by gone

Saudara Adalah Ciptaan Baru

 

Ketika Allah menciptakan segala sesuatu, firman Tuhan katakan bahwa semua baik. Manusia diciptakan dengan kemuliaan Allah dalam kekudusan dan kebenaran.  Tetapi ketika manusia yang pertama itu jatuh kedalam dosa, mereka kehilangan kemuliaan Allah demikian juga keturunannya. Kejadian 2:17 yang berkata,”pada hari engkau memakannya, engkau akan mati”, tidak berarti mereka akan mati secara jasmani melainkan secara rohani dimana mereka akan menjadi terpisah dari Allah. Dosa manusia pertama sesungguhnya adalah bukan dosa ketidakpatuhan melainkan dosa ketidak percayaan. Ketika iblis menggoda dia, dia lebih percaya kepada perkataan iblis daripada perkataan Allah sehingga ia memakan buah terlarang itu. Ketidak percayaan itulah yang membuat Adam dan Hawa tidak patuh pada perkataan Allah untuk tidak memakan buah terlarang itu.

           

Tetapi karena kasih Allah yang besar, Dia mau mengembalikan hubungan yang terputus dengan manusia, sekaligus mengembalikan hakekat kemuliaan dan kekudusan manusia itu. Untuk itulah Dia mengutus Pribadi Kristus sebagai penebus dosa manusia untuk memulihkan hubungan antara Allah dengan manusia. Namun sama seperti Adam dan Allah berdasarkan pada hubungan kepercayaan, demikian juga antara manusia dengan Kristus. Yohanes 3:16,”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

 

2 Korintus 5:17,”Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ayat ini menunjukkan bahwa ketika seseorang percaya kepada Yesus, maka pada saat itu terjadi “penciptaan kembali” dalam diri manusia. Namun yang diciptakan kembali bukanlah daging dan jiwa melainkan roh manusia itu. Menurut 1 Tesalonika 5:23, kita adalah suatu makhluk yang terdiri dari tiga bagian yaitu tubuh, jiwa dan roh. Roh manusia inilah yang diganti dengan roh yang baru dan yang kudus, yang berasal dari Roh Allah yang memungkinkan Roh Allah berdiam di dalamnya. Epesus 4:24,“Dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.“. Bandingkan Yohanes 3:5-6,” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.”  Juga 1 Korintus 3:16 :”Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Jadi di dalam roh kita yang baru itulah dimungkinkan Roh Allah berdiam dan membawa serta segala kebaikan-Nya ke dalam roh kita.