PENGAJARAN

Yesaya 8:20; “Carilah pengajaran dan kesaksian!” Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar.

Setiap orang butuh pengajaran firman. Pengajaran akan menjadikan kita lebih dewasa dalam iman sejurus kemudian akan di ikuti dengan kedewasaan sikap dan tindakan. Dengan pengajaran firman, kita semakin mengenal Allah dengan segala apa yang dapat Dia perbuat bagi kita. Kita mengenalNya sebagai gembala yang baik, yang selalu memperhatikan dan memelihara ; memberika proteksi/perlindungan dalam setiap langkah yang kita jalani.

Sangat dibutuhkan hati sebagai seorang murid ketika menerima pengajaran. Seorang murid memiliki kerinduan untuk dibekali ilmu pengetahuan (pengajaran) dan untuk itu dibutuhkan tekad untuk terus belajar dan penerima pengajaran dari guru. Seorang murid akan mematuhi dan mengikuti arahan gurunya dan pada akhirnya seorang murid akan mempraktekkan pengajaran yang dia tarima. Dengan kata lain bahwa perjalanan hidup seorang murid akan dipengaruhi oleh pengajaran yang dia terima.

Demikianlah diharapkan bagi umat-umat Tuhan. Sebagai murid Tuhan, kita sepantasnya memiliki kerinduan untuk terus belajar firman Tuhan, mematuhi dan menerima arahan dari sang guru kita yang Agung Yesus Kristus dan pada akhirnnya diharapkan kita mempraktekkan firman Allah sebagai buah dari pengajaran itu.

PANDANGAN

 

Amsal 16:2 berkata :”Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.”

 Firman Tuhan ini, mencerminkan sikap hidup manusia secara umum yang selalu berbicara dan bertindak sesuai dengan apa yang dianggap benar menurut pandangannya. Sekalipun menurut pandangan orang lain belum tentu sama.

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi pandangan seseorang, antara lain : pendidikan/pengetahuan dan pengalaman hidup dari sejak kecil baik di keluarga maupun di lingkungannya.  Perbedaan pandangan bisa saja menjadi sumber malapetaka jika masing-masing pihak mempertahankan pendapatnya yang dianggapnya paling benar.

Ibaratkan seseorang yang melihat sebatang pohon yang berdaun ke ungu-unguan dari balik kaca jendela yang berwarna merah dan seorang lagi melihat pohon yang sama dari balik kaca jendala yang berwarna biru, mereka akan melihat warna daun pohon itu dengan warna yang berbeda-beda berdasarkan warna kaca jendela yang mereka gunakan untuk melihat pohon itu. Nah, untuk membuktikan warna daun pohon yang sebenarnya, mereka harus meninggalkan kaca jendala itu dan bersama-sama  mendekati pohon itu.  Artinya mereka haruslah keluar dulu dari merasa paling benar masing-masing  dan mengkomunikasikannya.

Dialog/Komunikasi yang terus menerus sangat dibutuhkan untuk menyatukan pandangan. Dan tentu saja kerendahan hati dan keterbukaan menjadi modal utama dalam menghasilkan komunikasi yang berhasil. Selain itu egoisme dan sifat mau menang sendiri haruslah dihilangkan. Masing-masing pihak harus bersedia mendengar lawan bicara mengungkapkan pendapatnya. Komunikasi yang baik akan menghasilkan keputusan-keputusan yang baik pula. Orang yang hatinya murni akan selalu terbuka mengevaluasi diri dan mengoreksi diri dan pandangan-pandangannya.

Evaluasi Diri

Mazmur 90:12 “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”

Untuk mengetahui secara jelas perkembangan suatu program kerja maka diperlukan adanya evaluasi.  Dengan evaluasi kita dapat mengetahui realisasi program dan menelusuri kendala-kendala yang dihadapi serta kemudian mencari dan merumuskan langkah-langkah pemecahannya, sehingga target yang ingin dicapai dengan program itu bisa terlaksana atau setidak-tidaknya sangat mendekati sasaran.

