Mars Gereja Tuhan (Lirik)

Bersyukur karena kasih Tuhan
KebaikanNya, kemurahanNya
Karena PertolonganNya yang Dia Berikan
Dalam Gereja Tuhan nyata kemuliaan

Reff
Dewasa, itu harapan kami
Misioner, itu panggilan kami
Berdampak, itu komitmen kami
Bersatu bergandengan dalam kuasa Tuhan

Dewasa, itu harapan kami
Misioner, itu panggilan kami
Berdampak, itu komitmen kami
Bersatu bergandengan dalam kasih Tuhan

Perjuangan lewati tantangan
Tak ciut rasa, tak habis asa
Melangkah dengan pasti pada visi Tuhan
Terima kemenangan yang Dia sediakan

back to Reff


YANG SATU DILAKUKAN, YANG LAIN JANGAN DIABAIKAN

Menarik untuk mendalami kata “yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Matius 23:23). Sudah sejak lama kalimat ini dipakai oleh sebagian orang untuk mengatakan bahwa persepuluhan itu harus diberikan, dan tentu kalau “harus” itu berarti mempengaruhi keselamatan, seperti yang dipahami dan dikotbahkan sebagian hamba Tuhan.

Sejak lama saya saya merenungkan dan mempelajari apa sebenarnya maksud Tuhan Yesus. Apakah perkataan itu adalah sebagai isyarat bahwa persepuluhan itu sebagai keharusan?

Beberapa pertimbangan:

1. Yesus sedang berbicara kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang konsisten “menyerukan” melaksanaan seluruh Hukum Taurat. Dalam hal ini persepuluhan menjadi bagian yang dimaksud.

2. “Sprit” (semangat) yang mendasari persepuluhan sebenarnya adalah keadilan dan belas kasihan, yang tentu mengacu kepada Lewi (Yang tidak mendapat bagian dari pembagian Yosua sesuai perintah Tuhan) dan bagaimana janda-janda miskin dan yatim-piatu dipelihara oleh “negara” (dalam hal ini Israel/Yahudi melalui Rumah Tuhan). Dan pemberian persepuluhan itu menjadi wujud ketaatan kepada perintah Tuhan sesuai konteksnya tadi.

 

3. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menekankan persepuluhan itu sebagai hukum yang harus ditegakkan tetapi mereka mengesampingkan “spirit” yang mendasarinya.

4. Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat dalam diriNya dan “menawarkan” kesempatan kepada setiap orang untuk “kembali” kepada Kasih Karunia. Tetapi Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak menerima hal itu dan tetap menekankan bahwa hukum Taurat harus ditegakkan.

5. Yesus tahu bahwa Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pun tidak sanggup memenuhi hukum Taurat itu dengan sempurna. Salh satu buktinya adalah bahwa persepuluhan mereka suarakan dan laksanakan tetapi “spriti”nya mereka kesampingkan.

6. Maka dalam hal ini kalimat diatas, Yesus mau mengatakan kepada Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yaitu “kalau kamu ingin menegakkan Hukum Taurat sebagai syarat perkenanan kepada Allah maka kamu harus melakukannya dengan SEMPURNA” – Yang satu dilakukan yang lain juga harus dilakukan.

Jadi perkataan Yesus justru bertujuan spy mereka KELUAR dari system Hukum Taurat dan masuk ke Kasih Karunia. Jadi ayat ini tidak bertujuan untuk mengharuskan persepuluhan, justru kalau ayat ini dipakai untuk “mengharuskan” persepuluhan menjadi bertolak belakang dari maksud Yesus.

Tentu memberi persepuluhan bukan juga tidak baik, asalkan pemberian itu lahir dari kesadaran betapa pentingnya persepuluhan itu untuk mendukung pelayanan gereja dan hamba-hamba Tuhan, dan persepuluhan itu diberikan dengan hati yang bersyukur.

Saya lebih setuju bila persepuluhan dijadikan sebagai acuan yang pernah diterapkan Tuhan untuk orang Israel, namun dalam hal mengulurkan tangan untuk mendukung pekerjaan Tuhan kita tidak boleh dibatasi dengan persepuluhan. Perduapuluhan, pertigapuluhan, dan lain sebagainya, kenapa tidak?

