DIBALIK NAMA

Meskipun nama yang diberikan orang tua kepada anaknya tidak selalu memiliki arti khusus, tetapi secara umum nama yang diberikan merupakan wujud harapan dan doa orang tua untuk anaknya. Nama-nama itu bisa merupakan kata atau penggabungan beberapa kata. Misalnya, nama “Romauli” adalah merupakan penggabungan kata-kata dari bahasa Batak yaitu “roma” artinya “datanglah” dan “uli” artinya “kebaikan”, jadi “Romauli” berarti “datanglah (kiranya) kebaikan”.

Dalam bahasa Jawa ada nama “Sugiarto” berasal dari kata “Sugih” artinya “kaya/banyak” dan “arto” artinya “harta/uang”. Nama ini mengandung harapan orang tuanya agar kelak dia menjadi orang yang memiliki banyak uang/harta. Nama “Joyo Seputro” berasal dari kata “Joyo” artinya “Jaya/Berjaya” dan “Seputro” artinya “semua anak-anak”

Nama juga bisa berasal dari nama benda atau istilah tertentu yang telah dimaknai secara umum sebagai sebuah lambang, misalnya : Bunga (indah, cantik,dll), Bintang (terang, penerang, indah, dll), Tiurma (terang-lah), Banyu (air – kehidupan), Budi (baik/bijak) dan lain sebagainya.

Nama-nama tokoh atau orang-orang terkenal pun tidak jarang digunakan oleh orang tua kepada anaknya dengan harapan kelak si anak bisa mengikuti jejak ketokohan sang tokoh yang dimaksud atau menjadi orang yang terkenal atau yang berhasil. Tokoh-tokoh atau istilah yang ada di Alkitab pun tidak luput digunakan oleh sebagian orang tua kepada anaknya dengan harapan anaknya itu mengikuti citra yang baik dari tokoh-tokoh tersebut.

Jelaslah bahwa orang tua selalu mengharapkan dan mendoakan yang terbaik terjadi kepada anak-anaknya. Latarbelakang pemberian nama anak seperti yang dijelaskan diatas menjadi salah satu bukti yang menguatkan hal itu. Tidak ada orang tua yang menginginkan yang tidak baik buat anak-anaknya. Lebih dari sekedar memberi nama yang bermakna, orang tua bahkan merencanakan, bertindak dan bekerja keras untuk anak-anaknya.

Tahukah anda bahwa Tuhan juga menginginkan yang terbaik buat anda? Bahkan kebaikan Tuhan sesungguhnya melebihi kebaikan orang tua kepada anak-anaknya (Mat. 7:11, Yer.29:11). Kepada manusia diberi seorang Juruselamat yang bernama “YESUS” yang artinya “TUHAN adalah keselamatan” atau “TUHAN menyelamatkan”. Dia juga disebut “Immanuel” yang berarti “Allah menyertai kita” (LH-Apr 14)

KEJUJURAN BUKAN DARI JIN

Konon ayah George Washington (Presiden Pertama Amerika) adalah seorang penggemar tanaman. Diantara banyak tanaman yang dimiliki ayahnya, ada satu tanaman yaitu pohon ceri unggul yang sangat disukai oleh ayahnya. Pohon ini dibawa dari seberang lautan. Pada suatu hari, George bermain dengan kapak barunya membelah potongan kayu. Tanpa sengaja kapaknya mengenai pohon ceri kesayangan ayahnya sehingga terbelah dari atas ke bawah. Tentu saja George sangat terkejut.

Ketika ayahnya pulang, ayahnya terkejut dan berteriak “siapa yang menebang pohon itu?” Ia terdiam sesaat dan kemudian menjawab, “aku tidak dapat berbohong ayah, pohon itu terkana kapakku.” Ayahnya menatap tajam dan berkata, “kenapa kau menebang pohon itu?” George menjawab, “aku sedang bermain dan tidak sengaja mengenai pohon itu” sambil tertunduk dan meminta maaf kepada ayahnya. Ayahnya lalu meletakkan tangannya di bahu George dan berkata, “aku menyesal telah kehilangan pohon ceriku, tetapi aku senang bahwa kamu cukup berani untuk berkata jujur. Aku lebih suka kau berkata jujur dan berani daripada memiliki seluruh kebun ceri yang paling unggul.” George tidak pernah lupa apa yang dikatakan ayahnya sampai akhir hidupnya.

