The Tears of Strength (Air Mata Kekuatan)

Seorang penginjil besar abad 20, Billy Graham pernah berkata “Tears shed for self are tears of weakness, but tears shed for others are a sign of strength.” (Air mata yang tumpah untuk diri sendiri adalah air mata kelemahan, namun air mata yang tumpah untuk orang lain adalah tanda kekuatan).

Umumnya manusia akan merasa sedih, pilu bahkan menangis ketika ada pergumulan yang menyangkut perihal diri atau kepentingannya, tetapi tidak demikian halnya bila menyangkut pergumulan orang lain. Apalagi di zaman sekarang, kebanyakan orang malah tega mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain.

Bila seseorang menumpahkan air mata (menangis) untuk dirinya sendiri, itu pertanda bahwa dia belum bisa menguasai hati dan pikirannya dari perasaan “patut dikasihani”. Perasaan “patut dikasihani” ini biasanya akan diikuti oleh harapan agar orang-orang lain memperhatikan dia, berbuat/bertindak sesuatu untuk. Dan bila harapan itu tidak terwujud, orang tersebut pasti akan menyalahkan orang-orang disekitarnya untuk segala kelemahan dan kegagalan yang dia alami. Bahkan tidak tertutup kemungkinan kemudian dia menyalahkan Tuhan atas pergumulan yang dia alami.
air mata
Sedangkan seseorang yang sering menumpahkan air mata untuk orang lain tentu karena memiliki rasa empati yang kuat. Empati yang timbul dari hati yang mengasihi. Orang tersebut pastilah seseorang yang menempatkan perasaannya seperti perasaan orang lain yang sedang bergumul itu.

Hati yang mengasihi tentu akan berusaha melakukan sesuatu, sebab kekuatan kasih itu nyata dari tindakan yang mewujudkan kasih itu. Meski hanya dapat melakukan tindakan kecil, yaitu tindakan yang sifatnya “pengorbanan diri”, akan dilakukannya.

Lalu mengapa dikatakan bahwa seseorang yang menumpahkan air mata untuk orang lain adalah pertanda kekuatan? Alasannya adalah karena dia sudah dapat mengatasi pikiran dan perasaannya dari orang merasa “patut dikasihani” menjadi “patut mengasihani”.

Hidup kita terus berproses. Pergumulan akan tetap ada. Sikap kita menghadapi pergumulan hidup akan dipengaruhi oleh seperti apa hubungan kita dengan Tuhan. Semakin kita mengenal Tuhan dengan segala karya-Nya. Itulah salah satu alasan perlunya membangun hubungan yang semakin intim dengan Tuhan lewat doa, ibadah, merenungkan firman Tuhan dan melakukan Firman Tuhan. Dan kita pun memiliki kekuatan untuk mengasihani orang lain.

Bukankah Yesus juga pernah menangis dalam kematian Lazarus (Yoh.11:35)? Padahal dia tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan dia “sengaja” tidak langsung datang ketika ada utusan untuk memanggil-Nya sehingga Lazarus harus sudah terkubur dulu beberapa hari dan membusuk baru Dia datang. Mungkin banyak orang bertanya mengapa Yesus menangis. Tangisannya tentu bukan sandiwara, airmata-Nya bukan air mata buaya, sebab Ia menempatkan perasaanNya seperti perasaan Maria dan Marta yang sangat berduka. Dan Ia kemudian bertindak membangkitkan Lazarus.

lazarus

“Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Mazmur 56:8)

“Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.” (Mazmur 139:2)

Satu tanggapan untuk “The Tears of Strength (Air Mata Kekuatan)

Tinggalkan Balasan