Mungkin kita tidak punya program tertulis menyangkut masa depan kita, tetapi kita punya impian dan harapan untuk masa depan. Untuk itu kita juga perlu mengevaluasi diri, mengevaluasi segala tindakan yang telah kita lalui, merenungkan perkembangan apa yang telah kita capai dan mengidentifikasi kendala-kendala atau kelamahan-kelemahan apa yang perlu diperbaiki.

Pun dalam hal rohani perlu mengevaluasi diri. Bagaimana peningkatan pengenalan kita akan Tuhan, pertumbuhan rohani, buah-buah yang kita hasilkan, dan lain-lain. Untuk meningkatkan kemampuan dan kwalitas diri baik intelektual maupun rohani, modal yang paling penting adalah sikap mau diajar dan mau belajar. Seringkali Tuhan kasih kesempatan bagi kita untuk belajar tatapi waktu itu tidak kita manfaatkan dengan baik, sehingga dari tahun ke tahun kemampuan intelektual kita hanya begitu-begitu saja dan secara rohani tidak bertumbuh.

Dengan kemampuan intelektual dan kedewasaan rohani, bukan saja akan meningkatkan kwalitas hidup kita sendiri tatapi kita juga dapat menjadi berkat bagi orang lain. Hanya orang-orang yang berkwalitaslah yang dapat membuat gebrakan perubahan positif bagi kemajuan kehidupan umat manusia.

Keputusan di Tanganmu.

 

2 Taw. 20:1-4 “Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi. Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.”

Selama kita masih ada di dalam dunia ini, tidak ada seorang pun yang menjamin bahwa kita tidak akan menghadapi masalah atau tantangan hidup, meskipun kita adalah orang percaya. Mengapa? Karena dunia ini penuh dosa dan kejahatan, kita hidup di dunia ini bersama-sama dengan orang yang tidak percaya.  Dalam hal ini, tidak keistimewaan orang percaya dengan yang tidak percaya.  Perbedaannya hanya pada bagaimana kita menyikapi tantangan yang kita hadapi dan kepada siapa kita meminta pertolongan dalam setiap tantangan hidup yang kita alami.

Tuhan tidak pernah menjanjikan kepada kita orang percaya bahwa hidup kita akan bebas dari tantangan hidup.  Kita juga harus tahu mengerti bahwa terkadang Tuhan justru mengijinkan persoalan menghampiri kita, supaya kita belajar dan mengerti situasi dunia ini dan dari situ kita memperoleh hikmat untuk mengambil tindakan yang tepat dalam hidup kita, dan supaya kita senantiasa bergantung kepada-Nya.

Ketika mengalami tantangan, sering kali kita merasa tidak sanggup untuk menghadapi. Kita mungkin akan takut dan kawatir. Dan itu sangat manusiawi. Namun sebagai orang percaya, hal itu seharusnya tidak boleh berlarut-larut dalam hidup kita, karena ada janji Tuhan bagi kita ketika kita mau berseru kepada-Nya meminta pertolongan. Karena itu, apa pun masalah yang kita hadapi yang membuat kita takut dan gentar, ambil keputusan untuk berseru kepada TUHAN. Keputusan ada di tanganmu

Dalam Pelbagai Cara

Ibrani 1:1-4 “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Sejak jaman dahulu Allah terus menyatakan diri-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. “Dengan berbagai cara” memberi makna bahwa pernyataan Allah kepada manusia itu kontekstual dan progressive supaya manusia itu bisa memahami maksud Allah. Pernyataan diri Allah tidak dibatasi oleh waktu atau jaman, situasi dan kondisi dunia dan juga budaya. Lebih dalam adalah betapa Allah itu sangat menginginginkan umat-Nya mengenal dia dan mendengarnya ketika Ia berbicara atau menyatakan diri-Nya.

