MERDEKA DITENGAH KETIDAKMERDEKAAN

Hari ini 17 Agustus 2013, Indonesia memperingati hari kemerdekaan yang ke 68 tahun. Usia ini sesungguhnya tidak lagi muda, namun tidak sedikit masyarakat Indonesia yang merasa belum merdeka di dalam kehidupan mereka sebagai warga negara. Berbagai bentuk hambatan dan diskriminasi terjadi diberbagai bidang misalnya diskriminasi dalam dunia kerja, sosial ekonomi dan agama. Tantangan dan kesulitan hidup yang dialami oleh masyarakat di tengah melimpahruahnya anugerah Tuhan melalui alam yang kaya dengan hasil bumi, menimbulkan rasa kecewa dalam diri masyarakat. Korupsi yang merajalela, anarkisme atas nama agama  dan tidak tegasnya pemimpin di negara ini memupuk pesimisme terhadap harapan yang lebih baik dimasa datang.

          Dalam sebuah status di jejaring sosial seseorang menuliskan kekecewaanya kepada team pangutip biaya peringatan hari kemerdekaan di komplek perumahan mereka. Mereka dikutip sumbangan namun dengan cara yang mewajibkan memberi minimal Rp. 100.000. Memang jumlah ini belum tentu besar bagi orang lain, namun bagi keluarga yang berpenghasilan sedikit, jumlah itu cukup besar. Permintaan ini menjadi terkesan memaksa bila diserta gertakan bahwa bila ada keperluan mereka dalam kaitannya dengan perangkat desa, tidak akan dibantu. Maka sangat dapat dimaklumi mengapa dia menulis “dalam rangka memperingati kemerdekaan, mereka malah menjajah” di jejaring sosial miliknya.

           Bisa jadi kita belum/tidak merdeka dalam berbagai hal dalam berkehidupan di dunia ini, namun secara iman kita harus meyakini bahwa kita adalah orang-orang yang telah merdeka. Kita merdeka karena Kristus telah menang atas kematian, persoalan hidup dan Dia menang atas dosa dan hukum Taurat.

            Lukas 4:18-19:” Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Firman Tuhan ini adalah nubuatan nabi Yesaya tentang Yesus yang dibacakan oleh Yesus sendiri setelah genap waktunya. Dari firman Tuhan ini kita bisa melihat misi Kristus di dalam dunia yaitu untuk membebaskan atau memerdekaan orang-orang tawanan. Yang dimaksud dengan orang tawanan disini adalah bukan tawanan-tawanan yang ada dipenjara dalam arti yang sebenarnya, melainkan manusia yang tertawan dalam hukum dosa dan hukum maut.  (Band Roma 8:1-2).      

            Menurut ensiklopedia, Taurat atau Tora adalah kumpulan peraturan dalam tatanan sosial dan keagamaan yang ada ditengah-tengah masyarakat. Dalam perkembangannya, lima kitab Musa yang berisi tata upacara keagamaan dan tatanan kemasyarakatan diletakkan oleh Ezra menjadi dasar hukum yang mengatur tatanan kehidupan orang Yahudi setelah masa pembuangan. (Krn 450 sm, Neh. 8) dan di ikuti kemudian dengan kitab para nabi. Dari sinilah dipercaya asal usul kelompok ahli-ahli Taurat, yang bertugas memelihara hukum-hukum itu dan mengajarkannya (Luk. 2:46; Yoh. 18:20).

            Karena Hukum Taurat telah menjadi landasan hukum orang Yahudi, maka ahli-ahli Taurat ini dipercaya untuk urusan hukum sebagai hakim-hakim di Mahkamah Agama (Matius 22:35; Mrk. 14:43,53; dst) Mereka juga menyampaikan keputusan-keputusan tidak tertulis seperti adat istiadat sebagai hukum sosial yang harus dikerjakan. (Mrk. 7:5). Keinginan ahli-ahli Taurat untuk menerapkan hukum Taurat dan adat-istiadat secara ketat cenderung melahirkan legalisme sehingga mengesampingkan kasih. Karena menurut mereka, untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan hidup harus mematuhi hukum taurat, kitab para nabi (yang juga mengacu pada cara berpikir Taurat) dan adat istiadat Yahudi dengan sempurna. Di dalam Taurat Allah lebih digambarkan sebagai pribadi yang tegas bahkan cenderung kejam dan minim kasih. Maka tidak heran mereka yang hidup ketat di dalam hukum Taurat menjadi orang yang kejam sama seperti rasul Paulus sebelum dia menjadi pengikut Kristus.

            Namun ternyata tidak satu orangpun yang dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna, termasuk ahli Taurat sendiri seperti yang disaksikan oleh rasul Paulus sendiri dalam Kis. 15:10 :”Kalau demikian, mengapa kamu mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk (hukum Taurat), yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita, maupun oleh kita sendiri?”  Oleh karena itu tidak satu orangpun yang dapat selamat dengan mengandalkan hukum Taurat.