SIAPAKAH PRIBUMI? (Sebuah pertanyaan buat Anies Baswedan)

Istilah “pribumi” dan “non pribumi” kembali mencuat dan jadi perbincangan masyarakat setelah pidato gubernur DKI terpilih Anies Baswedan di depan khalayak DKI pasca pelantikan. Penggunaan istilah ini tentu juga mengingatkan kita pada masa kampanye pilkada sebelumnya dan masa-masa “aksi damai” yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu dalam tuntutannya terhadap kasus Ahok.

Meski saya sudah punya gambaran tentang arti dari “pribumi” dan “non pribumi”, saya mencoba mencari beberapa sumber untuk mendapat gambaran yang lebih jelas tentang arti dan penggunaan istilah itu dalam konteks sejarah Indonesia.

Wikipedia menjelaskan bahwa pribumi atau penduduk asli adalah setiap orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara, dan menetap di sana dengan status orisinal, asli atau tulen (indigenious) sebagai kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa bukan pendatang dari negeri lainnya. Pribumi bersifat autochton (melekat pada suatu tempat). Secara lebih khusus, istilah pribumi ditujukan kepada setiap orang yang terlahir dengan orang tua yang juga terlahir di suatu tempat tersebut.

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memberi definisi bahwa pribumi adalah penghuni asli. Sedangkan yang bukan pribumi; yang bukan orang (penduduk) asli suatu negara. Bila berangkat dari defenisi ini, maka timbul pertanyaan, dalam konteks Indonesia; siapakah penduduk asli Indonesia?

Berdasarkan Von Heine Geldern, asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Asia Tengah yaitu dari daratan Yunan di China Selatan dari bangsa Austronesia. Namun sebelum kedatangan bangsa Austronesia, jauh sebelumnya sudah ada beberapa kelompok manusia yang menempati wilayah Indonesia yaitu kelompok Pleistosin, suku Wedoid dan suku Negroid.

 

Dalam sejarah bangsa Indonesia, ada terdapat banyak “suku bangsa” yang kemudian datang dari negara lain dan menetap di Indonesia. Sebutlah dari keturunan China, Arab, Belanda, dan lain-lain. Mereka sudah ada di Indonesia sejak beberapa abad lalu, dan beranak-cucu hingga beberapa keturunan.

Dalam penjelasan Wikipedia mengatakan bahwa pada masa kolonial Belanda, pribumi dipakai sebagai istilah bahasa Melayu untuk Inlanders, salah satu kelompok penduduk Hindia Belanda yang berasal dari suku-suku asli Kepulauan Nusantara. Oleh karena itu, penduduk Indonesia keturunan Cina, India, Arab (semuanya dimasukkan dalam satu kelompok, Vreemde Oosterlingen), Eropa, maupun campuran sering dikelompokkan sebagai non-pribumi meski telah beberapa generasi dilahirkan di Indonesia.

Lalu siapakah “pribumi” yang  anda maksud bapak Anies Baswedan?

Bukankah anda sendiri keturunan Arab?

JOHN SUNG, Sang Penginjil Besar China

John Sung lahir di Putian (dulu Hinghwa), Fujian, China pada tanggal 29 September 1901 sebagai seorang anak pendeta dari Gereja Methodist Wesleyan. Dia dibesarkan dengan pendidikan orang Kristen dan terdidik untuk berperan dalam tugas-tugas gereja, oleh karena itu pada usia belasan tahun dia sudah dipercaya untuk membantu ayahnya dalam tugas-tugas gereja bahkan kadang menggantikan ayahnya berkotbah bila sang ayah berhalangan atau karena sakit. Ia bahkan dijuluki sebagai “Pendeta Kecil” karena kontribusi kepada gereja.

Sosok yang dikenal cerdas ini kemudian dikirim oleh ayahnya ke Amerika untuk belajar pada pendidikan tinggi pada tahun 1920. Dia belajar di Ohio Wesleyan University dan Ohio State University. Karena kecerdasannya dia dapat meraih gelar doctor dalam bidang kimia dalam lima tahun.

