JOHN SUNG, Sang Penginjil Besar China

John Sung lahir di Putian (dulu Hinghwa), Fujian, China pada tanggal 29 September 1901 sebagai seorang anak pendeta dari Gereja Methodist Wesleyan. Dia dibesarkan dengan pendidikan orang Kristen dan terdidik untuk berperan dalam tugas-tugas gereja, oleh karena itu pada usia belasan tahun dia sudah dipercaya untuk membantu ayahnya dalam tugas-tugas gereja bahkan kadang menggantikan ayahnya berkotbah bila sang ayah berhalangan atau karena sakit. Ia bahkan dijuluki sebagai “Pendeta Kecil” karena kontribusi kepada gereja.

Sosok yang dikenal cerdas ini kemudian dikirim oleh ayahnya ke Amerika untuk belajar pada pendidikan tinggi pada tahun 1920. Dia belajar di Ohio Wesleyan University dan Ohio State University. Karena kecerdasannya dia dapat meraih gelar doctor dalam bidang kimia dalam lima tahun.

John Sung - Penginjil Besar China1

Mendapat pendidikan tinggi sampai tingkat doctor di sekuler ternyata tidak membuat John Sung lupa pada pekerjaan yang dilakukannya dulu bersama ayahnya. Dengan keyakinan panggilan Tuhan pada dirinya untuk melayani Tuhan, maka dia kemudian mengikuti studi teologi pada tahun 1926 di Union Theological Seminary, New York City.

Pada bulan Februari 1972, John Sung mengalami pengalaman rohani yang tidak biasa ketika ia sedang berdoa di seminary. John Sung menggambarkan bahwa “Roh Kudus menuangkan ke saya, seperti air, di atas kepalaku”, lalu “Roh Kudus terus menuangkan kepadaku curah demi curah”.

Pengalaman spiritual itu membawa perubahan besar pada diri John. Dia semakin berani untuk membagikan Injil kepada orang-orang yang dia temui, berkotbah kepada teman-teman studinya di seminary, bahkan dosen-dosennya sendiri. Dapat dibayangkan perubahan ini membuat orang-orang disekitarnya melihat keanehan terjadi dalam diri John, sampai-sampai pihak managemen seminary mengirim dia ke sebuh rumah sakit jiwa dan disana dia tinggal selama kurang lebih 4,5 bulan.

Dalam kurun waktu 4,5 bulan itu, John Sung selalu membaca Alkitab sehingga dalam kurun waktu itu ia dapat menyelesaikan pembacaan seluruh Alkitab sebanyak 40 kali. Isolasi ini justru menjadi “ajang retreat” bagi John Sung untuk focus memahami ajaran Alkitab. Setelah dia dapat bebas atas upaya Konsulat China pada bulan November 1927, dia kembali ke China.

Setelah kembali ke China, dia mulai berkhotbah di wilayah Min-nan selama tiga tahun. Topik utamanya pada saat itu adalah “The Crucifix” dan “The Blood of Jesus”. Pesannya didasarkan pada ajaran Alkitab tentang kelahiran kembali, keselamatan, dan pertukaran pada salib. Topik ini didasarkan pada Injil dimana Yesus yang telah tersalib dan darahNya tercurah untuk menggantikan orang berdosa supaya memperoleh keselamatan.

Pada kisaran tahun 1930/1931, John Sung bergabung dengan Bethel Bible School of Shanghai. Di tempat ini kemudian Ia bersama beberapa temannya membentuk Bethel Evangelistic Band dan menjelajah negara-negara lain khusnya di Asia untuk melayani melalui Bethel Evangelistic Bandnya.



Sebagai pengkotbah yang tekun dan bersemangat, namanya segera tersebar di seluruh China. Dan undangan pun kemudian berdatangan untuk meminta dia melakukan kebaktian kebangunan rohani ke banyak wilayah lainnya. Pada tahun 1936, diyakini lebih dari 100.000 orang China bertobat melalui pelayanannya. Ia kemudian melakukan pelayanan misi sampai ke Asia Tenggara antara lain Singapora, Thailand dan Indonesia. Untuk pekerjaan misi ini John Sung harus meninggalkan keluarganya untuk waktu yang cukup lama, sebab perjalanan transportasi pada waktu itu pun didominasi darat dan laut.

John Sung meninggal pada usia 42 tahun. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, walaupun tubuhnya digerogoti penyakit tuberkulosis usus, Ia tetap memberitakan Injil. Sungguh luar biasa pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada John Sung.

Tinggalkan Balasan