Pastilah Allah punya rencana yang indah mengapa Dia menyatakan diri, dan tentu manusia akan beruntung apabila mengenal Allah.  Mengapa? Karena mengenal Allah berarti mengenal kuasa, dan kebaikan-Nya,  Nabi-nabi telah menjadi perantara sampai peryataan diri-Nya melalui perantara Anak-Nya Yesus Kristus.  Dengan perantara Yesus Kristus, kita bisa mengerti isi hati Allah. Pengorbanan Yesus di kayu salib dengan meninggalkan kemuliaan-Nya di sorga demi manusia adalah bukti cinta Allah. Yesus adalah gambar wujud Allah.

Di PL dalam pernyataan diri Allah kepada bangsa Israel, Ia sering mengatakan kepada bangsa Israel “Aku..YHWH”  yang dalam alkitab LAI terjemahan baru ditulis “TUHAN” (huruf besar semua),   Disini Allah sekaligus menyatakan bahwa pada nama-Nya itu melekat seluruh keberadaan atau jati diri Allah. YHWH (Yahwe) atau TUHAN,  adalah berbicara tentang existensiNya yang tidak berasal-usul atau ada dari kekekalan, unlimited power (kuasa yang tidak terbatas) dan absolute, dan yang keputusan-keputusanNya tidak dipengaruhi oleh manusia atau oleh apapun.

Kalau kita meyakini bahwa Yesus adalah gambar wujud Allah, Dia adalah gambar wujud Yahwe, pada-Nya melekat seluruh keberadaan atau jati diri Allah, Dia yang existensiNya yang tidak berasal-usul atau ada dari kekekalan, unlimited power (kuasa yang tidak terbatas) dan absolute, dan yang keputusan-keputusanNya tidak dipengaruhi oleh manusia atau oleh apapun. Betapa dahsyat Dia bagi kita sebagai milik kepunyaan-Nya.

Orang Percaya itu Bertindak

1 Raja-raja 17: 13-13, Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.”

Elia adalah abdi Allah yang setia dengar-dengaran firman Allah. Suatu waktu dia disuruh oleh Tuhan pergi ke Sarfat, sebuah daerah yang sudah beberapa lama kekeringan karena kemarau yang panjang sehingga mereka yang tinggal di daerah itu menjadi kesulitan dalam hal kebutuhan jasmani.

Seorang janda yang tinggal di Sarfat bersama seorang anaknya, bukan saja kesulitan karena kemarau yang panjang tetapi mereka juga memang adalah keluarga yang miskin. Ke rumah janda inilah Elia disuruh Allah  setelah sebelumnya disuruh untuk menyendiri ke suatu tempat dimana Allah memenuhi kebutuhannya melalui burung-burung yang disuruh oleh Allah untuk mengantarkan makanan.

            Yang menarik dari kisah ini adalah bahwa Allah memakai janda miskin ini menjadi berkat bagi nabi Elia dan memakai nabi Elia untuk menjadi berkat bagi janda miskin ini. Ketika Tuhan menyuruh Elia pergi ke Sarfat, Ia telah menjamin keperluannya walaupun melalui seorang janda miskin. Pada awalnya janda miskin ini mungkin kaget atas permintaan nabi Elia untuk member kepada nabi itu sepotong roti, sementara yang dia miliki hanya tinggal segenggam tepung dan sedikit minyak di dalam buli-buli. Dan ia dengan jujur meresponi nabi Elia dengan berterus terang mengungkapkan keadaannya yang sebenarnya.

            Nabi Elia tahu apa yang dikawatirkan ibu ini, oleh karena itu dia memberi jaminan kepada ibu itu sesuai dengan yang Allah firmankan bahwa tepung dan minyak itu tidak akan habis sampai hujan membasahi bumi dan tanah-tanah menghasilkan. Janda itu percaya pada perkataan nabi itu sehingga ia membuat roti seperti permintaan nabi itu. Dan Tuhan memenuhi firman-Nya yaitu bahwa tepung dalam tempayan itu dan minyak dalam buli tidak habis sampai hujan membasahi bumi.

