Sejarah Gereja Pentakosta Indonesia Pulau Batam

Gereja Pentakosta Indonesia mulai berdiri di pulau Batam pada tahun 1987. Perintisan pelayanan dimulai oleh Pdt. DJ. Nadeak, S.Th., yang kala itu belum menjadi seorang pendeta.   Kerinduan hatinya untuk mengabarkan Injil ditunjukkan dengan penuh semangat menjangkau jiwa-jiwa .  Pdt. Dj. Nadeak, S.Th bersama istri dan beberapa orang yang telah yang telah dijangkau kemudian mengadakan ibadah perdana pada tanggal 01 Februari 1987 di rumah Keluarga bapak Sirai/Br Gultom yang berlokasi di perkampungan teluk Jodoh.

Satu bulan setelah ibadah perdana tersebut, tempat ibadah yang menjadi pos pelayanan itu kemudian dipindahkan ke rumah Pdt. Dj. Nadeak, S.Th di blok VI Nagoya. Tindakan ini diambil untuk lebih memberi kenyamanan dan lebih mudah dijangkau, karena tempat ibadah sebelumnya masih kumuh dan becek.

Pada perjalanan pelayanan ini,  semakin banyak jemaat yang bertambah baik itu jemaat yang dijangkau lewat penginjilan maupun jemaat Gereja Pentakosta Indonesia dari daerah lain yang merantau ke Batam.  Jemaat sangat antusias dan bersemangat meskipun tempat ibadah jauh dari rumah masing-masing dan sarana transportasi yang masih minim pada masa itu.

Untuk lebih memberikan kepastian hukum bagi pelayanan yang baru ini, pada bulan April 1987 Pengurus Pusat Gereja Pentakosta Indonesia yang berkedudukan di Pematang Siantar memberikan Surat Keterangan (SK)  Pengangkatan kepada Pdt. DJ. Nadeak, S.Th (waktu itu belum menjadi pendeta) sebagai Pimpinan Sidang (Gembala) Gereja Pentakosta Indonesia Pulau Batam.

Pada bulan Februari 1991, dengan mengingat dan mempertimbangkan bahwa organisasi ini telah terbentuk menjadi sebuah wadah gereja yang resmi, maka Pdt. Dj. Nadeak, S.Th. bersama dengan Pdt. AC. Sihombing (Alm) mendaftarkan gereja ini ke Kanwil Departemen Agama Provinsi Riau di Pekan Baru, Pada masa ini tempat ibadah telah dipindahkan dari  rumah Pdt. DJ. Nadeak, S.Th. ke bangunan baru yang terbuat dari papan di tanah garapan di deaerah Batu Batam.  Kemudian pada tahun 1999 gereja ini pindah ke tempat baru yaitu lahan yang resmi di Sagulung dan menempati bangunan yang permanen sampai sekarang.  Gereja ini kemudian disebut Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Sagulung, yang berarti Gereja Pentakosta Indonesia Jemaat Sagulung.

Dengan semakin bertambahnya jemaat seiring bertambahnya penduduk pulau Batam dari tahun ke tahun yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti bertambah banyak perusahaan baru di Batam, maka Gereja Pentakosta Indonesia Pulau Batam telah berkembang dan melebarkan sayap pelayanan diberbagai tempat.

Bulan Oktober 1992, pos pelayanan di  Batu Aji dimulai dan kemudian menjadi Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama dan kepemimpinan diserahkan kepada Pdt. B.F. Sihombing, yang sebelumnya adalah Guru Injil  dibawah kepemimpinan Pdt. DJ. Nadeak, S.Th. Pada tahun 1996 kemudian berdiri Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Baru yang kepemimpinannya diserahkan kepada Pdt. S. Situmorang.  Dari ketiga sidang-sidang ini kemudian melebarkan sayap di berbagai tempat antara lain: GPI Sidang Bengkong, GPI Sidang Tiban, GPI Sidang Tanjung Uncang, GPI Sidang Punggur, GPI Sidang Bumi Agung, GPI Sidang Sei Binti, GPI Sidang Pasir Indah, GPI Sidang Simpang Dam, dan beberapa sidang lainnya.

Dan pada tahun 2001 Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama melebarkan sayap pelayanan dengan membuka Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi yang dipimpin oleh Pdt. P. Pasaribu, S.Th.

