Pantun Penuntun Agustus 2011

Pantun Penuntun 01 Agustus 2011

Satu agustus telahlah sampai
Bulan ramadhan pun dimulai
Bagi teman yang melakui
Selamat berpuasa di hari ini.

Pantun Penuntun 02 Agustus 2011

Mencari makan si ayam jago
Tanah di kais cacing di dapat
Biarpun anda masih menjomblo
Jagalah diri dan tetap semangat

Pantun Penuntun 03 Agustus 2011

Melihat tukang ke dapur dua belas
Membuat pondasi biar kapling tak lepas
Menjadi pemimpin haruslah tegas
Supaya rakyat tidak bingung dan cemas

Pantun Penuntun 04 Agustus 2011

Menyeduh kopi di pagi yang dingin
Dicampur jahe buat badan hangat
Meski tantangan kau dapat kemarin
Terus berjuang dan tetap semangat

Pantun Penuntun 5 Agustus 2011

Berbondong datang penjual makanan
Makanan berbuka dan aneka jajanan
Tak pantas serumah orang yang pacaran
Sampai diikat dengan tali pernikahan

Pantun Penuntun 6 Agustus 2011

Pemulung keliling bawa gerobak
Gerobak ditarik berjalan kaki
Bila hari esok tak bisa ditebak
Hidup sekarang benarlah jalani

Pantun Penuntun 7 Agustus 2011

Membaca buku ensiklopedi
sebuah kata, dicari arti
Kalau ibadah jangan cuma dihadiri
Mestilah berdampak pembaharuan budi

Pantun Penuntun 8 Agustus 2011

Penjual kue menata meja
Kuenya macam menu berbuka
Biarpun keras engkau bekerja
Sedia waktu untuk keluarga

Pantun Penuntun 9 Agustus 2011

Pemulung mengais di panas yg terik
Kaleng di dapat berisi gabus
Bila pun datang masa-masa peceklik
Tabahlah tetap berjuang terus

Pantun Penuntun 10 Agustus 2011

Becak mengantri di simpang tiga
Menunggu antri, bermain catur
Bila pemimpin bersikap terbuka
Rakyat terpimpin bersikap jujur

Pantun Penuntun 11 Agustus 2011

Mencari yang hilang di berbagai tempat
Sudah dicari tapi tak kunjung didapat
Janganlah disesal apa yang sudah lewat
Menatap ke depan jangan patah semangat

Pantun Penuntun 13 Agustus 2011

Menyeberang laut ke negeri Singapura
Di Singapura, bukan untuk berbelanja
Kehilangan harta bukan akhir segalanya
Kehilangan harapan, itu yang berbahaya

Pantun Penuntun 14 Agustus 2011

Rambut disisir, biar rapi
Rambut yang rapi supaya tampan
Kalau berjalan, harap berhati-hati
Agar terhindar dari kecelakaan

Pantun Penuntun 15 April 2011

Memetik buah di belakang rumah
Dua dipetik hanya satu yang bagus
Dalam hidup, bila kita belajar tabah
Lewati tantangan,kita akan jalan terus

Pantun Penuntun 16 Agustus 2011

Mengantar tiket ke sanggar budaya
Tiket di booking pesawat sriwijaya
Walau korupsi terus merajelala
Janganlah berhenti berkarya bagi Indonesia

Pantun Penuntun 17 Agustus 2011

Tujuh belas Agustus Indonesia merdeka
Seribu sembilan ratus empat puluh lima
Berjuanglah terus hai rakyat Indonesia
Bersatu padu untuk Indonesia jaya

Pantun Penuntun 18 Agustus 2011

Memukul bola ke arah lawan
Bola meluncur mengenai sasaran
Jagalah hatimu wahai kawan
Hindari diri dari rasa tertekan

Pantun Penuntun 20 Agustus 2011

Di pinggir laut, mencari kerang
Ada kepiting disela-sela karang
Jadi orang, jangan kelewat iseng
Bila tak mau dianggap sinting

Pantun Penuntun 21 Agustus 2011

Menyapu rumah dari lantai dua
Turun ke bawah menyusur tangga
Kalau umat mau imannya terjaga
Janganlah malas pergi ke gereja

Pantun Penuntun 22 Agustus 2011

Meneguk kopi dari gelas keramik
Meski tak manis rasanya nikmat
Memang perlu jadi orang cerdik
Namun jangan membawa laknat