            Nabi Elia percaya kepada perkataan Tuhan, lalu dia pergi ke Sarfat. Janda miskin ini percaya kepada firman Allah yang disampaikan nabi-Nya, lalu ia membuat roti seperti yang dimintakan oleh nabi Elia. Orang yang sungguh-sungguh percaya pastilah ia bertindak, karena tidak ada keraguan di dalam hatinya (Yakobus 1:18-20). Ketidakpercayaan dan keraguanlah yang sesungguhnya menghambat orang untuk tidak bertindak.  Hanya iblis saja yang percaya tetapi dengan sengaja membantah Allah. Selebihnya adalah orang-orang yang tidak percaya atau yang masih ada keraguan di hatinya.

KUAT KARENA MENGAKAR

“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya” (Maz. 92:13-16)

Pohon Korma adalah sejenis pohon tanaman keras yang hidup di daerah tandus disekitar padang pasir. Walau hidup di daerah tandus namun pohon ini berdaun lebat karena akarnya tertanam jauh hingga ke tanah yang berair, dan pohon ini menghasilkan buah yang sangat manis sampai pohon ini tua. Sedangkan pohon aras adalah pohon keras yang sangat kuat, tahan segala cuaca bahkan memiliki kecenderungan tahan api.

Demikianlah digambarkan seorang yg benar. Orang benar akan bertunas dan bertumbuh walaupun ditengah-tengah kegersangan hidup manusia dan kerasnya kehidupan yang terjadi di dunia ini. Berakar dengan kuat pada firman Tuhan akan menghasilkan pertumbuhan rohani yang baik dan mengeluarkan buah-buah yang manis yaitu perbuatan baik yang menyenangkan hati Tuhan.

Kita memang tidak akan kuat menghadapi dunia ini tanpa kita berakar di dalam firman. Akar pada pohon berfungsi untuk menyerap sari-sari makanan dan air yang akan menunjang pertumbuhannya. Selain itu, akar yang tertanam kuat akan dapat menahan pohon dari terpaan angina kencang. Demikianlah kehidupan orang yang berakar di dalam firman, yang bergantung kepada Allah akan terus bertumbuh dan akan kuat menghadapi terpaan angin pencobaan yang mungkin terjadi.

Kita membutuhkan firman Tuhan terus menerus. supaya kita juga dapat bertindak bijaksana sepanjang waktu hidup kita, untuk memutuskan langkah-langkah apa yang harus kita jalani. Pengajaran firman akan membantu kita dalam bersikap untuk menjalani kehidupan itu dengan baik dan benar, dan bersama Tuhan Gunung Batu kita akan kuat menghadapi tantangan.

SEMBILAN TAHUN KE-SINTUA-ANKU

SEMBILAN TAHUN KE-SINTUA-ANKU

(10 Juni 2001 – 10 Juni 2010)

Tidak ada niat dalam diriku untuk menjadi seorang hamba Tuhan di GPI. Walaupun aku anak seorang pimpinan sidang  (Alm. Gr. Kostan Nainggolan), cucu dari seorang perintis beberapa sidang disekitar kecamatan Bandar Khalipah (Alm. Gr. Ambersius Sitanggang) bahkan dari keluarga yang banyak jadi hamba Tuhan, tapi bagiku menjadi hamba Tuhan adalah pekerjaan susah. Aku melihat betapa sulit dan banyaknya tantangan yang dialami oleh mereka dalam pelayanan.

Namun, tidak berpikir jadi hamba Tuhan bukan berarti aku orang yang malas beribadah dan belajar firman Tuhan.  Bagiku itu wajib ku lakukan. Memang pada masa mudaku ada waktu-waktu dimana aku seperti jauh dari Tuhan karena aku jarang beribadah karena beberapa hal, tetapi secara iman hatiku masih terpaut kepadaNya.