Di zaman yang penuh dengan kejahatan, kemunafikan dan cinta diri ini, tidak mudah menemukan orang-orang yang jujur. Banyak orang berprinsip “engkau jujur hancur, tidak jujur engkau mujur (beruntung)”. Mungkin saja memang terjadi dalam kehidupan manusia seperti prinsip tersebut, bila ia berada di tengah lingkungan orang-orang yang tidak juju atau ditengah orang-orang yang hanya mau mencari keuntungan dan kepuasan diri sendiri dengan menghalalkan segala cara, namun bila direnungkan lebih dalam, “ketidakjujuran” bila telah meluas dan membudaya, maka akan merugikan semua pihak karena akan saling menipu atau saling membohongi.

Tahukah anda bahwa kejujuran adalah sifat yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki oleh umat-umatNya? Sebab Tuhan membenci dusta sedangkan kejujuran adalah lawan dari dusta. Maka tidak heran kalau Kitab Amsal mengatakan bahwa Tuhan bergaul erat dengan orang jujur (Amsal 3:32). Lalu bagaimana seseorang dapat bersikap jujur? Pertama adalah takut akan Tuhan, menyadari bahwa kejujuran adalah kehendak Allah seperti Amsal 3:32 diatas (Bandingkan juga Amsal 14:2). Kedua adalah ketulusan. Orang yang tulus akan bertindak jujur (Amsal 11:3). Daud berkata, “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau” (Mazmur 25:21). So, Kejujuran tidak didapat dengan meminta dari seseorang untuk memberikannya kepada kita, apalagi memintanya dari Jin seperti yang ada di iklan televisi. (Apr-LH 14)

“TANGISILAH DIRIMU DAN ANAK-ANAKMU”

Nats : Lukas 23:26-31

Bila banyak orang merasa beruntung bisa bertemu dengan artis atau pejabat, maka Simon dapat dikatakan orang yang jauh lebih beruntung karena berkesempatan memikul salib Yesus dalam perjalanan salib menuju Getsemane. Simon ini baru datang dari kota lalu dia ditahan untuk memikul salib Yesus. Ada banyak orang yang mengiringi perjalanan salib ini, lalu mengapa simon ini yang ditahan untuk memikul salib? Pastilah simon ini datang secara menyolok dan menjadi pusat perhatian. Mungkin saja terjadi dalam usaha kita untuk “bertemu” dengan Kristus melalui kebenaran-Nya kita mendapatkan berbagai tantangan yang membebani hidup kita. Tetaplah teguh sebab pada waktunya kelak kita akan bersukacita pernah mengalaminya.

Yesus berpaling kepada perempuan-perempuan yang menangisiNya sebagai bukti perhatian-Nya kepada mereka, sekaligus Dia memberi teguran agar mereka menyadari bahwa yang pantas ditangisi bukanlah Yesus tetapi diri mereka dan anak-anak mereka. Sebab Dia bukan tidak berkuasa untuk melepaskan diri dari penderitaan itu tetapi semua dijalaniNya dengan taat demi melepaskan manusia dari dosa.

Apa maksud perkataan Yesus “tangisilah dirmu dan anak-anakmu”?

Pertama, karena dosa merekalah yang ditanggung oleh Yesus. Kedua, perkataan ini menjadi semacam nubuatan bahwa akan ada waktunya dimana manusia susah diatur oleh karena pengaruh zaman. Banyak anak-anak yang melawan orang tua, tidak ada rasa hormat, tidak ada kasih, tidak tahu berterima kasih. Pengaruh media yang mudah untuk diakses dengan berbagai macam program yang tidak semua baik, seperti game-game kekerasan, game yang menarik perhatian anak-anak sampai lupa waktu. Juga akses kepada pornografi. Di tambah lagi pergaulan di luar rumah yang mungkin tidak baik. Semua keadaan ini dapat membuat seorang ibu dan tentu juga ayah (orang tua) tertekan batin dan stress.

