Bukan Sekedar Mujizat

Pekerjaan Roh Kudus memang luar biasa. Dia menjadikan orang-orang biasa menjadi orang-orang yang luar biasa. Lihatlah Petrus, setelah dia menerima Roh Kudus dia melakukan banyak perkara luar biasa dalam pelayanannya.

Pada suatu hari waktu menjelang sembayang, Petrus dan Yohannes ke Bait Allah. Seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahirnya dan selalu diletakkan di pintu gerbang Bait Allah. Meminta-meminta kepada mereka, seperti yang selalu dia lakukan. Melihat ini Petrus berkata “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah” Haleluya, luar biasa, orang lumpuh ini kemudian bisa berjalan.

Apa yang saya lihat dalam kejadian ini yaitu pertama, bahwa Roh Kudus memberi kuasa melakukan mujizat kepada Petrus, dan yang kedua, bahwa Roh Kudus memberi solusi yang bersifat permanen kepada orang lumpuh itu. Mengapa? Sebab Petrus bisa saja melakukan mujizat seperti yang dilakukan Yesus ketika mereka akan membayar pajak yaitu dengan menyuruh menangkap ikan dan mengambil uang yang secara ajaib berada di mulut ikan itu atau cara lain yang mirip dengan itu.

Namun apa yang dilakukan merupakan solusi permanen sebab dengan kemampuan berjalan, dia bisa melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya.

Jadi kejadian ini bukan sekedar mujizat melainkan juga solusi permanen kepada persoalan si orang lumpuh. Luar biasa Tuhan itu. Haleluya.

Yesus Menangis

Salah satu kisah yang menyatakan kasih Tuhan adalah pada waktu dibangkitkannya Lazarus setelah empat hari di dalam kubur dan sudah membusuk. Disitu dikatakan bahwa Yesus menangis (Yoh. 11: 35), Mungkin kita bertanya mengapa Yesus menangis, padahal dia akan melakukan mujizat dan akan membangkitkan Lazarus dari kematian.

Tentu saja tangisan Yesus bukanlah tangisan sandiwara dan airmata-Nya bukan airmata buaya seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang munafik. Tetapi tangisan Yesus adalah murni adalah kepiluan karena dia menempatkan perasaanNya seperti perasaan Maria dan Marta yang memang berduka.

Pelajaran : Dalam persoalan atau tekanan hidup yang kita alami, tidak jarang kita meragukan hati Tuhan kepada kita. Kita berpikir bahwa Allah tidak tahu dan tidak perduli permasalahan yang kita gumulkan. Namun lewat kisah ini kita belajar bahwa Yesus tahu dan sangat memahami persoalan yang kita alami. Dia turut merasakan pilu/duka yang kita alami.

Keputusan di Tanganmu

2 Taw. 20:1-4 “Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi. Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.”

Selama kita masih ada di dalam dunia ini, tidak ada seorang pun yang menjamin bahwa kita tidak akan menghadapi masalah atau tantangan hidup, meskipun kita adalah orang percaya. Mengapa? Karena dunia ini penuh dosa dan kejahatan, kita hidup di dunia ini bersama-sama dengan orang yang tidak percaya. Dalam hal ini, tidak keistimewaan orang percaya dengan yang tidak percaya. Perbedaannya hanya pada bagaimana kita menyikapi tantangan yang kita hadapi dan kepada siapa kita meminta pertolongan dalam setiap tantangan hidup yang kita alami.

Tuhan tidak pernah menjanjikan kepada kita orang percaya bahwa hidup kita akan bebas dari tantangan hidup. Kita juga harus tahu mengerti bahwa terkadang Tuhan justru mengijinkan persoalan menghampiri kita, supaya kita belajar dan mengerti situasi dunia ini dan dari situ kita memperoleh hikmat untuk mengambil tindakan yang tepat dalam hidup kita, dan supaya kita senantiasa bergantung kepada-Nya.