Latarbelakang keluarga yang sangat sederhana (kategori miskin barangkali), memicu lahirnya cita-cita dalam diriku yaitu menjadi orang kaya.  Ya, hanya itu cita-citaku dulu; menjadi orang kaya.  Teringat ketika SMP, waktu teman-teman pergi tour ke tempat wisata, aku harus gigit jari karena tidak punya uang untuk ikut. Keinginan menambah ilmu dengan kursus sewaktu SLTA kuurungkan, dan niat untuk kuliah setelah taman SLTA kukubur dalam-dalam. Oleh karena itu ketika aku melihat orang-orang yang sekolah atau kuliah tidak serius, miris rasanya. Padahal orang tua mereka mungkin sudah begitu bersusah payah untuk memenuhi biaya kuliah mereka. Namun walau dengan segala keterbatasan pendidikan yang kumiliki, aku tetap berani untuk bercita-cita menjadi orang kaya dan bukan menjadi hamba Tuhan.

Tetapi kehendak Tuhan lain dengan kehendakku.  Seperti yang aku saksikan di http://hutabalian72.wordpress.com/2008/08/13/di-atas-spring-bed-tua/, Akupun akhirnya harus tunduk kepada panggilan Tuhan, dan mau diangkat menjadi Sintua. Selama menjalani tugas pelayanan, tidak sedikit tantangan yang kuhadapi baik dari dalam maupun dari luar.  Pola pikir, konsep atau pengertian tentang sesuatu baik itu hal-hal umum, pelayanan maupun tentang firman Allah tidak selalu sama. Karena itu dibutuhkan hikmat, upaya-upaya pembelajaran yang terus menenerus, pendekatan yang baik (walau kadang sangat tegas) dengan rekan sesama pelayan.

Pernah selama empat tahun lebih sebagai pembina muda-mudi sidang, dan empat tahun menjadi pembina Biro Pemuda kota Batam, adalah merupakan tahap proses pembelajaran dalam melayani. Sebagai pembina harus menjembatani antara pemuda dengan hamba-hamba Tuhan, antara dept. pemuda sidang dan biro pemuda.  Korban waktu dan korban perasaan harus dijalani, dan diterima sebagai proses pembelajaran juga mengenai arti kesetiaan dalam tugas.

Ketika semakin mengerti betapa indah dan luar biasa arti sebuah panggilan dari Tuhan, sebuah kepercayaan dan kehormatan yg diberikan Tuhan, terkadang menangis menjadi wujud syukur yang meluap. Panggilan Allah adalah panggilan yang bertanggung jawab. Ia memanggil, maka Ia  memperlengkapi dengan segala sesuatu untuk kebutuhan panggilan itu sendiri.

Jauh sebelum menjadi hamba Tuhan, kuyakini  Ia telah mempersiapkan segala sesuatu, dan Ia terus bekerja di dalamnya.  Septintas ada pertanyaan dalam benakku ketika aku harus bekerja sebagai janitor (tukang sapu/office boy – http://hutabalian72.wordpress.com/2008/08/26/lomserhurry-up/ ) yang  dianggap pekerjaan hina bagi banyak orang terlebih umumnya orang yang batak yang semuanya adalah “raja”. Tapi kemudian kusadari bahwa Tuhan telah mempersiapkan yang lebih besar bagiku dengan menjawab mimpi kubangun) ketika aku menjadi janitor  (http://hutabalian72.wordpress.com/2009/01/30/janitor-itu-bermimpi/.

Hari demi hari, Tuhan membawaku pada pengalaman-pengalaman rohani yang luar biasa, semua itu menjadi kekuatan, semangat, sukacita dan iman yang terus bertumbuh.  Tuhan memang dahsyat. Terima kasih Tuhan.

