MENANTI DENGAN IMAN SEJATI

Wahyu 22:12

Salah satu janji Tuhan kepada umat-Nya adalah bahwa kelak Dia akan datang kembali untuk menjemput orang yang percaya kepada-Nya dan membawanya ke tempat yang disediakan oleh Tuhan yaitu Surga. Surga, dimana kehidupan yang kekal berlangsung menjadi dambaan orang-orang yang percaya. Setiap kita yang datang beribadah kepada Tuhan tentu didasari atas iman kita kepada Tuhan dan janji-Nya.

Tuhan akan datang segera, demikian firman Tuhan. Dan Dia pasti akan datang, walau waktu yang tepat tidak pernah disebutkan. Tetapi pasti Dia akan datang. Yang menjadi pertanyaan bagi umat Tuhan adalah “apa yang menjadi persiapan umat-umat Tuhan?’ Cukupkan dengan kata percaya seperti yang disampaikan diatas.

Yakobus mengatakan “iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak. 2). Di bagian lain Alkitab juga dikatakan bahwa “iblis pun juga percaya” tetapi membangkang kepada Tuhan. Iblis tahu Yesus itu Tuhan dan ia pun percaya Tuhan itu berkuasa, namun dia sudah memilih tidak taat kepada firman Tuhan. Matius 7:21 pun berkata “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Berangkat dari ayat-ayat diatas, maka berarti iman tidak bisa dilepaskan dari perbuatan. Namun apakah perbuatan menjadi dasar bagi Tuhan untuk menyelamatkan dan memberkati manusia? Rasul Paulus mengatakan tidak. Imanlah yang menyelamatkan bukan karena melakukan hukum Taurat dan bukan pula karena usaha kita. ( Roma 3:28, Ef.2:8-9)

Apakah kontradiktif? Kalau kita perhatikan sebenarnya Yakobus tidak mengatakan bahwa keselamatan atau pembenaran adalah oleh iman ditambah perbuatan, namun mengatakan bahwa seseorang yang sudah betul-betul dibenarkan melalui iman pasti akan menghasilkan perbuatan baik dalam hidupnya. Yakobus menekankan bahwa iman yang sejati kepada Kristus akan menghasilkan perubahan hidup dan perbuatan-perbuatan baik (Yakobus 2:20-26). Jika seseorang mengaku sebagai orang percaya, namun tidak menyatakan perbuatan baik dalam hidupnya, maka kemungkinan dia tidak memiliki iman yang sejati kepada Kristus (Yakobus 2:14,17,20,26).

Paulus mengatakan hal yang sama di banyak tulisannya. Buah-buah (perbuatan) yang baik yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang percaya. (Galatia 5:22-23.) Segera sesudah memberitahukan bahwa kita diselamatkan melalui iman dan bukan oleh perbuatan (Efesus 2:8), Paulus memberitahu kita bahwa kita diciptakan untuk melakukan perbuatan baik (Efesus 2:10).

Sama seperti Yakobus, Paulus juga mengharapkan perubahan hidup. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17) Yakobus dan Paulus bukan berbeda pendapat dalam pengajaran mereka mengenai keselamatan. Mereka mendekati topik yang sama dari perspektif yang berbeda. Paulus menekankan bahwa pembenaran adalah hanya oleh iman, sementara Yakobus menekankan bahwa iman dalam Kristus menghasilkan perbuatan-perbuatan baik.

Maka dalam menanti kedatangan Tuhan, yang harus kita miliki adalah iman yang sejati kepada Tuhan.

JADILAH KRISTEN KTP!

Shalom,

Mungkin anjuran di judul “Jadilah Kristen KTP” kelihatan tidak wajar. Sebab apa yang umum diketahui atau dimengeri tentang Kristen KTP adalah tentang orang-orang yang mengaku dan tercatat sebagai orang Kristen di KTPnya namun dalam keseharian hidupnya tidak tercermin sebagai orang Kristen. Selain sikap dan perilaku yang tidak baik, biasanya dan utamanya “tidak beribadah” atau “sangat jarang beribadah” menjadi dasar seseorang disebut Kristen KTP.

