SIAPAKAH PRIBUMI? (Sebuah pertanyaan buat Anies Baswedan)

Istilah “pribumi” dan “non pribumi” kembali mencuat dan jadi perbincangan masyarakat setelah pidato gubernur DKI terpilih Anies Baswedan di depan khalayak DKI pasca pelantikan. Penggunaan istilah ini tentu juga mengingatkan kita pada masa kampanye pilkada sebelumnya dan masa-masa “aksi damai” yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu dalam tuntutannya terhadap kasus Ahok.

Meski saya sudah punya gambaran tentang arti dari “pribumi” dan “non pribumi”, saya mencoba mencari beberapa sumber untuk mendapat gambaran yang lebih jelas tentang arti dan penggunaan istilah itu dalam konteks sejarah Indonesia.

Wikipedia menjelaskan bahwa pribumi atau penduduk asli adalah setiap orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara, dan menetap di sana dengan status orisinal, asli atau tulen (indigenious) sebagai kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa bukan pendatang dari negeri lainnya. Pribumi bersifat autochton (melekat pada suatu tempat). Secara lebih khusus, istilah pribumi ditujukan kepada setiap orang yang terlahir dengan orang tua yang juga terlahir di suatu tempat tersebut.

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memberi definisi bahwa pribumi adalah penghuni asli. Sedangkan yang bukan pribumi; yang bukan orang (penduduk) asli suatu negara. Bila berangkat dari defenisi ini, maka timbul pertanyaan, dalam konteks Indonesia; siapakah penduduk asli Indonesia?

Berdasarkan Von Heine Geldern, asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Asia Tengah yaitu dari daratan Yunan di China Selatan dari bangsa Austronesia. Namun sebelum kedatangan bangsa Austronesia, jauh sebelumnya sudah ada beberapa kelompok manusia yang menempati wilayah Indonesia yaitu kelompok Pleistosin, suku Wedoid dan suku Negroid.

 

Dalam sejarah bangsa Indonesia, ada terdapat banyak “suku bangsa” yang kemudian datang dari negara lain dan menetap di Indonesia. Sebutlah dari keturunan China, Arab, Belanda, dan lain-lain. Mereka sudah ada di Indonesia sejak beberapa abad lalu, dan beranak-cucu hingga beberapa keturunan.

Dalam penjelasan Wikipedia mengatakan bahwa pada masa kolonial Belanda, pribumi dipakai sebagai istilah bahasa Melayu untuk Inlanders, salah satu kelompok penduduk Hindia Belanda yang berasal dari suku-suku asli Kepulauan Nusantara. Oleh karena itu, penduduk Indonesia keturunan Cina, India, Arab (semuanya dimasukkan dalam satu kelompok, Vreemde Oosterlingen), Eropa, maupun campuran sering dikelompokkan sebagai non-pribumi meski telah beberapa generasi dilahirkan di Indonesia.

Lalu siapakah “pribumi” yang  anda maksud bapak Anies Baswedan?

Bukankah anda sendiri keturunan Arab?

BALADA BULUNG NI SANGGE-SANGGE

Media sosial beberapa hari ini diramaikan dengan  “sangge-sangge” dan menjadi viral.  Bermula dari postingan seorang wanita bernama Tika yang  gagal menikah karena adanya “percekcokan” melalui media “chat” antara  Tika dengan calon mertuanya.  Dia memposting semua perbincangannya dengan mantan calon mertuanya di dinding facebooknya, yang dalam sebuah klarifikasi disebutkan bertujuan untuk menjawab sekaligus banyaknya pertanyaan dari teman-teman dan kenalan Tika  tentang alasan pernikahannya yang gagal.



Namun secara tidak diduga curhatan wanita ini menjadi  viral di media sosial, karena banyak teman-temannya  yang kemudian men-Screenshot  postingan tersebut dan membagikan di wall masing-masing.  Kemudian postingan itu di share (bagikan) lagi oleh teman-teman dari temannya begitu seterusnya disertai reaksi masing-masing yang berbeda tentunya.  Ada yang memuji tindakannya, tetapi ada juga yang mencela.  Namun dari pantauan saya, lebih banyak netizen yang membagikan adalah orang-orang yang prihatin atas pengalaman wanita karena tindakan dari mantan calon mertua wanitanya. Celaan justru banyak ditujukan kepada si calon mertua yang dianggap sombong dan matre.

Paling tidak ada 21 chat yang diposting oleh Tika. Dari chat ini tergambar ketidaksukaan dan ketidaksetujuan calon mertua atas dirinya, bahkan terkesan menjadi hinaan kepada Tika dan keluarganya.  Beberapa diantaranya adalah ejekan dan merendahkan terhadap pakaian yang di pakai oleh Tika pada saat acara “martumpol” yaitu semacam acara pra-wedding dalam adat Batak yang dilakukan di gereja, dan perhiasan emas yang dipakai oleh Tika waktu itu yang disebut oleh si calon mertua sebagai “perhiasan setipis bulung sangge-sangge” itulah yang menjadi viral.

Apa itu “sangge-sangge”?

Tidak sedikit orang bingung membaca postigan netizen yang ikut mem-viral-kan “sangge-sangge” ini. Mereka bingung karena tidak mengerti artinya. Ada juga netizen yang mengetahui apa itu sangge-sangge tetapi tidak mengetahui kisah dibalik viralnya sehingga mereka bertanya-tanya ada apa dengan “sangge-sangge” ini.

sangge-sangge2“Sangge-sangge” adalah sebutan dalam bahasa Batak untuk “Sereh” atau sering juga disebut “serai”. Sereh merupakan jenis rumput yang tinggi yang banyak ditemukan di daerah tropis.  Tanaman ini mengandung banyak kasiat sehingga selain digunakan untuk tambahan bumbu masakan (kuliner), juga banya digunakan sebagai obat herbal.Batang Sereh (Sangge-sangge)

Kasiat yang dimiliki oleh Serai sangat beragam. Sereh mengandung  vitamin penting seperti vitamin A, B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B3 (niasin) B5 (asam pantotenat), vitamin C, juga mineral penting seperti potasium , kalsium, magnesium, fosfor, mangan, tembaga, seng dan besi yang dibutuhkan untuk fungsi tubuh yang sehat.  Sebagai obat, Sereh memiliki manfaat anti-bakteri, anti-jamur dan anti-mikroba, anti kanker, mengatasi diabetes, mengatasi anemia, detoksifikasi, dll.

Pelajaran Berharga

Kembali tentang kisah dibalik viralnya “sangge-sangge”,  tentu ada pelajaran yang berharga dapat diambil.

1. Sebelum berkomitment untuk menikah, perlu mengenal lebih dalam; bukan hanya calon pasangan tetapi, juga latarbelakang keluarganya. Sebab kalau pun pernikahan itu merupakan komitment dua insan, tetapi latarbelakang keluarga dan relasi dengan keluarga pasangan kelak akan dapat mempengaruhi pernikahan.

2. Terlepas dari valid tidaknya informasi mengenai si calon mertua, setiap kita harus sadar bahwa harta bukanlah segalanya dalam pernikahan juga bukan segalanya dalam hidup.  Harta bukanlah kunci kebahagian dalam rumah tangga.  Harta bisa membuat seseorang semakin dekat dengan Tuhan, bisa juga sebaliknya.  Demikian juga harta bisa membuat keluarga lebih berbahagia tetapi bisa juga sebaliknya. Harta di dunia ini hanya sementara.

3. Konsumsilah “sangge-sangge” untuk kesehatan.  he..he..he..

sangge-sangge1

PENONTON DAN PEMAIN

“Penonton, sorak-sorainya memang meriah, tetapi hanya para pemainlah yang mendapat hadiah”, statemen atau pernyataan ini sederhana dan sangat tepat bila merujuk pada sebuah gelanggang pertandingan pada umumnya. Para penonton begitu riuh dengan teriakan, tepuk tangan, hentakan kaki, baik yang bertujuan memberi semangat kepada pemain/team yang mereka dukung, merendahkan team lain, ataupun hanya sekedar expressi hati yang terbawa emosi.

Tentu ada kepuasan tersendiri bila team yang mereka dukung menang dalam pertandingan, atau kekecewaan bila terjadi sebaliknya. Namun, penonton tetaplah penonton yang mungkin bisa senang atau kecewa sesaat, tetapi hadiah pertandingan hanya di dapat oleh para pemain.

Para penonton bisa tiba-tiba menjadi “sangat pintar” bahkan jauh “lebih pintar” dibanding para pemain dengan komentar-komentarnya. “Si A itu salah, mestinya tidak main sendiri”, “Si B itu harusnya bermain lebih cantik”, “Si C itu sangat tidak layak menjadi penyerang”, “Seharusnya si D meng-over dulu bolanya jangan langsung menendang”, dan lain-lain adalah contoh komentar-komentar yang biasa terjadi dari mulut para penonton. Namun, penonton tetaplah penonton, bila mereka diuji dengan sebuah kesempatan bermain, hampir pasti, mereka tidak lebih baik bahkan sangat mungkin lebih buruk permainannya.

Seleksi wajib dilakukan untuk mendapatkan para pemain yang handal. Seorang pemain menjadi handal hanya mungkin, bila telah melewati proses pembentukan melalui pembelajaran dan pelatihan. “Bayar harga” adalah wajib untuk sebuah kwalitas. Meskipun begitu, orang handal sekalipun, dimata penonton masih sering “lebih bodoh” dibandingkan penonton itu sendiri. Namun, penonton tetaplah penonton. Yang sampai di puncak keberhasilan tetaplah para pemain yang handal dan teruji.

Untuk misi Tuhan yang mulia, jadilah pemain bukan sebagai penonton.

S I B U K

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia di era postmodern sekarang ini setiap hari terus berpacu dengan berbagai macam kegiatan yang menyibukkan. Bukan saja sibuk dalam urusan pekerjaan dan usaha, namun juga sibuk dalam “bersosialisasi” di dunia maya melalui beberapa media sosial di Internet.

Berbagai macam kegiatan yang menyibukkan tentu tidak ada salahnya bila segala kegiatan itu merupakan kegiatan-kegiatan yang positive yang mungkin dapat meningkatkan pemahaman, pengalaman dan juga pendapatan. Kreativitas yang tinggi dan fasilitas yang memadai dan canggih semakin memperbesar peluang setiap orang melakukan banyak hal dalam kehidupannya.

“Melihat ke depan” adalah sebuah istilah yang sering digunakan untuk menyatakan pentingnya memberi perhatian, memikirkan dan melakukan tindakan-tindakan yang berdampak jauh ke masa yang akan datang. Hal-hal yang mungkin dilakukan adalah terus belajar, mengikuti latihan ketrampilan, bekerja dengan giat, menginvestasikan dana dibidang usaha atau property, menyimpang uang di Bank, dan lain-lain.

Sangat penting juga orang Kristen “Melihat ke depan” dalam urusan iman. Sebab jika tidak demikian, akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidup. Urusan iman adalah urusan bagaimana harus hidup dalam kebenaran, memikirkan dan melakukan apa yang dikehendaki Tuhan untuk dikerjakan, sampai waktunya tiba ketika “hari Tuhan” berakhir atas tiap-tiap orang di dunia ini untuk mendapat bagiannya di dalam Tuhan.

Kesibukan orang percaya harus meliputi hal-hal rohani selain hal-hal yang menyangkut jasmani. “Menyatakan/menghadirkan” Kerajaan Allah bagi dunia haruslah menjadi bagian dari kesibukan itu. Bila kesibukan dalam urusan jasmani justru menjadi alasan untuk meninggalkan atau menyepelekan urusan rohani maka kekristenan seperti masih patut dipertanyakan.

Dalam 1 Kor 15:58 ada dikatakan “…giatlah selalu dalam pekerja Tuhan…” Kata “giat” dalam Bahasa Yunaninya bisa berarti “melimpah, meluap, melampaui”, beberapa terjemahan Bahasa Inggris juga berarti “abounding” (berlimpah), ada juga “work without limit” (kerja tanpa batas). Bahkan CEV mengatakan “….keep busy working for the Lord” (tetaplah sibuk berkerja untuk Tuhan).

Sibuklah untuk Tuhan!

BERANI DAN TEGAS

kita sangat salut dengan beberapa kepala daerah yang ada di Indonesia yang benar-benar pro kepada rakyat. Program mereka yang pro rakyat dan ketegasan mereka dalam bersikap menjadi angin segar bagi bangsa dan negara ini setelah 30 tahun lebih masa orde baru dan 10 tahun lebih masa transisi dan reformasi yang kebablasan, tidak membuat Indonesia menjadi lebih baik secara signifikan.

Gubernur DKI – Ahok sebagai kepala daerah terbaik menurut survey belakangan ini yang dilakukan oleh Populi Centre, seminggu-an terakhir ini telah menjadi perbincangan hangat di media, parihal “perseteruannya” dengan DPRD DKI mengganai RAPBD. Menurut Ahok, ada permainan yang sudah terjadi dalam penentuan RAPBD versi DPRD karena tidak sesuai dengan rancangan yang disampaikan ke DPRD sebelumnya dengan munculnya daftar jenis barang/kegiatan dan harga yang bombasis. Seperti biasa, Gubernur yang dikenal sangat tegas bahkan cenderung dianggap kasar ini tidak mau kompromi terhadap upaya-upaya korupsi, sehingga ia melaporkan hal ini ke KPK.

Yang menarik dari Ahok adalah dia berani bicara dan tegas. Dia tidak perduli apakah orang/masyarakat, pejabat atau siapapun suka atau tidak, setuju atau tidak, yang penting dia sudah bertindak jujur dan selalu memperjuangkan kepentingan masyarakat dan negara. Baginya tidak ada tempat untuk para Koruptor di pemerintahannya. Hal menarik lainnya pada Ahok ini adalah ketuguhannya menerapkan nilai-nilai kebenaran firman dalam kehidupannya sebagai seorang Kristen.