 

Sejarah Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi

            Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi adalah hasil pengembangan pelayanan Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama. Dengan bertambah banyaknya jemaat di Sidang Batu Aji Lama yang tinggal di daerah Tembesi, dan oleh karena masalah tranportasi dan keadaan ekonomi jemaat waktu itu maka dimulailah pos pelayanan di Tembesi supaya dekat kepada jemaat disekitar. Pembukaan pos pelayanan ini sekaligus untuk bertujuan untuk menjangkau jiwa-jiwa baru.

Ibadah perdana diadakan pada tanggal 11 Februari 2001 sore hari yang dihadiri oleh tiga-empat keluarga ditambah sekitar sepuluh orang pemuda dan pemudi yang sudah berkomitmen akan beribadah di pos pelayanan ini, dan juga diikuti oleh beberapa orang hamba Tuhan dan jemaat dari Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama. Kira-kira satu bulan lamanya ibadah di pos pelayanan ini diadakan sore hari yang dilayani oleh hamba-hamba Tuhan dari Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama. Setelah itu ibadah diadakan pada pagi hari dan Pdt. P. Pasaribu, S.Th. (dulu masih Guru Injil) ditempatkan untuk memimpin pos pelayanan ini, dan pos pelayanan ini diresmikan menjadi Sidang yaitu Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi.

Untuk membantu pelayanan di sidang baru ini, pengurus Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama juga menempatkan dua orang hamba Tuhan yaitu Sintua M. Situmorang dan Sintua T. Manurung.

Sidang ini berkembang pesat seiring berkembangnya kota Batam dan semakin banyaknya penduduk. Jemaat Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi terus bertambah. Oleh karena itu pada bulan Juni 2001 atas pertimbangan kebutuhan pelayan maka diangkatlah seorang jemaat yaitu bapak L. Hutabalian menjadi sintua dan dua tahun kemudian yaitu tahun 2003, bapak B. Sitompul diangkat menjadi Sintua dan Sintua M. Situmorang diangkat menjadi Guru Injil.

Perkembangan pelayanan Sidang Tembesi ini mengharuskan bangunan awal yang hanya 8 m X 10 m diperpanjang sampai tiga kali selama kurang waktu 7 tahun menjadi 8 m X 16 m. Sejak itu tidak ada lagi perombakan bangunan gereja karena lahan yang tidak memungkinkan. Oleh karena itulah pada hari-hari besar ketika hampir semua jemaat hadir, sebagian jemaat ada yang berdiri.

Puji syukur kepada Tuhan oleh anugerah-Nya Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi sudah mendapatkan lahan menetap dari Otorita Batam dan sedang dibangun gedung baru yang permanen yang memasuki tahap ke tiga yaitu pengatapan. Luas bangunan ini 14 m X 28 m diatas lahan 30 m X 50 m.

Jumlah jemaat pada tahun 2012 terdiri dari 115 KK, pemuda dan pemudi yang terdaftar 60 orang, sekolah minggu kurang lebih 50 orang, ditambah simpatisan. Setiap ibadah raya minggu ada sekitar 150 orang jemaat yang hadir tidak termasuk anak sekolah minggu.

MENEMPATKAN DIRI DENGAN BAIK

Yosua 14:1-5 “Inilah semuanya yang diterima oleh orang Israel sebagai milik pusakadi tanah Kanaan, yang telah dibagikankepada orang Israeloleh imam Eleazar,dan Yosua bin Nun dan para kepala kaum keluarga dari suku-suku mereka,dengan mengundimilik pusaka itu, seperti yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa mengenai suku-sukuyang sembilan setengah itu. Sebab kepada suku-suku yang dua setengah lagi telah diberikan Musa milik pusaka di seberang sungai Yordan,tetapi kepada orang Lewi tidak diberikannya milik pusaka di tengah-tengah mereka.Sebab bani Yusuf merupakan dua suku, Manasye dan Efraim.Maka kepada orang Lewi tidak diberikan bagiannya di negeri itu, selain dari kota-kota untuk didiami, dengan tanah penggembalaannya untuk ternak dan hewanmereka. Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat oleh orang Israel dan dibagi-bagi merekalah negeri itu.”