LH

BERJAGA-JAGA

 Matius 24:37-39 “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk kedalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.”

Menantikan kedatangan Anak Manusia yaitu Yesus Kristus pada kali yang kedua ke dalam dunia adalah moment yang dinantikan oleh orang-orang yang percaya. Sebab saat itu semua orang yang percaya dan menerima-Nya akan diangkat bersama-sama untuk menerima janji Allah yaitu kehidupan yang kekal.

Selama dunia masih ada, maka dunia akan terus beraktifitas dan berinovasi sehingga jaman akan terus berubah. Kemajuan diberbagai bidang khususnya teknologi industri dan informatika membuat seakan tidak ada jarak penghalang yang berarti lagi antara belahan dunia yang satu dengan belahan dunia yang lain. Manusia bisa menjelajah dunia hanya dengan ujung-ujung jari.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan itu sendiri selain membawa hal-hal yang positif bagi manusia juga membawa serta hal-hal yang negatif pada dirinya. Seperti misalnya dunia internet yang dapat dipergunakan untuk hal yang baik juga yang tidak baik, demikian juga si pengakses informasi bisa menerima informasi yang baik dan juga yang salah.

Lewat firman Tuhan ini, kita diingatkan supaya dalam segala aktifitas dan gaya hidup dalam konteks jaman dimana kita berada, supaya kita berjaga-jaga dan tidak terlena dangan keduniawian yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan. Menjaga hubungan yang erat dengan Tuhan melalui doa, ibadah dan belajar/merenungkan dan melakukan firman Tuhan akan menolong kita menjalani kehidupan dengan berhikmat. Sehingga kita siap menanti kedatangan Anak Manusia itu.

In Christ.

LH

Pondasi dan Bangunan

Pondasi dan Bangunan.

Umumnya, bentuk suatu rumah akan mengikuti bentuk bondasi yang telah dibuat. Kekuatan bangunan akan sangat dipengaruhi oleh kekuatan pondasi dan tulang bangunan. Semakin kuat pondasi dan tulang bangunan maka semakin kuatlah rumah itu dan lebih aman untuk di tempati.

Namun, meski struktur utama sebuah bangunan akan mengikuti bentuk pondasi, tetapi seorang arsitek/designer dan tukang bangunan dapat membuat tambahan bentuk bangunan untuk memberi nilai tambah pada bangunan itu, misalnya nilai artistik (Seni dan keindahan). Penggunaan bahan-bahan yang berkualitas dan kemampuan (skill) membangun yang baik, akan menghasilkan suatu bangunan yang kokoh dan indah.

Dua unit rumah yang memiliki bentuk pondasi dan struktur tulang yang sama, belum tentu akan menghasilkan rumah yang sama bagus dan indahnya antara satu dengan yang lain. Bisa saja rumah yang satu menggunakan material yang murahan, bentuk kosen dan pintu yang biasa-biasa saja, sedangkan rumah yang lainnya menggunakan material kualitas tinggi dengan design kusen dan pintunya yang artistik.

Rasul Paulus suatu saat dalam suratnya kepada jemaat di Korintus berkata : …tiap-tiap orang harus memperhatikan bagaimana ia harus membangun diatasnya……Entah orang membangun diatas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami……. (1 Kor 3: 10-12). Firman ini mengajak kita untuk melihat kehidupan kita, bagaimana kita telah membangun diri kita. Dalam kekristenan kita bisa mengatakan kita sama-sama memiliki pondasi yang sama yaitu Yesus Kristus, tetapi perlu diperhatikan apakah kita sudah membangun dengan benar hidup kita diatas pondasi yang benar itu? Apakah bangunan hidup kita termasuk murahan (kualitas rendah) dengan design yang biasa-biasa saja atau suatu bangunan dengan kualitas tinggi serta yang memiliki nilai artistik? Dengan kata lain : Orang kristen yang bagaimanakah kita ini?

Sep 2006 – Edit Nop 2010