Hanya saja cara bicaranya yang meledak-ledak dan “to the point” sering dianggap terlalu keras, bahkan dianggap kasar. Walau pun ada juga yang membelanya dengan mengatakan bahwa Indonesia butuh orang seperti dia dalam keadaan moral para pejabat yang sudah terlalu bobrok sekarang ini.

Pelajaran bagi kita adalah hiduplah jujur, berani berbicara dalam kebenaran dan menegakkan prinsip-prinsip firman Tuhan dalam kehidupan. Sebab berani bicara itu bagus, menyatakan yang benar itu adalah tuntutan, asalkan tulus dan murni. Namun penting etika/etiket dalam cara penyampaian supaya tidak justeru menjadi jerat bagi kita dan memperkeruh suasana.

Meskipun begitu, memang ada kalanya bicara tegas dan keras diperlukan, khususnya kepada orang-orang yang tegar-tengkuk. Seperti Tuhan Yesus yang pernah mengecam orang-orang Farisi.

B A N J I R

Mendengar kata “banjir” biasanya yang terpikir oleh kita adalah adanya luapan air dari aliran air (sungai, tali air, paret, dsb) yang melimpah dan menjangkau tempat yang lebih tinggi dari biasanya. Banjir bisa terjadi oleh karena adanya sumbatan di aliran air (drainase), curah hujan yang sangat tinggi atau karena banyaknya air kiriman dari hulu sehingga mengakibatkan banjir di hilir. Rasanya tidak seorang manusia pun yang mengharapkan terjadi banjir di lingkungan atau daerahnya, sebab banjir akan selalu menimbulkan kerugian.

System drainese yang buruk di perkotaan, ditambah lagi miskinnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan; ke parit, got atau sungai , memiliki andil terjadinya banjir. Bila banjir sudah melanda, tidak sedikit orang selalu mempertanyakan peran pemerintah dalam mencegah dan mengatasi banjir. Namun sebagai warga negara yang baik, peran masyarakat harus juga ditingkatkan, bukan saja tidak membuang sampah sembarangan tetapi juga mengingatkan dan menasehati warga lain yang “tertangkap” belum disiplin dalam hal menangani sampahnya.

Namun ada juga banjir yang menguntungkan, tetapi bukan dalam maksud seperti ditas diatas walau dalam pengertian yang sama yaitu meluap atau melimpah atau melebihi dari biasa. Dalam hal ini banjir juga dikonotasikan positif, seperti: Banjir Hadiah, Banjir Pengunjung, Banjir Orderan, Banjir Ucapan Selamat, Banjir Berkat, dll.

Bila banjir berarti melimpah, maka sebagai pengikut Kristus, sudah sepatutnya kita banjir ucapan syukur (Kol.2:7), banjir kebajikan (2 Kor 9:8) dan banjir kebahagiaan (Yes.48:18) dan banjir sukacita (Maz.16:11). Sebab hidup yang diinginkan Tuhan bagi kita adalah hidup yang berkelimpahan (Yoh.10:10).

VALENTINE

Orang banyak bilang hari Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari itu adalah hari Kasih Sayang. Konon itu bermula dari kisah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III bernama Valentine. Ia hidup di kerajaan yang dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamnya.

Karena para pria enggan terlibat dalam peperangan dengan alasan tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah. Dia kemudian membuat ide gila dengan melarang adanya pernikahan. Dengan ini dia berharap akan mendapat para pria akan bergabung dengan pasukan militernya. Banyak orang menganggap keputusan ini tidak masuk akal. Maka St. Valentine juga menolak perintah kaisar ini dan tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta untuk menikahkan para pasangan yang ingin menikah walau secara sembunyi-sembunyi.

Suatu ketika tindakan St. Valentine ini ketahuan, lalu ia dipenjara sebelum akhirnya dihukum mati dengan cara lehernya di penggal. Banyak orang justru memberi simpati dan dukungan kepada St. Valentine baik ketika dipenjara maupun setelah dihukum. Dan suatu ketika tepat tanggal 14 Februari saat masih dipenjara, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara. Ia menuliskan “Dengan Cinta dari Valentinemu.” Pesan itulah yang kemudian mengubah keadaan. Hari ini dijadikan sebagai hari kasih sayang sampai mendunia.

Namun kisah diatas merupakan salah satu versi diantara beberapa versi yang ada tentang asal-usul hari Valentine. Sekarang ini, hari Valentine dirayakan dimana-mana dengan bermacam bentuk perayaan, baik antara pasangan suami-isteri, yang sedang maupun yang ingin berpacaran, antara keluarga dan antara teman/sahabat. Di gereja khususnya dilingkup muda-mudi juga sudah banyak merayakan hari Valentine, meskipun ada juga yang kontra.

Terlepas dari kebenaran atas asal-usul dan pro-kontra benar-tidaknya perayaan Valentine Day dirayakan oleh anak-anak Tuhan, yang tidak boleh kita lupa adalah bahwa kasih Kristus bagi kita tidak mengenal hari. Tuhan mengasihi kita dengan kasih yang kekal. (Yer.13:3)

Pengusik Yang Tewas

Sudah lebih seminggu ini dia mengusik rumah tangga kami. Siapa yang mau terima bila keluarganya diusik? Ada saja tingkah lakunya yang membuat istriku kesel. Aku tidak tahu apa sebenarnya maunya. Beberapa cara sudah aku lakukan untuk mengatasi hal ini. Tetapi sejauh ini terus gagal.

Dan tadi malam, ketika aku dan istri sudah dalam pembaringan, dia datang lagi. Suaranya mengusik tidurku. Aku sudah tidak sabar lagi. Ketemui dia dengan rasa kesel dan ternyata dia tidak sendiri. Ada satu lagi yang bersama dengan dia. Kekesalanku yang sudah memuncak mendorong aku mengambil sebilah pisau. Melihat aku datang dengan pisau, mereka ketakutan dan berlari berpencar. Temannya sangat cepat berlari sedangkan dia mencoba bersembunyi.

Aku tahu dia bersembunyi dimana. Tak menunggu lama kutusukkan pisau kearahnya. Dan darahnya pun mulai menetes. Merasa terancam, dia pun berlari sebisanya, tetapi terus ku kejar. Sembari ku raih sebatang kayu yang panjang, ku kejar sambil ku pukul punggungnya. Dia mulai lemas tapi masih terus berusaha berlari. Aku pun tak menyerah. Aku kejar dia dan pukul berkali-kali di punggung dan kepalanya sampai ia akhirnya terkapar tak berdaya.

Ya.. tikus besar itu akhirnya tewas ditanganku.

Kis Mi

Seorang manager (orang asing) tiba-tiba mendatangi sekretarisnya (Indonesia) dengan agak tergopoh-gopoh. Wajahnya tampak menyimpan seribu tanda tanya dan keheranan. Ini terjadi ketika seorang Janitor (Cleaning Service) masuk ke kantornya untuk melakukan aktivitasnya sebagai Janitor.

Sang Manager berkata kepada sekretarisnya (diterjemahkan),

Manager : “Nanny, saya sangat takut”

Nanny : “Mengapa kamu takut”

Manager : “Janitor itu bilang ‘cium saya, pak’”

Nanny : “Hah..? Serius?”

Manager : “Ya, benar”

Lalu Nanny pun pergi menjumpai Janitor tersebut.

Nanny : “Joko, kamu bilang apa tadi sama manager waktu masuk?” (dengan nada agak meninggi)

Joko (agak takut) : “Eee….. saya bilang ‘Kis mi’ mba”

Nanny : “maksudmu apa?”

Joko : “Itu loh mba, saya mau permisi gitu, mau masuk ke ruangan pak boss”

Nanny : “oh…… maksudmu ‘excuse me’….. oalah…….”

(Kesamaan nama dan kejadian adalah kebetulan belaka)

PEMIMPIN HEBAT UNTUK INDONESIA HEBAT

Puji syukur kepada Tuhan, Indonesia telah selesai melakukan satu pesta demokrasi yang penting yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014. Berdasarkan hasil keputusan KPU maka pasangan Jokowi-JK terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden masa bakti 2014 – 2019. Tentu sudah banyak waktu, tenaga bahkan dana yang terkuras khususnya dari kedua pasangan selama masa kampanye, namun itulah konsekwensi berdemokrasi dimana harus ada yang menang dan kalah. Harapan kita sebagai warna negara dan sebagai jemaat Tuhan, kiranya pasangan terpilih ini nantinya akan bisa mengemban tugas dan tanggungjawab sebaik-baiknya untuk memajukan bangsa dan negara republik Indonesia ini, sebab kemajuan bangsa dan negara adalah kemajuan kita juga.

Adalah wajar semua rakyat Indonesia berharap besar kapada pemimpin-pemimpin baru yang muncul beberapa tahun belakangan ini. Sebab selama puluhan tahun sejak Indonesia merdeka, masyarakat tetap dalam kesusahan dan penderitaan. Padahal kalau dibandingkan dengan kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah, masyarakat Indonesia sejatinya jauh lebih sejahtera dibanding masyarakat di beberapa negara di dunia ini. Namun karena mental Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang merajalela mengakibatkan rakyat tetap hidup dalam kesusahan kecuali para pejabat atau pengusaha yang bisa “kong kali kong” dengan para pengurus pemerintahan.

Munculnya beberapa pemimpin baru beberapa tahun belakangan ini seperti memberi angin segar perubahan untuk Indonesia lebih baik. Sebutlah Joko Widodo atau Jokowi (Mantan Walikota Solo, Gubernur DKI dan Presiden terpilih 2014), Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok (Mantan Bupati Belitung Timur dan sekarang sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta), Risma (Walikota Surabaya), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tangah), dll. Mereka bisa dikatakan hebat bukan saja karena dikenal bersih dari KKN tetapi juga transparan dan tegas mengambil keputusan. Pejabat-pejabat seperti ini menjadi harapan bagi bangsa ini. Maka marilah kita berdoa agar muncul pejabat-pejabat seperti mereka di Indonesia ini, supaya Indonesia lebih maju dan hebat. (LH, Juli-14)

D E B A T

Situasi menjelang pemilihan presiden Republik Indonesia untuk masa bakti 2014-2019 cukup terasa hangat. KPU telah menetapkan 2 pasangan capres-cawapres pada pemilihan tahun ini dan telah menjadwalkan masa kampanye dan debat terbuka kepada kedua pasangan yang disiarkan di beberapa TV nasional.  Ucara ini tentu bertujuan untuk memberi kesempatan kepada para calon untuk menyampaikan visi dan misinya dan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat kwalitas para kandidat supaya siapa pun yang menjadi pilihan masyarakat, diharapkan itulah yang terbaik.  Selain jadwal debat terbuka yang dilakukan oleh KPU kepada capres-cawapres, beberapa lembaga dan stasiun televisi juga mengadakan acara debat antara elit politik pendukung kedua pasangan tersebut.

Di “akar rumput” pun debat tidak bisa dihindari. Meski tidak ada yang memfasilitasi dan menjadwal debat, para pendukung masing-masing calon saling berdebat tak kalah sengit. Di kantor-kantor, di warung-warung kopi, di  bis kota, di ruang tunggu, dll. Masing-masing orang menyampaikan dengan semangat hal-hal yang merupakan alasan mengapa kandidat tertentu pantas untuk mereka dukung, dan dengan rada sinis menyebutkan sederatan daftar alasan mengapa calon lainnya tidak pantas di dukung.

Di alam demokrasi sah-sah saja orang berbeda pendapat. Berdebat  atau diskusi/sharing pun sah-sah saja dilakukan, namun menjaga suasana kondusif sangat  diperlukan supaya tidak memancing emosi lawan bicara yang dapat menimbulkan keributan/pertikaian baik di tingkat “akar rumput” maupun di tingkat elite politik. Masyarakat harus tetap sadar bahwa ini adalah sebuah pesta demokrasi dimana masyarakat Indonesia berkesempatan untuk memilih pemimpin yang dianggapnya terbaik. Sebab tidak semua masyarakat di dunia ini yang bisa menentukan siapa yang akan memimpin negerinya. Contohnya adalah Korea Utara yang dipimpin oleh otoriter selama tiga generasi,  dan Myanmar yang dipimpin oleh junta militer.

Layaknya keinginan dan harapan masyarakat untuk mendapatkan pemimpin yang terbaik, demikianlah kita juga berharap bahwa di masa kampanye, pemilihan dan pasca pemilihan nanti, situasi di dalam negeri tetap baik dan kondusif. Mari kita ambil bagian untuk mewujudkannya (LH-Juni 14)

BLACK CAMPAIGN

Belakangan ini istilah “Black Campaign” terlalu sering diperkatakan oleh orang banyak terutama yang berkecimpung atau para simpatisan di bidang politik sejak masa kampanye legislative terlebih menjelang pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 2014 ini.

Dari kata per kata, black campaign diartikan sederhana sebagai “Kampanye Hitam” yang dalam kaitannya dengan politik dimaksudkan sebagai upaya; baik itu pribadi atau kelompok untuk menjelek-jelekkan orang, partai atau kelompok tertentu untuk menjatuhkan nama baik  atau reputasinya di tengah-tengah masyarakat atau komunitas mereka, baik itu melalui “syiar” dari mulut ke mulut atau melalui berbagai macam media dengan berita bohong.

Saudara, Tuhan Yesus pun pernah mengalami yang serupa dengan kampanye hitam ini. Ketika Yesus ditangkap, dihadapan  imam besar Kayafas, imam-imam dan seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu supaya Yesus dihukum mati (Mat. 26:57-68). Dihadapan Pilatus pun imam-imam kepala, tua-tua dan ahli Taurat serta seluruh Mahkamah Agama mengajukan banyak tuduhan terhadap Dia (Mark. 15:1-15).