Tuhan membagi-bagikan tanah Kanaan kepada orang Israel melalui Imam Eleazar, Yosua dan Kepala-kepada suku Israel. Orang Kanaan adalah orang fasik yang tidak mengenal Tuhan. Tuhan mengalihkan berkat orang Kanaan untuk menjadi milik kepunyaan orang Israel. Demikian juga berkat orang fasik dapat dialihkan Tuhan kepada orang-orang pilihan Tuhan.

Sebahagian besar orang yang masuk ke tanah Kanaan adalah orang-orang yang lahir di tengah  jalan dalam perjalanan orang Israel dari tanah Mesir menuju Kanaan. Dari sekitar 3 Juta orang yang berangkat dari Mesir hanya 2 orang yang sampai ke Kanaan yaitu Yosua dan Kaleb.  Masalah terbesar pada orang Israel adalah karena tidak percaya kepada Tuhan, mereka tegar tengkuk.   Apa yang terjadi pada bangsa Israel yaitu bahwa banyaknya jiwa belum tentu banyak pula yang sampai ke “Tanah Perjanjian” demikian juga dengan banyaknya jemaat dalam suatu penggembalaan  belum tentu banyak pula yang sampai pada tujuan yang benar. Ini perlu jadi perenungan kita.

Dari ayat 1 ini kita bisa melihat bahwa penulis kitab Yosua ini sangat mengerti bagaimana menempatkan orang-orang secara pantas dalam tulisannya. Dalam penulisan itu, urutan orang-orang yang ikut membagi tanah Kanaan itu pertama adalah Imam (Pemimpin agama/rohani), disusul oleh Yosua (Pemimpin Bangsa/Negara) dan kemudian para kepala-kepala suku.

Secara tradisi Yahudi, dipercaya bahwa penulis kitab Yosua adalah Yosua sendiri. Ini artinya Yosua menyadari benar bila urusan kerohanian menjadi hal yang paling utama dibandingkan dengan urusan kenegaraan. Meskipun dia adalah pemimpin bangsa/negara pada saat itu, yang memiliki kuasa yang sangat besar atas bangsa itu, namun dia tunduk pada Tuhan. Yosua menempatkan diri dengan baik. Dia bisa saja menulis namanya terlebih dahulu supaya menimbulkan kesan lebih penting/terhormat tetapi dia tidak melakukannya

Kita pun harus berusaha menempatkan diri dengan sebaik-baiknya, sebagai anak-anak Tuhan, pelayan-pelayan sebagai karyawan. Sebagai pelayan-pelayan harus menempatkan diri sebagai pelayan yang bertanggung jawab, sebagai pekerja pun bekerja dengan penuh tanggung jawab. Memang tidak selalu niat baik atau pekerjaan yang penuh tanggung jawab atau dedikasi akan diresponi oleh orang lain dengan baik pula, namun we need to keep doing good (kita perlu tetap melakukan yang baik) karena demikianlah hakekat anak-anak Tuhan. Tetaplah tempatkan dirimu dengan baik, selebihnya biarlah itu urusan Tuhan.

Dari ayat 2-5 kita belajar bahwa dalam pembagian tanah ini, Imam, Yosua dan kepala-kepala suku melakukan seperti yang diperintahkan Allah melalui Musa. Artinya mereka tunduk kepada perintah Tuhan. Tuhan membagi-bagi tanah Kanaan untuk mereka kerjakan dan menjadi berkat bagi bangsa itu. Kita pun sebagi anak-anak Tuhan, ada bagian-bagian kita yang mau kita kerjakan. Oleh karena itu, kita perlu lebih sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan dalam kehidupan kita.

Pada pembagian ini, Imam  Eleazar, Yosua dan kepala-kepala suku mengikuti petunjuk Tuhan yang disampaikan lewat Musa dalam Bilangan 26:52-56. Kalau kita baca firman Tuhan ini maka nyata keadilan Tuhan bagi bangsa itu.  Luas tanah yang dibagikan akan disesuaikan dengan banyaknya umat atau keturunan suku-suku Israel.

