YANG SATU DILAKUKAN, YANG LAIN JANGAN DIABAIKAN

Menarik untuk mendalami kata “yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Matius 23:23). Sudah sejak lama kalimat ini dipakai oleh sebagian orang untuk mengatakan bahwa persepuluhan itu harus diberikan, dan tentu kalau “harus” itu berarti mempengaruhi keselamatan, seperti yang dipahami dan dikotbahkan sebagian hamba Tuhan.

Sejak lama saya saya merenungkan dan mempelajari apa sebenarnya maksud Tuhan Yesus. Apakah perkataan itu adalah sebagai isyarat bahwa persepuluhan itu sebagai keharusan?

Beberapa pertimbangan:

1. Yesus sedang berbicara kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang konsisten “menyerukan” melaksanaan seluruh Hukum Taurat. Dalam hal ini persepuluhan menjadi bagian yang dimaksud.

2. “Sprit” (semangat) yang mendasari persepuluhan sebenarnya adalah keadilan dan belas kasihan, yang tentu mengacu kepada Lewi (Yang tidak mendapat bagian dari pembagian Yosua sesuai perintah Tuhan) dan bagaimana janda-janda miskin dan yatim-piatu dipelihara oleh “negara” (dalam hal ini Israel/Yahudi melalui Rumah Tuhan). Dan pemberian persepuluhan itu menjadi wujud ketaatan kepada perintah Tuhan sesuai konteksnya tadi.

 

3. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menekankan persepuluhan itu sebagai hukum yang harus ditegakkan tetapi mereka mengesampingkan “spirit” yang mendasarinya.

4. Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat dalam diriNya dan “menawarkan” kesempatan kepada setiap orang untuk “kembali” kepada Kasih Karunia. Tetapi Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak menerima hal itu dan tetap menekankan bahwa hukum Taurat harus ditegakkan.

5. Yesus tahu bahwa Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pun tidak sanggup memenuhi hukum Taurat itu dengan sempurna. Salh satu buktinya adalah bahwa persepuluhan mereka suarakan dan laksanakan tetapi “spriti”nya mereka kesampingkan.

6. Maka dalam hal ini kalimat diatas, Yesus mau mengatakan kepada Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yaitu “kalau kamu ingin menegakkan Hukum Taurat sebagai syarat perkenanan kepada Allah maka kamu harus melakukannya dengan SEMPURNA” – Yang satu dilakukan yang lain juga harus dilakukan.

Jadi perkataan Yesus justru bertujuan spy mereka KELUAR dari system Hukum Taurat dan masuk ke Kasih Karunia. Jadi ayat ini tidak bertujuan untuk mengharuskan persepuluhan, justru kalau ayat ini dipakai untuk “mengharuskan” persepuluhan menjadi bertolak belakang dari maksud Yesus.

Tentu memberi persepuluhan bukan juga tidak baik, asalkan pemberian itu lahir dari kesadaran betapa pentingnya persepuluhan itu untuk mendukung pelayanan gereja dan hamba-hamba Tuhan, dan persepuluhan itu diberikan dengan hati yang bersyukur.

Saya lebih setuju bila persepuluhan dijadikan sebagai acuan yang pernah diterapkan Tuhan untuk orang Israel, namun dalam hal mengulurkan tangan untuk mendukung pekerjaan Tuhan kita tidak boleh dibatasi dengan persepuluhan. Perduapuluhan, pertigapuluhan, dan lain sebagainya, kenapa tidak?

RAHASIA KEJAYAAN YEHUDA DI ERA RAJA ASA

Rasa Asa, menurut Alkitab adalah raja ketiga Kerajaan Yehuda, tetapi merupakan raja ke lima dari keluarga Daud. Ayahnya adalah raja Abia bin Rehabeam bin Salomo bin Daud. Dia berkuasa sebagai raja selama 41 tahun yang diperkirakan antara tahun 913-910 SM sampai 873-869 SM. Dan dia mengalami masa kejayaan yang luar biasa.