Sebagai anak-anak Tuhan, “Black Campaign” bukanlah bagian kita, dalam arti sebagai pelaku yang menjelek-jelekkan orang lain dengan kebohongan untuk menjatuhkan reputasi orang lain, karena itu bertentangan dengan firman Tuhan. Tetapi adalah mungkin kita sendiri menjadi sasaran kampanye hitam orang lain untuk menjatuhkan reputasi/nama baik kita oleh karena iri hati, dengki, dll. Bagaimana sikap kita? Melihat sikap Yesus menghadapi tuduhan, Ia malah berdiam tidak membela diri, tentu karena Ia harus menjalani penyaliban. Belajar dari para murid ketika menghadapi kecaman dan ancaman, mereka malah berdoa sapaya diberi keberanian untuk tetap memberitakan firman Tuhan dan berdoa agar Tuhan mengulurkan tangan dan menyatakan kuasa-Nya sebagai wujud pembelaan-Nya dan dengan cara-Nya (Kis. 4:27-31).  Marilah kita mengambil hikmah dari semua ini. Haleluya. (LH-Mei’14)

Busy In Silence

Tidak mengherankan bila di zaman ini kita akan melihat orang-orang yang sibuk dalam diam atau busy in silence. Di rumah makan, di dalam bis, di rumah sakit, di mall, di ruang tunggu pesawat, di rumah, dan lain-lain. Kesibukan ini bahkan mungkin terjadi di tempat tidur atau WC sekalipun. Meski sibuk tapi tidak berisik. Sesekali mungkin tersenyum dengan bibir yang terkulum.

Smart Phone dengan segala kecanggihan dan fitur yang dimilikinya ditambah koneksi internet telah menjadi sahabat yang meskipun benda mati tetapi mampu membuat banyak orang sibuk sendiri dan tidak menghiraukan orang lain. Ada yang sibuk ber-sms, internet dengan menggunakan beberapa situs jejaring sosial dan ada juga bermain game. Cobalah anda amati disekitar anda. Anda mungkin akan menemukan di satu angkot dimana para penumpang tidak bicara antara satu dengan yang lain, atau beberapa orang dalam satu meja makan tidak banyak interaksi, suami-isteri dan anak-anak yang miskin komunikasi meski sama-sama di ruang tamu sebab tiap orang telah sibuk dengan dirinya.

Dilema. Di satu sisi smart phone dan internet ini bisa sangat bermanfaat untuk memudahkan komunikasi, memperluas jaringan baik itu persahabatan maupun bisnis dan mendapatkan informasi yang berguna. Namun di sisi lain, alat-alat tersebut dapat berdampak buruk selain karena kebebasan mengakses situs-situs yang mungkin memberikan informasi yang menyesatkan dan situs-situs berisi pornografi yang dapat merusak generasi muda, juga kuat “mendorong” penggunanya menjadi individualis dan mungkin juga egois.

Lalu bagaimana? Manfaatkanlah smart phone dan internet ini dengan cerdas. Artinya jangan sampai diperalat olehnya. Menggunakan teknologi untuk menunjang berbagai aktivitas yang berdampak positif dan menguntungkan sembari tetap membatasi diri adalah merupakan tindakan yang cerdas. Selalu ingat bahwa waktu kita sangat berharga. Berinteraksi langsung dengan orang-orang disekitar kita akan lebih berguna dan berkwalitas dibanding dengan orang-orang di dunia maya. (LH, Mei -14)

KEJUJURAN BUKAN DARI JIN

Konon ayah George Washington (Presiden Pertama Amerika) adalah seorang penggemar tanaman. Diantara banyak tanaman yang dimiliki ayahnya, ada satu tanaman yaitu pohon ceri unggul yang sangat disukai oleh ayahnya. Pohon ini dibawa dari seberang lautan. Pada suatu hari, George bermain dengan kapak barunya membelah potongan kayu. Tanpa sengaja kapaknya mengenai pohon ceri kesayangan ayahnya sehingga terbelah dari atas ke bawah. Tentu saja George sangat terkejut.

Ketika ayahnya pulang, ayahnya terkejut dan berteriak “siapa yang menebang pohon itu?” Ia terdiam sesaat dan kemudian menjawab, “aku tidak dapat berbohong ayah, pohon itu terkana kapakku.” Ayahnya menatap tajam dan berkata, “kenapa kau menebang pohon itu?” George menjawab, “aku sedang bermain dan tidak sengaja mengenai pohon itu” sambil tertunduk dan meminta maaf kepada ayahnya. Ayahnya lalu meletakkan tangannya di bahu George dan berkata, “aku menyesal telah kehilangan pohon ceriku, tetapi aku senang bahwa kamu cukup berani untuk berkata jujur. Aku lebih suka kau berkata jujur dan berani daripada memiliki seluruh kebun ceri yang paling unggul.” George tidak pernah lupa apa yang dikatakan ayahnya sampai akhir hidupnya.

Di zaman yang penuh dengan kejahatan, kemunafikan dan cinta diri ini, tidak mudah menemukan orang-orang yang jujur. Banyak orang berprinsip “engkau jujur hancur, tidak jujur engkau mujur (beruntung)”. Mungkin saja memang terjadi dalam kehidupan manusia seperti prinsip tersebut, bila ia berada di tengah lingkungan orang-orang yang tidak juju atau ditengah orang-orang yang hanya mau mencari keuntungan dan kepuasan diri sendiri dengan menghalalkan segala cara, namun bila direnungkan lebih dalam, “ketidakjujuran” bila telah meluas dan membudaya, maka akan merugikan semua pihak karena akan saling menipu atau saling membohongi.

Tahukah anda bahwa kejujuran adalah sifat yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki oleh umat-umatNya? Sebab Tuhan membenci dusta sedangkan kejujuran adalah lawan dari dusta. Maka tidak heran kalau Kitab Amsal mengatakan bahwa Tuhan bergaul erat dengan orang jujur (Amsal 3:32). Lalu bagaimana seseorang dapat bersikap jujur? Pertama adalah takut akan Tuhan, menyadari bahwa kejujuran adalah kehendak Allah seperti Amsal 3:32 diatas (Bandingkan juga Amsal 14:2). Kedua adalah ketulusan. Orang yang tulus akan bertindak jujur (Amsal 11:3). Daud berkata, “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau” (Mazmur 25:21). So, Kejujuran tidak didapat dengan meminta dari seseorang untuk memberikannya kepada kita, apalagi memintanya dari Jin seperti yang ada di iklan televisi. (Apr-LH 14)

EXTRA PEDAS

Era ini ada banyak jenis makanan saji yang dijual di pasaran baik yang diproduksi oleh satu perusahaan maupun oleh perusahaan-perusahaan yang berbeda. Satu perusahaan memproduksi  banyak jenis makanan, tetapi ada juga beberapa jenis makanan yang sama tetapi diproduksi oleh perusahaan yang lain, tentu dengan merek yang berbeda pula.  Diantara banyak jenis  makanan tersebut, ada yang diberi satu istilah untuk menyatakan kekhususan produk tersebut, salah satunya yaitu “extra pedas”

Beberapa jenis makanan kemasan yang ada dipasaran yang disebut extra pedas, Keripik Extra Pedas, Kerupuk Extra Pedas, Sambal Extra Pedas, dll. Kita juga mungkin akan menemukan makanan olahan atau cepat saji yang dijual di rumah-rumah makan seperti Tahu Goreng Extra Pedas, Ayam Goreng Extra Pedas, Mie Extra Pedas, dll.

Digunakanannya label extra pedas, bukanlah semata-mata mau menunjukkan ke-khas-an makanan-makanan tersebut, tetapi juga berarti produk tersebut memiliki rasa LEBIH (dalam hal ini rasa pedas) diantara produk pedas lainnya. Rasa pedas yang lebih menggigit. Tentu saja untuk menghasilkan makanan extra pedas, maka diperlukan lebih banyak (extra) cabai atau bumbu pedas lainnya.

Bila anda ingin hidup anda “berasa” lebih, berkwalitas, hidup yang tidak biasa-biasa, maka diperlukan sikap yang extra dalam hidup anda.  Sikap extra itu adalah kesabaran dan ketekunan; tekun belajar, tekun bekerja dan tekun berdoa. Niscaya, anda tidak akan tatap di satu daun tangga, melainkan akan beranjak naik menuju puncak.  (LH-Apr 14)

SARA, JANGAN JADI PENGHALANG DEMI INDONESIA HEBAT

Pemilu 2014 untuk memilih legislative sudah berlalu. Seperti yang diprediksi banyak orang bahwa PDIP akan menjadi pemenang pemilu sekali pun partai ini tidak punya media tv yang mendukung partai ini untuk mengkampanyekan diri seperti beberapa partai lainnya. Tidak sedikit juga orang beranggapan bahwa kemenangan PDIP kali ini tidak terlepas dari adanya “Jokowi effect” yaitu popularitas Jokowi sebagai orang yang dianggap bersih; Jujur dan transparan, nasionalis, humanis dan tegas, yang diusung oleh PDIP sebagai calon presiden.

Menoleh beberapa bulan ke belakang, dimana ada AHOK sebagai mantan Bupati Belitung Timur dan DPR RI ketika disandingkan dengan Jokowi sebagai candidat wakil Gubernur adalah juga karena dikenal sebagai sosok yang bersih; Jujur dan transparan, nasionalis, humanis dan tegas. Meskipun banyak cara dimunculkan oleh pihak tertentu untuk menggagalkan mereka, termasuk issu agama dan etnis, tetapi akhirnya mayoritas pemilih DKI Jakarta menghantarnya mereka pada posisi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Rakyat Indonesia sudah sewajarnya lelah dengan keadaan yang ada sekarang. Korupsi yang masih terus merajalela. Toh, para koruptor dan pembuat masalah di negeri ini tidak memandang suka, agama dan ras. Justru SARA sering dimanfaatkan oleh oknum atau kelompok tertentu untuk kepentingan pribadi/golongan. Masih segar dalam ingatan kita bahwa tokoh dari partai berbasis agama justru terlibat korupsi yang tidak kecil. Pun yang terperangkap dengan “wanita”, kurupsi  di departemen agama, dll.

Mengacu pada pengalaman Ahok dan Jokowi kita melihat adanya kecenderungan masyarakat Indonesia sudah mulai sadar untuk tidak mempersoalkan SARA (Suku, Agama dan Ras) dalam memilih pemimpin mereka melainkan pada kepribadian dan sikap yang dimiliki oleh kandidat tersebut yaitu bersih; Jujur dan transparan, nasionalis, humanis dan tegas. Sikap seperti inilah yang sangat dibutuhkan bangsa ini; sikap sebagai pemimpin maupun sebagai anggota masyarakat supaya negeri ini semakin baik dan maju. Rakyat Indonesia harus mulai meninggalkan pola lama yang menghambat persatuan dalam membangun negeri karena adanya faktor SARA.  Potensi yang dimiliki oleh anak-anak bangsa harus dimaksimalkan untuk pembangunan bangsa dan negara Indonesia, tanpa harus mempertanyakan suka, agama atau ras mereka. (LH – Apr 14)

Wani Piro

“Wani piro?” mungkin kalimat tanya yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Kalimat dari bahasa Jawa yang arti hurufiahnya “berani berapa?” ini menjadi sangat terkena sejak digunakan menjadi tagline di iklan salah satu produk rokok.

Menurut beberapa sumber, pertanyaan “wani piro?” ini sebenarnya tidak selalu bermaksud tidak baik. Di dalam bisnis atau perdagangan sering digunakan, misalnya ketika terjadi tawar penawar atau penawaran suatu barang. “Wani piro?” bisa juga merupakan suatu “daftar harga yang harus dibayar” yaitu apa-apa saja yang harus dilakukan atau dikorbankan untuk menggapai sesuatu yang sangat didambakan atau dicita-citakan. Artinya baik atau buruknya pertanyaan itu tergantung spirit atau maksud yang ada dalam hati orang-orang yang menggunakannya.

Di dua iklan yang dimiliki produsen rokok seperti yang disebutkan diatas, seakan menyindir bahwa segala urusan, mesti ada “uang pelicin”nya, bahkan bukan hanya di dunia manusia namun sampai di dunia jin juga. Segala urusan akan menjadi lancar bila disertai dengan uang tambahan diluar yang seharusnya. Ini contoh spirit atau maksud yang salah dibalik penggunaan pertanyaan itu.

Dalam perkembangannya sekarang ini, “wani piro?” ternyata bukan lagi sekedar lelucon di iklan dalam sorotannya tentang issu korupsi tetapi sudah sering menjadi celotehan untuk banyak hal khususnya dalam menjawab atau meresponi sebuah permintaan. Mis: “Tolong ambilkan handuk itu!”, lalu dijawab “wani piro?”; “tolong antar saya ke pasar!”, “wani piro?”, dsb. Di jejaring sosial pun belakangan ini sering muncul “wani piro?” untuk menjawab iklan/status yang berkaitan dengan permintaan dukungan ini pada pemilu yang akan datang. Artinya bila mau dipilih, maka caleg itu diminta untuk membayar suara yang nanti akan diberikan pada pencoblosan nanti. Ini pun juga adalah spirit yang salah dibalik pertanyaan itu.

Dapat anda bayangkan bila spirit yang salah seperti ini menguasai kehidupan seseorang, maka segala sesuatu akan diukur dengan uang dan untung-rugi. Bagaimana dengan anda?

Dimana…Dimana…Dimana….

Seseorang mengetuk pintu rumah pak Ontel, ketika dibuka, betapa kagetnya pak Ontel karena di depan rumahnya berdiri seorang laki-laki dan kemudian berjoget dan bernyanyi.

Pak Ontel sempat berpikir bhw laki-laki ini adalah seorang pengamen. Tapi tak mungkin, pikirnya kemudian. Seorang pengamen tidak mungkin telanjang.

Dalam keadaan kaget dan bingung, Pak Ontel sejurus kemudian menutup pintu rumahnya dan langsung mengunci.

Dibalik pintu, pak Ontel berpikir sejenak, sepertinya dia mengenal  laki-laki itu. Hah… ingat sekarang, laki-laki itu adalah caleg yang pernah memberi dia uang supaya dia di dukung jadi legislative. Mungkin dia tidak lolos dan jadi stress….

Pantasan syair lagunya seperti itu……..

Seperti apakah syair lagunya?