Imam Eleazer, Yosua dan kepala-kepala suku menempat diri dengan baik sebagaimana seharusnya. Mereka bertindak adil mengikuti keadilan Tuhan atas pembagian ini.  Mereka bisa saja bersekongkol dan mengkorupsi tanah itu seperti kebiasaan sebagian pejabat Indonesia zaman sekarang.  Mereka bisa saja mengambil bagian yang tidak pantas bagi mereka dan memberikan bagian yang tidak pantas bagi umat itu, namun hal itu tidak mereka lakukan karena mereka memiliki hati yang murni dan takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan akan tahu menempatkan diri dengan baik, orang yang takut tuhan akan bertindak adil dalam hidupnya.

14-09-12

LH

LOVE, SEX AND DATING

Tidak sedikit orang Kristen khususnya di negara-negara asia termasuk Indonesia yang menganggap tabu untuk membicarakan masalah Cinta, Seks dan Kencan, terutama mengenai seks, yang dipengaruhi budaya atau adat ketimuran.  Keterbukaan mengenai seks memang semakin berkembang seturut dengan meningkatnya pemahaman akan pentingnya membicarakan ini untuk mengantisipasi kejadian buruk bagi kalangan remaja dan pemuda di tengah arus globalisasi di segala bidang terutama di bidang tekhnologi dan informasi yang berkembang dan mudah di akses yang dapat memberikan informasi-informasi negatif dan tidak terarah sehingga menyesatkan kalangan remaja dan pemuda.
LOVE (CINTA)

 

Menurut wikipedia, Cinta adalah sebuah  emosi dari kasih sayang yang kuat. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Penggunaan kata cinta ini bisa juga merupakan wujud perasaan terhadap keluarga, teman-teman, kepada seseorang dalam arti romantis/asmara, keinginan nafsu, kasih sayang, rasa nasionalism dan patriotisme, dll. Sedangkan kata LOVE (bahasa Inggris) yang mempengaruhi makna cinta dalam masyarakat Indonesia, dapat juga merupakan rasa suka terhadap sesuatu (makanan) atau rasa senang untuk melakukan sesuatu tindakan.

Di Indonesia kita mengenal beberapa istilah yang menyangkut perasaan simpati yaitu Cinta, Sayang, Suka, Kasih yang tujuan penempatannya sering sulit dibedakan. Sedangkan dalam istilah Yunani perasaan simpati ini ada yang disebut:

AGAPE, yaitu kasih yang sejati. Di dalamnya terkandung, sabar; murah hati; tidak cemburu; tidak sombong; melakukan hal-hal yang sopan; tidak dendam; kejujuran, perhatian, mengerti, pahami dan memahami orang lain; kesetiaan; percaya; komitmen pada ucapan dan janji.  Agapa disebut juga the greatest love (kasih yang agung) dan Unconditional Love (Kasih yang tidak bersyarat).

STORGE, digunakan dalam hubungan kekerabatan keluarga, marga, ikatan darah.

PHILIA, biasanya dipakai dalam hubungan sosial dan persahabatan sehari-hari; diucapkan antar sesama sahabat atau teman karib. Tapi, di dalamnya juga terkandung saling memperhatikan, keterbukaan, perhatian dan setia kawan; toleransi serta solidaritas.

EROS, biasanya difungsikan dalam hubungan dengan ketertarikan karena daya tarik fisik kepada lawan jenis. Eros lebih cenderung kepada romantisme/asmara dan hawa nafsu.

 

Cinta Dalam Perspektif Umum

 

Mungkin saudara pernah mengalami, ketika saudara bertemu dengan seseorang yang berlawan jenis. Karena dia cantik secara fisik dan berkepribadian yang sesuai dengan selera saudara lalu saudara merasa telah jatuh cinta kepadanya. Ketika saudara bertemu dengan dia, jantungmu berdetak cepat dan saudara rada sulit bicara seperti keselek makanan di leher, atau ketika saudara kesepian dan saudara merindukan dia ada disamping saudara, lalu saudara menyebut itu cinta.

