Quote dan Oretan Kecil

bakti1.png

“Nilai sebuah pencapaian adalah perjuangannya, sebab sebuah pencapaian bisa saja karena adanya kemudahan-kemudahan. Tentu kwalitas yang dihasilkan akan berbeda.”

“Perenungan adalah pembelajaran tentang kehidupan. Daripadanya kita memperoleh pengertian dan hikmat. Menjadi bebal adalah akibat dari penolakan akan suara hati nurani yang murni. Kemunafikan dan kejahatan adalah buahnya.”

“Adalah sebuah kebanggaan semu bila sebuah pencapaian yang tinggi dihasilkan dari kecurangan atau manipulasi. Tetapi orang benar berprinsip bahwa lebih baik sekerat roti yang dihasilkan dengan kejujuran daripada kelimpahan dengan kecurangan.”

“Logika orang terpelajar pun bisa dikacaukan oleh kepentingan-kepentingan. Namun orang jujur memantapkan langkah dari hasil logikanya.”

“Logika orang terpelajar pun bisa dikacaukan oleh kepentingan-kepentingan. Namun orang jujur memantapkan langkah dari hasil logikanya.”

“Menari jiwa dalam dekap asa. Sang Agung tiada buruk. Ku di dekap dalam perkasa tangan-Nya. Dan diri tenang.”

“Tarian bibir dimainkan di arena suci dengan tipuan si ular yang merasuk. Pengakuan nista sebagai kebenaran dipertontonkan dalam laku dan bibir serong. Rohani yang terhuyung bagai mabuk berat anggur mengaburkan yang hak dan batil dalam bayang abu-abu. Arena suci juga ternoda dengan syair kebohongan yang dilantunkan dari mulut dusta. Pastilah semua itu memilukan hati-Mu. Ampun-Mu, curahkanlah!”

“Hariku, ditengah mimpi yang diuji, menjadi tanda tanya yang belum terjawab. Asaku terus kubangun kembali dengan serpihan-serpihan asa yang berserak. meski terkadang serpihan itu jatuh kembali, tapi kucoba mengutip lagi dan merekatkannya dengan air mata yang masih tersisa. Sungguh aku sadari betapa rapuhnya diri ini dalam dekap rintangan. Muzijat-Mulah yang kunanti agar aku tidak menjadi debu yang akan Kau bangun lagi untuk kebinasaan.”

“Merajut silaturahmi yang terkoyak, tidak semudah menjabatkan dua telapak tangan. Kesadaran yang penuh atas ketidak sempurnaan diri akan memampukan hati memaafkan ketidaksempurnaan orang lain. Menjaga hati dengan segala kewaspadaan adalah pondasi kebijakan dalam bersikap supaya tidak terjerembap.”

“Tidak hujan namun tidak juga kering. Kebun anggurku genap satu bulan. Syukur, ada rintik-rintik dan percikan dari nun jauh sampai di kebun anggurku. Tak lepas asa aku, nanti rintik akan menjadi hujan dan lebat.”

“Dan burung itu pun terbang meninggalkan catatanku. Ku catatkan dua nama pada layar di depanku. Kutunggu jawaban dari mereka tuk katakan ya. Namun satu yang jawab “maaf, ternyata sudah di sediakan”. “Tak apa-apa” kataku. Lalu yang satu menyuruh menunggu. Dan sampai sang burung terbang, catatanku masih menggantung. Ku hibur diriku dan katakan “gak pa pa, itu biasa”.”

“Pagi ini, ditengah taburan tanya yang selimuti diri, kuyakinkan bahwa Sang Hu memberi jalan terbaik bagi sang domba. Dia tidak pernah alpa, Dia tak pernah salah. Meski berjalan di kerikil tajam, pun hadapi rintangan yang kejam, tahanlah mulut dari bertanya “mengapa Tuhan?”.”

“Kebun anggurku baru di tanam. Bayangan gelap datang dan pergi saling mendesak dengan asa yang menunjuk diri. Namun keretaku ku pacu dalam sepi, karena ku yakin pada waktunya rintik-rintik akan menjadi hujan dalam izin sang Khalik. Ku tambatkan harap pada sauh yang kuat yang menyatakan diri-Nya ABBA kepadaku.”

“Harta bisa datang dan pergi, jabatan dan kedudukan bisa datang dan pergi, kehormatan bisa datang dan pergi, sahabat bisa datang dan pergi. Namun apabila nafas sudah “pergi”, dia tidak datang lagi. Karena itu bersyukurlah masih bisa bernafas. Kalau masih ada nafas hidup, itu berarti masih ada harapan.”

“’Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.’(Kis. 26:24). Mengapa Paulus disebut gila? Karena apa yang diajarkan dia sekarang berbeda dengan ajaran dan pandangan umum yang berlaku secara turun temurun. Padahal dia hanya mengembalikan hakekat ajaran yang sebenarnya, seperti yang diberitakan para nabi dan Musa (Kis. 26:22-23). Pernahkan anda dianggap aneh karena mau menegakkan ajaran yang sesungguhnya? Paulus sudah pernah mengalaminya.”

“Merobek lagi lembaran hari yang telah lewat. Catatan perjalanan kehidupan di dalamnya akan tersimpan dalam berkas jiwa. Coretan, pewarnaan, penulisan ulang adalah bukti sebuah proses diri untuk lebih baik. Kini lembaran baru telah terbentang lagi. Harapanku adalah mencatatkan prestasi baru di dalamnya.”

“Kata tak dapat di rangkai, pun tak dapat di urai, hanya isak tangis dan air mata. Dalam memori yg tersembunyi dari mata kyalayak, tawamu, candamu dan perdulimu menjadi pemicu isak pada harap yang takkan terjadi lagi. Tenanglah kau sekarang, meski tubuhmu dalam dekap gelap dan himpitan tanah, namun ku yakin pasti, rohmu dalam suka pada tempat-Nya.”

“Dia mendekapku dan menyanyikan sindiran yang memilukan. Suaranya melengking dengan muatan penghakiman yang tanpa dasar. Dia memberiku label kesombongan padahal dia melihat dengan kacamata bermerek “tak pernah introspeksi diri”. Demikianlah dia yang bernama si Tantangan.”

“Larut dalam visi yang belum terurai, kegundahan dan harapan saling menindih. Ketika harapku menaiki tangga dengan pasti, sang pendakwa datang menghadang dan dengan semangat patriotis membacakan dakwaan kepadaku. Tetapi aku tahu pasti bahwa Kristus telah menjadi terdakwa menggantikan aku. Dan tangga itu akan terus kunaiki.”

“Mengejar tawamu dalam kesepian yang menindas. Ku bunyikan lonceng ketropak berharap bahakmu menggema. Dan harapku bahakmu itu merenyahkan rasaku. Namun wajahmu redup bak petromax kehabisan minyak. Tapi tak lepas aku berharap. Yakinku Tuhanku besertaku.”

“Tetesan itu sudah mulai mengering di terpa angin kemunafikan di kemah suci. Para pedagang mujizat meramu ayat-ayat yang di rampas dari pokoknya dengan apik. Para penjaja kemakmuran pun menghina dan menjadi hakim bagi yang sederhana pun bagi si susah, seakan ketidakmakmuran adalah buah dosa.”

Tinggalkan Balasan