Namun disini saya ingin mengajak anda melihat dari sisi yang berbeda tentang Kristen KTP yaitu tentang kejelasan identitas. Kita tahu bahwa KTP merupakan kartu identitas seseorang, disana tertulis: Nama, Alamat, Tanggal Lahir, Status Perkawinan, Agama, dan lain-lain. KTP menjelaskan siapa kita; nama jelas, alama jelas, status jelas, agama jelas, dll.

Bila seseorang memiliki alamat yang jelas artinya dia tinggal disana. Di rumah itu dia berlindung, makan-minum, tidur dan membangun hidupnya. Bila dia keluar untuk bekerja atau keperluan lain, sudah pasti dia akan kembali ke alamat atau rumah tersebut. Bila ada orang lain yang mau mencari dia, maka orang itu harus pergi ke alamat yang dimaksud. Inilah sebuah kejelasan.

Menjadi seorang Kristen hendaknya kita menjadi orang-orang Kristen yang jelas. Seperti jelasnya agama kita dicatat di KTP sebagai Kristen maka hidup kita pun haruslah jelas mencerminkan kehidupan sebagai pengikut Kristus. Selain rajin beribadah, juga hidup dalam iman, kasih dan kebajikan. Jadilah Kristen KTP.

Haleluya.

The Tears of Strength (Air Mata Kekuatan)

Seorang penginjil besar abad 20, Billy Graham pernah berkata “Tears shed for self are tears of weakness, but tears shed for others are a sign of strength.” (Air mata yang tumpah untuk diri sendiri adalah air mata kelemahan, namun air mata yang tumpah untuk orang lain adalah tanda kekuatan).

Umumnya manusia akan merasa sedih, pilu bahkan menangis ketika ada pergumulan yang menyangkut perihal diri atau kepentingannya, tetapi tidak demikian halnya bila menyangkut pergumulan orang lain. Apalagi di zaman sekarang, kebanyakan orang malah tega mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain.

Bila seseorang menumpahkan air mata (menangis) untuk dirinya sendiri, itu pertanda bahwa dia belum bisa menguasai hati dan pikirannya dari perasaan “patut dikasihani”. Perasaan “patut dikasihani” ini biasanya akan diikuti oleh harapan agar orang-orang lain memperhatikan dia, berbuat/bertindak sesuatu untuk. Dan bila harapan itu tidak terwujud, orang tersebut pasti akan menyalahkan orang-orang disekitarnya untuk segala kelemahan dan kegagalan yang dia alami. Bahkan tidak tertutup kemungkinan kemudian dia menyalahkan Tuhan atas pergumulan yang dia alami.
air mata
Sedangkan seseorang yang sering menumpahkan air mata untuk orang lain tentu karena memiliki rasa empati yang kuat. Empati yang timbul dari hati yang mengasihi. Orang tersebut pastilah seseorang yang menempatkan perasaannya seperti perasaan orang lain yang sedang bergumul itu.

Hati yang mengasihi tentu akan berusaha melakukan sesuatu, sebab kekuatan kasih itu nyata dari tindakan yang mewujudkan kasih itu. Meski hanya dapat melakukan tindakan kecil, yaitu tindakan yang sifatnya “pengorbanan diri”, akan dilakukannya.

Lalu mengapa dikatakan bahwa seseorang yang menumpahkan air mata untuk orang lain adalah pertanda kekuatan? Alasannya adalah karena dia sudah dapat mengatasi pikiran dan perasaannya dari orang merasa “patut dikasihani” menjadi “patut mengasihani”.

Hidup kita terus berproses. Pergumulan akan tetap ada. Sikap kita menghadapi pergumulan hidup akan dipengaruhi oleh seperti apa hubungan kita dengan Tuhan. Semakin kita mengenal Tuhan dengan segala karya-Nya. Itulah salah satu alasan perlunya membangun hubungan yang semakin intim dengan Tuhan lewat doa, ibadah, merenungkan firman Tuhan dan melakukan Firman Tuhan. Dan kita pun memiliki kekuatan untuk mengasihani orang lain.