Banyak orang mengatakan bahwa jatuh cinta itu sejuta rasa. Orang yang jatuh cinta memiliki ciri-ciri:

  1. Ada keinginan untuk mengenal seseorang
  2. Suka curi-curi pandang
  3. Jantung berdetak lebih kencang ketika seseorang itu melihat kamu.
  4. Salah tingkah
  5. Bisa jadi suka melamun dan menghayal yang indah-indah tentang dia
  6. Jadi lebih suka berias dan tambil lebih beda dari sebelumnya dan pake minyak wangi
  7. Bolak-balik lihat cermin
  8. Selalu memuji segala hal tentang dia
  9. Pura-pura minjam sesuatu dari dia padahal supaya ada kesempatan bertemu.
  10. Nggak mempedulikan kekurangan dia.
  11. DLL

Sebenarnya semua itu timbul adalah karena ada rasa suka atau ketertarikan dalam diri kita, dan hal itu diartikan sebagai cinta.

Menurut Julianto Simanjuntak seorang pakar konseling, banyak orang menikah dengan alasan saling mencintai, namun mereka memahami cinta sebagai psychological phenomena. Artinya, hanya karena kebetulan ada perasaan ketertarikan secara seksual misalnya wajah cantik, ganteng atau ketertarikan secara meteri misalnya kekayaan atau kepandaian.

 

Cinta Dalam Perspektif  Alkitab

Di dalam Alkitab terdapat beberapa kata cinta dalam arti ketertarikan “Annon bin Daud jatuh cinta kepada .. (Tamar)” (2 Sam. 13:1), kepatuhan/kehormatan (hukum),  patriotisme, kecenderungan hati (cinta uang, cinta , dustua kejahtan, dll).  Namun cinta dalam arti memberikan diri bagi orang lain mendomonasi makna cinta dalam Alkitab.

Manusia zaman sekarang ini seringkali terobsesi dan terarah ke dirinya sendiri sehingga dia mengira bahwa mencintai seseorang sama artinya dengan menerima sesuatu dari orang itu. Padahal esensi dari cinta adalah “memberi”. Bahwa kita mencintai seseorang bukan karena mengharapkan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tetapi karena kita ingin memberikan.

SEKS

Meskipun banyak orang yang menganggapnya tabu, namun seks sebenarnya adalah anugerah Tuhan yang luar biasa bagi umat yang diciptakannya. Seks itu sendiri adalah bahagian dari ciptaan Allah dalam diri manusia yang dijadikan-Nya itu. Melalui dorongan seksual itu orang melakukan hubungan badan dan melahirkan keturunan yang akan memenuhi bumi (Kej. 1:28). Seks bukanlah dosa, tetapi perlakuan manusia dalam hal seksual itu yang berdosa bila dilakukan secara tidak benar.

Seks (Sex) sebenarnya berarti jenis kelamin. Seksual adalah hal yang berkenaan dengan seks (jenis kelamin), berkenaan dengan perkara persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan seksualitas adalah ciri, sifat, atau peranan seks, dorongan seks, kehidupan seks. Namun kalau kita menyebut seks dalam materi ini bukan sebatas jenis kelamin tetapi juga hal-hal yang berhubungan dengan seks itu sendiri.

 

Seks Dalam Perspektif  Alkitab

 

Firman Tuhan mengatakan “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka” (Kej 1:27).  Setelah penciptaan dilakukan, Allah melihat bahwa “semuanya itu baik” (Kej 1:12,25). Ketika manusia diciptakan oleh Allah, Tuhan juga menciptakan seks dalam diri manusia itu yaitu alat seks dan keinginan serta kebutuhan akan seks itu sendiri.

Seksualitas manusia yang diciptakan Tuhan adalah bagian dari rencana Allah agar terjadi multiplikasi manusia di bumi (beranakcucu dan bertambah banyak) lewat hubungan intim dalam pernikahan yang kudus seperti diekspresikan dalam Kej 2:24: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”.  Ini mengacu pada penyatuan tubuh, jiwa, dan roh yang utuh pasangan yang telah menikah.  Menjadi ‘satu daging’ juga mengambarkan tujuan berhubungan seksual yang bukan hanya untuk memperoleh keturunan (prokreasi) melainkan juga memenuhi kebutuhan emosional untuk mencapai kesatuan (psikologi).

Karena seks itu kudus adanya dalam perspektif Alkitab, yang terwujud dalam hubungan yang kudus pula yaitu melalui pernikahan kudus, maka seks diluar nikah adalah pelanggaran terhadap prinsip Alkitab. Seks diluar nikah termasuk dalam percabulan. Rasul Paulus nyatakan :”Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi diluar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri” (I Kor 6:18).