Ketika mengalami tantangan, sering kali kita merasa tidak sanggup untuk menghadapi. Kita mungkin akan takut dan kawatir. Dan itu sangat manusiawi. Namun sebagai orang percaya, hal itu seharusnya tidak boleh berlarut-larut dalam hidup kita, karena ada janji Tuhan bagi kita ketika kita mau berseru kepada-Nya meminta pertolongan. Karena itu, apa pun masalah yang kita hadapi yang membuat kita takut dan gentar, ambil keputusan untuk berseru kepada TUHAN. Keputusan ada di tanganmu.

Selalu ada cara Tuhan menolong kita

Goliat sangat percaya diri menantang barisan orang Israel. Selain karena kegagahannya, ia juga memiliki persenjataan dan alat perlindungan tubuh yang lengkap mulai dari kaki hingga kepala Goliat yang terbuat dari besi dan tembaga. Dia mengandalkan diri, alat pelindung tubuh dan persenjataan yang mereka miliki. Sepertinya mustahil bagi Daud untuk bisa menjangkau apalagi merobohkan Goliat. Namun ada bagian kecil dari tubuh yang tidak terlindungi oleh pada Goliat yaitu wajahnya. (1 Sam. 17:4-7). Namun yang terjadi adalah justru dari bagian yang kecil ini, Tuhan dapat memberi kemengan bagi Daud.

Pelajaran : Apapun permasalahan kita, walaupun sepertinya tidak ada jalan keluar atau sepertinya terlalu berat untuk kita hadapi, tetapi selalu ada cara bagi Tuhan untuk membela kita. Selalu ada peluang, selalu ada jalan/cara bagi Tuhan untuk membela orang percaya yang mengandalkan Tuhan.

bukan “siapa kita” tetapi “siapa di dalam kita”

Daud berbeda dengan Saul ketika berhadapan dengan Goliat. Walaupun Goliat gagah perkasa, dengan peralatan perang dan perlindungan diri yang lengkap sedangkan Daud masih sangat muda dan tanpa peralatan perang selain lembing, tapi dia tidak takut karena ia percaya dan mengandalkan Tuhan (1 Sam. 17:45).

Pelajaran: Dalam hal ini kita bisa belajar yaitu bukan tergantung besarnya tantangan/persoalan yang kita hadapi melainkan tergantung siapa yang kita percayai dan kita andalkan untuk menolong kita menghadapinya. Bukan tergantung pada “siapa kita“, melainkan “siapa di dalam kita“

Bila Tuhan Undur

Saul dan prajuritnya ketakutan mendengar tantangan musuhnya yaitu prajurit Filistin yang dikomandoi oleh Goliat yang bertubuh besar (6 hasta sejengkal = Kira-kira 3 meter). Mengapa Saul ketakutan? Karena Saul tahu bahwa Tuhan telah undur daripadanya. Dia takut melihat tantangan yang besar dihadapannya karena Tuhan tidak lagi menyertai mereka. Mengapa Tuhan undur dari Saul? Karena Saul tidak taat kepada Tuhan. Ia membuat kebenarannya sendiri yang bertentangan dengan Tuhan. (Kisah Saul di 1 Samuel)

Pelajaran : Tantangan yang kita hadapi dalam hidup ini seringkali membuat kita takut Namun ketakutan itu timbul sebenarnya bukan karena terlalu besar persoalan itu melainkan karena kita tidak yakin kehadiran Tuhan yang akan menolong kita. Ketidakyakinan pada pertolongan Tuhan sering dipengaruhi oleh perasaan berdosa akibat ketidaktaatan kita kepada firman Tuhan. Bukankah kita manusia ini sering membuat kebenaran kita sendiri dengan kompromi kepada cara-cara dunia. Sangat jelas bahwa ketaatan itu menjadi penting supaya Tuhan tidak undur dari kehidupan kita.

Jangan Memandang Penampilan Luar

Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, dia berpikir bahwa Eliab-lah yang dipilih Allah untuk diurapi menjadi raja karena parasnya dan perawakannya yang tinggi. Tetapi Tuhan berkata “…..Jangan pandang parasnya dan perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah, manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”(1 Sam 16:7).

Pelajaran : Jangan tertipu dengan penampilan luar seseorang, atau jangan mudah menilai seseorang dengan penampilan luarnya, atau dengan kata-kata manisnya tetapi lihatlah bagaimana hati dan kepribadiannya yang terbukti dari cara hidup (perbuatannya) yang baik.