Pada tingkat stress yang tinggi, sangat mungkin ada orang tua yang akan merasa menyesal telah memiliki anak, dan berkata dalam hatinya seperti di ayat 29 ini “…berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan dan yang susunya tidak pernah menyusui” Keputusasaan dapat terjadi berikutnya hingga dia berharap kematian datang padanya dan berharap dalam hatinya seperti di ayat 30 “Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami!”

Pergumulan di zaman akhir memang akan semakin berat. Umat Tuhan harus memikirkan dan mengusahakan persekutuan yang kuat dalam keluarga sejak dini. Dan peran ibu diusia anaknya masih kanak-kanak sangat penting dalam pembentukan karakternya. Sebagai orang tua kita butuh hikmat dan kekuatan dari Tuhan. Kita akan kuat dalam kekuatan kuasa-Nya (Ef. 6:10).

EXTRA PEDAS

Era ini ada banyak jenis makanan saji yang dijual di pasaran baik yang diproduksi oleh satu perusahaan maupun oleh perusahaan-perusahaan yang berbeda. Satu perusahaan memproduksi  banyak jenis makanan, tetapi ada juga beberapa jenis makanan yang sama tetapi diproduksi oleh perusahaan yang lain, tentu dengan merek yang berbeda pula.  Diantara banyak jenis  makanan tersebut, ada yang diberi satu istilah untuk menyatakan kekhususan produk tersebut, salah satunya yaitu “extra pedas”

Beberapa jenis makanan kemasan yang ada dipasaran yang disebut extra pedas, Keripik Extra Pedas, Kerupuk Extra Pedas, Sambal Extra Pedas, dll. Kita juga mungkin akan menemukan makanan olahan atau cepat saji yang dijual di rumah-rumah makan seperti Tahu Goreng Extra Pedas, Ayam Goreng Extra Pedas, Mie Extra Pedas, dll.

Digunakanannya label extra pedas, bukanlah semata-mata mau menunjukkan ke-khas-an makanan-makanan tersebut, tetapi juga berarti produk tersebut memiliki rasa LEBIH (dalam hal ini rasa pedas) diantara produk pedas lainnya. Rasa pedas yang lebih menggigit. Tentu saja untuk menghasilkan makanan extra pedas, maka diperlukan lebih banyak (extra) cabai atau bumbu pedas lainnya.

Bila anda ingin hidup anda “berasa” lebih, berkwalitas, hidup yang tidak biasa-biasa, maka diperlukan sikap yang extra dalam hidup anda.  Sikap extra itu adalah kesabaran dan ketekunan; tekun belajar, tekun bekerja dan tekun berdoa. Niscaya, anda tidak akan tatap di satu daun tangga, melainkan akan beranjak naik menuju puncak.  (LH-Apr 14)

KEHIDUPAN PRIBADI YANG MENEGUHKAN PEMBERITAAN

Nats : Yoh. 3:25-30

Ayat 25 mengatakan bahwa murid-murid Yohanes pembabtis berselisih (pendapat) dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Tentu yang dimaksud penyucian disini adalah  Babtisan, mengacu pada ayat sebelum dan sesudahnya dan sesuai dengan arti babtisan itu sendiri  yang  bisa juga berarti “dicuci dengan air. Disini murid Yohannes diuji pemahamannya tentang apa yang diajarkan dan dilakukan oleh sang guru yang kemudian juga dilakukan oleh Yesus Kristus. Bagi kita hal ini memberi hikmat bagaimana kita mempertanggungjawabkan iman kita. Karena bisa saja orang lain (yang tidak percaya) mempertanyakan dasar iman kita; yaitu mengapa kita percaya dan menjadi pengikut Kristus.