John Sung - Penginjil Besar China1

Mendapat pendidikan tinggi sampai tingkat doctor di sekuler ternyata tidak membuat John Sung lupa pada pekerjaan yang dilakukannya dulu bersama ayahnya. Dengan keyakinan panggilan Tuhan pada dirinya untuk melayani Tuhan, maka dia kemudian mengikuti studi teologi pada tahun 1926 di Union Theological Seminary, New York City.

Pada bulan Februari 1972, John Sung mengalami pengalaman rohani yang tidak biasa ketika ia sedang berdoa di seminary. John Sung menggambarkan bahwa “Roh Kudus menuangkan ke saya, seperti air, di atas kepalaku”, lalu “Roh Kudus terus menuangkan kepadaku curah demi curah”.

Pengalaman spiritual itu membawa perubahan besar pada diri John. Dia semakin berani untuk membagikan Injil kepada orang-orang yang dia temui, berkotbah kepada teman-teman studinya di seminary, bahkan dosen-dosennya sendiri. Dapat dibayangkan perubahan ini membuat orang-orang disekitarnya melihat keanehan terjadi dalam diri John, sampai-sampai pihak managemen seminary mengirim dia ke sebuh rumah sakit jiwa dan disana dia tinggal selama kurang lebih 4,5 bulan.

Dalam kurun waktu 4,5 bulan itu, John Sung selalu membaca Alkitab sehingga dalam kurun waktu itu ia dapat menyelesaikan pembacaan seluruh Alkitab sebanyak 40 kali. Isolasi ini justru menjadi “ajang retreat” bagi John Sung untuk focus memahami ajaran Alkitab. Setelah dia dapat bebas atas upaya Konsulat China pada bulan November 1927, dia kembali ke China.

Setelah kembali ke China, dia mulai berkhotbah di wilayah Min-nan selama tiga tahun. Topik utamanya pada saat itu adalah “The Crucifix” dan “The Blood of Jesus”. Pesannya didasarkan pada ajaran Alkitab tentang kelahiran kembali, keselamatan, dan pertukaran pada salib. Topik ini didasarkan pada Injil dimana Yesus yang telah tersalib dan darahNya tercurah untuk menggantikan orang berdosa supaya memperoleh keselamatan.

Pada kisaran tahun 1930/1931, John Sung bergabung dengan Bethel Bible School of Shanghai. Di tempat ini kemudian Ia bersama beberapa temannya membentuk Bethel Evangelistic Band dan menjelajah negara-negara lain khusnya di Asia untuk melayani melalui Bethel Evangelistic Bandnya.



Sebagai pengkotbah yang tekun dan bersemangat, namanya segera tersebar di seluruh China. Dan undangan pun kemudian berdatangan untuk meminta dia melakukan kebaktian kebangunan rohani ke banyak wilayah lainnya. Pada tahun 1936, diyakini lebih dari 100.000 orang China bertobat melalui pelayanannya. Ia kemudian melakukan pelayanan misi sampai ke Asia Tenggara antara lain Singapora, Thailand dan Indonesia. Untuk pekerjaan misi ini John Sung harus meninggalkan keluarganya untuk waktu yang cukup lama, sebab perjalanan transportasi pada waktu itu pun didominasi darat dan laut.

John Sung meninggal pada usia 42 tahun. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, walaupun tubuhnya digerogoti penyakit tuberkulosis usus, Ia tetap memberitakan Injil. Sungguh luar biasa pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada John Sung.

BALADA BULUNG NI SANGGE-SANGGE

Media sosial beberapa hari ini diramaikan dengan  “sangge-sangge” dan menjadi viral.  Bermula dari postingan seorang wanita bernama Tika yang  gagal menikah karena adanya “percekcokan” melalui media “chat” antara  Tika dengan calon mertuanya.  Dia memposting semua perbincangannya dengan mantan calon mertuanya di dinding facebooknya, yang dalam sebuah klarifikasi disebutkan bertujuan untuk menjawab sekaligus banyaknya pertanyaan dari teman-teman dan kenalan Tika  tentang alasan pernikahannya yang gagal.



