JAWABAN DARI ABBA

Nats : Matius 7:7-11

Meminta sesuatu kepada Tuhan sewajarnya adalah sesuatu yang kita butuhkan/perlukan dalam kehidupan. Meminta berarti kita sadar apa dan untuk apa yang kita minta tersebut. Dalam konteks kita sebagai anak Allah maka segala yang kita minta haruslah bermuara pada kehendak Tuhan, dimana semua yang kita minta akan menyatakan kemualiaan Tuhan. Dengan demikian kita tahu apa saja yang akan kita Imani dan nantikan sebagai jawaban dari Tuhan. Namun meminta dan berharap kepada Tuhan bukan berarti kita berpangku tangan tanpa usaha-usaha maksimal. Kita perlu mengambil tindakan supaya dengan jalan itu Tuhan menyatakan pertolongan-Nya atas kita, oleh karena itu dalam bagian ayat itu dikatakan “carilah”. Mencari berarti ada upaya/usaha, ada pembelajaran, ada inovasi, dll. Sedangkan “mengetok” adalah sikap “nuon” (permisi) sebagai gambaran kerendahan hati.

Kalimat “setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” pada ayat ke 8 adalah sebagai bentuk jaminan atau garansi. Namun hal itu harus dipahami dalam konteks meminta seturut kehendak Allah, sebab Tuhan tidak akan memberi JAMINAN bila hal itu bertentangan dengan kehendak-Nya.

Untuk menepis keraguan atas doa yang dipanjatkan kepada Tuhan, Tuhan membuat gambaran yang bersifat relasi atau hubungan antara bapa dengan anak. Bagaimana seorang ayah mengasihi anak-anaknya dan memikirkan yang terbaik buat anak-anaknya maka demikian bahkan lebih lagi kasih Tuhan atas kita anak-anak-Nya. Kita adalah anak-anak Tuhan oleh iman kita kepada Kristus Yesus. Yohannes 1:12, mengatakan ”Tetapi semua orang yang menerima-Nya (Yesus) diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Dengan posisi kita sebagai anak, kita memperoleh kesempatan untuk bergaul karib dan begitu dekat dengan Allah. Ini sungguh luar biasa. Dalam beberapa kesempatan Yesus Kristus menyebut Allah sebagai Abba. Abba dalam bahasa Aramic artinya deddy (B. Inggris) ayah (B.Indonesia) bukan hanya sekedar bapa. Bapa belum tentu ayah tetapi ayah sudah pasti bapa. Abba atau Ayah menunjukkan garis keturunan. Abba menunjukkan dari mana seseorang berasal. Galatia 4:6,”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”(Band Roma 8:15) Karena kita telah menyatu dengan Kristus dan telah mendapat bagian dari identitas ke-anak-anNya, maka kita juga berhak memanggil-Nya Abba.

Setiap orang sewajarnya bangga menjadi bapa (Abba) yang baik (Proud to be a good father). Seorang abba yang baik pasti memikirkan dan mengusahakan yang terbaik bagi anak-anaknya. Dan kebaikan Tuhan sebagai Abba kita lebih daripada kebaikan bapa kandung kita secara jasmani (ayat 11). Demikian pula seharusnya menjadi suami, isteri dan anak-anak dalam keluarga. Seorang suami yang baik pasti memikirkan dan mengusahakan yang terbaik buat isteri dan anak-anaknya. Seorang isteri yang baik pasti akan memikirkan dan mengusahakan yang terbaik buat suami dan anak-anaknya, dan seorang anak yang baik pasti akan memikirkan dan mengusahakan yang terbaik buat bapa, ibu dan saudara-saudaranya.

Ketika Yesus berdoa, Dia selalu mengarahkan doanya kepada Bapa. Dia menyebut Allah dalam doa-Nya sebagai Abba. Dan saat Dia mengajarkan murid-murid dalam hal berdoa dan meminta kepada Allah, Dia mengajarkan para murid untuk meminta kepada Bapa. Ini menjadi suatu pelajaran bagi kita bahwa apabila kita berdoa dan meminta kepada Allah dalam doa kita, hal yang sangat perlu kita sadari bahwa kita sedang berdoa atau meminta kepada Bapa kita. Bapa atau Abba yang mengasihi kita, yang perduli dan yang bangga memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya seturut kehendak-Nya, maka setiap orang yang meminta akan menerima dan setiap orang yang mencari akan mendapat dan setiap orang yang mengetok akan dibukakan pintu baginya. (LH)

HARI YANG BERCERITA

Maz. 19:3 “Hari meneruskan berita itu kepada hari dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam”

Mazmur itu adalah nyanyian/pujian atau syair-syair. Dalam Bahasa seniman/sastrawan setiap kata atau kalimat syair bisa mengandung maksud yang sangat luas dan dalam. Ada sebuah puisi yang terkenal dan fenomenal yang ditulis oleh seorang sastrawan angkata 45 yaitu Sitor Situmorang. Puisinya berjudul “Malam Lebaran” yang berisi satu baris saja yaitu “Bulan di atas kuburan”. Sangat singkat, namun puisi ini telah menjadi inspirasi sebuah film. Meski sangat pendek yang tertuang dalam kata-kata namun mengandung cerita yang panjang dalam benak si penulis.

Ayat ini mengatakan “hari meneruskan berita itu kepada hari..” Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan dan bagaimana alam dan kehidupan itu berlangsung menjadi sebuah cerita atau kisah. Apa yang terjadi sebelum hari dimana kita ada, disitu terdapat kisah-kisah yang sudah kita lewati; ada kuasa Tuhan dinyatakan dan pemeliharaan Tuhan sehingga kita bisa hidup hingga saat ini. Jadi seperti apa adanya kita hari ini tidak berdiri sendiri mewakili satu hari kehidupan kita melainkan mewakili puluhan tahun usia kita sejak kita lahir.