Keterbatasan pemahaman dapat menimbulkan perselisihan, tetapi murid Yohanes tidak larut dalam perselisihan melainkan  mereka pergi kepada Yohanes untuk untuk bertanya (ayat 26).  Tujuan mereka bertanya tentu supaya mereka semakin tahu dan jelas tentang babtisan itu. Untuk tujuan agar kita semakin memahami  kebenaran Allah , kita pun perlu terus belajar firman Tuhan, baik melalui Hamba Tuhan dalam PA atau Kotbah maupun dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan dalam pimpinan Roh.

Ketika murid-murid bertanya tentang penyucian, Yohannes justru membawa mereka pada pengajaran yang lebih mendasar yaitu tentang pribadinya dan Kristus yang melakukan babtisan itu untuk meneguhkan apa yang diajarkan dan dilakukan. Hal ini sangat penting supaya mereka tidak meragukan keabsahan babtisan.

1. Ayat 27 – Yohanes percaya bahwa sumber segala karunia adalah surga. Surga adalah tempat Allah bersemayam dan dari sana Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, surga sebagai sumber karunia mengacu kepada Allah sendiri. Allah-lah sumber segala karunia. Apa yang diterima Yohanes sebagai panggilan hidupnya termasuk posisinya sebagai orang yang dipilih mempersiapkan jalan bagi Kristusadalah karunia Tuhan. Dan setiap orang yang dibawa kepada Kristus adalah juga karunia Allah.

2. Ayat 28 – Yohanes hidup dalam kejujuran dan dapat dipercaya. Muridnya menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan gurunya.  Itu berarti Yohannes menjadi kesaksian bagi muridnya dan orang lain. Betapa indah bila kita tidak dapat didakwa oleh karena perbuatan yang jahat dan berbosa, itu berarti kita harus  menjadi kesaksian yang baik dan membangun.

3. Ayat 29- Yohanes memiliki suka cita seperti sukacita sahabat mempelai. Seorang mempelai pastilah orang yang sangat berbahagia. Seorang sahabat mempelai juga bersukacita seperti sukacita mempelai. Ketika mempelai wanita dan pria bersatu maka disitu ada sukacita besar. Demikianlah sukacita Yohanes, bila Kristus sebagai mempelai Pria surga bersatu dengan jemaat sebagai mempelai wanita surga. Persatuan itu terjadi oleh karena pertobatan yang diproklamirkan melalui babtisan. Pertanyaan yang perlu kita renungkan kemudian adalah apakah kita memiliki sukacita yang sama dengan Yohannes. Jika ya, maka marilah kita membawa jiwa-jiwa untuk bersatu dengan Kristus sebagai mempelai.

4. Ayat 30 – Yohannes memiliki kerendahan hati. Dia sadar bahwa dia hanya membuka jalan bagi misi Yesus.  Yesuslah yang kian besar, Yesuslah yang harus menonjol bukan dia. Maka kemuliaan harus tertuju kepada Kristus.  Apapun yang dipercayakan untuk kita kerjakan di dunia bagi Tuhan bukan untuk kehormatan dan kemuliaan kita tetapi untuk kemuliaan Tuhan.

MASA LALU BUKAN PENGHALANG (Rangkuman Kotbah Minggu, 30 Mar 14 By Pdt.J.Simbolon)

Paulus bersyukur kepada Tuhan karena kasih Tuhan yang telah memanggil dia menjadi pemberita Injil. Dia yang tadinya seorang penghujat bahkan penganiaya pengikut-pengikut Kristus, telah memperoleh kasih karunia keselamatan. Bukan hanya itu, Tuhan juga mempercayakan pelayanan pemberitaan Injil kepadanya, supaya melalui dia, Tuhan menyelamatkan banyak orang.