Namun secara tidak diduga curhatan wanita ini menjadi  viral di media sosial, karena banyak teman-temannya  yang kemudian men-Screenshot  postingan tersebut dan membagikan di wall masing-masing.  Kemudian postingan itu di share (bagikan) lagi oleh teman-teman dari temannya begitu seterusnya disertai reaksi masing-masing yang berbeda tentunya.  Ada yang memuji tindakannya, tetapi ada juga yang mencela.  Namun dari pantauan saya, lebih banyak netizen yang membagikan adalah orang-orang yang prihatin atas pengalaman wanita karena tindakan dari mantan calon mertua wanitanya. Celaan justru banyak ditujukan kepada si calon mertua yang dianggap sombong dan matre.

Paling tidak ada 21 chat yang diposting oleh Tika. Dari chat ini tergambar ketidaksukaan dan ketidaksetujuan calon mertua atas dirinya, bahkan terkesan menjadi hinaan kepada Tika dan keluarganya.  Beberapa diantaranya adalah ejekan dan merendahkan terhadap pakaian yang di pakai oleh Tika pada saat acara “martumpol” yaitu semacam acara pra-wedding dalam adat Batak yang dilakukan di gereja, dan perhiasan emas yang dipakai oleh Tika waktu itu yang disebut oleh si calon mertua sebagai “perhiasan setipis bulung sangge-sangge” itulah yang menjadi viral.

Apa itu “sangge-sangge”?

Tidak sedikit orang bingung membaca postigan netizen yang ikut mem-viral-kan “sangge-sangge” ini. Mereka bingung karena tidak mengerti artinya. Ada juga netizen yang mengetahui apa itu sangge-sangge tetapi tidak mengetahui kisah dibalik viralnya sehingga mereka bertanya-tanya ada apa dengan “sangge-sangge” ini.

sangge-sangge2“Sangge-sangge” adalah sebutan dalam bahasa Batak untuk “Sereh” atau sering juga disebut “serai”. Sereh merupakan jenis rumput yang tinggi yang banyak ditemukan di daerah tropis.  Tanaman ini mengandung banyak kasiat sehingga selain digunakan untuk tambahan bumbu masakan (kuliner), juga banya digunakan sebagai obat herbal.Batang Sereh (Sangge-sangge)

Kasiat yang dimiliki oleh Serai sangat beragam. Sereh mengandung  vitamin penting seperti vitamin A, B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B3 (niasin) B5 (asam pantotenat), vitamin C, juga mineral penting seperti potasium , kalsium, magnesium, fosfor, mangan, tembaga, seng dan besi yang dibutuhkan untuk fungsi tubuh yang sehat.  Sebagai obat, Sereh memiliki manfaat anti-bakteri, anti-jamur dan anti-mikroba, anti kanker, mengatasi diabetes, mengatasi anemia, detoksifikasi, dll.

Pelajaran Berharga

Kembali tentang kisah dibalik viralnya “sangge-sangge”,  tentu ada pelajaran yang berharga dapat diambil.

1. Sebelum berkomitment untuk menikah, perlu mengenal lebih dalam; bukan hanya calon pasangan tetapi, juga latarbelakang keluarganya. Sebab kalau pun pernikahan itu merupakan komitment dua insan, tetapi latarbelakang keluarga dan relasi dengan keluarga pasangan kelak akan dapat mempengaruhi pernikahan.

2. Terlepas dari valid tidaknya informasi mengenai si calon mertua, setiap kita harus sadar bahwa harta bukanlah segalanya dalam pernikahan juga bukan segalanya dalam hidup.  Harta bukanlah kunci kebahagian dalam rumah tangga.  Harta bisa membuat seseorang semakin dekat dengan Tuhan, bisa juga sebaliknya.  Demikian juga harta bisa membuat keluarga lebih berbahagia tetapi bisa juga sebaliknya. Harta di dunia ini hanya sementara.

3. Konsumsilah “sangge-sangge” untuk kesehatan.  he..he..he..

sangge-sangge1