“dimana…dimana… dimana…., dimana uangku semua…..rumahku terjual, hutangku menumpuk, istri dan anakku pergi……” (meniru lagu “alamat palsu”nya Ayu Ting-Ting).

Pesan : Orang yang hatinya bersih tahu mana yang patut dan benar. Jangan memilih caleg karena uang. Kalau anda cinta negeri ini, pilihlah yang benar-benar terbaik.

Matius 6:23: “jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu”

Mata rohani yang baik, bisa membedakan mana yang patut dan benar mana yang tidak.

ABSENSI

Menurut KBBI, kata “absen” berarti : tidak masuk (sekolah, kerja, dll), juga berarti tidak hadir. Sedangkan kata “absensi” adalah ketidakhadiran. Berdasarkan pengertian ini maka seharusnya buku absensi digunakan untuk mendata orang-orang yang tidak hadir atau tidak masuk, sedangkan untuk mendata orang-orang yang hadir /masuk mestinya digunakan istilah lain, misalnya “presensi”. Namun mungkin atas pemikiran agar efisien, maka secara umum buku absensi digunakan untuk mendata orang-orang yang absen dan yang hadir sekaligus dengan memberi tanda pada kolom yang disediakan.

Ketidakhadiran (absensi) seorang pelajar atau pun karyawan (kecuali untuk alasan khusus) sesungguhnya akan berdampak kerugian, baik kepada siswa/karyawan maupun kepada sekolah/perusahaan. Pentingnya kehadiran siswa di kelas adalah untuk mendapatkan pengetahuan lewat materi pembelajaran dan interaksi langsung dengan pengajar. Pentingnya kehadiran karyawan di perusahaan adalah untuk bekerja yang akan menghasilkan produk barang dan jasa, dimana karyawan akan mendapat upah dari pekerjaannya. Intinya, kehadiran atau presensi adalah keuntungan bagi siswa/karyawan dan sekolah/perusahaan.

Lalu bagaimana dengan absensi kita di dalam gereja (dengan peribadatannya)? Menurut saya ketidakhadiran atau kehadiran kita di gereja sebagai institusi juga akan berdampak keuntungan dan kerugian, baik bagi kita maupun gereja. Mengapa? Karena di gereja kita akan mendapat pengajaran Firman Tuhan, suka cita, kekuatan dan penghiburan dalam persekutuan dengan Tuhan dan jemaat Tuhan. Untuk gereja sendiri, kehadiran kita dalam wujud partisipasi aktif dalam peribadatan dan program (misi) gereja serta persembahan perpuluhan/ucapan syukur/kolekte akan berdampak positive bagi perkembangan gereja dalam mengemban pekerjaan Allah yang dipercayakan kepadanya. Hanya saja ada perbedaan yang mendasari kehadiran kita di dalam gereja dengan sekolah/perusahaan yaitu bahwa kehadiran kita di dalam gereja dengan peribadatannya bukan didasarkan atas untung-rugi, melainkan karena KASIH TUHAN. (LH Mar’14)

S 1461 AN

Tulisan diatas ditulis dengan huruf besar di kaca pintu belakang sebuah mobil angkot. Seperti biasa, saya akan selalu mencoba memikirkan arti/makna dari apa yang saya lihat atau temukan dimana saja saya berada, secara khusus hal-hal yang unik atau tidak umum. Dengan cara itu saya sering mendapatkan sebuah pengetahuan/hikmat atau berupa “benih” pengetahuan yang mungkin suatu saat akan menjadi pengetahuan baru ketika dihubungkan dengan hal-hal lain yang saya lihat atau temukan di lain waktu.

Pertama sekali saya mencoba membacanya dengan apa adanya, S-SATU-EMPAT-ENAM-SATU-AN, saya tidak menemukan sebuah arti yang saya mengerti dalam bahasa Indonesia. Kemudian saya coba membacanya dengan membaca angka sebagai solmisasi. S-DO-FA-LA-DO-AN, juga tidak menemukan arti.  Terakhir saya mengganti angka-angka dengan huruf yang bentuknya mirip; S-I-A-G-I-A-N. Hah…. Ini dia. Pasti yang punya mobil ini orang batak marga “SIAGIAN”  Benar atau tidak  tentu harus ditanyakan langsung kepada supir yang mengemudikan mobil ini. Namun, sangat besar kemungkinan bahwa tulisan itu adalah SIAGIAN.

Yang menarik untuk kita renungkan adalah bahwa dalam kehidupan ini terkadang kita akan menemukan hal-hal yang memiliki arti/maksud yang berbeda dari sekedar makna apa yang tampak. Sebuah arti/maksud yang hanya ditemukan jika dipikirkan/direnungkan lebih dalam. Sebutlah misalnya, persoalan, tantangan, penderitaan/kesengsaraan.  Rasul Paulus pernah menulis “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:3-5). Artinya bahwa di balik kesengsaraan yang mungkin suatu waktu diizinkan oleh Tuhan, memiliki maksud untuk menjadikan tekun, tahan uji dan pengharapan. (LH Mar’14)

KEKAGUMAN YANG BERWUJUD

Rasanya tidak berlebihan bila saya heran melihat rumah makan itu. Betapa tidak heran, baru pertama ini saya melihat di dinding sebuah rumah makan kas padang tergantung banyak sekali foto-foto Bung Karno sang Proklamotor Negara Republik Indonesia dengan berbagai macam ukuran. Bukan hanya di dinding tetapi juga di meja kasir yang ditutupi kaca, juga beberapa foto-foto kecil yang dibuat dalam satu bingkai besar. Memang tidak semua photo-photo itu asli, ada juga berupa poster dan berupa guntingan Koran lama.

Karena panasaran, saya mencoba mencari tahu ada cerita apa dibalik maraknya foto-foto bung Karno ini.  Saya mendekati seorang ibu yang duduk di meja kasir dan bertanya “wah disini banyak sekali foto bung Karno, saya jadi penasaran, apakah ada kaitan pemilik warung ini dengan bung Karno?” Lalu si ibu menjawab “enggak, senang aja mengoleksi fotonya”. “Yang mengoleksi si bapak atau ibu?” tanya saya lagi. “Uni” jawabnya (uni artinya kakak, maksudnya dirinya). Lalu dia bercerita bahwa dia suka memburu foto-foto asli dari bung Karno. Kebetulan abangnya juga ada tinggal di Blitar (tempat bung Karno dimakamkan), maka dia sering juga meminta abangnya untuk mencari foto asli. Dia bahkan rela membeli (membayar harga) asal dia bisa memiliki foto asli bung Karno.  “wah, ibu ini hebat” kata saya sambil pamit karena teman-teman sudah menunggu di mobil.

Bagi saya si ibu ini termasuk unik karena dia “memproklamirkan kepada dunia” kekagumannya dengan memamerkan banyak sekali foto-foto orang yang dikaguminya, dengan berbagai ukuran di rumah makan miliknya. Dan dia pun rela membayar harga untuk mendapatkan foto-foto asli dari sosok yang dikaguminya. Ada satu lagu rohani dimana liriknya terdapat kalimat “aku kagum dan terpesona….”yang sering dinyanyikan oleh umat Tuhan tentang karya Kristus Tuhan yang besar. Pun tidak jarang orang Kristen ditantang untuk menyatakan kekagumannya kepada Tuhan.

Benar, Yesus adalah pribadi yang sangat layak dikagumi lebih daripada manusia karena Dia telah menyelamatkan manusia dari dosa dan maut. Pertanyaannya sekarang adalah: tindakan apakah yang sudah kita lakukan sebagai wujud kekaguman kita kepada Tuhan?  Kalau untuk seorang Soekarno saja si ibu pemilik rumah makan itu mau “memproklamirkan” kekagumannya dan mau membayar harga, bagaimana dengan kita untuk Juruselamat kita? (LH, 03/2014)

HARUS BISA TEGA

Selalu memenuhi semua permintaan anak-anak oleh orang tua karena memiliki kemampuan financial (keuangan) yang baik adalah suatu tindakan yang salah. Mengapa salah? Karena tidak semua yang diminta oleh anak-anak itu adalah baik atau berdampak positif bagi mereka. Pun permintaan yang selalu dipenuhi akan menjadikan mereka ‘gampangan” dalam hidup. Kelak bila keadaan financial kurang baik, maka bisa menjadi masalah besar, mengingat kebiasaan yaitu selalu terpenuhinya semua yang mereka inginkan.

Contoh kecil saja. Permen dengan berbagai bentuk, warna dan rasa. Selain bentuk dan warnanya yang menarik bagi anak-anak, rasa manisnya pun akan membuat mereka selalu ingin mendapatkannya. Tetapi memberi perman yang banyak/berlebihan kepada mereka adalah tidak baik karena memiliki dampak merusak gigi, mengurangi nafsu makan yang dapat mengakibatkan kurang gizi dan juga dapat mengakibatkan obesitas karena kalori yang tinggi pada permen di tumpuk dalam bentuk lemak. Permen juga termasuk junk food atau “makanan sampah” yang minim gizi.

Banyak yang hal yang mungkin diminta oleh anak-anak kepada orang tua yang sebenarnya tidak baik untuk mereka miliki. Namun seringkali atas dasar kasih, seorang tua selalu menuruti apa yang diminta oleh anak-anak, sehingga ada akibat-akibat yang buruk dapat terjadi bagi mereka. Maka sebaiknya sebagai orang tua perlu memilliki “sikap tega” untuk tidak memenuhi semua permintaan anak-anak mereka. Biarkan mereka merengek, menangis atau bila perlu diajar seperlunya demi kebaikan mereka.

Dalam dunia pendidikan, seorang guru perlu memilki sikap tega untuk tidak memberi nilai kepada anak yang malas mengerjakan tugas rumah, tega memberi hukuman untuk murid yang bolos dan nakal supaya ada efek jera. 

Ketika sebagian masyarakat lebih suka mengamen dan meminta-minta oleh karena kemalasannya, sebagai masyarakat yang berpikir maju, perlu bersikap tega tidak memberi agar  mereka belajar berusaha dan berjuang dalam hidup, tidak bermalas-malasan dan tidak bergantung kepada orang lain.

Sikap tega memang terkesan buruk, tetap sesungguhnya tidak selalu buruk. Terkadang hal itu diperlukan untuk masalah-masalah atau keadaan-keadaan tertentu

MENGAPA HARUS RUMIT ?

Suatu hari saya menulis status di wall facebook saya seperti ini “terkadang kita sendirilah yang membuat hidup kita rumit”. Kalimat ini terinspirasi dari pengalaman saya ketika mengamati perilaku atau kebiasaan orang-orang di tempat saya bekerja.   Salah seorang  yang tidak luput dari pengamatan saya adalah seorang  asing (bule) sebutlah Mr. Bigman (bukan nama sebenarnya) karena postur tubuhnya yang tinggi besar. Mr. Bigman ini memimpin sebuah departemen di proyek yang sedang kami kerjakan.

Mr. Bigman ini sudah cukup tua, mungkin  usianya, sekitar 65-70an tahun, namun walau sudah tua dia masih terlihat cerdas dan penuh semangat.  Setiap pagi dia tidak melewatkan waktu untuk senam di lapangan depan kantor meskipun gerakannya yang tidak lagi fleksible karena faktor usia. Lalu apa yang unik dari Mr. Bigman ini?

Yang unik dari Mr.Bigman ini adalah setiap hari dia menggunakan pakaian (celana dan kemeja) yang sama. Saya katakan sama karena baik bentuk dan warnanya sama.  Jadi kalaupun dia mungkin memiliki dua atau lebih pakaian yang dipakai kerja, yang jelas bentuk dan warna yang dia pakai itu persis. Sangat mungkin dia hanya menggunakan pakaian yang sama, karena dia bisa mencucikan sekaligus mengeringkan dengan cepat di hotel tempat dia menginap yang disediakan oleh perusahaan.

Sekitar 15 tahun yang lalu juga saya punya atasan seorang perempuan Inggris. Orang ini pun juga termasuk unik karena dia selalu memakai pakaian hitam, baik celana maupun kemeja/kaos selama proyek berlangsung  kira-kira  1,5 tahun. Dan pakain hitammnya pun cuma 2-3 pasang yang selalu berganti.

Dari kedua orang ini saya ambil satu hikmat yaitu a simple lifestyle (gaya hidup yang simple/sederhana). Mereka tidak mau direpotkan dengan berbagai macam model pakaian, pun tidak memikirkan persepsi negative orang lain kepada mereka karena menggunakan pakaian yang itu-itu saja setiap hari. Bukankah manusia pada umumnya sering disibukkan dengan pakaian yang akan dipakai?  Mereka berusaha berpenampilan terbaik dengan pakaian bermerek terkenal, pakaian-pakaian yang mahal dan selalu ikut model terbaru. Sudah tentu kebiasaan itu  akan mengakibatkan biaya hidup yang besar.

Hidup menjadi rumit karena tidak jarang juga orang-orang memaksakan diri untuk memiliki banyak pakaian yang bagus-bagus meski penghasilannya tidak terlalu besar. Apalagi dikota industri  seperti Batam, meng-kredit pakaian secara berkesinambungan sangat banyak terjadi. Alhasil setiap bulan gaji yang mereka dapatkan harus terpotong.

Hidup menjadi rumit, seringkali karena kita yang menjadikannya rumit.

BKB (Bau Ketek Berat)

Entah mau dibilang sial atau kurang beruntung, yang jelas pengalaman kemarin malam di tukang pangkas perlu jadi  bahan renungan.  Betapa tidak, selama dipangkas, saya harus menahan aroma yang “acem” alias bau ketek yang semerbak dari body si tukang pangkas. Bau yang tak sedap ini sungguh menyiksa.  Rasanya mau cepat-cepat selesai dan langsung cabut. Entahlah, mungkin si bapak ini tidak mandi dari pagi.

Bau Ketek ini memang tidak memandang orang, mulai dari anak-anak sampe kakek-kakek. Meskipun mungkin bau ketek anak-anak tidak setajam bau ketek orang dewasa tapi tetap aja “acem” dan mengganggu kenyamanan hidung bila orang yang bau ketek itu ada di dekat kita. Bau ketek juga tidak memandang status dan jabatan; tukang sapu, status, guru, manager, presiden dan siapa saja bisa mengalaminya.