Pada masa kejayaan ini, Kerajaan Yehuda mengalami keamanaan negeri secara umum selama kurang lebih 35 tahun. Mereka dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang membangun kota-kota benteng (2 Taw.14:6-7). Meskipun dalam waktu tertentu, Tuhan mengizinkan masa pencobaan yaitu dengan adanya serangan dari Zerah, orang Etiopia yang membawa satu juta orang beserta dengan tiga ratus kereta, tetapi Kerajaan Yehuda mengalami kemenangan dengan pertolongan Tuhan.

Rahasia kejayaan raja Asa dan kerajaannya adalah :
1. Dia mendengar dan taat kepada Tuhan seperti yang dipesankan melalui nabi Azaria (2 Taw.15:1-7)
2. Dia melakukan reformasi/pembaharuan di bidang budaya dan agama. Dia menyingkirkan dewa-dewa kejijikan, memperbaharui mezbah Tuhan (2 Taw.15:8). Menjauhkan mezbah-mezbah asing, bukit-bukit pengorbanan, memecahahkan tiang dan tugu berhala (2 Taw.14:2)
3. Dia dan seluruh masyarakat berkomitmen setia. Mereka mengadakan perjanjian untuk selalu mencari (kehendak) Tuhan (2 Taw. 15:9-17).
4. Dia membawa persembahan kudus bagi Allah (2 Taw.15:18).

Memang dalam kondisi aman dan tentram, mestinya banyak hal-hal besar yang dapat dikerjakan. Dengan tidak adanya gangguan yang berarti, sebuah komunitas; entah itu keluarga, gereja, negara dan lembaga lainnya bisa lebih focus merancang dan mewujudkan berbagai hal yang positif dan membangun dalam konteksnya masing-masing. Tetapi tidak jarang keadaan yang aman dan tentram menjadi sebuah “zona nyaman” bagi banyak orang yang bisa mengakibatkan terjadi stagnasi , sehingga persoalan dan tantangan menjadi sebuah stimulasi untuk tetap berkarya. Dari sisi ini semestinya kita bisa memandang positif persoalan/tantangan yang diizinkan oleh Tuhan. Dan siapa yang mengandalkan Tuhan, dia akan berkemenangan.

BERKAT DARI POHON KEHIDUPAN

Kelanjutan dari sebuah kehidupan di dunia tidak terlepas dari ketersediaan makanan dan minuman  jasmani.  Manusia yang diciptakan Allah dengan keterbatasan dalam semua aspek kehidupan, tidak bisa hidup tanpa makanan.  Maka Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala isinya sebagai keperluan manusia untuk memastikannya tetap hidup.

Allah membuat taman Eden di Bumi yang dikhususkan untuk Adam dan Hawa (Kej. 2:8-9), dimana terdapat 3 “kategori (jenis)” pohon di dalammnya yaitu:

  1. Berbagai macam pohon yang menari dan baik.
  2. Pohon Pengetahuan tentang yang baik dan jahat
  3. Pohon Kehidupan.

Jenis yang pertama yaitu  pohon yang menarik dan baik buahnya untuk dimakan adalah wujud tanggungjawab Allah memelihara manusia ciptaanNya, sedangkan Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan tentang yang baik dan jahat adalah mewakili (menggambarkan) pilihan manusia.  Pohon Kehidupan adalah kebalikan dan Pohon Pengetahuan tentang yang baik dan jahat, yang satu membawa kehidupan sedangkan yang satu lagi kepada kematian.

Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan Jahat berbicara tentang ketidakpercayaan yang membawa kepada Kematian. Itulah kenyataan yang terjadi dalam kejatuhan manusia kedalam dosa. Kejatuhan manusia kepada dosa adalah disebabkan karena mereka tidak percaya atau ragu kepada Tuhan.  Setelah Iblis memperdaya mereka, mereka menjadi ragu kepada Tuhan dan lebih percaya kepada Iblis. (Kej.3:1-4).  Ketidakpercayaan itulah sesungguhnya yang menghasilkan ketidaktaatan kepada Tuhan.

