SANDIWARA ATAU KESUNGGUHAN

Nats: Yesaya 1:10-20

Penglihatan yang dilihat oleh Yesaya tentang Yehuda dan Yerusalem berbicara tentang keadaan kehidupan keimanan orang-orang Yehuda sepanjang kepemimpinan 4 orang raja-raja Yehuda. Pada ayat 10, perkataan ini ditujukan kepada pemimpin-pemimpin Yehuda namun sebutan “pemimpin-pemimpin” diikuti dengan istilah “Manusia Sodom” dan “Manusia Gomora”. Sepertinya dalam pandangan Yesaya, bahwa kejahatan orang-orang Yehuda sudah sama dengan orang-orang Sodom dan Gomora yang dihukum oleh Allah yang hidup di masa Abraham dan Lot (Kej. 18-19).

Di ayat 11-15 dan 16-17 sesungguhnya kita dapat menemukan bagian dari konsep salib yang sering dimaknai sebagai hubungan atau relasi vertical kepada Allah (ayat 11-15) dan hubungan/relasi horizontal kepada sesama (ayat 16-17), yang didalam konteks kita sekarang kita maknai bahwa oleh karena pengorbanan Kristus di kaya salib, hubungan kita dipulihkan kepada Allah dan juga kepada sesama manusia di dalam kasih Tuhan.

Masalah yang terjadi adalah bahwa meski mereka masih melakukan rutinitas “keagamaan” tetapi mereka tidak hidup di dalam kesungguhan sebagaimana orang yang beriman kepada Tuhan. Mereka layaknya sedang bersandiwara. Hal itu tercermin dari bagaimana mereka memperlakukan sesamanya, dan cara hidup mereka yang jahat seperti yang digambarkan sebagai “manusia Sodom’ dan “manusia Gomora”. Oleh karena itu, semua persembahan/korban mereka yang banyak-banyak, pertemuan-pertemuan dan perayaan-perayaan mereka sungguh menjijikkan bagi Tuhan.

Tentu hal ini perlu menjadi perenungan bagi kita yang hidup di zaman ini. Kita menyaksikan bagaimana pemimpin-pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh agama yang seharusnya menjadi panutan tetapi matanya digelapkan oleh uang atau kekayaan. Contohnya adalah bagaimana seorang menteri agama yang ditangkap karena dugaan korupsi dan yang dikorupsi pun juga berkaitan dengan kegiatan keagamaan, seorang tokoh agama yang mengatasnamakan Tuhan untuk memperdaya umat, dan masih banyak contoh lainnya. Pada saat yang sama mereka tetap melakukan rutinitas keagamaan bahkan memakai symbol-simbol keagamaan dalam diri mereka. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita lebih baik, sama atau justru lebih buruk dari mereka? Tentu diperlukan kerendahan hati, keterbukaan dan kejujuran untuk melihat dan mengakuinya.

Teguran kepada orang Yehuda ini juga berlaku bagi kita agar kita instrospeksi diri. Apakah kita hidup sebagai orang yang beriman kepada Tuhan dimana ada relasi atau persekutuan yang sungguh-sungguh, bukan sekedar rutinitas dan bukan sandiwara dengan Tuhan, dan bagaimana applikasi iman terbukti juga dari cara kita berelasi dengan sesama kita?

Ayat 18-20 memberi jaminan bahwa setiap orang yang bertobat maka mereka akan diampuni, dan orang yang mendengar dan menuruti perkataan Tuhan maka akan diberkati. Sebaliknya bagi mereka yang memberontak dan melawan, akan dimakan oleh pedang. Artinya akan dibiarkan dikalahkan oleh musuh (dalam konteks perang) atau dibiarkan mengalami kekalahan dan menderita dalam kehidupannya.

SIAP, RELA DAN BERDAMPAK

Nats: Hakim-hakim 5:1-2

Meskipun dalam tradisi Yahudi posisi perempuan dan perannya tidak mendapat hitungan secara personal, tetapi Tuhan juga menggunakan perempuan untuk menjalankan misinya atas bangsa Israel dan dunia ini. Selain Hawa, Naomi, Ester dan perempuan lainnya, Tuhan juga membangkitkan seorang hakim perempuan di masa hakim-hakim yaitu Debora untuk memimpin bangsa Israel melawan musuh-musuh mereka dan menjadi hakim ditengah bangsa itu.
Dua ayat diatas adalah bagian dari nyanyian kemenangan oleh Debora dan Barak. Mereka bernyanyi setelah mereka mengalami kemenangan oleh karena pertolongan Tuhan yang dikisahkan pada ayat sebelumnya.
Beberapa hal yang menjadi pembelajaran bagi kita dari 2 ayat dan dari latarbelakang di pasal 4:

1. Tuhan tidak membatasi gender (Jenis Kelamin) untuk menjalankan misi-Nya. Dia bisa menggunakan baik laki-laki atau perempuan, sekalipun fungsi keimaman harus tetap pada laki-laki. Persoalan zaman sekarang yang terjadi adalah laki-laki (suami-suami) justru tidak menjalankan fungsi sebagai imam tetapi cenderung sebagai “raja”. Dia menyuruh dan menghantar istri dan anak-anaknya ke gereja tetapi dia sendiri tidak ke geraja. Dia membiarkan istri pergi ke persekutuan-persekutuan doa sedang dia sendiri sibuk di warung atau menonton di rumah. Ini sungguh memprihatinkan.