Bukankah Yesus juga pernah menangis dalam kematian Lazarus (Yoh.11:35)? Padahal dia tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan dia “sengaja” tidak langsung datang ketika ada utusan untuk memanggil-Nya sehingga Lazarus harus sudah terkubur dulu beberapa hari dan membusuk baru Dia datang. Mungkin banyak orang bertanya mengapa Yesus menangis. Tangisannya tentu bukan sandiwara, airmata-Nya bukan air mata buaya, sebab Ia menempatkan perasaanNya seperti perasaan Maria dan Marta yang sangat berduka. Dan Ia kemudian bertindak membangkitkan Lazarus.

lazarus

“Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Mazmur 56:8)

“Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.” (Mazmur 139:2)

MEMBERI DARI HATI

Nats : Maz.50:1-23

Ayat-ayat diatas terdiri dari 3 bagian yang dapat kita pelajari dan renungkan melalui mazmur Asaf, yaitu:

1) Ayat 1-6 tentang kedahsyatan Tuhan yang mengikat janji dengan umat-Nya dan akan meminta pertanggungjawaban.

Sion merupakan sebuah bukit sekaligus menjadi symbol Yerusalem yaitu Pusat Kerajaan Damai. Dari sana Tuhan mencurahkan berkat-Nya dan dari sana pula Ia akan meminta pertanggungjawaban dari umat-umat-Nya. Tuhan dalam kedahsyatan-Nya tidak dapat dihalangi oleh apa pun. Dimana Tuhan hadir, maka kedahsyatan-Nya tentu juga hadir, sebab itu adalah hakekat-Nya. Bila Tuhan sudah membuka tidak akan ada yang sanggup menutup dan bila Tuhan sudah menutup tidak ada yang sanggup membuka. Dia adil dalam bertindak dan keadilan-Nya tidak terbantahkan oleh siapapun.

2) Ayat 7-15 tentang teguran dan nasehat Tuhan kepada umat-Nya tentang memberi persembahan.

Jelas sekali Tuhan mengatakan bahwa Ia tidak membutuhkan lembu, sapi dan lain-lain untuk dia makan. Dia bukan manusia yang butuh makan dan minum. Dialah yang empunya segala ciptaan. Oleh karena itu ketika Tuhan mengikat janji kepada Abraham, Ishak, Yakub lalu kepada Musa atas nama umat Israel tentang persembahan yang akan dipersembahkan sebagai korban kepada Tuhan, hal itu adalah jalan bagi Tuhan untuk memberkati umat-umatNya dan sebagai wujud penghormatan umat-Nya itu kepada Tuhan.

Dari ayat-ayat diatas kita ketahui bahwa umat Tuhan masih melakukan korban persembahan kepada Tuhan. Namun persembahan mereka tidak lagi di dasari dari hati yang bersyukur. Persembahan mereka bukan dari hati tetapi hanya memenuhi ritual keagamaan semata. Apapun yang kita persembahkan baik itu materi dalam bentuk perpuluhan, ucapan syukur atau kolekte, juga waktu, tenaga, dll kalau itu tidak berasal dari hati yang bersyukur maka tidak bernilai di mata Tuhan.

Di gereja ini kita diajar dan belajar memberi dengan hati sesuai iman kita masing-masing. Tidak ada paksaan dan tidak ada patokan-patokan. Semua harus berangkat dari hati yang bersyukur kepada Tuhan. Gereja juga belajar untuk tidak membeda-bedakan pelayanan kepada jemaat, antara yang memberi perpuluhan dengan yang memberi ucapan syukur, antara yang memberi nominalnya besar dengan yang nominalnya kecil. Sebab urusan gereja dalam hal ini Hamba Tuhan dan para pelayan adalah melayani Tuhan melalui jemaat, dalam hal memberi persembahan adalah urusan jemaat dengan Tuhan. Tuhan menasehati umat-Nya supaya mempersembahkan syukur sebagai korban, dan Tuhan akan meluputkan mereka dari kesesakan. Iman yang besar menghasilkan pekerjaan besar.

3) Ayat 16-23, Teguran dan nasehat kepada orang Fasik.