Contoh, ketika saya berdiri dihadapan jemaat Tuhan, maka jemaat hanya bisa mendiskripsikan tentang saya sebatas mereka tahu tentang saya. Secara fisik, tinggi hanya satu meter lebih, badan gemuk, seorang hamba Tuhan, dll. Tetapi keberadaan atau cerita kehidupan saya hari ini sesungguhnya sudah dimulai hampir 43 tahun yang lalu ketika saya lahir. Saya berdiri secara fisik sekarang sekaligus menghadirkan hampir 43 tahun kisah hidup saya. Dan selama hampir 43 tahun ini pula ada kemuliaan Tuhan dinyatakan dalam diri saya yang membuat saya tetap hidup, sebab tanpa Tuhan, saya sudah tidak ada sekarang ini.

Dikatakan “Hari menceritakan kepada hari”. Hari kemarin menjadi cerita di hari ini, hari ini akan menjadi cerita di hari besok dan hari besok menjadi cerita di hari kemudian. Oleh karena itu, syair yang kita baca mengandung makna bahwa existensi alam semesta yang ada hari ini dan segala keadaan kita hari ini merupakan kelanjutan kisah penyataan kemuliaan Tuhan sejak penciptaan. Kita ada hari ini karena Tuhan sudah menyatakan kemuliaan-Nya atas kita dihari kemarin.

Ratapan 3:22-23 mengatakan “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMu” Berkat Tuhan selalu baru tiap hari itulah nafas hidup dan pemeliharaan Tuhan dari sehari ke sehari. Oleh karena itulah kita patut selalu mengucap syukur kepada Tuhan.

Selanjutnya dikatakan “dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” Mengapa harus malam? Karena malam menjadi momen/waktu bagi kita untuk merenungkan kehidupan yang kita lakoni sepanjang hari. Sebelum kita tidur, mungkin kita akan merenungkan segala hal yang kita mulai di pagi hari sampai malam hari.

Raja Daud mengatakan “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkahlah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman” (Maz 4:9). Kata “sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman” menjadi semacam konklusi dari perenungannya sebelum dia tidur. Melalui perenungan, kita akan mendapatkan hikmat dan pengetahuan baru yang menjadi bekal kita supaya kita tahu apa yang harus kita perbaiki, tingkatkatkan atau tinggalkan pada esok hari. (LH)

 

Kemuliaan Tuhan dalam Sepiring Nasi

Maz. 19:2 “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya”

Tuhan, selain berbicara atau menyatakan diri lewat firman Tuhan, dia juga menyatakan kemuliaan-Nya lewat ciptaan-Nya. Di awal peradaban dunia sebelum manusia diciptakan oleh Tuhan, Tuhan sudah terlebih dahalu menciptakan alam semesta. Kepada nabi-nabi, Tuhan telah berfiman dan mereka mendengar suara-Nya. Tuhan juga berfirman lewat pengilhaman kepada nabi dan rasul yang menuliskan kitab-kitab yang ada ditangan kita saat ini, dan Dia sendiri yang adalah Firman telah menyatakan diri dalam wujud manusia untuk menyatakan Allah bagi manusia yaitu Yesus Kristus.

Apa yang kita baca dari ayat diatas adalah penyataan Tuhan lewat alam semesta. Bila merujuk kepada ilmu pengetahuan, Matahari, bulan, bumi, dan planet lainnya secara terus menerus berputar dan tetap pada porosnya dengan kecapatan tinggi. Bila seorang pemain bola handal begitu mahir menendang bola ke gawang dengan akurasi yang tinggi dan dapat memutar bola di ujung jarinya, namun sehebat-hebat seorang Messie dia pasti juga sesekali melakukan kesalahan sehingga tendangannya tidak tepat sasaran. Kemampuan jarinya juga tidak bisa memutar bola di ujung jarinya untuk waktu yang lama dan juga tidak selalu berhasil melakukannya. Bila Tuhan sekali saja melakukan kesalahan yang mengakibatkan Matahari keluar dari porosnya maka alam semesta ini tentu sudah kacau balau, dan kehidupan seperti yang kita hidupi sekarang tidak akan ada. Maka layaklah kita bersyukur dan memuliakan Tuhan sebab tanpa kuasa-Nya, Matahari dan planet lainnya tidak akan tetap berputar pada porosnya.

Matahari diciptakan Tuhan dengan cahaya dan cahaya itu ada bukan tanpa tujuan melainkan berfungsi untuk menyinari alam semesta. dan semuah mahkluk hidup di bumi menerima manfaatnya. Tanpa cahaya Matahari maka tidak ada kehidupan di bumi. Tumbuh-tumbuhan yang menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan tidak akan tumbuh. Pernah kita merenungkan bahwa baik padi, ubi, ikan, daging dan sayur-sayuran yang sehari-hari kita makan, semua itu ada karena kuasa Tuhan? Tanpa kuasa Tuhan maka tumbuh-tumbahan tidak akan tumbuh dan hewan tidak akan hidup walau sehebat apa pun kita mengupayakannya. Maka dengan menyadari ini, layaklah kita mengucap syukur kepada Tuhan atas makanan yang kita santap setiap hari. Secara sederhana kita lihat bahwa di dalam sepiring nasi kemuliaan Tuhan nyata yang menjadikannya ada untuk memelihara kita.