2. Bagian lirik nyanyian Debora mengatakan “karena pahlawan-pahlawan Israel siap berperang”. Tentu Deboran dan Barak dalam hal ini tidak sedang mengesampingkan peran Tuhan dalam kemenangan mereka, tetapi lewat kesiapan pahlawan-pahlawan itu Tuhan memberi kemenangan kepada mereka. Baik dalam dunia pelayanan rohani maupun dalam dunia sekuler, kesiapan seseorang untuk menghadapi atau mengerjakan sesuatu, akan mempengaruhi hasil yang dicapai. Kata “Siap” yang dimaksud bukan hanya tentang kesiapan mental tetapi juga skill (keahlian). Untuk itu perlu membekali diri dengan terus belajar, berlatih dan berdoa. Jangan hanya berdoa tanpa melakukan apa-apa. Doa harus diikuti dengan tindakan dan tindakan disertai doa. Ada banyak berkat Tuhan menanti kita, tetapi yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah kita siap untuk meraihnya?

3. Pada ayat itu juga dikatakan “karena bangsa itu menawarkan dirinya dengan sukarela”. Saudara, betapa luar biasa kuasa dari “kerelaan”. Orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela akan jauh lebih maksimal dan berdampak daripada bila seorang melakukan sesuatu karena didorong-dorong atau ditarik-tarik, karena orang yang didorong-dorong atau ditarik-tarik mengesankan keadaan yang terpaksa. Ketidakrelaan seringkali terjadi karena kurangnya kesadaraan akan dirinya dan tanggungjawabnya. Bisa juga karena kedegilan hatinya yang tidak mau menerima ajaran. Bukankah demikian yang banyak terjadi dalam kehidupan banyak orang zaman ini? Mereka acuh tak acuh dan tidak melakukan apa-apa di dalam pelayanan. Jangankan untuk menjadi alat bagi Tuhan sedangkan untuk beribadah rutin saja banyak yang bermalas-malasan. Karena itu mereka tidak bertumbuh apalagi berdampak. Maka sadarilah akan hidupmu dan tanggungjawabmu, supaya karena kerelaan itu engkau bertindak dan berdampak, dan kemualiaan Tuhan nyata atas dirimu.

Bukti Orang Percaya

Nats : Yoh. 10:22-29
Ayat 24 ini menjelaskan bahwa orang Yahudi sesungguhnya sedang menantikan Mesias, sang Juruselamat. Tentang Mesias ini telah dinubuatkan di kitab Perjanjian Lama dan diajarkan turun-temurun. Mesias yang telah dijanjikan jauh sebelum Kristus lahir menjadi sebuah bukti kasih Tuhan yang akan menyelamatkan manusia.

Menjawab pertanyaan orang Yahudi yang bimbang ini, Yesus berkata bahwa Ia telah mengatakannya dan perbuatan muzijat adalah bukti-bukti yang meneguhkan hal itu, tetapi mereka sendiri yang tidak percaya. Demikian juga kehidupan orang yang tidak percaya, bahwa kebimbangan yang terjadi dalam hidup manusia seringkali bukan karena kurangnya pertanyaan-pernyataan dan bukti-bukti yang telah dikerjakan Allah, melainkan karena tidak percaya kepada Tuhan.

Yesus menegaskan bahwa mereka yang tidak percaya itu karena mereka bukan domba-domba-Nya Tuhan, sebab domba akan selalu mendengar, percaya dan mengikuti kemana saja gembala membawa kawanan itu. Pertanyaan bagi kita adalah “apakah yang menjadi bukti bahwa kita adalah kawanan domba Tuhan?” Buktinya adalah bila kita mendengar suara (Firman) Tuhan dan mengikuti Dia atas dasar percaya kepada-Nya sebagai Gembala Agung yang memelihara jiwa kia.

Diantara orang-orang Yahudi yang mengikut Yesus ketika itu, terdapat orang-orang Yahudi yang percaya dan orang-orang Yahudi yang tidak percaya. Mereka sama-sama mendengar pengajaran Tuhan, dan mengikuti Yesus. Perbedaannya adalah bahwa yang satu percaya dan yang lainnya tidak. Yang percaya tetap mengikuti Dia dengan setia sedangkan yang tidak percaya mau melempari Dia.

Mungkin saja banyak orang datang ke gereja setiap minggunya, mereka sama-sama mendengar firman Tuhan dan memberi persembahan, namun seorang murid akan mengikuti Tuhan dengan setia atas dasar percaya kepada Tuhan dimana hidupnya memuliakan Tuhan, sedangkan yang bukan murid akan “melempari” (mempermalukan) dengan kehidupannya yang tidak benar.
Bagian orang percaya adalah menerima hidup yang kekal; tidak binasa sampai selama-lamanya, demikian kata Firman Tuhan.