Perkataan Allah kepada orang Fasik juga merupakan teguran dan nasehat, tetapi yang berbeda adalah disertai ancaman. Mengapa? Karena orang fasik adalah orang degil hatinya. Mereka, walau tahu yang baik dan benar tetapi mereka tidak mengindahkannya. Orang fasik sangat susah untuk ditegur dan dinasehati. Jangankan memberi dari hati, memberi dalam konteks menjalankan ritual pun tidak. Maka orang-orang seperti tidak layak menyebut/mengingat, disertai harapan yang baik dari ketetapan dan perjanjian Tuhan. Namun Tuhan juga menasehati mereka supaya mereka memperhatikan perkataan Tuhan dan mempersembahkan syukur sebagai korban. Maka Tuhan akan menunjukkan jalan keselamatan bagi mereka.

DAMPAK PENGENALAN AKAN KRISTUS

Nats : Filipi 3:7-11

Anggapan atau perspektif bisa berubah seiring bertambahnya pengalaman, pemahaman dan pengamalan akan sesuatu, terlebih bila ada penyataan diri Allah secara khusus dalam perjalanan hidup seseorang. Seperti Paulus, setelah bertemu dengan Tuhan Yesus, pertemuan itu menjadi titik awal perubahan hidupnya yang dahulu berusaha untuk membunuh pengikut Kristus dan orang yang mengabarkan injil-Nya; yang dahulu memiliki kedudukan yang terhormat sebagai Farisi, Ahli dan taat di bidang hukum Taurat, namun kemudian berbalik menjadi pengikut Kristus dan Rasul. Apa yang dahulu dianggapnya keuntungan sekarang malah dianggap kerugian, karena pengenalannya akan Kristus.

Berbicara tentang “untung” dan “rugi” khususnya dalam konteks mengamalkan hidup sebagai pengikut Kristus, orang-orang yang melakukan kabajikan, orang-orang yang memberi diri; waktu, tenaga dan dana untuk pekerjaan Tuhan, orang-orang yang mempersembahkan persembahan yang terbaik, akan dianggap bodoh oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Bagi orang-orang seperti ini, yang merupakan keuntungan adalah segala sesuatu yang mendatangkan uang, harta, atau keuntungan jasmani atau duniawi lainnya bagi dirinya sendiri. Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan tidak mau berkorban bagi Tuhan dan orang lain sebaliknya akan sanggup mengorbankan orang lain untuk kepentingannya. Orang-orang yang tidak mengenal Allah tidak akan melakukan apa-apa yang berarti bagi pekerjaan Tuhan. Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan sama seperti orang-orang yang akan binasa yang menganggap pemberitaan salib sebagai kebodohan, sedangkan orang yang mengenal Allah sama dengan orang yang diselamatkan yang menganggap pemberitaan itu sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan (1 Kor 1:18).

Mengapa pengenalan Allah lebih mulia? Sebeb pengenalan akan Allah membawa kita kepada persekutuan yang semakin intim dengan Tuhan. Semakin kita mengenal Tuhan maka kita pasti akan semakin intim dengan Tuhan. Keintiman dengan Tuhan akan menembus batas-batas kemustahilan. Pengenalan akan Tuhan menjadikan kita tahu apa yang menjadi bagian kita. Dan bagian terbesar yang kita dapat adalah keselamatan yang dianugerahkan yang tidak dapat dilakukan oleh hukum Taurat. Bagian lainnya adalah jaminan pemeliharaan Tuhan di bumi. Kesadaran ini yang memampukan orang-orang percaya melakukan kebajikan, memberi diri dan persembaan yang terbaik. Pengenalan akan Tuhan menghasilkan kebenaran sehingga yang duniawi menjadi sampah. Namun pengenalan tidak datang begitu saja melainkan dengan membaca dan merenungkan Firman Tuhan dan persekutuan dengan Roh Kudus. Sebab Roh Kudus akan memimpin kita kedalam seluruh kebenaran Allah.

Kita ada di dalam Tuhan bukan karena kebenaran kita melakukan Hukum Taurat melainkan karena anugerah oleh iman. Perbuatan baik atau kebajikan akan mendapat upahnya masin-masing, tetapi perbuatan baik atau kebajikan bukan untuk mendapat perkenanan Allah. Justru karena perkenanan Tuhan oleh iman kita maka kita berbuat kebajikan (Band. Ibrani 11:6).

