D E B A T

Situasi menjelang pemilihan presiden Republik Indonesia untuk masa bakti 2014-2019 cukup terasa hangat. KPU telah menetapkan 2 pasangan capres-cawapres pada pemilihan tahun ini dan telah menjadwalkan masa kampanye dan debat terbuka kepada kedua pasangan yang disiarkan di beberapa TV nasional.  Ucara ini tentu bertujuan untuk memberi kesempatan kepada para calon untuk menyampaikan visi dan misinya dan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat kwalitas para kandidat supaya siapa pun yang menjadi pilihan masyarakat, diharapkan itulah yang terbaik.  Selain jadwal debat terbuka yang dilakukan oleh KPU kepada capres-cawapres, beberapa lembaga dan stasiun televisi juga mengadakan acara debat antara elit politik pendukung kedua pasangan tersebut.

Di “akar rumput” pun debat tidak bisa dihindari. Meski tidak ada yang memfasilitasi dan menjadwal debat, para pendukung masing-masing calon saling berdebat tak kalah sengit. Di kantor-kantor, di warung-warung kopi, di  bis kota, di ruang tunggu, dll. Masing-masing orang menyampaikan dengan semangat hal-hal yang merupakan alasan mengapa kandidat tertentu pantas untuk mereka dukung, dan dengan rada sinis menyebutkan sederatan daftar alasan mengapa calon lainnya tidak pantas di dukung.

Di alam demokrasi sah-sah saja orang berbeda pendapat. Berdebat  atau diskusi/sharing pun sah-sah saja dilakukan, namun menjaga suasana kondusif sangat  diperlukan supaya tidak memancing emosi lawan bicara yang dapat menimbulkan keributan/pertikaian baik di tingkat “akar rumput” maupun di tingkat elite politik. Masyarakat harus tetap sadar bahwa ini adalah sebuah pesta demokrasi dimana masyarakat Indonesia berkesempatan untuk memilih pemimpin yang dianggapnya terbaik. Sebab tidak semua masyarakat di dunia ini yang bisa menentukan siapa yang akan memimpin negerinya. Contohnya adalah Korea Utara yang dipimpin oleh otoriter selama tiga generasi,  dan Myanmar yang dipimpin oleh junta militer.

Layaknya keinginan dan harapan masyarakat untuk mendapatkan pemimpin yang terbaik, demikianlah kita juga berharap bahwa di masa kampanye, pemilihan dan pasca pemilihan nanti, situasi di dalam negeri tetap baik dan kondusif. Mari kita ambil bagian untuk mewujudkannya (LH-Juni 14)

Tetap Bersukacita

Nats : Amsal 17:22

Oleh: Lamron Sagala (GPI Malaysia)

Meski para dokter memiliki obat medis, tetapi mereka juga meyakini bahwa hati yang bergembira akan lebih cepat memulihkan keadaan orang yang sakit. Dan itu sesuai dengan penelitian. Jauh sebelum medis berkembang, firman Tuhan sudah mengatakan bahwa hati yang gembira adalah obat tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. Saudara bisa menguji  hidup saudara apakah saudara seperti ranting yang rapuh atau sebaliknya seperti kayu yang kuat untuk menopang sebuah bangunan.

Bagaimana kita beribadah untuk menyenangkan hati Tuhan bila kita tidak bersuka-cita? Ketika seorang suami letih dari pekerjaan, apakah tetap membawa sukacita sampai ke rumah? Ketika ibu-ibu begitu sibuk dengan pekerjaan di rumah, mengurus anak-anak dan lain-lain, apakah masih tetap bersukacita? Dalam segala keadaan kita perlu menjaga hati supaya tidak hilang kontrol dan menjadi emosional, marah-marah. Bila tidak bisa menjaga hati  bisa berdampak buruk ke mana mana.

Bagitu pun dalam hal keuangan. Mungkin ada saat-saat dimana keuangan menipis bahkan mengalami kesulitan, ibu-ibu harus tetap sayang kepada suami-suami. Jangan seperti orang yang tidak mengenal Tuhan, ketika ada uang abang disayang, tidak ada uang abang melayang, tetapi harus berprinsip : ada uang abang disayang, tak ada uang tetap disayang.

Beban kehidupan memang bisa membuat orang kehilangan sukacita. Seorang anak hendaklah membahagiakan orang tua, sebab orang tua adalah wakil Tuhan di dunia ini. Dan orang tua hendaklah mengasihi anak-anak dan jangan menimbulkan  kepahitan di hati anak-anak supaya dengan itu sukacita tetap ada di tengah-tengah keluarga.  Orang percaya harus berbeda dengan orang dunia. Dalam segala tantangan yang kita hadapi , kita meresponi persoalan dengan iman kepada pertolongan Tuhan.

Segala hal butuh kesungguhan untuk  keberhasilan. Pelayanan tidak mungkin berkembang kalau tidak sungguh-sungguh di dalam Tuhan.  Kesungguhan kita akan tampak dalam kita bersikap, dan sukacita yang tetap memancar adalah satu bukti kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dan orang dunia akan melihat kehidupan kita.