Beberapa tahun lalu saya juga punya atasan orang bule yang baunya luar biasa. Jangankan mendekat ke dia, masih di pintu ruangannya saja baunya sudah menyengat.  Beruntung dijaman teknologi yang sudah canggih ini, kita tidak harus selalu bertemu untuk berkomunikasi dan memberikan laporan, karena sudah bisa menggunakan telp, email dan lain-lain. Lalu ada juga seorang ibu guru yang saya kenal juga punya kasus BKB yang sama.  Hm.. kebayang kalau-kalau muridnya tidak bisa konsentrasi belajar karena serangan bau “acem” dari si ibu guru.

Menemukan orang-orang dengan kasus BKB seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan dalam benak kita.  Apakah dia tidak mencium BKB-nya sendiri sehingga tidak berpikir bahwa orang lain akan terganggu dengan aroma tidak sedap itu? Bila dia mencium bau keteknya pastilah ada usaha untuk mengatasinya.  Mungkin dengan menggunakan Deodoran, Bedak BB atau memeriksa ke medis bila usaha-usaha yang dilakukan dengan Deodoran atau Bedak BB tidak membuahkan hasil.

By the way, yang mau saya sampaikan sebenarnya lewat tulisan ini adalah tentang keberanian. Loh, apa hubungannya antara bau ketek dengan keberanian? Ada.  Seringkali mungkin kita tidak berani atau terlalu sungkan untuk mengatakan terus terang bahwa seseorang itu memiliki bau ketek berat. Kita takut orang tersebut tersinggung dan mungkin marah kepada kita.  Namun sesungguhnya, memberitahunkan hal kepada yang bersangkutan justru akan menolong atau membawa hal yang positive kepada mereka.

Contoh, seandainya saya berterus terang kepada tukang pangkas bahwa bau keteknya sungguh mengganggu dan bisa mempengaruhi pelanggannya, maka walaupun keterusterangan ini akan menyinggung perasaannya namun pada akhirnya dia akan berterima kasih akan hal itu, karena orang lain khususnya pelanggannya tidak lagi menjauh atau meninggalkannya dan itu mempengaruhi penghasilannya.

Prinsip ini juga bisa kita aplikasikan bukan hanya menyangkut  bau ketek, tetapi juga untuk hal yang lain menyangkut sikap dan perbuatan yang perlu diperbaiki.  Memang tidak mudah menyampaikan kekurangan orang lain untuk diperbaiki, pun tidak mudah untuk menerima bila orang lain menyampaikan kekurangan kita. Namun saya mengingat firman Tuhan berkata “lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyai” (Ams. 27:5).

Ayo.. Berani, sampaikan dengan hikmat dan cara yang bersahabat.

Sejarah Gereja Pentakosta Indonesia Pulau Batam

Gereja Pentakosta Indonesia mulai berdiri di pulau Batam pada tahun 1987. Perintisan pelayanan dimulai oleh Pdt. DJ. Nadeak, S.Th., yang kala itu belum menjadi seorang pendeta.   Kerinduan hatinya untuk mengabarkan Injil ditunjukkan dengan penuh semangat menjangkau jiwa-jiwa .  Pdt. Dj. Nadeak, S.Th bersama istri dan beberapa orang yang telah yang telah dijangkau kemudian mengadakan ibadah perdana pada tanggal 01 Februari 1987 di rumah Keluarga bapak Sirai/Br Gultom yang berlokasi di perkampungan teluk Jodoh.

Satu bulan setelah ibadah perdana tersebut, tempat ibadah yang menjadi pos pelayanan itu kemudian dipindahkan ke rumah Pdt. Dj. Nadeak, S.Th di blok VI Nagoya. Tindakan ini diambil untuk lebih memberi kenyamanan dan lebih mudah dijangkau, karena tempat ibadah sebelumnya masih kumuh dan becek.

Pada perjalanan pelayanan ini,  semakin banyak jemaat yang bertambah baik itu jemaat yang dijangkau lewat penginjilan maupun jemaat Gereja Pentakosta Indonesia dari daerah lain yang merantau ke Batam.  Jemaat sangat antusias dan bersemangat meskipun tempat ibadah jauh dari rumah masing-masing dan sarana transportasi yang masih minim pada masa itu.

Untuk lebih memberikan kepastian hukum bagi pelayanan yang baru ini, pada bulan April 1987 Pengurus Pusat Gereja Pentakosta Indonesia yang berkedudukan di Pematang Siantar memberikan Surat Keterangan (SK)  Pengangkatan kepada Pdt. DJ. Nadeak, S.Th (waktu itu belum menjadi pendeta) sebagai Pimpinan Sidang (Gembala) Gereja Pentakosta Indonesia Pulau Batam.

Pada bulan Februari 1991, dengan mengingat dan mempertimbangkan bahwa organisasi ini telah terbentuk menjadi sebuah wadah gereja yang resmi, maka Pdt. Dj. Nadeak, S.Th. bersama dengan Pdt. AC. Sihombing (Alm) mendaftarkan gereja ini ke Kanwil Departemen Agama Provinsi Riau di Pekan Baru, Pada masa ini tempat ibadah telah dipindahkan dari  rumah Pdt. DJ. Nadeak, S.Th. ke bangunan baru yang terbuat dari papan di tanah garapan di deaerah Batu Batam.  Kemudian pada tahun 1999 gereja ini pindah ke tempat baru yaitu lahan yang resmi di Sagulung dan menempati bangunan yang permanen sampai sekarang.  Gereja ini kemudian disebut Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Sagulung, yang berarti Gereja Pentakosta Indonesia Jemaat Sagulung.

Dengan semakin bertambahnya jemaat seiring bertambahnya penduduk pulau Batam dari tahun ke tahun yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti bertambah banyak perusahaan baru di Batam, maka Gereja Pentakosta Indonesia Pulau Batam telah berkembang dan melebarkan sayap pelayanan diberbagai tempat.

Bulan Oktober 1992, pos pelayanan di  Batu Aji dimulai dan kemudian menjadi Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama dan kepemimpinan diserahkan kepada Pdt. B.F. Sihombing, yang sebelumnya adalah Guru Injil  dibawah kepemimpinan Pdt. DJ. Nadeak, S.Th. Pada tahun 1996 kemudian berdiri Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Baru yang kepemimpinannya diserahkan kepada Pdt. S. Situmorang.  Dari ketiga sidang-sidang ini kemudian melebarkan sayap di berbagai tempat antara lain: GPI Sidang Bengkong, GPI Sidang Tiban, GPI Sidang Tanjung Uncang, GPI Sidang Punggur, GPI Sidang Bumi Agung, GPI Sidang Sei Binti, GPI Sidang Pasir Indah, GPI Sidang Simpang Dam, dan beberapa sidang lainnya.

Dan pada tahun 2001 Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama melebarkan sayap pelayanan dengan membuka Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi yang dipimpin oleh Pdt. P. Pasaribu, S.Th.

 

Sejarah Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi

            Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi adalah hasil pengembangan pelayanan Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama. Dengan bertambah banyaknya jemaat di Sidang Batu Aji Lama yang tinggal di daerah Tembesi, dan oleh karena masalah tranportasi dan keadaan ekonomi jemaat waktu itu maka dimulailah pos pelayanan di Tembesi supaya dekat kepada jemaat disekitar. Pembukaan pos pelayanan ini sekaligus untuk bertujuan untuk menjangkau jiwa-jiwa baru.

Ibadah perdana diadakan pada tanggal 11 Februari 2001 sore hari yang dihadiri oleh tiga-empat keluarga ditambah sekitar sepuluh orang pemuda dan pemudi yang sudah berkomitmen akan beribadah di pos pelayanan ini, dan juga diikuti oleh beberapa orang hamba Tuhan dan jemaat dari Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama. Kira-kira satu bulan lamanya ibadah di pos pelayanan ini diadakan sore hari yang dilayani oleh hamba-hamba Tuhan dari Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama. Setelah itu ibadah diadakan pada pagi hari dan Pdt. P. Pasaribu, S.Th. (dulu masih Guru Injil) ditempatkan untuk memimpin pos pelayanan ini, dan pos pelayanan ini diresmikan menjadi Sidang yaitu Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi.

Untuk membantu pelayanan di sidang baru ini, pengurus Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama juga menempatkan dua orang hamba Tuhan yaitu Sintua M. Situmorang dan Sintua T. Manurung.

Sidang ini berkembang pesat seiring berkembangnya kota Batam dan semakin banyaknya penduduk. Jemaat Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi terus bertambah. Oleh karena itu pada bulan Juni 2001 atas pertimbangan kebutuhan pelayan maka diangkatlah seorang jemaat yaitu bapak L. Hutabalian menjadi sintua dan dua tahun kemudian yaitu tahun 2003, bapak B. Sitompul diangkat menjadi Sintua dan Sintua M. Situmorang diangkat menjadi Guru Injil.

Perkembangan pelayanan Sidang Tembesi ini mengharuskan bangunan awal yang hanya 8 m X 10 m diperpanjang sampai tiga kali selama kurang waktu 7 tahun menjadi 8 m X 16 m. Sejak itu tidak ada lagi perombakan bangunan gereja karena lahan yang tidak memungkinkan. Oleh karena itulah pada hari-hari besar ketika hampir semua jemaat hadir, sebagian jemaat ada yang berdiri.

Puji syukur kepada Tuhan oleh anugerah-Nya Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi sudah mendapatkan lahan menetap dari Otorita Batam dan sedang dibangun gedung baru yang permanen yang memasuki tahap ke tiga yaitu pengatapan. Luas bangunan ini 14 m X 28 m diatas lahan 30 m X 50 m.

Jumlah jemaat pada tahun 2012 terdiri dari 115 KK, pemuda dan pemudi yang terdaftar 60 orang, sekolah minggu kurang lebih 50 orang, ditambah simpatisan. Setiap ibadah raya minggu ada sekitar 150 orang jemaat yang hadir tidak termasuk anak sekolah minggu.

LOVE, SEX AND DATING

Tidak sedikit orang Kristen khususnya di negara-negara asia termasuk Indonesia yang menganggap tabu untuk membicarakan masalah Cinta, Seks dan Kencan, terutama mengenai seks, yang dipengaruhi budaya atau adat ketimuran.  Keterbukaan mengenai seks memang semakin berkembang seturut dengan meningkatnya pemahaman akan pentingnya membicarakan ini untuk mengantisipasi kejadian buruk bagi kalangan remaja dan pemuda di tengah arus globalisasi di segala bidang terutama di bidang tekhnologi dan informasi yang berkembang dan mudah di akses yang dapat memberikan informasi-informasi negatif dan tidak terarah sehingga menyesatkan kalangan remaja dan pemuda.
LOVE (CINTA)

 

Menurut wikipedia, Cinta adalah sebuah  emosi dari kasih sayang yang kuat. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Penggunaan kata cinta ini bisa juga merupakan wujud perasaan terhadap keluarga, teman-teman, kepada seseorang dalam arti romantis/asmara, keinginan nafsu, kasih sayang, rasa nasionalism dan patriotisme, dll. Sedangkan kata LOVE (bahasa Inggris) yang mempengaruhi makna cinta dalam masyarakat Indonesia, dapat juga merupakan rasa suka terhadap sesuatu (makanan) atau rasa senang untuk melakukan sesuatu tindakan.

Di Indonesia kita mengenal beberapa istilah yang menyangkut perasaan simpati yaitu Cinta, Sayang, Suka, Kasih yang tujuan penempatannya sering sulit dibedakan. Sedangkan dalam istilah Yunani perasaan simpati ini ada yang disebut:

AGAPE, yaitu kasih yang sejati. Di dalamnya terkandung, sabar; murah hati; tidak cemburu; tidak sombong; melakukan hal-hal yang sopan; tidak dendam; kejujuran, perhatian, mengerti, pahami dan memahami orang lain; kesetiaan; percaya; komitmen pada ucapan dan janji.  Agapa disebut juga the greatest love (kasih yang agung) dan Unconditional Love (Kasih yang tidak bersyarat).

STORGE, digunakan dalam hubungan kekerabatan keluarga, marga, ikatan darah.

PHILIA, biasanya dipakai dalam hubungan sosial dan persahabatan sehari-hari; diucapkan antar sesama sahabat atau teman karib. Tapi, di dalamnya juga terkandung saling memperhatikan, keterbukaan, perhatian dan setia kawan; toleransi serta solidaritas.

EROS, biasanya difungsikan dalam hubungan dengan ketertarikan karena daya tarik fisik kepada lawan jenis. Eros lebih cenderung kepada romantisme/asmara dan hawa nafsu.

 

Cinta Dalam Perspektif Umum

 

Mungkin saudara pernah mengalami, ketika saudara bertemu dengan seseorang yang berlawan jenis. Karena dia cantik secara fisik dan berkepribadian yang sesuai dengan selera saudara lalu saudara merasa telah jatuh cinta kepadanya. Ketika saudara bertemu dengan dia, jantungmu berdetak cepat dan saudara rada sulit bicara seperti keselek makanan di leher, atau ketika saudara kesepian dan saudara merindukan dia ada disamping saudara, lalu saudara menyebut itu cinta.

Banyak orang mengatakan bahwa jatuh cinta itu sejuta rasa. Orang yang jatuh cinta memiliki ciri-ciri:

  1. Ada keinginan untuk mengenal seseorang
  2. Suka curi-curi pandang
  3. Jantung berdetak lebih kencang ketika seseorang itu melihat kamu.
  4. Salah tingkah
  5. Bisa jadi suka melamun dan menghayal yang indah-indah tentang dia
  6. Jadi lebih suka berias dan tambil lebih beda dari sebelumnya dan pake minyak wangi
  7. Bolak-balik lihat cermin
  8. Selalu memuji segala hal tentang dia
  9. Pura-pura minjam sesuatu dari dia padahal supaya ada kesempatan bertemu.
  10. Nggak mempedulikan kekurangan dia.
  11. DLL

Sebenarnya semua itu timbul adalah karena ada rasa suka atau ketertarikan dalam diri kita, dan hal itu diartikan sebagai cinta.