Pantun Penuntun 23 Agustus 2011

Menarik meteran untuk mengukur
Sudah mengukur, membuat pondasi
Meskipun sulit untuk selalu jujur
Teruslah belajar mantapkan hati

Pantun Penuntun 25 Agustus 2011

Mendayung sampan ke pulau tujuh
Banyak mendayung berpeluh-peluh
Bila ada datang, saat-saat yang jenuh
Cobalah cari, hal lain untuk ditempuh

Pantun Penuntun 26 Agustus 2011

Belajar menggambar dengan komputer
Tidak ada buku dan juga tutor
Karna Tuhan adalah sumber
Janganlah harapan menjadi kendor

Pantun Penuntun 27 Agustus 2011

Mengayuh sepede di pinggir jalan
Sepeda butut kepunyaan teman
Bilamana rusuh suatu kumpulan
Di ujung tanduk alamat persatuan

Pantun Penuntun 28 Agustus 2011

Memotong ranting pohon nangka
Daunnya jatuh di pagar tetangga
Marilah belajar tak berburuk sangka
Menjalani hidup dengan sejahtera

Pantun Penuntun 29 Agustus 2011

Makan siang menu sayur gori
Dimasak santan dengan ikan teri
Meski ekonomi macet hari ini
Rasa bersyukur tetaplah di hati

Pantun Penuntun 30 Agustus 2011

Mengisi pulsa dua puluh ribu
Sistemnya sibuk, harus menunggu
Bila tantangan datang padamu
Berputus asa, jauhlah darimu

Pantun Penuntun 31 Agustus 2011

Tanggal tiga puluh satu hari lebaran
Banyak macam makanan ada disajikan
Selamat lebaran bagi teman yang merayakan
Kiranya hidupmu semakin baik dimasa depan

Tarian Bibir Serong

Tarian bibir dimainkan di arena suci dengan tipuan si ular yang merasuk. Pengakuan nista sebagai kebenaran dipertontonkan dalam laku dan bibir serong. Rohani yang terhuyung bagai mabuk berat anggur mengaburkan yang hak dan batil dalam bayang abu-abu. Arena suci juga ternoda dengan syair kebohongan yang dilantunkan dari mulut dusta. Pastilah semua itu memilukan hati-Mu. Ampun-Mu, curahkanlah!

Membangun asa yang berserak

Hariku, ditengah mimpi yang diuji, menjadi tanda tanya yang belum terjawab. Asaku terus kubangun kembali dengan serpihan-serpihan asa yang berserak. meski terkadang serpihan itu jatuh kembali, tapi kucoba mengutip lagi dan merekatkannya dengan air mata yang masih tersisa. Sungguh aku sadari betapa rapuhnya diri ini dalam dekap rintangan. Muzijat-Mulah yang kunanti agar aku tidak menjadi debu yang akan Kau bangun lagi untuk kebinasaan.

A WONDERFUL LEADER Bag. III (Penutup)

Yang juga menarik dari kisah raja Hizkia ini adalah, bahwa dia adalah orang yang setia kepada Tuhan. Semenjak dia menjadi raja, dia membersihkan bukit-bukit pengorbanan kepada dewa-dewa atau baal, dan juga memulihkan sistem dan fungsi rumah Tuhan. Namun kita lihat bahwa tantangan yang menguji kesetiaannya justru diijinkan Tuhan melalui raja Sanherib.

Ada sebuah statement yang sudah mendunia yang mengatakan “Tuhan tidak pernah berjanji bahwa hidup kita akan mulus-mulus saja tanpa ada tantangan ketika kita berlaku setia dihadapan Tuhan, namun Tuhan berjanji akan menolong dan memampukan kita untuk melewati tantangan/ujian yang kita alami”.  Inilah yang dialami oleh raja Hizkia, dan demikian juga yang kita alami dalam hidup ini.

Banyak sekali tantangan yang kita hadapi dalam mengikut Tuhan, bahkan mungkin kita mengalami tantangan yang tidak pernah kita duga atau bayangkan akan terjadi dalam hidup kita. Persoalan yang kita alami bisa terjadi karena banyak factor, baik itu ekternal ataupun internal, bisa karena orang luar maupun dari keluarga kita sendiri, bisa karena maksud jahat orang lain kepada kita, bisa juga karena kita kurang sensitive mendengar arahan Tuhan sehingga kita menjadi salah mengambil keputusan, bisa karena orang luar maupun dari keluarga kita sendiri. Terlalu banyak factor dan sering tidak terurai.  Kalau sudah begini, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan menyalahkan Tuhan dengan mengatakan “mengapa ini terjadi Tuhan, bukankah aku telah berlaku setia dihadapanMu?”