Semangat (Spirit) yang mendasari keputusan Adam dan Hawa untuk memakan buah dari Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan Jahat adalah :

  1. Menjadi sama seperti Allah (Kej.3;5)
  2. Memberi pengertian/pengetahuan (kej. 3:6)

“Menjadi sama seperti Allah” berarti ada sebuah keinginan untuk menyamai Allah. Kalau sudah sama hebatnya dengan Allah berarti tidak butuh pertolongan Allah.

Memberi Pengertian/Pengetahuan” berarti terdapat keinginan menjadi sama dalam pengetahuan/hikmat dgn Allah, sehingga tidak membutuhkan Firman dan tuntunan Allah. Intinya “SAYA TIDAK BUTUH ALLAH” 

Bila ada orang yang hanya mengandalkan pikiran dan kemampuannya sendiri dalam menjalani hidup tanpa merasa perlu tuntunan, hikmat dan kekuatan Allah, maka dosa itu sesungguhnya masih bercokol dalam diri seseorang itu.

Sebaliknya Pohon Kehidupan berbicara tentang iman yang membawa kepada kehidupan. Pohon Kehidupan adalah tipologi Kristus. Pilihan kepada Pohon Kehidupan berarti percaya dan mengandalkan Yesus yaitu hidup yang berdasarkan iman akan anugerah Allah di dalam tuntunan Roh.  Sedangkan pilihan kepada Pohon Pengetahuan tentang yang baik dan jahat adalah berdasarkan hikmat dan kemampuan diri sendiri (usaha sendiri) dalam daging oleh tuntunan hukum-hukum/peraturan.  Orang yang mengandalkan kekuatannya diri sendiri akan terkutuk sedangkan orang yang mengandalkan Tuhan akan diberkati (Yeremia 17:5-8).

Yesus adalah Pohon Kehidupan yang diterima dengan iman untuk memperoleh keselamatan. Yesus adalah Pohon Kehidupan yang menjadi sumber berkat rohani dan jasmani; kehidupan kekal dan pemeliharaan semasa hidup di bumi.   Mengambil buah dari Pohon Kehidupan berarti beriman pada semua karya Kristus untuk kita.

Surat Paulus kepada jemaat Galatia adalah bentuk pengakuan dimana hidup yang kita hidupi bukan diri kita sendiri lagi tetapi oleh Kristus sang Pohon Kehidupan.

“Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal.2:20).

Amsal 3:6 mengatakan “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu”, maka kehidupan kekal dan pemeliharaan di bumi menjadi bagianmu dari sang Pohon Kehidupan yaitu Kristus.

Haleluya.

Memahami PL dari kacamata PB

Kitab PL itu terdiri dari Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi. Kitab Para Nabi sendiri juga berdasarkan (bernafaskan) atau dalam paradigma Hukum Taurat. Makanya kitab PL sering disebut juga Kitab Taurat.

Contoh:

“Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu” (Yehezkiel 3:18)

Ayat ini bernafaskan atau muncul dalam paradigma Taurat.

Sanggupkah kita melakukan ini?

TIDAK, berarti MAUT.

Ada banyak orang yang pernah kita kenal dan tahu bahwa mereka pernah bahkan mungkin banyak melakukan kejahatan di DUNIA ini, yang oleh karena berbagai alasan pula (misalnya kesalahan Trum yang saya tahu dari media) tidak bisa kita peringatkan. Bila ayat ini tidak dipahami dengan terang Perjanjian Baru (Kasih Karunia) maka setiap orang akan selalu di dakwa oleh “merasa berdosanya” dan menurut ayat ini tidak seorang pun manusia di dunia ini akan lolos (selamat).

Puji syukur kita tidak hidup di dalam hukum ini, sebab keselamatan kita bukan “lagi” karena melakukan hukum Taurat tetapi iman kepada Yesus.

Namun, memperingati orang yang jahat/bersalah adalah nilai/moral yang dikehendaki oleh Allah. Sehingga kita melakukannya bukan karena hukum itu masih berlaku, tetapi karina kasih kepada Allah (yang mengasihi manusia dan menghendakinya) dan kasih kita kepada sesama.

Tetapi “ketidaksuksesan kita 100%” melakukan yang dikehendaki Allah ini, hukum “pertanggungjawaban” itu tidak berlaku bagi kita yang sudah ditebus oleh Kristus.