Menurut Julianto Simanjuntak seorang pakar konseling, banyak orang menikah dengan alasan saling mencintai, namun mereka memahami cinta sebagai psychological phenomena. Artinya, hanya karena kebetulan ada perasaan ketertarikan secara seksual misalnya wajah cantik, ganteng atau ketertarikan secara meteri misalnya kekayaan atau kepandaian.

 

Cinta Dalam Perspektif  Alkitab

Di dalam Alkitab terdapat beberapa kata cinta dalam arti ketertarikan “Annon bin Daud jatuh cinta kepada .. (Tamar)” (2 Sam. 13:1), kepatuhan/kehormatan (hukum),  patriotisme, kecenderungan hati (cinta uang, cinta , dustua kejahtan, dll).  Namun cinta dalam arti memberikan diri bagi orang lain mendomonasi makna cinta dalam Alkitab.

Manusia zaman sekarang ini seringkali terobsesi dan terarah ke dirinya sendiri sehingga dia mengira bahwa mencintai seseorang sama artinya dengan menerima sesuatu dari orang itu. Padahal esensi dari cinta adalah “memberi”. Bahwa kita mencintai seseorang bukan karena mengharapkan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tetapi karena kita ingin memberikan.

SEKS

Meskipun banyak orang yang menganggapnya tabu, namun seks sebenarnya adalah anugerah Tuhan yang luar biasa bagi umat yang diciptakannya. Seks itu sendiri adalah bahagian dari ciptaan Allah dalam diri manusia yang dijadikan-Nya itu. Melalui dorongan seksual itu orang melakukan hubungan badan dan melahirkan keturunan yang akan memenuhi bumi (Kej. 1:28). Seks bukanlah dosa, tetapi perlakuan manusia dalam hal seksual itu yang berdosa bila dilakukan secara tidak benar.

Seks (Sex) sebenarnya berarti jenis kelamin. Seksual adalah hal yang berkenaan dengan seks (jenis kelamin), berkenaan dengan perkara persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan seksualitas adalah ciri, sifat, atau peranan seks, dorongan seks, kehidupan seks. Namun kalau kita menyebut seks dalam materi ini bukan sebatas jenis kelamin tetapi juga hal-hal yang berhubungan dengan seks itu sendiri.

 

Seks Dalam Perspektif  Alkitab

 

Firman Tuhan mengatakan “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka” (Kej 1:27).  Setelah penciptaan dilakukan, Allah melihat bahwa “semuanya itu baik” (Kej 1:12,25). Ketika manusia diciptakan oleh Allah, Tuhan juga menciptakan seks dalam diri manusia itu yaitu alat seks dan keinginan serta kebutuhan akan seks itu sendiri.

Seksualitas manusia yang diciptakan Tuhan adalah bagian dari rencana Allah agar terjadi multiplikasi manusia di bumi (beranakcucu dan bertambah banyak) lewat hubungan intim dalam pernikahan yang kudus seperti diekspresikan dalam Kej 2:24: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”.  Ini mengacu pada penyatuan tubuh, jiwa, dan roh yang utuh pasangan yang telah menikah.  Menjadi ‘satu daging’ juga mengambarkan tujuan berhubungan seksual yang bukan hanya untuk memperoleh keturunan (prokreasi) melainkan juga memenuhi kebutuhan emosional untuk mencapai kesatuan (psikologi).

Karena seks itu kudus adanya dalam perspektif Alkitab, yang terwujud dalam hubungan yang kudus pula yaitu melalui pernikahan kudus, maka seks diluar nikah adalah pelanggaran terhadap prinsip Alkitab. Seks diluar nikah termasuk dalam percabulan. Rasul Paulus nyatakan :”Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi diluar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri” (I Kor 6:18).

Selain karena faktor dosa, seks pra-nikah akan menyebabkan pelaku dihantui perasaan bersalah, kemungkin dapat mempengaruhi pikiran  sehingga muncul keinginan untuk mencoba lagi (ketagihan). Secara psikologis dapat terganggu dimana satu sisi si pelaku tidak sejahtera karena perasaan bersalah namun pada sisi yang lain muncul keinginan untuk mencoba lagi.  Hal itu terjadi karena pengalaman pertama melakukan akan meninggalkan kesan yang dalam.

 

DATING (KENCAN)

 

Kencan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berjanji untuk saling bertemu disuatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.  Tentu yang bertemu adalah seseorang dengan pacarnya, atau dengan seseorang yang lain yang sedang dalam pendekatan menjadi pacar. Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai kencan, mari kita lihat mengenai pacaran.

 

Pacaran

Sebenarnya masalah pacaran tidak ada dalam alkitab.  Bentuk hubungan sebelum menikah (pranikah)  yang dikenal adalah hubungan pertunangan.  Kalau kita meneliti sejarah di masa lampau sebutlah 70 tahun lebih yang lalu dalam konteks ketimuran, masalah pacaran tidak begitu dikenal karena perkawinan biasanya diatur oleh pihak keluarga atau orang tua kedua belah pihak dengan cara menjodohkan.

Meskipun kedua orang yang sudah dijodohkan, mereka tidak leluasa untuk berkencan, bahkan ada juga yang baru pertama sekali bertemu pada saat acara pernikahan segera berlangsung.  Jadi berpacaran sebenarnya adalah konsep masyarakat modern. Pada masyarakat modern terjadi perubahan gaya hidup dan pola berpikir sehubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi . Pergaulan yang semakin terbuka dan berkembang memunculkan pola-pola baru, baik dalam berpikir maupun bertindak sehingga hubungan-hubungan yang terjalin bisa menjurus kepada persahabatan yang intim atau menjurus kepada hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan (pacaran) yang didasari oleh ketertarikan  (perasaan suka) secara seksual, mis.karena wajah cantik, ganteng, dan bisa juga karena ketertarikan akan hal lain seperti kekayaan, kepandaian, kepribadian yang baik, dll

Perkembangan  jaman  tidak bisa terbendung. Berpacaran sebelum menikah pun sudah seperti sebuah kebutuhan. Tentu tidak masalah bila harus seperti itu, yang penting dalam berpacaran harus memiliki tujuan positif dan mengerti batas-batas yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.  Berpacaran seharuslah bertujuan untuk pernikahan dan tetap menjaga kekudusan.

Perlukan Orang Kristen Berkencan ?

 

Dalam sebuah artikel dikatakan bahwa orang orang kristen yang lajang perlu berpacaran sebelum memasuki pernikahan. Melalui kencan dalam berpacaran akan berguna untuk:

a)      Mengenal sifat, kebiasaan dan corak kepribadian satu dengan yang lain. Hal itu diperlukan agar kita menyadari dan memahami kelebihan dan kelemahan yang ada pada pasangan masing masing sebelum saling menerima.

b)      Belajar bagaimana berhubungan dengan baik, belajar mengembangkan kemampuan berkomonikasi.

c)      Melatih diri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai pasangan dan mencari tahu tentang apa yang Tuhan dari hubungan itu.

d)     Belajar untuk membuka hati, berbagi perasaan dengan perasaan dengan pasangannya sebagai latihan menghadapai permasalahan cecara bersama sama.

e)      Untuk mencintai dan dicintai dengan belajar untuk saling member dan menerima.

f)       Untuk menikmati masa masa yang indah bersama orang yang dikasihinya dalam arti yang positif.

 

Kencan Yang Salah

 

“Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” ( 2 Timotius 2:22).

Kencan yang salah adalah bila mengarah atau berorientasi kepada seksual.  Nafsu orang muda berbicara tentang hasrat/keinginan yang tidak terkontrol. Memang masa muda adalah masa-masa yang sangat labil. Banyak orang menjalaninya dengan penuh rasa ingin tahu dan ingin bertualang. Bila tanpa pengawasan dan bimbingan yang baik, banyak orang muda yang akhirnya terjatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.  Karena itu Rasul Paulus mengatakan kepada Titus “Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal (Titus 2:6)

Mungkin banyak orang muda berpikir bahwa kencan dengan berpegangan tangan, membelai, memeluk, berciuman adalah hal yang biasa. Namun hal itu dapat menimbulkan rangsangan seksual yang mengarah kepada tingkat yang berbahaya.

Duvall, E.M & Miller, B.C (1985) mengatakan bahwa bentuk prilaku seksual pranikah mengalami peningkatan secara bertahap. Adapun bentuk – bentuk prilaku seksual tersebut adalah.

  1. Touching (Berpegangan tangan, berpelukan)
  2. Kissing (Berkisar dari ciuman singkat dan cepat sampai kepada ciuman yang lama dan lebih intim).
  3. Petting (Menyentuh atau meraba daerah erotis dari tubuh pasangan biasanya meningkat dari meraba ringan sampai meraba alat kelamin).
  4. Sexual Intercourse (Hubungan kelamin atau senggama)

Berdasarkan tahapan-tahapan ini, dapat disimpulkan bahwa hubungan kelamin (senggama) tidak serta merta dilakukan tetapi melalui tahapan rangsangan. Ransangan seksual yang terus menerus akan menciptakan dorongan biologis yang terus memuncak. Ketika dorongan seks menggebu-gebu, kedewasaan, kecerdasan, dan pendirian-pendirian serta iman seringkali tidak berfungsi.

Karena itu, jagalah dirimu supaya tidak terjerumus kedalam dosa seksual. Efesus 4:27 mengatakan ”janganlah beri kesempatan pada iblis” sebab dengan kita membuka celah berarti kita telah memberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah kehendaki. “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan bermabuk-mabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati” (Roma 13:13).

Haleluya.

.

08-09-12

CATATAN (BUKAN) MISTERIUS

Saya termasuk orang yang suka membuat catatan-catatan kecil dari hasil pengamatan kemana saja saya pergi. Dalam acara-acara ibadah atau seminar atau sedang berjalan atau duduk entah dimana, ketika saya melihat, merasakan dan mendengar sesuatu, seringkali ada muncul tiba-tiba dalam pikiran saya sesuatu yang saya anggap unik, lucu, aneh, lebay, tidak benar, dll dan kemudian mencatatnya dalam buku catatan kotbah saya. Nah, ketika mencatat itu saya kadang menggunakan bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Batak atau percamburan dari bahasa-bahasa itu.

Catatan-catatan itu saya buat judulnya Intermezzo. Mengapa saya namai intermezzo? Karena saya terpikir untuk menjadikannya sebagai “bumbu” kotbah supaya kotbah tidak tegang dan ada humornya. Namun kenyataannya saya justru jarang menggunakannya sebagai bumbu kotbah. Jadi di buku catatan itu saya tulis “Intermezzo 1”, “Intermezzo 2” dan seterusnya.

Selain sesuatu yang saya anggap unik, lucu, aneh, lebay dan tidak benar yang muncul dalam pikiran saya untuk dicatat, tidak sedikit juga muncul yang sifatnya “wisdom” (hikmat) yang memberi pengetahuan, semangat dan kekuatan. Contohnya, ketika beberapa hari yang lalu saya membaca beberapa artikel mengenai cinta (kasih), untuk kesekian kalinya saya menemukan dan membaca kembali mengenai kasih Allah yaitu kasih AGAPE sebagai kasih yang tidak bersyarat (Unconditional Love). Lalu malamnya ketika saya melayani di ibadah pemuda, tiba-tiba teringat kembali mengenai kasih tak bersyarat ini lalu tiba-tiba terpikir oleh saya, bila kita selalu memiliki “Unconditional Love” dari Tuhan maka seharusnya kita memiliki “Unconditional Happy” atau suka cita yang tidak bersyarat. Maka memang tidak salah bila Rasul Paulus mengatakan “bersukacitalah senantiasa” (Flp. 4:4, 1 Tes. 5:16).

Jadi di dalam buku catatan kotbah saya saya tulis “As I have unconditional love, so that I sopposed to have unconditional happy”

Beberapa catatan-catatan kecil saya yang rada lucu antara lain:

“Pengkotbah bangga telah berhasil menyentil banyak orang”

Ini saya tulis karena pernah dalam suatu ibadah saya memperhatikan ekspresi senang/bangga dari si pengkotbah karena dia banyak menyentil.
“Seseorang yang sudah lama di Jakarta, lupa bahasa batak. Mandok “saur matua” menjadi “sambor matua””

Ini saya tulis ketika suatu saat sepupu saya yang sudah lama tinggal di Jakarta menelepon saya dengan menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa batak. Dia mengatakan bahwa mamanya itu sudah “sambor matua”. Tentu saya saya terbahak-bahak. Lalu menuliskannya di buku catatan kotbah saya.

Suatu ketika dalam sebuah ibadah ada kejadian yang agak lucu. Mungkin tidak banyak orang yang memperhatikan tetapi saya perhatikan. Waktu itu  MC tidak menguasai lagu yang dibawakannya. Jadi dia lebih banyak diam tapi tubuhnya tetap bergerak. Memahami keadaan itu, seorang pemudi (singer) yang kebetulan bertugas menghandle projektor (projektor tempatnya disamping menghadap altar) sepertinya berusaha melihat ke MC sambil menyanyi dengan mengekspresikan mulutnya lebih lebar supaya MC melihat dan mengikuti ekpressi mulutnya. Tetapi ternyata MC tidak memperhatikannya. Melihat keadaan itu, saya jadi tersenyum karena merasa lucu, lalu saya tulis di buku catatan kotbah saya:

“MC ‘ngongong’ karena tidak menguasai lagu. Seorang pemudi ‘dipatalak babana’ supaya MC mengikutinya” Dan ternyata MC tidak memperhatikannya.

 

06-09-12

KATA SAMBUTAN MEWAKILI WISUDAWAN/TI SEKOLAH TINGGI TEOLOGI – BASOM

Pertama-tama marilah kita haturkan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, Bapa dan sahabat sejati, atas perkenananNya kita dapat hadir di tempat ini dalam acara wisuda perdana stratum satu Theologia dan Pendidikan Kristen – Sekolah Tinggi Teologi Basom, di hari yang berbahagia ini.