Dalam sebuah masalah yang genting, bangsa Yehuda berada dalam kegentaran. Sangat mungkin secara kekuatan prajurit dan peralatan, Yehuda pasti kalah. Karena itulah raja Sanherib melalui utusannya mengatakan kepada orang Yehuda supaya menyerah saja sebelum keadaan lebih buruk. Namun kita lihat pada ayat 6-8 dikatakan: “Ia mengangkat panglima-panglima perang yang mengepalai rakyat, menyuruh mereka berkumpul kepadanya di halaman pintu gerbang kota dan menenangkan hati mereka dengan kata-kata:  “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya, karena yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia. Yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah TUHAN, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Oleh kata-kata Hizkia, raja Yehuda itu, rakyat mendapat kepercayaannya kembali dikatakan “

Yang perlu kita garis bawahi disini adalah kata “menenangkan hati mereka”. Dapat kita bayangkan bagaimana jadinya bangsa ini kalau Hizkia menjadi takut dan lemah. Sebagai pemimpin dia sadar bahwa sikap hidupnya sangat berpengaruh penting bagi rakyatnya. Dia tahu rakyat itu dalam kegentaran, karena itu sebagai pemimpin dia harus menenangkan hati mereka. Dalam kegentaran mereka, perkataan Hizkia memberi kekuatan dan semangat baru. Hizkia meyakinkan bangsa ini bahwa Tuhanlah yang akan menolong mereka, bahwa kekuatan Tuhan melebihi kekuatan laskar-laskar kerajaan Asyur.

Penulisa percaya, perkataan-perkataan Hizkia ini lahir dari kepercayaannya kepada Tuhan. Dia mengenal Tuhan dan dia percaya kepada petolongan Tuhan yang dahsyat. Keyakinan orang Israel diteguhkan oleh fakta iman pemimpin mereka yaitu raja Hizkia. Dan kisah raja Hizkia ini menjadi pelajaran penting bagi saya pribadi dalam menghadapi persoalan yang terjadi di dalam kehidupan ini.

Tuhan memberkati.

LH

A WONDERFUL LEADER Bag. II

Sangat mudah mengatakan ini “Haleluya…Puji Tuhan” atau “Allah kita baik” atau “Yesus luar biasa” dengan suara yang lantang ketika kita tidak sedang mengalami persoalan. Memuji Tuhan dan bersorak dengan semangat berapi-api. Namun akan terlihat berbeda, bila sedang mengalami masalah; tidak bersemangat dan hampa. Tidak sedikit orang malah menjauh dari persekutuan/pelayanan karena sedang di mengalami pencobaan dan yang parahnya bahkan meragukan Tuhan. Menurut penulis, untuk mengetahui kedewasaan iman seseorang justru lebih tampak ketika dia mengalami masalah.

Sikap Hizkia sebagai pemimpin bisa menjadi contoh bagi kita yaitu ketika ia mengalami tantangan berat dimana Yerusalem akan dikepung oleh Sanherib raja Asyur (2 Taw. 32). Sanherib mengepung kota-kota berkubu dan hendak menguasainya. Dengan mengetahui semua ancaman itu, maka Hizkia mengambil tindakan-tindakan penting:

  1. Hizkia berunding dengan Panglima dan Pahlawan (ayat 3).

Hizkia menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang serba tahu atau serba bisa, sehingga ia merasa perlu untuk berunding dengan para Panglima dan Pahlawan. Sepertinya dia menyadari bahwa pemikiran-pemikiran dari orang-orang yang ahli dibidangnya adalah sangat perlu untuk mengatur strategi bagi kemenangan mereka.