Selain karena faktor dosa, seks pra-nikah akan menyebabkan pelaku dihantui perasaan bersalah, kemungkin dapat mempengaruhi pikiran  sehingga muncul keinginan untuk mencoba lagi (ketagihan). Secara psikologis dapat terganggu dimana satu sisi si pelaku tidak sejahtera karena perasaan bersalah namun pada sisi yang lain muncul keinginan untuk mencoba lagi.  Hal itu terjadi karena pengalaman pertama melakukan akan meninggalkan kesan yang dalam.

 

DATING (KENCAN)

 

Kencan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berjanji untuk saling bertemu disuatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.  Tentu yang bertemu adalah seseorang dengan pacarnya, atau dengan seseorang yang lain yang sedang dalam pendekatan menjadi pacar. Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai kencan, mari kita lihat mengenai pacaran.

 

Pacaran

Sebenarnya masalah pacaran tidak ada dalam alkitab.  Bentuk hubungan sebelum menikah (pranikah)  yang dikenal adalah hubungan pertunangan.  Kalau kita meneliti sejarah di masa lampau sebutlah 70 tahun lebih yang lalu dalam konteks ketimuran, masalah pacaran tidak begitu dikenal karena perkawinan biasanya diatur oleh pihak keluarga atau orang tua kedua belah pihak dengan cara menjodohkan.

Meskipun kedua orang yang sudah dijodohkan, mereka tidak leluasa untuk berkencan, bahkan ada juga yang baru pertama sekali bertemu pada saat acara pernikahan segera berlangsung.  Jadi berpacaran sebenarnya adalah konsep masyarakat modern. Pada masyarakat modern terjadi perubahan gaya hidup dan pola berpikir sehubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi . Pergaulan yang semakin terbuka dan berkembang memunculkan pola-pola baru, baik dalam berpikir maupun bertindak sehingga hubungan-hubungan yang terjalin bisa menjurus kepada persahabatan yang intim atau menjurus kepada hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan (pacaran) yang didasari oleh ketertarikan  (perasaan suka) secara seksual, mis.karena wajah cantik, ganteng, dan bisa juga karena ketertarikan akan hal lain seperti kekayaan, kepandaian, kepribadian yang baik, dll

Perkembangan  jaman  tidak bisa terbendung. Berpacaran sebelum menikah pun sudah seperti sebuah kebutuhan. Tentu tidak masalah bila harus seperti itu, yang penting dalam berpacaran harus memiliki tujuan positif dan mengerti batas-batas yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.  Berpacaran seharuslah bertujuan untuk pernikahan dan tetap menjaga kekudusan.

Perlukan Orang Kristen Berkencan ?

 

Dalam sebuah artikel dikatakan bahwa orang orang kristen yang lajang perlu berpacaran sebelum memasuki pernikahan. Melalui kencan dalam berpacaran akan berguna untuk:

a)      Mengenal sifat, kebiasaan dan corak kepribadian satu dengan yang lain. Hal itu diperlukan agar kita menyadari dan memahami kelebihan dan kelemahan yang ada pada pasangan masing masing sebelum saling menerima.

b)      Belajar bagaimana berhubungan dengan baik, belajar mengembangkan kemampuan berkomonikasi.

c)      Melatih diri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai pasangan dan mencari tahu tentang apa yang Tuhan dari hubungan itu.

d)     Belajar untuk membuka hati, berbagi perasaan dengan perasaan dengan pasangannya sebagai latihan menghadapai permasalahan cecara bersama sama.

e)      Untuk mencintai dan dicintai dengan belajar untuk saling member dan menerima.

f)       Untuk menikmati masa masa yang indah bersama orang yang dikasihinya dalam arti yang positif.

 

Kencan Yang Salah

 

“Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” ( 2 Timotius 2:22).