Contoh lainnya:

Misalnya ada hukum moral “jangan membunuh” di PL, dan jaman PL itu dilakukan karena hukum itu sendiri dan ada konsekwensi yang diterima kalau melakukan pembunuhan.

Itu nilai moral yang dikehendaki oleh Allah. Dalam PB kita tidak membunuh bukan karena hukum itu sendiri masih berlaku, tetapi karena kasih. Kasih kepada Allah yang menghendaki nilai itu kita hidupi, dan kasih kepada sesama. (ref. kasihilah sesamu manusia spt dirimu)

Demikian juga masalah persepuluhan. Tuhan memang “mengadopsi” budaya sepersepuluh sebagai hukum bagi orang Israel. Namun yang perlu kita konsen dalam perintah itu bukan jumlah persentasenya, tetapi prinsip keadilan, belaskasih dan kesetiaan. Karena orang lewi tidak mendapat bagian seperti 11 suku lainnya. Disana (dalam hukum itu) ada keadilan dimana akhirnya kedua belas suku “sama-sama mendapat bagian”, dan belas kasihan karena tidak membiarkan Lewi menderita tanpa terpelihara, dan Kesetiaan pada tercapainya maksud Allah.

Jadi dalam PB, kita melakukan persepuluhan atau perberapa puluhan pun itu, bukan lagi karena hukum itu sendiri masih berlaku, tetapi tercapainya maksud Allah, yaitu keadilan, belaskasih dan kesetiaan.

Karena itu “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat”

If you have “love” you’ll do good.

Walau mungkin tidak sempurna, sebab kasih Kristus saja yang sempurna.

Dalam Satu Nama

Nats : Kis 4:12

Nama adalah identitas yang mewakili segala sesuatu yang ada atau yang melekat pada diri kita. Sikap dan perilaku, kedudukan, kuasa, dll. Ketika kita menyebutkan nama seseorang, maka nama itu mewakili si pemilik nama dengan segala keberadannya.

Dalam Kis. 4:12 diatas, kata keselamatan yang digunakan dalam kaitan-Nya dengan Tuhan dan kita, menggunakan dua kata yang berbeda, yang pertama adalah “soteria” yang berarti keselamatan, pembebasan, pemeliharaan. Dan kata kedua yang dipakai adalah “Sozo” yang berarti menyelamatkan, bembebaskan, mengamankan dan melastarikan. Yesus adalah nama yang dimaksudkan dalam ayat ini, yang memberi pengertian bahwa di dalam nama Yesus tersebut, kita mengalami keselamatan bukan hanya tentang keselamat di surga tetapi juga di bumi dalam wujud pemeliharaan.

Ada dua nama tokoh penting dalam Alkitab yang berada dalam jalur iman kepada kita; Abram diganti dengan nama pemberian Tuhan menjadi Abraham (Kej. 17:4). Abraham disebut sebagai bapak orang beriman. Berkat kepada Abraham kemudian mengikuti pemberian nama itu. Nama kedua adalah Yakub, diganti dengan nama pemberian Tuhan menjadi Israel. Israel menjadi bangsa pilihan Allah untuk visi yang jauh yaitu keselamatan bagi bagi bangsa-bangsa lain. Berkat atas pemilihan Israel juga mengikuti pemberian nama itu.

Misi Tuhan atas Abraham dan misi Tuhan atas Israel menuju satu Visi yang jauh dikemudian hari yaitu Yesus Kristus yang akan menyelamatkan manusia (Filipi 2:9-10). Nama Yesus itu kemudian menjadi jaminan atas keselamatan manusia di bumi dan Surga. Nama Yesus sendiri memiliki arti “Yehova Penyelamat”. Nama Yesus yang melekat pada Pribadi-Nya dan keseluruhan identitas yang melekat pada dirinya, menjadi jaminan bagi orang percaya.

Di dalam Yesus, kita menerima berkat Abraham (Gal. 3:29). Di dalam Yesus, kita menerima berkat Israel (Ef. 2:11-13,19) yaitu berkat rohani (Keselamatan kita kelak di Surga) dan berkat jasmani (Keselamatan kita di bumi, dengan pertolongan dan pemeliharaan).