Ketika Tuhan mempercayakan sesuatu untuk kita kerjakan maka kepercayaan itu haruslah kita terima dengan rasa syukur dan dikerjakan dengan penuh tanggungjawab, sebab keparcayaan itu juga merupakan kehormatan yang diberikan Tuhan. Kita mungkin memiliki memiliki latarbelakang yang tidak baik/tidak benar, namun bila Tuhan telah memanggil kita bahkan mempercayakan tugas pelayanan, maka masa lalu tidak akan menjadi penghalang untuk maju, sebab pengampunan telah diberikan untuk segala dosa, serta kekuatan yang diberikan melalui penyertaan Roh Kudus. Iblis dan dunia ini boleh saja mendakwa kita berdasarkan masa lalu kita, tapi percayalah Tuhan telah menyelesaikannya.

Rasul Paulus telah menjadi contoh bagi dunia. Seorang berdosa yang diselamatkan; seorang penghujat dan penganiaya telah menjadi pemberita Injil yang rela menghadapi banyak tantanga dan  menderita demi pemberitaan Injil.  Memang, dalam mengikut Tuhan apalagi dalam melakukan tugas-tugas yang secara khusus diberikan kepada kita, akan mengalami banyak tantangan, namun oleh karena Tuhan kita akan cakap menanggung segala perkara.

Sama seperti Paulus, kesadaran kita akan kasih karunia Tuhan yang diberikan bagi kita dan penyertaanNya oleh Roh Kudus yang menuntun dan memberi kekuatan dalam menjalani kehidupan dan pelayanan yang dipercayakan bagi kita, akan mendorong kita untuk selalu bersyukur dan memuliakan Dia, Raja segala zaman, Allah yang kekal.

SARA, JANGAN JADI PENGHALANG DEMI INDONESIA HEBAT

Pemilu 2014 untuk memilih legislative sudah berlalu. Seperti yang diprediksi banyak orang bahwa PDIP akan menjadi pemenang pemilu sekali pun partai ini tidak punya media tv yang mendukung partai ini untuk mengkampanyekan diri seperti beberapa partai lainnya. Tidak sedikit juga orang beranggapan bahwa kemenangan PDIP kali ini tidak terlepas dari adanya “Jokowi effect” yaitu popularitas Jokowi sebagai orang yang dianggap bersih; Jujur dan transparan, nasionalis, humanis dan tegas, yang diusung oleh PDIP sebagai calon presiden.

Menoleh beberapa bulan ke belakang, dimana ada AHOK sebagai mantan Bupati Belitung Timur dan DPR RI ketika disandingkan dengan Jokowi sebagai candidat wakil Gubernur adalah juga karena dikenal sebagai sosok yang bersih; Jujur dan transparan, nasionalis, humanis dan tegas. Meskipun banyak cara dimunculkan oleh pihak tertentu untuk menggagalkan mereka, termasuk issu agama dan etnis, tetapi akhirnya mayoritas pemilih DKI Jakarta menghantarnya mereka pada posisi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Rakyat Indonesia sudah sewajarnya lelah dengan keadaan yang ada sekarang. Korupsi yang masih terus merajalela. Toh, para koruptor dan pembuat masalah di negeri ini tidak memandang suka, agama dan ras. Justru SARA sering dimanfaatkan oleh oknum atau kelompok tertentu untuk kepentingan pribadi/golongan. Masih segar dalam ingatan kita bahwa tokoh dari partai berbasis agama justru terlibat korupsi yang tidak kecil. Pun yang terperangkap dengan “wanita”, kurupsi  di departemen agama, dll.

Mengacu pada pengalaman Ahok dan Jokowi kita melihat adanya kecenderungan masyarakat Indonesia sudah mulai sadar untuk tidak mempersoalkan SARA (Suku, Agama dan Ras) dalam memilih pemimpin mereka melainkan pada kepribadian dan sikap yang dimiliki oleh kandidat tersebut yaitu bersih; Jujur dan transparan, nasionalis, humanis dan tegas. Sikap seperti inilah yang sangat dibutuhkan bangsa ini; sikap sebagai pemimpin maupun sebagai anggota masyarakat supaya negeri ini semakin baik dan maju. Rakyat Indonesia harus mulai meninggalkan pola lama yang menghambat persatuan dalam membangun negeri karena adanya faktor SARA.  Potensi yang dimiliki oleh anak-anak bangsa harus dimaksimalkan untuk pembangunan bangsa dan negara Indonesia, tanpa harus mempertanyakan suka, agama atau ras mereka. (LH – Apr 14)

Wani Piro

“Wani piro?” mungkin kalimat tanya yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Kalimat dari bahasa Jawa yang arti hurufiahnya “berani berapa?” ini menjadi sangat terkena sejak digunakan menjadi tagline di iklan salah satu produk rokok.

