Memahami PL dari kacamata PB

Kitab PL itu terdiri dari Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi. Kitab Para Nabi sendiri juga berdasarkan (bernafaskan) atau dalam paradigma Hukum Taurat. Makanya kitab PL sering disebut juga Kitab Taurat.

Contoh:

“Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu” (Yehezkiel 3:18)

Ayat ini bernafaskan atau muncul dalam paradigma Taurat.

Sanggupkah kita melakukan ini?

TIDAK, berarti MAUT.

Ada banyak orang yang pernah kita kenal dan tahu bahwa mereka pernah bahkan mungkin banyak melakukan kejahatan di DUNIA ini, yang oleh karena berbagai alasan pula (misalnya kesalahan Trum yang saya tahu dari media) tidak bisa kita peringatkan. Bila ayat ini tidak dipahami dengan terang Perjanjian Baru (Kasih Karunia) maka setiap orang akan selalu di dakwa oleh “merasa berdosanya” dan menurut ayat ini tidak seorang pun manusia di dunia ini akan lolos (selamat).

Puji syukur kita tidak hidup di dalam hukum ini, sebab keselamatan kita bukan “lagi” karena melakukan hukum Taurat tetapi iman kepada Yesus.

Namun, memperingati orang yang jahat/bersalah adalah nilai/moral yang dikehendaki oleh Allah. Sehingga kita melakukannya bukan karena hukum itu masih berlaku, tetapi karina kasih kepada Allah (yang mengasihi manusia dan menghendakinya) dan kasih kita kepada sesama.

Tetapi “ketidaksuksesan kita 100%” melakukan yang dikehendaki Allah ini, hukum “pertanggungjawaban” itu tidak berlaku bagi kita yang sudah ditebus oleh Kristus.

Contoh lainnya:

Misalnya ada hukum moral “jangan membunuh” di PL, dan jaman PL itu dilakukan karena hukum itu sendiri dan ada konsekwensi yang diterima kalau melakukan pembunuhan.

Itu nilai moral yang dikehendaki oleh Allah. Dalam PB kita tidak membunuh bukan karena hukum itu sendiri masih berlaku, tetapi karena kasih. Kasih kepada Allah yang menghendaki nilai itu kita hidupi, dan kasih kepada sesama. (ref. kasihilah sesamu manusia spt dirimu)

Demikian juga masalah persepuluhan. Tuhan memang “mengadopsi” budaya sepersepuluh sebagai hukum bagi orang Israel. Namun yang perlu kita konsen dalam perintah itu bukan jumlah persentasenya, tetapi prinsip keadilan, belaskasih dan kesetiaan. Karena orang lewi tidak mendapat bagian seperti 11 suku lainnya. Disana (dalam hukum itu) ada keadilan dimana akhirnya kedua belas suku “sama-sama mendapat bagian”, dan belas kasihan karena tidak membiarkan Lewi menderita tanpa terpelihara, dan Kesetiaan pada tercapainya maksud Allah.

Jadi dalam PB, kita melakukan persepuluhan atau perberapa puluhan pun itu, bukan lagi karena hukum itu sendiri masih berlaku, tetapi tercapainya maksud Allah, yaitu keadilan, belaskasih dan kesetiaan.

Karena itu “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat”

If you have “love” you’ll do good.

Walau mungkin tidak sempurna, sebab kasih Kristus saja yang sempurna.