TUHAN MENDAHULUI KITA

Nas : Yosua 5:13-15

Hadirnya sosok yang mengaku sebagai Panglima Bala Tentara Tuhan ini perlu menjadi perenungan bagi kita, siapa dan apa tujuannya tiba-tiba muncul di hadapan Yosua. Seseorang yang tidak sedang ditunggu, tidak pula diketahui dari mana datangnya. Dengan melihat pada sikap Yosua kepada sosok ini yaitu Yosua menyembahnya dan ia mau menerima sembahan itu, maka mungkin Dia adalah Tuhan sendiri yang menampakkan diri. Dalam istilah teologi disebut “Teofani” yaitu penampakan Allah dalam wujud yg bisa dilihat. Bandingkan dengan hadirnya Tuhan dalam nyala api yang keluar dari semakduri tetapi semak itu tidak terbakar (Kel. 3:1-6). Paling tidak sosok itu adalah Malaikat yang mewakili Allah untuk satu misi.

Sebutan diri sebagai Panglima Bala Tentara Tuhan, bersesuaian dengan keadaan orang Israel yang akan menghadapi peperangan untuk merebut kota Yeriko, karena Panglima Bala Tentara berbicara tentang seorang pemimpin yang memegang komando dan memimpin pasukan dalam peperangan.

Pasal 6 adalah sambungan dari ayat-ayat diatas. Disana disebutkan bahwa Tuhan memberi petunjuk kepada Yosua untuk menghancurkan tembok Yeriko. Mereka disuruh untuk mengelilingi kota itu sekali selama enam hari berturut-turut tetapi pada hari ketujuh, tujuh kali mereka harus mengelilingi tembok itu. Ada tujuh sangkakala yang dibawa oleh imam-imam. Setelah selesai dikelilingi, sangkakala dibunyikan dan jemaat berteriak. Akhirnya mereka berkemenangan.

Tuhan hadir dan menyatakan diri bagi kita untuk kebutuhan kita; sebagai Gembala, Ia memelihara kita, sebagai sahabat Dia membantu kita dalam kesulitan, Dia juga menyatakan diri sebagai Penolong, Penghibur dan Juruselamat bagi kita. Betapa penyertaan Tuhan luar biasa dalam hidup kita, dan adalah hasrat hati-Nya untuk selalu menyertai umat-umat-Nya. Hal itu telah dibuktikan sejak penciptaan dan lebih nyata lagi ketika Tuhan menyuruh umat Israel meninggal Mesir dan pergi ke kanaan. Sepanjang perjalanan mereka, Tuhan menyatakan kehadiran-Nya melalui   Malaikat yang mendahului mereka, Tiang Awan dan Tiang Api, lalu melalui Tabut Perjanjian.

Di dunia ini setiap saat kita berperang. Kita berperang dengan keinginan daging, berperang melawan bujuk rayu iblis, berperang melawan kemalasan, dan lain-lain. Kita mau terus meyakini bahwa Tuhan menyertai kita. Hasrat hati Tuhan adalah menyertai kita. Dia akan berjalan di depan kita untuk mendahului kita dalam peperangan yang kita harus hadapi. Namun begitu, kita harus selalu mengikuti petunjuk dan arahan Tuhan supaya kita berkemenangan.

MULUT DAN BAHASA ROH

Istilah “Pentakosta” adalah dari asal kata bahasa Yunani, yaitu “pentekoste” yang artinya hari yang kelima puluh. Karena itu pelaksanaan hari raya Pentakosta yang dirayakan oleh gereja pada masa ini adalah dihitung 50 hari sejak hari raya Paskah, yang bertepatan dengan hari pencurahan Roh Kudus seperti yang dialami oleh murid-murid Tuhan diawal

Hari Pentakosta mengandung beberapa arti. Di Perjanjian Lama (PL) hari Pentakosta sebagai hari raya panen gandum, yang mengingatkan bahwa Allah telah memberikan berkat yang berlimpah kepada umatNya sebagai bukti bahwa Tuhan memelihara umat-Nya. Juga adalah hari yang dirayakan untuk memperingati peristiwa turunnya Taurat yang diwahyukan oleh Allah kepada Musa di gunung Sinai. Sedangkan di PB, hari Pentakosta adalah hari dicurahkannya Roh Kudus.

Salah satu karunia Roh Kudus yang diberikan kepada pengikut Tuhan adalah barbahasa roh. Oleh sebagian teolog dikatakan bahwa bahasa di KPR 2 adalah bahasa lidah bukan bahasa roh, yaitu bahasa manusia yang dimengerti oleh bangsa pemilik bahasa itu, oleh kuasa Roh mereka diberi kemampuan untuk mengucapkannya. Sedangkan di Korintus dikatakan karunia bahasa itu adalah bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia. Inilah yang disebut bahasa Roh.

Lepas dari pendapat bahwa bahasa di KPR 2 dapat disebut juga sebagai bahasa roh atau tidak, yang pasti bahasa yang diberikan Roh itu keluar dari mulut orang percaya untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Semua karunia yang diberikan kepada orang percaya bertujuan untuk membawa umat memiliki pengenalan dan persekutuan yang semakin intim dengan Tuhan. Milikilah karunia-karunia Tuhan, dan muliakanlah Tuhan dengan segala apa yang kita peroleh dari-Nya.

Dengan Roh Kudus kita akan menjaga hidup yang kudus dan berkenan kepada Tuhan. Jangan sampai sikap dan perilaku kita kontradiksi dengan keinginan Roh itu. Bila mulut kita dipakai untuk memuliakan Tuhan jangan pula kita gunakan untuk memperkatakan perkataan kotor dan tercela supaya karunia bahasa roh tidak menjadi batu sandungan dan cela bagi pekerjaan Tuhan. (LH-Juni 14)