Kencan yang salah adalah bila mengarah atau berorientasi kepada seksual.  Nafsu orang muda berbicara tentang hasrat/keinginan yang tidak terkontrol. Memang masa muda adalah masa-masa yang sangat labil. Banyak orang menjalaninya dengan penuh rasa ingin tahu dan ingin bertualang. Bila tanpa pengawasan dan bimbingan yang baik, banyak orang muda yang akhirnya terjatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.  Karena itu Rasul Paulus mengatakan kepada Titus “Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal (Titus 2:6)

Mungkin banyak orang muda berpikir bahwa kencan dengan berpegangan tangan, membelai, memeluk, berciuman adalah hal yang biasa. Namun hal itu dapat menimbulkan rangsangan seksual yang mengarah kepada tingkat yang berbahaya.

Duvall, E.M & Miller, B.C (1985) mengatakan bahwa bentuk prilaku seksual pranikah mengalami peningkatan secara bertahap. Adapun bentuk – bentuk prilaku seksual tersebut adalah.

  1. Touching (Berpegangan tangan, berpelukan)
  2. Kissing (Berkisar dari ciuman singkat dan cepat sampai kepada ciuman yang lama dan lebih intim).
  3. Petting (Menyentuh atau meraba daerah erotis dari tubuh pasangan biasanya meningkat dari meraba ringan sampai meraba alat kelamin).
  4. Sexual Intercourse (Hubungan kelamin atau senggama)

Berdasarkan tahapan-tahapan ini, dapat disimpulkan bahwa hubungan kelamin (senggama) tidak serta merta dilakukan tetapi melalui tahapan rangsangan. Ransangan seksual yang terus menerus akan menciptakan dorongan biologis yang terus memuncak. Ketika dorongan seks menggebu-gebu, kedewasaan, kecerdasan, dan pendirian-pendirian serta iman seringkali tidak berfungsi.

Karena itu, jagalah dirimu supaya tidak terjerumus kedalam dosa seksual. Efesus 4:27 mengatakan ”janganlah beri kesempatan pada iblis” sebab dengan kita membuka celah berarti kita telah memberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah kehendaki. “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan bermabuk-mabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati” (Roma 13:13).

Haleluya.

.

08-09-12

CATATAN (BUKAN) MISTERIUS

Saya termasuk orang yang suka membuat catatan-catatan kecil dari hasil pengamatan kemana saja saya pergi. Dalam acara-acara ibadah atau seminar atau sedang berjalan atau duduk entah dimana, ketika saya melihat, merasakan dan mendengar sesuatu, seringkali ada muncul tiba-tiba dalam pikiran saya sesuatu yang saya anggap unik, lucu, aneh, lebay, tidak benar, dll dan kemudian mencatatnya dalam buku catatan kotbah saya. Nah, ketika mencatat itu saya kadang menggunakan bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Batak atau percamburan dari bahasa-bahasa itu.

Catatan-catatan itu saya buat judulnya Intermezzo. Mengapa saya namai intermezzo? Karena saya terpikir untuk menjadikannya sebagai “bumbu” kotbah supaya kotbah tidak tegang dan ada humornya. Namun kenyataannya saya justru jarang menggunakannya sebagai bumbu kotbah. Jadi di buku catatan itu saya tulis “Intermezzo 1”, “Intermezzo 2” dan seterusnya.

Selain sesuatu yang saya anggap unik, lucu, aneh, lebay dan tidak benar yang muncul dalam pikiran saya untuk dicatat, tidak sedikit juga muncul yang sifatnya “wisdom” (hikmat) yang memberi pengetahuan, semangat dan kekuatan. Contohnya, ketika beberapa hari yang lalu saya membaca beberapa artikel mengenai cinta (kasih), untuk kesekian kalinya saya menemukan dan membaca kembali mengenai kasih Allah yaitu kasih AGAPE sebagai kasih yang tidak bersyarat (Unconditional Love). Lalu malamnya ketika saya melayani di ibadah pemuda, tiba-tiba teringat kembali mengenai kasih tak bersyarat ini lalu tiba-tiba terpikir oleh saya, bila kita selalu memiliki “Unconditional Love” dari Tuhan maka seharusnya kita memiliki “Unconditional Happy” atau suka cita yang tidak bersyarat. Maka memang tidak salah bila Rasul Paulus mengatakan “bersukacitalah senantiasa” (Flp. 4:4, 1 Tes. 5:16).