Yang saya hormati:

  • Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Kementerian Agama RI dalam hal ini diwakili oleh Direktur Pendidikan Tinggi Teologi, bapak Drs. Yan Kadang, M.M.
  • Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam, bapak Drs. Zulkifli Aka, M.Sc.
  • Ketua Yayasan Bina Ahlak Mulia, bapak Pdt. Boyke Turangan, M.Th.
  • Global Partner selaku mitra kerja Sekolah Tinggi Teologi Basom, ibu Deborah Kim, M.A.
  • Para Pemimpin Sekolah Tinggi Teologi
  • Para Pemimpin Gereja dan Lembaga Gerejawi
  • Seluruh keluarga wisudawan – wisudawati
  • Adik-adik mahasiswa dan seluruh hadirin yang berbahagia

Izinkan saya mewakili wisudawan-wisudawati mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Bina Akhlak Mulia yang mewadahi Sekolah Tinggi Teologi Basom, dan Sekolah Tinggi Teologi Basom yang memberikan kesempatan kepada kami semua mahasiswa untuk mengenyam pendidikan, dan kepada Global Partner dan Gereja Korea sebagai partner Yayasan Bina Akhlak Mulia dalam hal ini ibu Deborah Kim, M.A dalam mendirikan dan mengembangkan Sekolah Tinggi Teologi Basom hingga seperti sekarang ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada ketua Sekolah Tinggi Teologi Basom, dosen-dosen dan seluruh staff non akademik yang telah membantu dan memfasilitasi kami untuk mendalami teologi, menemukan dan mengembangkan potensi diri, membentuk karakter yang lebih baik untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan.

Rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada orang tua kami yang telah mendukung dalam doa dan dana juga motivasi untuk menyelesaikan pendidikan ini, kepada gereja-gereja yang mengutus dan mendukung mahasiswa, serta para sponsor yang dengan hati tulus mau berkorban untuk mendukung kami, sehingga bisa melanjutkan pendidikan kami dan mendapat gelar akademik sebagai sarjana pada hari ini. Terima kasih atas dukungan, motivasi dan semangat yang kami terima selama ini. Secara khusus kami sebahagian wisudawan dan wisudawati yang sudah berkeluarga, yang harus kehilangan banyak kesempatan berharga untuk bersama-sama dengan isteri atau suami dan anak-anak yang kami kasihi, ketika kami seharian harus bekerja dan dilanjutkan dengan perkuliahan, mengerjakan tugas-tugas kuliah dan juga kesibukan pelayanan. Sungguh, dukungan dan pengertian isteri atau suami dan anak-anak terkasih sangat berarti bagi kami.

Sesuai dengan visi Sekolah Tinggi Teologi Basom yaitu menjadi lembaga pendidikan hamba Tuhan yang misioner bagi panggilan gereja dalam masyarakat dan bangsa mulai dari Batam sampai ke ujung bumi, kami merasakan bagaimana kami dididik untuk memiliki kapabilitas dan integritas sebagai hamba Tuhan yang misioner supaya dapat menjawab tantangan pelayanan di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Empat tahun lebih proses pendidikan telah kami lalui dengan segala suka-duka yang menyertainya. Ada canda, ada tawa, ada pergumulan dan air mata. Ibarat tanah liat yang dibentuk menjadi bejana yang indah, kami pun mengalami proses pembentukan yang tidak mudah. Kesungguhan panggilan kami diuji ketika kami mengalami pergumulan dalam proses pembentukan itu. Namun kami sadar bahwa semua yang kami alami adalah cara Tuhan untuk menjadikan kami hamba-hamba Tuhan yang bukan saja  cerdas tetapi juga hamba-hamba Tuhan yang berkarakter. Semua proses yang telah kami lewati telah menghantarkan kami pada akhir yang membahagiakan dan rasa syukur yang begitu dalam ketika kami di wisuda hari ini.

Rekan wisudawan dan wisudawati,

Dihari yang bersejarah ini sudah tentu rekan-rekan wisudawan dan wisudawati mengalami suka cita kebahagiaan sama seperti saya. Buah dari perjuangan kita untuk memperoleh gelar kesarjanaan stratum satu sudah ditangan kita. Dengan demikian berakhirlah masa studi kita di Sekolah Tinggi Teologi Basom pada level ini. Namun harus kita sadari bahwa dengan diwisudanya kita menjadi seorang sarjana, justru merupakan awal perjuangan yang lebih besar untuk mengaplikasikan ilmu yang kita peroleh di dunia pelayanan praktis.

Dari  hasil penelitian yang kita peroleh baik penelitian lapangan maupun dari sumber-sumber literatur untuk kebutuhan penulisan skripsi, dan melihat fakta-fakta yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari membuktikan masih banyak kasus atau permasalahan sosial yang terjadi. Kita diperhadapkan dengan masalah-masalah sosial seperti: kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, perceraian, gaya hidup bebas, pornografi, prostitusi dan lain-lain yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia secara umum dan juga gereja. Gaya hidup materialistis yang berkembang pesat ditengah peradaban dunia sekarang ini pun mempengaruhi gereja yang dibuktikan dengan perubahan persepsi banyak orang dimana banyaknya jemaat, megahnya gedung gereja dan banyaknya uang yang diterima gereja menjadi ukuran keberhasilan sebuah pelayanan.

Saudara dan saya dipanggil Tuhan untuk dunia ini, dan dunia ini membutuhkan perhatian kita sebagai hamba Tuhan dan sebagai insan akademis yang menerima panggilan Tuhan untuk bukan hanya sekedar terlibat dalam pelayanan tetapi juga perlu memikirkan dan melakukan terobosan-terobosan baru. Tentu kita tidak mampu untuk melakukannya sendiri, namun kita bisa bersinergi antara satu dengan yang lain, bersinergi dengan gereja  dan dengan elemen-elemen yang ada di masyarakat.  Saya yakin Roh Kudus akan menolong kita untuk maksud-maksud mulia melalui panggilan-Nya kepada kita sebagai hamba-hamba Tuhan.

Akhirnya saya, atas nama seluruh wisudawan-wisudawati  mengucapkan Soli Deo Gloria.

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Syalom.

Lomser Hutabalian, S.Th.

SYAIR DAN PERJUANGAN

Sudah lama juga saya tidak menonton acara televisi yang disiarkan oleh TVRI. Selain karena  semakin banyaknya TV swasta dengan maraknya acara yang menarik di dalamnya, TVRI terkesan agak kaku baik performance pembawa acaranya maupun acara-acaranya sendiri.

Sebenarnya dapat dimaklumi mengapa TVRI seperti itu, karena bagaimanapun sebagai stasiun TV milik pemerintah TVRI harus menjaga banyak hal. Apalagi dengan dana yang mungkin terbatas akibat tidak diperbolehkannya menjual  space untuk iklan produk.

Namun tadi malam saya iseng-iseng mengganti cannel ke TVRI, dan kebetulan acaranya  Gebyar Keroncong. Dan kebetulan pula saya penikmat hampir semua jenis musik. Walaupun saya tidak pandai memainkan alat musik, tapi saya suka musik pop, dangdut, seriosa, rap maupun rock dan blues. Hanya rock yang terlalu keras sampai yang penyanyinya seperti kesetanan yang saya tidak suka.

Saya sangat menikmati permainan biola dan keroncongnya yang mantap. Lagu-lagu yang dinyanyikan tadi malam adalah lagu-lagu lama yang berkaitan dengan perjuangan. Mungkin ada hubungannya dengan peringatan 11 november sebagai hari pahlawan.

Lagu-lagu yang bernafaskan perjuangan seperti Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Bangun Pemuda-Pemudi, Berkibarlah Benderaku, Indonesia Pusaka, Syukur, Maju Tak Gentar, dll, diciptakan untuk membangkitkan semangat kebangsaan masyarakat Indonesia.

Lagu-lagu lawas yang diciptakan masa perjuangan kemerdekaan, baik yang seriosa, pop atau keroncong memang banyak yang bernafaskan perjuangan.
Tidak sedikit yang memiliki kisah nyata dibalik penciptaan lagu itu. Misalnya Halo-Halo Bandung. Tanggal 24 Maret 1946, masyarakat rela meninggalkan bahkan turut membakar kota yang  mereka diami sejak lahir karena tidak rela diduduki oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Saat itulah Bandung menjadi Lautan Api.

Dari beberapa sumber mengisahkan bahwa masyarakat yang multi etis bergerilya dan dengan sengaja membakar kota Bandung yang diduduki oleh NICA untuk merebutnya kembali. Sungguh perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa.
Yang membuat lagu-lagu itu sangat menarik bukan hanya karena musik dan syairnya, tetapi juga cerita dibalik penciptaan lagu itu atau yang sering disebut  story behind the song.

Lagu keroncong Sepasang Mata Bola misalnya. Menurut Sri Edi Swasono, menantu Bung Hatta, lagu ini diciptakan oleh Ismael Marzuki berlatar belakang kisah yang dialami oleh ibu Rahmi Hatta yaitu istri dari Bung Hatta sang Prokalamotor Kemerdekaan RI. Waktu itu Bung Hatta dan ibu pergi ke Yogyakarta dengan kereta. Sesampai di Yogya, bung Hatta langsung turun dan cepat-cepat menjumpai Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk membicarakan keadaan negara.

Betapa penting dan urgent bagi Bung Hatta untuk membahas keamanan negeri dan yang mungkin bergejolak di dalam hatinya, sampai-sampai beliau lupa bahwa istrinya ada bersama dia di kereta dan telah ketinggalan di kereta itu. Lalu “sepasang mata bola” ibu Rahmi Hatta mencari-cari Bung Hatta, yang rupanya telah meninggalkan dia untuk bertemu dengan Sri Sultan.

Membaca kisah perjuangan para pejuang sungguh membuat hati ini bersyukur dan berterima kasih. Rasanya bila mereka ada yang masih hidup, ingin rasanya memeluk dan mencium pipi mereka sebagai wujud terima kasih. Bahkan kalau diminta mengangkat sebelah tangan menghormat mereka berjam-jam pun hati ini rela. Baik mereka yang berjuang langsung di medan peperangan maupun mereka yang berjuang melalui syair-syair lagu yang mereka ciptakan.

Kiranya kisah perjuangan dan syair-syair perjuangan para pendahulu bisa memotivasi generasi sekarang, termasuk saya didalamnya, untuk berkarya bagi negeri demi kejayaan Indonesia.
Miris dan pilu melihat keadaan sekarang.

SYAIR BAGI NEGERI

Seperti syair lagu syukur aku bersyukur dengan syair

Dengan sepasang mata bola, ku terawang jasamu dan kutatap masa depan

Semangatmu menjadi benih dalam hati untuk maju tak gentar ditengah keadaan yang pilu keadaan kini

Dan ku mau teriak : “bangun pemuda-pemudi, bebaskan negeri dari penghianatan cita-cita pendiri negeri!”

Mari katakan: “bagimu negeri kami berbakti”, karena Indonesia Pusaka milik kita bersama

Gugur bunga di ujung senjata, mati berkalang tanah demi hari merdeka

Rayuan pulau kelapa yang melambai di tanah yang subur adalah anugerah bagimu negeri

Berkibarlah benderaku, terus dan terus karena aku akan menjagamu

Bila anak negeri mengheningkan cipta, berdoalah terus untuk Indonesia raya.

LH/12-11-11

GUE SUMPEHIN LO!

Pagi ini saya menguji kemampuan sejarah anak saya yang kelas 1 SMP. Ketika dia masih golek-golek sebelum mandi untuk berangkat ke sekolah saya sempatkan bertanya kepadanya sehubungan dengan tanggal bersejarah Indonesia.

“Tanggal berapa sekarang, nak?”

“Tanggal 28, pak”

“Hari peringatan apa sekarang”?

Dia diam sejenak, mencoba mengingat.

“Hari Sumpah Pemuda” jawabnya.

“Bagus. Nah, sebagai pemuda Indonesia harus cinta negeri, memikirkan apa yang baik dan jangan malas”

Mungkin dia pikir saya sekalian  menyindir dia, sebab sudah berapa kali mamanya menyuruh dia mandi tapi masih terus golek-golek di ruang tamu.

“Ah, lama sekali kakak ini di kamar mandi” gumamnya sebagai alasan, padahal masih ada satu kamar mandi lagi di belakang.

Di hari sumpah pemuda ini saya melihat ada bermacam-macam respon dari anggota Facebook terhadap hari peringatan ini yang mereka tuliskan di status mereka. Mulai dari hanya menuliskan “Sumpah Pemuda”, yang menuliskan “Selamat hari Sumpah Pemuda bagi para Pemuda/i yang memperingatinya” (he..he.. kaya’ ucapin selamat hari raya kepada yang berbeda keyakina aja), yang mempertanyakan kenapa tanggalan gak merah, sampai yang menuliskan kritik dan kekesalan terhadap pemerintah sekarang yang sudah mementingkan diri sendiri.

Ada satu “status” yang membuat saya tersenyum dan dengan yakin meng-klik “like” di status kawan ini. Statusnya seperti ini:

“Oi para pemuda! Gue sumpehin lo biar tetep nyatu! Satu nusa, satu bangse, n satu bahase”

He..he..gue demen neh sumpeh kaya gene.

Ayo, mari bersatu sing-singkan lengan, bergandengan tangan membangun negeri, tidak usah berantas kemiskinan cukup berantas korupsi dan penguasaan asing di tambang-tambang Indonesia otomatis kemiskinan akan sirna dari bumi Indonesia.
“Hai para pejabat, gue sumpehin lo gak pada korupsi lagi”

 LH, 28/10/11

POSITIF ATAU NEGATIF, ACIL MEMILIH ENDING NEGATIF

Liputan 6 SCTV bilang, Acil sudah ditangkap oleh polisi. Mengapa dia ditangkap polisi? Karena Ia menjadi tersangka pembunuhan pacarnya Yuyun seperti yang diakuinya kepada polisi. Hah? Pacarnya sendiri dibunuh? Gile juga..