Oleh iman kepada seluruh karya Kristus, kita secara roh telah diciptakan kembali. Kita diberi kuasa untuk memanggil-Nya ABBA. ABBA artinya ayah (father) yang darimana kita berasal. Kita menjadi anak-anak Allah. Maka nama kita secara rohani sesungguhnya telah diganti dengan menambahkan “bin Yahwe/Yehova” (untuk laki-laki) dan “binti Yahwe/Yehova” (untuk perempuan), atau nama pribadi-Nya yang telah menjadi manusia yaitu “Bin Yesus” dan “Binti Yesus” menurut budaya pembuatan nama keturunan Israel dan bangsa-bangsa sekitarnya.

Keberhasilan kita sebagai umat Tuhan terdapat pada satu nama, Yesus Kristus.

Kolese 3:17 “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”

Iman (by Paulus) dan Perbuatan (by Yakobus)

Yakobus mengatakan “iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak. 2). Di bagian lain Alkitab juga dikatakan bahwa “iblis pun juga percaya” tetapi membangkang kepada Tuhan. Iblis tahu Yesus itu Tuhan dan ia pun percaya Tuhan itu berkuasa, namun dia sudah memilih membangkang kepada Tuhan. Matius 7:21 pun berkata “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Berangkat dari ayat-ayat diatas, maka berarti iman tidak bisa dilepaskan dari perbuatan. Namun apakah perbuatan menjadi dasar bagi Tuhan untuk menyelamatkan dan memberkati manusia? Rasul Paulus mengatakan tidak. Imanlah yang menyelamatkan bukan karena melakukan hukum Taurat dan bukan pula karena usaha kita. ( Roma 3:28, Ef.2:8-9)

Apakah kontradiktif? Kalau kita perhatikan sebenarnya Yakobus tidak mengatakan bahwa keselamatan atau pembenaran adalah oleh iman ditambah perbuatan, namun mengatakan bahwa seseorang yang sudah betul-betul dibenarkan melalui iman pasti akan menghasilkan perbuatan baik dalam hidupnya. Yakobus menekankan bahwa iman yang sejati kepada Kristus akan menghasilkan perubahan hidup dan perbuatan-perbuatan baik (Yakobus 2:20-26). Jika seseorang mengaku sebagai orang percaya, namun tidak menyatakan perbuatan baik dalam hidupnya, maka kemungkinan dia tidak memiliki iman yang sejati kepada Kristus (Yakobus 2:14,17,20,26).

Paulus mengatakan hal yang sama di banyak tulisannya. Buah-buah (perbuatan) yang baik yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang percaya. (Galatia 5:22-23.) Segera sesudah memberitahukan bahwa kita diselamatkan melalui iman dan bukan oleh perbuatan (Efesus 2:8), Paulus memberitahu kita bahwa kita diciptakan untuk melakukan perbuatan baik (Efesus 2:10).

Sama seperti Yakobus, Paulus juga mengharapkan perubahan hidup. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17) Yakobus dan Paulus bukan berbeda pendapat dalam pengajaran mereka mengenai keselamatan. Mereka mendekati topik yang sama dari perspektif yang berbeda.

MENANTI DENGAN IMAN SEJATI

Wahyu 22:12

Salah satu janji Tuhan kepada umat-Nya adalah bahwa kelak Dia akan datang kembali untuk menjemput orang yang percaya kepada-Nya dan membawanya ke tempat yang disediakan oleh Tuhan yaitu Surga. Surga, dimana kehidupan yang kekal berlangsung menjadi dambaan orang-orang yang percaya. Setiap kita yang datang beribadah kepada Tuhan tentu didasari atas iman kita kepada Tuhan dan janji-Nya.

Tuhan akan datang segera, demikian firman Tuhan. Dan Dia pasti akan datang, walau waktu yang tepat tidak pernah disebutkan. Tetapi pasti Dia akan datang. Yang menjadi pertanyaan bagi umat Tuhan adalah “apa yang menjadi persiapan umat-umat Tuhan?’ Cukupkan dengan kata percaya seperti yang disampaikan diatas.

