YANG SATU DILAKUKAN, YANG LAIN JANGAN DIABAIKAN

Menarik untuk mendalami kata “yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Matius 23:23). Sudah sejak lama kalimat ini dipakai oleh sebagian orang untuk mengatakan bahwa persepuluhan itu harus diberikan, dan tentu kalau “harus” itu berarti mempengaruhi keselamatan, seperti yang dipahami dan dikotbahkan sebagian hamba Tuhan.

Sejak lama saya saya merenungkan dan mempelajari apa sebenarnya maksud Tuhan Yesus. Apakah perkataan itu adalah sebagai isyarat bahwa persepuluhan itu sebagai keharusan?

Beberapa pertimbangan:

1. Yesus sedang berbicara kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang konsisten “menyerukan” melaksanaan seluruh Hukum Taurat. Dalam hal ini persepuluhan menjadi bagian yang dimaksud.

2. “Sprit” (semangat) yang mendasari persepuluhan sebenarnya adalah keadilan dan belas kasihan, yang tentu mengacu kepada Lewi (Yang tidak mendapat bagian dari pembagian Yosua sesuai perintah Tuhan) dan bagaimana janda-janda miskin dan yatim-piatu dipelihara oleh “negara” (dalam hal ini Israel/Yahudi melalui Rumah Tuhan). Dan pemberian persepuluhan itu menjadi wujud ketaatan kepada perintah Tuhan sesuai konteksnya tadi.

 

3. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menekankan persepuluhan itu sebagai hukum yang harus ditegakkan tetapi mereka mengesampingkan “spirit” yang mendasarinya.

4. Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat dalam diriNya dan “menawarkan” kesempatan kepada setiap orang untuk “kembali” kepada Kasih Karunia. Tetapi Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak menerima hal itu dan tetap menekankan bahwa hukum Taurat harus ditegakkan.

5. Yesus tahu bahwa Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pun tidak sanggup memenuhi hukum Taurat itu dengan sempurna. Salh satu buktinya adalah bahwa persepuluhan mereka suarakan dan laksanakan tetapi “spriti”nya mereka kesampingkan.

6. Maka dalam hal ini kalimat diatas, Yesus mau mengatakan kepada Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yaitu “kalau kamu ingin menegakkan Hukum Taurat sebagai syarat perkenanan kepada Allah maka kamu harus melakukannya dengan SEMPURNA” – Yang satu dilakukan yang lain juga harus dilakukan.

Jadi perkataan Yesus justru bertujuan spy mereka KELUAR dari system Hukum Taurat dan masuk ke Kasih Karunia. Jadi ayat ini tidak bertujuan untuk mengharuskan persepuluhan, justru kalau ayat ini dipakai untuk “mengharuskan” persepuluhan menjadi bertolak belakang dari maksud Yesus.

Tentu memberi persepuluhan bukan juga tidak baik, asalkan pemberian itu lahir dari kesadaran betapa pentingnya persepuluhan itu untuk mendukung pelayanan gereja dan hamba-hamba Tuhan, dan persepuluhan itu diberikan dengan hati yang bersyukur.

Saya lebih setuju bila persepuluhan dijadikan sebagai acuan yang pernah diterapkan Tuhan untuk orang Israel, namun dalam hal mengulurkan tangan untuk mendukung pekerjaan Tuhan kita tidak boleh dibatasi dengan persepuluhan. Perduapuluhan, pertigapuluhan, dan lain sebagainya, kenapa tidak?

Tinggalkan Balasan