            Untuk itulah juga Kristus menjadi manusia, untuk menggenapi dan memenuhi semua tuntutan hukum Taurat di dalam diri-Nya, sehingga manusia beroleh kesempatan untuk selamat tanpa harus memenuhi/melaksanakan hukum Taurat. Gal 3:13,’Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Dalam suratnya ke jemaat Efesus, rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus telah membatalkan hukum Taurat (Efesus 2:15-16) Karena Taurat telah dibatalkan, maka Taurat itu tidak lagi berlaku sebagai dasar hukum dalam menjalani kehidupan. Manusia telah bebas dimerdekakan dari ikatan hukum Taurat. Oleh karena itulah kepada jemaat di Galatia rasul Paulus berpesan agar mereka jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.  Galatia 5:1:”Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”  Kita telah merdeka dari hukum Taurat supaya kita hidup oleh oleh Roh di dalam kasih Tuhan (Bd. 2 Kor 3:17, 1 Kor 2:10-11, Gal 5:16).

 

 M E R D E K A !

Dia Membuka Diri Untuk Persoalan Kita

Matius 11:28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Marilah kepada-Ku:

–          Ini adalah sebuah ajakan terbuka

–          Ajakan ini tentu dilatarbelakangi adanya perhatian Tuhan kepada mereka yang berbeban berat.

–          Dalam hal ini Allah membuka atau memberi diri bagi orang-orang mereka yang letih lesu dan berbeban berat.

–          Kita bisa membayangkan suatu contoh, bila seorang anak menangis dan kita iba melihatnya. Keibaan itu menggerakkan hati kita untuk menggendongnya dan meminta dia datang kepangkuan kita.  Dengan sikap ini, kita ingin memberikan ketenangan/kedamaian atau kenyamanan kepada anak tersebut.

Semua yang letih lesu dan berbeban berat:

–          Seruan berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali

–          Setiap orang tidak sama dalam meresponi suatu persoalan/beban; Letih lesu dan berbeban berat berbicara tentang batas kemampuan seseorang dalam menghadapi persoalan/pergumulan hidup.

–          Orang percaya tahu kemana dia harus mengadu  Seperti pengalaman pemazmur, “Dalam kesesakan aku telah berseru kepada Tuhan. Tahan telah menjawab aku dengan memberi kelegaan” (Mazmur 118:5)

Aku akan memberi kelegaan kepadamu

–          Wujud kasih adalah memberi diri

–          Disini Tuhan membuka diri untuk menampung beban atau persoalan kita.

–          Dalam hal ini Tuhan tidak mengambil beban kita, namun kita yang menyerahkan  beban itu kepada-Nya, ini adalah perwujudan iman kita kepada Tuhan.

–          Penulis kitab Ibrani mengatakanSebab itu marilah kita dengan penuh keberanianv  menghampiriw  takhta kasih karunia1 , supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibr. 4:16)

Keretaku Belum Tiba

Keretaku belum tiba. Dalam perjalanan menuju rumah-Mu yang Engkau berikan untukku, keretaku diterpa angin. Jalanan yang berliku, manahan lajuku. Jalan yang berkerikil dan berbatu menghentak tubuhku keatas dan kadang terhempas kebawah. Aku menatap sekelilingku, ada jiwa-jiwa yang merana dalam kebodohan, jiwa-jiwa yang tertawa pahit, menari di bara api dalam kekuatan roh penyesat. Tuhan taruh mereka dalam keretaku dengan kekuatan-Mu. Tibakan aku di rumah-Mu yang Engkau berikan untukku.

Demi Uang Dan Kekuasaan – Menjadi Saksi Dusta

Pada waktu kebangkitan Tuhan Yesus (Matius 28) ada 2 kelompok orang yang mengalami kejadian yang menggemparkan di kubur Yesus :

1. Maria Magdalena dan Maria yang lain

2. Penjaga-penjaga (serdadu)

Kelompok 1 pergi kepada murid-murid seperti yang diperintahkan malaikat untuk memberitahukan apa yang terjadi yaitu bahwa Yesus telah bangkit.

Kelompok 2 pergi kepada imam-imam kepala untuk memberitahukan apa yang terjadi yaitu bahwa Yesus bangkit.

Kelompok 1 dan murid-murid meneruskan Injil yang benar, namun

Kelompok 2 berkonspirasi dengan imam-imam kepala dengan imbalan uang untuk bersaksi dusta bahwa Yesus tidak bangkit melainkan jasadnya dicuri oleh murid-murid pada malam hari.

“MANUSIA BISA DIPERDAYA OLEH UANG (Seperti Serdadu-Serdadu) DAN KEKUASAAN (Para Imam Kepala) SEHINGGA MEMUTARBALIKKAN KEBENARAN DAN MENJADI SAKSI DUSTA”

Hanya murid yang sejati yang sanggup berdiri dalam kebenaran yang sejati meski harus menderita dalam menegakkannya.