Ya, begitulah. Alasan Acil membunuh  Yuyun  karena dia cemburu sang pacar kerap digoda laki-laki lain lewat statusnya di jejaring sosial facebook. Hm..begitu cemburunya, sampai nekad membunuh.  Ini cinta atau nafsu?

Kalau kita ikuti pemberitaan media selama ini, sudah banyaknya juga yang korban; baik pembunuhan maupun penipuan yang bermula dari facebook. Detik.com pernah mempublikasikan kasus tercatat di Komisi Nasional Perlindungan Anak sebanyak 36 laporan terkait kasus anak dan remaja yang menjadi korban kejahatan lewat situs jejaring Facebook hanya sepanjang Januari hingga Februari 2010. Itu baru yang dilaporkan ke komnas, belum lagi yang tidak dilaporkan dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Kalau sudah begini, apa yang harus dilakukan? Apakah kita perlu demonstrasi ke menkofindo untuk menutup jejaring sosial ini? Ayolah kalau itu yang paling baik, biar pak Tifaful tambah pusing..he..he..

Jejaring sosial ini adalah sebuah bukti dari kemajuan teknologi di bilang teknologi informatika. Sedangkan kemajuan teknologi itu ada karena upaya-upaya manusia yang terus menggali, mencoba/eksperimen dengan tujuan mempermudah setiap pekerjaan dan urusan manusia.

Kemajuan teknologi selalu memiliki dampak yang positif dan negatif, itu menurut saya. Sama halnya facebook.  Dampak positifnya seperti :  Dapat berinteraksi dengan teman atau keluarga dengan mudah, bertemu kembali teman lama dan mendapat teman baru, dapat menjadi sarana berdiskusi dengan banyak orang dan jarak yang tidak terbatas, menjadi sarana promosi usaha dan promosi diri barangkali..he..he.

Waktu saya di luar negeri (cie…) saya bisa berkomunikasi dengan keluarga tanpa mengeluarkan banyak biaya. Salah seorang teman saya berhasil menambah pundi-pundinya dengan menjual “kolor” bayi melalui facebook. Si Otong dan Si Iting (bukan nama sebenarnya) berkenalan di facebook dan menjadi suami-istri yang bahagia. Ada juga dua orang remaja yang “menjual ompongnya” dengan lipsing, yang di upload di youtube dan menyebar luas lewat facebook. Masih ingat Briptu Norman kan? Itu salah satunya.

Nah, kalau dampak negatifnya selain seperti saya sebutkan diatas, dampak lainnya adalah dapat mengganggu pekerjaan karena keasyikan di facebook akhirnya bisa membuat Si Kentung juragan Jengkol marah-marah karena laporan penjualan Jengkolnya gak kelar-kelar, bisa menjadi alat memperluas jaringan teroris yang di pimpin oleh mbah Janggut, bisa membuat Suami atau Istri “lupa” pada pasangannya karena asyik chatting dengan orang lain sampai larut, dan masih banyak lagi.

Akhirnya, menurut saya dampak baik atau buruknya adalah kembali ke pribadi-pribadi penggunanya. Bagi yang sudah dewasa tetaplah mawas diri, pikirkan dan lakukan apa yang baik dan berguna. Buat anak atau remaja, peran orang tua menjadi sangat penting untuk mengawasi, mengarahkan dengan pendekatan disiplin dan secara personal kekeluargaan.

Kembali ke kasus Acil dan Yuyun. Acil  membunuh  Yuyun  karena dia cemburu sang pacar kerap digoda laki-laki lain lewat statusnya di jejaring sosial facebook. Tapi tahukan anda, bahwa Acul mengenal Yuyun juga lewat facebook?

LH, 26/10/11

BUKA SIANG

Huff..pagi ini terpaksa saya buka ruko agak siang. Selain karena ada urusan ke pusat kota Nagoya, juga karena diperjalanan saya “terperangkap” konvoi ratusan bahkan mungkin ribuan orang anggota FSPMI (Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia).

Mereka yang kebanyakan menggunakan motor, memenuhi jalan utama sehingga sulit bagi pengendara lain untuk lewat. Terpaksa saya harus membaur dengan mereka, membawa motor dengan kecepatan 30-40 km/jam.  Huff, kapan sampainya ini?

Untungnya hanya sekitar satu kilo meter saja saya terperangkap, karena dipersimpangan empat kabil, saya belok ke kiri sedangkan mereka lurus menuju Batam Centre.

Selama membaur dengan mereka, saya berniat mencari tahu kemana dan mau apa mereka mengadakan konvoi ini. Namun karena setiap orang termasuk saya harus sibuk menjaga jarak dengan kendaraan yang lain, maka saya urungkan niat saya mewawancarai mereka di tengah jalan.

Saya cuma sempat bertanya kepada seorang perempuan,

“Mau ke mana mba?”

“Kesana” hanya itu jawabnya sambil tersenyum. Ya, sudahlah pikirku.

Saya mencoba menduga-duga, bahwa mereka akan demo ke DPRD atau PEMKO, karena mereka menuju kesana. Ya, mungkin mereka mau menyampaikan aspirasi mereka terhadap Undang-Undang Ketenagakerjaan yang sedang diributkan oleh para pengusaha dan Pemko, atau  mereka mau menuntut kenaikan upah,  atau mungkin mau memprotes kenaikan tarif air yang baru saja dilakukan oleh ATB sebagai perusahaan penyedia air bersih di Batam. Semua itu mungkin saja.

Yang jelas saya yakin tujuan mereka bukan mau  memprotes kematian Muammar Khadafi yang ditengarai melanggar HAM.

Hm..EMP, Emang mereka pikirin? Mikirin diri sendiri aja sudah pusing..he.he.

Biasanya kalau saya buka ruko pagi hari, warung Pak Gendut di depan roku masih tutup. Tetapi kali ini  pak Gendut sudah lebih dulu membuka warungnya. Dia sudah sibuk menata meja dan peralatan-peralatan dengan hanya memakai sarung. Wah, pak Gendut memang nekat. Menurut saya dia  cukup berani memamerkan perutnya yang ukuran kira-kira melebihi triple XL itu.

Pak Gendut memang  extra gendut. Karena itu mungkin nama warungnya disebut Warung Pak Gendut.  Sudah pasti bapak ini tidak boleh diet, karena kalau dia diet dan menjadi kurus, dia harus mengganti nama warungnya.

Baiklah. Selamat berjuang anggota FSPMI, selamat bekerja buat pak Gendut.

 

LH, 25/10/11

DAHLAN ISKAN DAN KEPONAKAN SAYA

Dahlan Iskan adalah orang yang baru saja di “pinang” oleh bapak SBY untuk menjadi pembantunya di kementrian BUMN dalam reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, yang disebut oleh SBY sebagai  Kabinet Kerja. Mengapa disebut Kabinet Kerja?  Hm..tidak tahu juga, mungkin seperti banyak selentingan bilang karena Kabinet sebelum direshuffle ini memang tidak banyak kerja.

Sebelum menjadi menteri BUMN, Dahlan Iskan sedang memimpin PLN yaitu salah satu BUMN yang pertumbuhannya cukup bagus selama beberapa tahun terakhir. Di tangan Dahlan Iskan, PLN menunjukkan kinerja yang baik, salah satunya adalah pertumbuhan electrifikasi yang sudah mencapai 1200 MW hingga September 2011, padahal konon biasanya cuma 1000 MW per tahun.

Pada semester pertama tahun ini PLN mencatat pendapatan sebesar Rp 55,3 triliun atau naik 15 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp 48,2 triliun. Pelanggan BUMN listrik itu pun mengalami peningkatan 8 persen dari 40,7 juta di tahun lalu menjadi 43,8 juta pelanggan di semester satu ini (Tempointeraktif.com).

Kemampuan Dahlan Iskan memimpin perusahaan juga sudah teruji jauh sebelumnya. Ia memimpin Jawa Pos sejak tahun 1982 dan  menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati, dengan oplah 6.000 ekslempar namun dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar.  Lima tahun kemudian terbentuk  Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia  dengan ratusan surat kabar, tabloid, dan majalah, serta  jaringan percetakan di Indonesia. Dan sejak tahun 2002 mendirikan beberapa statiun televisi lokal di beberapa daerah.

Lalu, apa hubungan Dahlan Iskan dengan keponakan saya?

Jelas ada, karena selain berprestasi di bidang produktifitas, PLN di tangan Dahlan Iskan juga diketahui  berprestasi di bidang management yang bersih dari KKN. Walaupun mungkin tidak benar-benar bersih, namun upaya kearah itu terus dilakukan. Salah satu bukti adalah diterimanya keponakan saya menjadi karyawan BUMN ini secara bersih tanpa backing atau uang sogokan sepeser pun.

Keponakan saya yang lulusan STM tahun 2010 sempat menganggur satu tahun dan tidak kuliah karena kesulitan ekonomi keluarga. Dan memasuki tahun 2011 dia mengikuti tes di PLN Medan. Tadinya keluarga tidak berharap banyak karena berpikir tidak punya uang pelicin.  Namun setelah diyakinkan oleh beberapa orang kenalan di persekutuan yang juga bekerja di PLN, keluarga menjadi lebih yakin. Menurut mereka, PLN sekarang sudah bersih dari KKN.  Dan itu memang terbukti.

Terima Kasih bapak Dahlan Iskan, majulah terus buat kemajuan Indonesia. Semoga Tuhan memberkati bapak dengan kesehatan dan hikmat.

LH,19-10-11

Hormat Vs Pengkultusan

pengkultusan.jpg

Rasa hormat kepada seseorang itu penting, tetapi berhati-hatilah supaya tidak terjadi pengkultusan. Salah satu ciri aliran sesat atau orang yang sudah sesat pikirannya adalah pengkultusan individu, sehingga perkataan yang dikultuskan itu menempati posisi lebih tinggi daripada kebenaran firman.

PERBEDAAN

Kelompok A mempunyai pandangan yang hampir mirip dengan kelompok B, sedang kelompok C tidak. Lalu kelompok A dan kelompok B bersepakat untuk menghabisi si kelompok C. Dan hal itupun terjadi.

Mirip bukan berarti sama. Rupanya perbedaan sedikit diantara kelompok A dan B membawa mereka pada suatu konflik yang kemudian berujung pada kematian kelompok B. Dan tinggallah kelompok A.

Rambut boleh sama hitam, tapi hati siapa tahu ? Rupanya hal  ini menjadi nyata di dalam tubuh kelompok A. Orang-orang yang didalam kelompok itupun memiliki perbedaan pandangan. Terjadilah konflik dan kekacauan yang ternyata jauh lebih parah dari pada ketika kelompok mereka (A) berusaha menghabisi kelompok lain (B) dan  (C).

 

 

Pesan :

Kalau kita tidak mau menerima perbedaan maka kita tidak akan pernah ada kedamaian.

Perbedaan bukan berarti pemisahan, bukan berarti menjadi akhir dari kebersamaan. Masih ada Musyawarah untuk mufakat.

 

Agt.03 – Salam Damai Indonesiaku.

Lomser Hutabalian

Orang dan Orang Utan

Membaca Intisari edisi Desember 2003 tentang orang utan, saya agak terkesima. Tulisan yang berjudul “Cerita saudara tua kita” itu menjelaskan banyaknya kesamaan antara orang (manusia) dengan orang utan.  Beberapa kesamaan itu antara lain : Tulang, gigi dan bulu sama banyaknya dengan manusia. Walau bulu orang utan kelihatan lebat bukan karena lebih banyak dari manusia melainkan hanya karena lebih panjang. Orang utan juga sering menangis, merengek,  dan mempunyai masa kehamilan sama seperti manusia. Begitu juga dengan data kesamaan DNA yang mencapai 98,7 %.

 orang-utan

Sifat dan kebiasaan terpuji yang dimiliki oleh manusia ternyata juga dimiliki oleh orang utan. Hanya saja sifat dan kebiasaan terpuji  itu masih tetap lestari pada orang utan, sedangkan pada manusia sifat-sifat itu sudah hampir-hampir punah. Malahan kecenderungan sifat manusia jaman sekarang ini sudah terbalik dari sifat-sifat terpuji yang pernah dimiliki.

 

Menurut penelitian, sifat-sifat terpuji yang dimiliki oleh orang utan yaitu : Anti konflik, Sosialis, Solider, menghargai dan mengasihi. Sementara pada manusia sifat-sifat seperti diatas sudah jarang dan sulit ditemukan pada zaman ini. Manusia justeru cenderung menciptakan konflik, Sosial rendah, tidak menghargai bahkan cenderung menginjak-injak hak azasi orang lain,  tidak ada iba melihat orang-orang yang melarat dan yatim-piatu, bahkan juga sering kita dengar bantuan sosial kepada masyarakat kecil, yang mengalami bencana dananya disunat dan hanya sebagian kecil yang sampai kepada orang yang seharusnya berhak.

 

Melihat kenyataan diatas maka timbullah suatu pertanyaan :

Lebih manusiaan mana antara orang dengan orang utan  ?

Atau

 Lebih binatangan mana antara orang dengan orang utan  ?

  

Des.03

Lomser Hutabalian

MENCINTAI-MU SELAMANYA.

 

Inilah kerinduanku Tuhan

Aku dapat mencintai-Mu selamanya

Sungguh…Tuhan

Aku rindu ‘tuk mencintai-Mu selamanya

 

Siramilah Tuhan

Benih kasih yang telah Kau tanam

Siramilah dengan kuasa Roh Kudus-Mu

 

Pupuklah Tuhan

Benih cinta yang telah Kau tumbuhkan

Pupuklah dengan kuasa firman-Mu

 

Bantu aku Tuhan ‘tuk menyalibkan keinginan duniawiku

Supaya aku hidup untuk segala keinginan-Mu

Memancarkan sinar kemulian-Mu

Hingga menembus setiap mata rohani dunia yang buta.

 

Sungguh,

Adalah kerinduanku Tuhan

‘Tuk dapat mencintai-Mu

Selamanya

 

Hutabalian72