Jadi di dalam buku catatan kotbah saya saya tulis “As I have unconditional love, so that I sopposed to have unconditional happy”

Beberapa catatan-catatan kecil saya yang rada lucu antara lain:

“Pengkotbah bangga telah berhasil menyentil banyak orang”

Ini saya tulis karena pernah dalam suatu ibadah saya memperhatikan ekspresi senang/bangga dari si pengkotbah karena dia banyak menyentil.
“Seseorang yang sudah lama di Jakarta, lupa bahasa batak. Mandok “saur matua” menjadi “sambor matua””

Ini saya tulis ketika suatu saat sepupu saya yang sudah lama tinggal di Jakarta menelepon saya dengan menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa batak. Dia mengatakan bahwa mamanya itu sudah “sambor matua”. Tentu saya saya terbahak-bahak. Lalu menuliskannya di buku catatan kotbah saya.

Suatu ketika dalam sebuah ibadah ada kejadian yang agak lucu. Mungkin tidak banyak orang yang memperhatikan tetapi saya perhatikan. Waktu itu  MC tidak menguasai lagu yang dibawakannya. Jadi dia lebih banyak diam tapi tubuhnya tetap bergerak. Memahami keadaan itu, seorang pemudi (singer) yang kebetulan bertugas menghandle projektor (projektor tempatnya disamping menghadap altar) sepertinya berusaha melihat ke MC sambil menyanyi dengan mengekspresikan mulutnya lebih lebar supaya MC melihat dan mengikuti ekpressi mulutnya. Tetapi ternyata MC tidak memperhatikannya. Melihat keadaan itu, saya jadi tersenyum karena merasa lucu, lalu saya tulis di buku catatan kotbah saya:

“MC ‘ngongong’ karena tidak menguasai lagu. Seorang pemudi ‘dipatalak babana’ supaya MC mengikutinya” Dan ternyata MC tidak memperhatikannya.

 

06-09-12

Jahat di Mata Tuhan

Hak. 3:7 “Orang Israel melakukan apa yang jahat  di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN,Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera”.

Di era abad 21 ini dapat dikatakan bahwa hampir setiap hari yang kita jalani selalu ada berita/informasi mengenai kejahatan yang terjadi di dunia ini.  Semakin hebatnya tekhnologi informatika memungkinkan informasi-informasi yang ada di bagian belahan bumi yang sangat jauh dapat kita ketahui dalam hitungan menit bahkan mungkin detik.  Informasi-informasi itu di dapat melalui mulut ke mulut, media cetak, elektronik seperti radio, TV, telephon dan internet.

Jenis kejahatan yang terjadi bermacam-macam;  pembunuhan, pencurian, penipuan, penggelapan, perampokan, pemukulan, perkosaan, pemalsuan, cyber crime, korupsi, dan lain-lain.  Pelaku kejahatan pun tidak hanya berasal dari masyarakat biasa tetapi juga para pejabat pemerintah dan legislatif. Yang  juga memprihatinkan adalah ketika penegak hukum sendiri justru “bermain-main” dengan hukum itu.

Berbagai macam tindakan kejahatan itu mungkin membuat kita merinding, kesal, was-was dan takut. Namun tahukah saudara bahwa kita sangat mungkin sering melakukan apa yang jahat di mata Tuhan? Kejahatan yang dimaksud bukanlah jenis kejahatan seperti yang kita sebutkan diatas, melainkan melupakan Tuhan dan beribadah kepada Baal.

Menurut ayat diatas, bahwa tindakan manusia yang jahat di mata Tuhan yaitu melupakan Tuhan dan beribadah kepada Baal dan para Asyera. Yang dimaksud “melupakan” bukanlah berarti usaha untuk tidak mengingat lagi melainkan lebih bermaksud bahwa mereka tidak lagi percaya (mempercayakan) hidup mereka kepada Tuhan.

Hal yang sangat perlu kita renungkan setelah membaca FT diatas adalah apakah selama ini kita sungguh-sungguh percaya dan mengandalkan Tuhan? Mungkin kita tidak beribadah kepada Baal dan Asyerat atau tidak percaya kepada dukun, namun mungkin kita selama ini mengandalkan diri kita dan bukan Tuhan, atau mungkin kita selama ini bergantung kepada jabatan/kedudukan dan harta yang kita miliki dan bukan Tuhan. Renungkanlah! Hal itu jahat di mata Tuhan.

 

LH (03-09-12)