Yakobus mengatakan “iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak. 2). Di bagian lain Alkitab juga dikatakan bahwa “iblis pun juga percaya” tetapi membangkang kepada Tuhan. Iblis tahu Yesus itu Tuhan dan ia pun percaya Tuhan itu berkuasa, namun dia sudah memilih tidak taat kepada firman Tuhan. Matius 7:21 pun berkata “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Berangkat dari ayat-ayat diatas, maka berarti iman tidak bisa dilepaskan dari perbuatan. Namun apakah perbuatan menjadi dasar bagi Tuhan untuk menyelamatkan dan memberkati manusia? Rasul Paulus mengatakan tidak. Imanlah yang menyelamatkan bukan karena melakukan hukum Taurat dan bukan pula karena usaha kita. ( Roma 3:28, Ef.2:8-9)

Apakah kontradiktif? Kalau kita perhatikan sebenarnya Yakobus tidak mengatakan bahwa keselamatan atau pembenaran adalah oleh iman ditambah perbuatan, namun mengatakan bahwa seseorang yang sudah betul-betul dibenarkan melalui iman pasti akan menghasilkan perbuatan baik dalam hidupnya. Yakobus menekankan bahwa iman yang sejati kepada Kristus akan menghasilkan perubahan hidup dan perbuatan-perbuatan baik (Yakobus 2:20-26). Jika seseorang mengaku sebagai orang percaya, namun tidak menyatakan perbuatan baik dalam hidupnya, maka kemungkinan dia tidak memiliki iman yang sejati kepada Kristus (Yakobus 2:14,17,20,26).

Paulus mengatakan hal yang sama di banyak tulisannya. Buah-buah (perbuatan) yang baik yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang percaya. (Galatia 5:22-23.) Segera sesudah memberitahukan bahwa kita diselamatkan melalui iman dan bukan oleh perbuatan (Efesus 2:8), Paulus memberitahu kita bahwa kita diciptakan untuk melakukan perbuatan baik (Efesus 2:10).

Sama seperti Yakobus, Paulus juga mengharapkan perubahan hidup. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17) Yakobus dan Paulus bukan berbeda pendapat dalam pengajaran mereka mengenai keselamatan. Mereka mendekati topik yang sama dari perspektif yang berbeda. Paulus menekankan bahwa pembenaran adalah hanya oleh iman, sementara Yakobus menekankan bahwa iman dalam Kristus menghasilkan perbuatan-perbuatan baik.

Maka dalam menanti kedatangan Tuhan, yang harus kita miliki adalah iman yang sejati kepada Tuhan.

MEMBERI DARI HATI

Nats : Maz.50:1-23

Ayat-ayat diatas terdiri dari 3 bagian yang dapat kita pelajari dan renungkan melalui mazmur Asaf, yaitu:

1) Ayat 1-6 tentang kedahsyatan Tuhan yang mengikat janji dengan umat-Nya dan akan meminta pertanggungjawaban.

Sion merupakan sebuah bukit sekaligus menjadi symbol Yerusalem yaitu Pusat Kerajaan Damai. Dari sana Tuhan mencurahkan berkat-Nya dan dari sana pula Ia akan meminta pertanggungjawaban dari umat-umat-Nya. Tuhan dalam kedahsyatan-Nya tidak dapat dihalangi oleh apa pun. Dimana Tuhan hadir, maka kedahsyatan-Nya tentu juga hadir, sebab itu adalah hakekat-Nya. Bila Tuhan sudah membuka tidak akan ada yang sanggup menutup dan bila Tuhan sudah menutup tidak ada yang sanggup membuka. Dia adil dalam bertindak dan keadilan-Nya tidak terbantahkan oleh siapapun.

2) Ayat 7-15 tentang teguran dan nasehat Tuhan kepada umat-Nya tentang memberi persembahan.