Kegagalan seorang pemimpin sering terjadi oleh karena dia merasa serba tahu/bisa sehingga merasa tidak perlu meminta masukan dari orang lain. Pengambilan keputusan yang semauguenya pemimpin akan mengakibatkan kurangnya respek dari orang-orang yg dipimpin dan terlebih para pejabat/petugas yang ada dibawahnya. Hal ini dapat pula menimbulkan rasa kecewa yang berlanjut ketidakperdulian di pihak yang dipimpin temasuk para pejabat/petugas dibawahnya, apalagi bila ternyata keputusan yang diambil oleh pemimpin itu selain dianggap tidak popular  juga tidak membuahkan hasil yang baik.

  1. Mengangkat panglima-panglima perang (ayat 6).

Saya percaya bahwa panglima-panglima baru yang diangkat oleh Hizkia bukanlah orang-orang yang sembarang diangkat. Mareka pastilah berasal dari prajurit yang sudah teruji. Mengapa? Karena kerajaan dan nyawa mereka yang menjadi taruhan. Hizkia tahu kapan harus mengangkat pemimpin-pemimpin baru dan tentulah yang diangkat itu bukanlah orang yang sembarangan.  Dia mengangkat panglima-panglima baru untuk meningkatkan/memaksimalkan penggalangan kekuatan perang.

Kalau di negeri kita ini, bukan rahasia lagi kalau pemimpin-pemimpin banyak diangkat atas dasar KKN alias Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.  Kerugian beberapa BUMN dan defisit anggaran masih terus terjadi sampai sekarang, diyakini salah satu penyebab adalah management yang buruk, termasuk adanya posisi-posisi yang sengaja “diciptakan” untuk menampung para kolega atau pengangkatan pejabat sebagai balas budi kepada pihak-pihak yang mendukung pemimpin ketika mereka masih menjadi calon.

Lalu bagaimana dengan gereja? Apakah pengangkatan-pengangkatan para pemimpin itu bersih dari KKN? Apakah pangangkatan mereka sudah dengan pertimbangan yang matang? Apakah pengangkatan mereka sesuai dengan panggilan Tuhan? Tentu sulit untuk menjelaskannya. Apalagi mengenai panggilan ini. Bisa saja seseorang mengaku punya panggilan, tapi siapa yang bisa mengkonfirmasinya? Tanpa bermaksud menghakimi, menurut pengamatan penulis, ada kecenderungan cara-cara KKN ini sudah memasuki gereja dalam hal pengangkatan para pemimpin-pemimpin, walau dengan cara yang lebih halus dan kelihatan “rohani”.

Apabila dalam sebuah organisasi kerohanian (gereja) ada pengangkatan ratusan pemimpin (hamba Tuhan atau pengerja) setiap tahunnya; baik yang baru maupun dalam rangka peningkatan jabatan, tapi tidak diikuti dengan pertumbuhan jemaat baik secara quantity terlebih quality (pertumbuhan iman yang nyata dari buah-buah pertobatan) jemaat dan yang justru menghasilkan banyak persoalan-persoalan baru, maka tentu pengangkatan itu harus dipertanyakan.

Raja Hizkia mengangkat penglima-panglima baru memiliki tujuan yang jelas yaitu untuk meningkatkankan/memaksimalkan penggalangan kekuatan pasukan perang bagi kemenangan Yehuda atas Ashyur.

Bersambung.

A WONDERFUL LEADER Bag. I

Siapa sih yang tak gentar ketika dihadapkan pada persoalan yang besar?  Kalau kita mengamati kehidupan manusia jaman sekarang ini, banyak sekali persoalan atau tantangan hidup; yang kalau kita tidak dewasa menghadapinya, kita akan jatuh dalam keterpurukan hidup. Dalam pandangan banyak orang, sering kali mereka merasa persoalan itu terlalu berat untuk mereka pikul, walaupun persoalan itu mungkin belum apa-apa bila dibandingkan tantangan hidup yang dialami oleh sebagian orang yang lain.

Dalam tulisan ini, saya ingin membagikan sepenggal kisah dari seorang pemimpin yang luar biasa yaitu Hizkia. Saya benar-benar kagum pada pribadi Raja Hizkia yang walaupun pada masa-masa hidupnya ada waktu dimana dia pernah jatuh, namun dari keseluruhan masa hidupnya kita bisa belajar bagaimana menjadi seseorang yang takut akan Tuhan dan bagaimana menjadi pemimpin umat dengan benar. Alkitab mencatat berkenaan dengan dia “diantara raja-raja Yehuda baik sebelum maupun sesudah dia, tidak ada lagi yang sama seperti dia” (2 Raj. 18: 5).