KEMULIAAN TUHAN DINYATAKAN LEWAT CIPTAAN

Nats : Maz. 19:1-5b

Tuhan, selain berbicara atau menyatakan diri lewat firman Tuhan, dia juga menyatakan kemuliaan-Nya lewat ciptaan-Nya. Apa yang kita baca dari ayat diatas adalah penyataan Tuhan lewat alam semesta. Bila merujuk kepada ilmu pengetahuan, Matahari, bulan, bumi, dan planet lainnya secara terus menerus berputar dan tetap pada porosnya dengan kecapatan tinggi.

Seorang pemain bola handal begitu mahir menendang bola ke gawang dan dapat memutar bola di ujung jarinya, namun pasti juga sesekali melakukan kesalahan sehingga tendangannya tidak tepat sasaran. Kemampuan jarinya juga tidak bisa memutar bola di ujung jarinya untuk waktu yang lama dan juga tidak selalu berhasil melakukannya. Namun Tuhan tidak sekalipun melakukan kesalahan yang mengakibatkan Matahari keluar dari porosnya dan menimbulkan kekacauan dan kehancuran alam semesta.   Maka layaklah kita bersyukur dan memuliakan Tuhan sebab tanpa kuasa-Nya, Matahari dan planet lainnya tidak akan tetap berputar pada porosnya.

Matahari diciptakan Tuhan dengan cahaya dan cahaya itu ada bukan tanpa tujuan melainkan berfungsi untuk menyinari alam semesta. dan semuah mahkluk hidup di bumi menerima manfaatnya. Tanpa cahaya Matahari maka tidak ada kehidupan di bumi. Tumbuh-tumbuhan yang menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan tidak akan tumbuh. Pernah kita merenungkan bahwa baik padi, ubi, ikan, daging dan sayur-sayuran yang sehari-hari kita makan, semua itu ada karena kuasa Tuhan? Tanpa kuasa Tuhan maka tumbuh-tumbahan tidak akan tumbuh dan hewan tidak akan hidup walau sehebat apa pun kita mengupayakannya. Maka dengan menyadari ini, layaklah kita mengucap syukur kepada Tuhan atas makanan yang kita santap setiap hari. Secara sederhana kita lihat bahwa di dalam sepiring nasi kemuliaan Tuhan nyata yang menjadikannya ada untuk memelihara kita.

Ayat 3 mengatakan “Hari meneruskan berita itu kepada hari dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan dan bagaimana alam dan kehidupan itu berlangsung menjadi sebuah cerita atau kisah. Apa yang terjadi sebelum hari dimana kita ada, disitu terdapat kisah-kisah yang sudah kita lewati; ada kuasa Tuhan dinyatakan dan pemeliharaan Tuhan sehingga kita bisa hidup hingga saat ini. Jadi seperti apa adanya kita hari ini tidak berdiri sendiri mewakili satu hari kehidupan kita melainkan mewakili puluhan tahun usia kita sejak kita lahir.

Dikatakan “Hari menceritakan kepada hari”. Hari kemarin menjadi cerita di hari ini, hari ini akan menjadi cerita di hari besok dan hari besok menjadi cerita di hari kemudian. Oleh karena itu, syair yang kita baca mengandung makna bahwa existensi alam semesta yang ada hari ini dan segala keadaan kita hari ini merupakan kelanjutan kisah penyataan kemuliaan Tuhan sejak penciptaan. Kita ada hari ini karena Tuhan sudah menyatakan kemuliaan-Nya atas kita dihari kemarin. Berkat Tuhan selalu baru tiap hari itulah nafas hidup dan pemeliharaan Tuhan dari sehari ke sehari. Oleh karena itulah kita patut selalu mengucap syukur kepada Tuhan.

Selanjutnya dikatakan “dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” Mengapa harus malam? Karena malam menjadi momen/waktu bagi kita untuk merenungkan kehidupan yang kita lakoni sepanjang hari. Sebelum kita tidur, mungkin kita akan merenungkan segala hal yang kita mulai di pagi hari sampai malam hari. Raja Daud mengatakan “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkahlah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman” (Maz 4:9). Kata “sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman” menjadi semacam konklusi dari perenungannya sebelum dia tidur.

Dari perenungan, kita akan mendapatkan hikmat dan pengetahuan baru yang menjadi bekal kita supaya kita tahu apa yang harus kita perbaiki, tingkatkatkan atau tinggalkan pada esok hari. (LH)