Menurut beberapa sumber, pertanyaan “wani piro?” ini sebenarnya tidak selalu bermaksud tidak baik. Di dalam bisnis atau perdagangan sering digunakan, misalnya ketika terjadi tawar penawar atau penawaran suatu barang. “Wani piro?” bisa juga merupakan suatu “daftar harga yang harus dibayar” yaitu apa-apa saja yang harus dilakukan atau dikorbankan untuk menggapai sesuatu yang sangat didambakan atau dicita-citakan. Artinya baik atau buruknya pertanyaan itu tergantung spirit atau maksud yang ada dalam hati orang-orang yang menggunakannya.

Di dua iklan yang dimiliki produsen rokok seperti yang disebutkan diatas, seakan menyindir bahwa segala urusan, mesti ada “uang pelicin”nya, bahkan bukan hanya di dunia manusia namun sampai di dunia jin juga. Segala urusan akan menjadi lancar bila disertai dengan uang tambahan diluar yang seharusnya. Ini contoh spirit atau maksud yang salah dibalik penggunaan pertanyaan itu.

Dalam perkembangannya sekarang ini, “wani piro?” ternyata bukan lagi sekedar lelucon di iklan dalam sorotannya tentang issu korupsi tetapi sudah sering menjadi celotehan untuk banyak hal khususnya dalam menjawab atau meresponi sebuah permintaan. Mis: “Tolong ambilkan handuk itu!”, lalu dijawab “wani piro?”; “tolong antar saya ke pasar!”, “wani piro?”, dsb. Di jejaring sosial pun belakangan ini sering muncul “wani piro?” untuk menjawab iklan/status yang berkaitan dengan permintaan dukungan ini pada pemilu yang akan datang. Artinya bila mau dipilih, maka caleg itu diminta untuk membayar suara yang nanti akan diberikan pada pencoblosan nanti. Ini pun juga adalah spirit yang salah dibalik pertanyaan itu.

Dapat anda bayangkan bila spirit yang salah seperti ini menguasai kehidupan seseorang, maka segala sesuatu akan diukur dengan uang dan untung-rugi. Bagaimana dengan anda?

Dimana…Dimana…Dimana….

Seseorang mengetuk pintu rumah pak Ontel, ketika dibuka, betapa kagetnya pak Ontel karena di depan rumahnya berdiri seorang laki-laki dan kemudian berjoget dan bernyanyi.

Pak Ontel sempat berpikir bhw laki-laki ini adalah seorang pengamen. Tapi tak mungkin, pikirnya kemudian. Seorang pengamen tidak mungkin telanjang.

Dalam keadaan kaget dan bingung, Pak Ontel sejurus kemudian menutup pintu rumahnya dan langsung mengunci.

Dibalik pintu, pak Ontel berpikir sejenak, sepertinya dia mengenal  laki-laki itu. Hah… ingat sekarang, laki-laki itu adalah caleg yang pernah memberi dia uang supaya dia di dukung jadi legislative. Mungkin dia tidak lolos dan jadi stress….

Pantasan syair lagunya seperti itu……..

Seperti apakah syair lagunya?

“dimana…dimana… dimana…., dimana uangku semua…..rumahku terjual, hutangku menumpuk, istri dan anakku pergi……” (meniru lagu “alamat palsu”nya Ayu Ting-Ting).

Pesan : Orang yang hatinya bersih tahu mana yang patut dan benar. Jangan memilih caleg karena uang. Kalau anda cinta negeri ini, pilihlah yang benar-benar terbaik.

Matius 6:23: “jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu”

Mata rohani yang baik, bisa membedakan mana yang patut dan benar mana yang tidak.