Pribadi Raja Hizkia

Ada pepatah yang mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” atau kalau dalam pepatah bahasa Inggris dikatakan “like father like son” yang artinya bahwa sifat-sifat atau kepribadian dan kebiasaan yang menonjol dari seorang anak, tidak lepas dari warisan ayahnya. Nah, dalam kehidupan raja Hizkia, ternyata hal itu tidak sepenuhnya benar. Mengapa? Karena raja Hizkia adalah seorang raja yang bijaksana dan takut akan Tuhan, sedangkan ayahnya, raja Ahas adalah seorang raja yang perbuatannya jahat dan menjijikkan dimata Tuhan.

Raja Hizkia diangkat menjadi raja pada umur 25 tahun. Alkitab mencatat, dia melakukan yang benar di mata Tuhan seperti kakek moyangnya Daud.Hal ini terbukti ketika dia melakukan reformasi sejak masa awal kepemimpinannya. Pada kitab 2 Taw. 29 diceritakan bahwa pada tahun pertama bahkan bulan pertama kepemimpinannya, dia memulihkan rumah Tuhan berikut fungsi dan pelayan-pelayan.

Kemudian raja Hizkia juga mengatur sumbangan untuk para Imam dan Lewi yang bertugas dalam pelayanan di rumah Tuhan. Dia menyadari apabila fungsi rumah Tuhan tidak berjalan dengan baik, maka hal itu akan mengecewakan hati Tuhan. Sangat mungkin ketika ayahnya menjadi raja, umat Israel tidak lagi memperdulikan segala kewajiban mereka kepada Tuhan lewat persembahan untuk perbendaharaan di rumah Tuhan. Dan hal ini akan mengakibatkan para Imam dan Lewi hidup menderita, karena jaminan kebutuhan seharian mereka adalah dari rumah Tuhan. Dan tidak dapat dipungkiri, keadaan itu akan mengganggu tugas-tugas para Iman dan Lewi.

Dalam konteks sekarang, dapat dikatakan bahwa Raja Hizkia adalah seorang pemimpin yang melakukan reformasi bukan saja dibidang politik tetapi juga dibidang keagamaan. Dan Semua itu dilakukannya sejak masa awal pemerintahannya.

Kalau pemimpin politik sekarang, fakta yang kita lihat adalah kenyataan yang ada tidak sesuai dengan janji-janji manis ketika masa kampanye. Bahkan mungkin fakta yang ada justru betolakbelakang dengan janji manis mereka sebelumnya. Melalui kisah raja Hizkia ini sangat jelas, bahwa “WILL” dan konsistensi dari seorang pemimpin, yang didasari rasa takut akan Tuhan akan membawa pembaharuan yang luar biasa.

Lalu bagaimana dengan pemimpin rohani dalam hal ini pemimpin-pemimin gereja? Tanpa bermaksud menjelek-jelekkan atau memojokkan, dan seperti istilah bahasa batak mengatakan “sattabi akka si burju roha” artinya “mohon maaf bagi mereka yang baik dan tulus”, dalam pengamatan saya pemimpin rohani sekarang umumnya tidak terlalu perduli kehidupan rohani jemaat. Program gereja sering dibuat secara luar biasa, dengan peralatan musik yang juga luar biasa namun semua itu hanya sebatas untuk mengumpulkan jiwa-jiwa sebanyak-banyaknya tetapi bukan untuk mengajar dan mendewasakan mereka di dalam Tuhan.

Sebuah kesimpulan yang saya dapat dari buku yang ditulis oleh George Barna dalam bukunya “menumbuhkan murid-murid sejati” adalah begitu banyak program gereja dan upaya gereja yang kelihatannya baik dan luar biasa, untuk mengumpulkan sebanyak mungkin orang datang ke gereja, namun mereka mengabaikan ada sedikit atau sebagian kecil dari jemaat yang sudah mereka miliki yang benar-benar haus akan pengajaran namun tidak terlayani dengan baik.  Padahal, dalam pandangannya justru beberapa orang yang haus inilah yang akan bisa berdampak besar bagi pekerjaan Tuhan apabila mereka benar-benar diajar (dimuridkan).

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan sebuah pelayanan tidak lepas dari “will”, konsistensi pada panggilan sorgawi yang didasari rasa takut akan Tuhan dari pemimpin-pemimin rohani.

Bersambung.