Jelas sekali Tuhan mengatakan bahwa Ia tidak membutuhkan lembu, sapi dan lain-lain untuk dia makan. Dia bukan manusia yang butuh makan dan minum. Dialah yang empunya segala ciptaan. Oleh karena itu ketika Tuhan mengikat janji kepada Abraham, Ishak, Yakub lalu kepada Musa atas nama umat Israel tentang persembahan yang akan dipersembahkan sebagai korban kepada Tuhan, hal itu adalah jalan bagi Tuhan untuk memberkati umat-umatNya dan sebagai wujud penghormatan umat-Nya itu kepada Tuhan.

Dari ayat-ayat diatas kita ketahui bahwa umat Tuhan masih melakukan korban persembahan kepada Tuhan. Namun persembahan mereka tidak lagi di dasari dari hati yang bersyukur. Persembahan mereka bukan dari hati tetapi hanya memenuhi ritual keagamaan semata. Apapun yang kita persembahkan baik itu materi dalam bentuk perpuluhan, ucapan syukur atau kolekte, juga waktu, tenaga, dll kalau itu tidak berasal dari hati yang bersyukur maka tidak bernilai di mata Tuhan.

Di gereja ini kita diajar dan belajar memberi dengan hati sesuai iman kita masing-masing. Tidak ada paksaan dan tidak ada patokan-patokan. Semua harus berangkat dari hati yang bersyukur kepada Tuhan. Gereja juga belajar untuk tidak membeda-bedakan pelayanan kepada jemaat, antara yang memberi perpuluhan dengan yang memberi ucapan syukur, antara yang memberi nominalnya besar dengan yang nominalnya kecil. Sebab urusan gereja dalam hal ini Hamba Tuhan dan para pelayan adalah melayani Tuhan melalui jemaat, dalam hal memberi persembahan adalah urusan jemaat dengan Tuhan. Tuhan menasehati umat-Nya supaya mempersembahkan syukur sebagai korban, dan Tuhan akan meluputkan mereka dari kesesakan. Iman yang besar menghasilkan pekerjaan besar.

3) Ayat 16-23, Teguran dan nasehat kepada orang Fasik.

Perkataan Allah kepada orang Fasik juga merupakan teguran dan nasehat, tetapi yang berbeda adalah disertai ancaman. Mengapa? Karena orang fasik adalah orang degil hatinya. Mereka, walau tahu yang baik dan benar tetapi mereka tidak mengindahkannya. Orang fasik sangat susah untuk ditegur dan dinasehati. Jangankan memberi dari hati, memberi dalam konteks menjalankan ritual pun tidak. Maka orang-orang seperti tidak layak menyebut/mengingat, disertai harapan yang baik dari ketetapan dan perjanjian Tuhan. Namun Tuhan juga menasehati mereka supaya mereka memperhatikan perkataan Tuhan dan mempersembahkan syukur sebagai korban. Maka Tuhan akan menunjukkan jalan keselamatan bagi mereka.

DAMPAK PENGENALAN AKAN KRISTUS

Nats : Filipi 3:7-11

Anggapan atau perspektif bisa berubah seiring bertambahnya pengalaman, pemahaman dan pengamalan akan sesuatu, terlebih bila ada penyataan diri Allah secara khusus dalam perjalanan hidup seseorang. Seperti Paulus, setelah bertemu dengan Tuhan Yesus, pertemuan itu menjadi titik awal perubahan hidupnya yang dahulu berusaha untuk membunuh pengikut Kristus dan orang yang mengabarkan injil-Nya; yang dahulu memiliki kedudukan yang terhormat sebagai Farisi, Ahli dan taat di bidang hukum Taurat, namun kemudian berbalik menjadi pengikut Kristus dan Rasul. Apa yang dahulu dianggapnya keuntungan sekarang malah dianggap kerugian, karena pengenalannya akan Kristus.

Berbicara tentang “untung” dan “rugi” khususnya dalam konteks mengamalkan hidup sebagai pengikut Kristus, orang-orang yang melakukan kabajikan, orang-orang yang memberi diri; waktu, tenaga dan dana untuk pekerjaan Tuhan, orang-orang yang mempersembahkan persembahan yang terbaik, akan dianggap bodoh oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Bagi orang-orang seperti ini, yang merupakan keuntungan adalah segala sesuatu yang mendatangkan uang, harta, atau keuntungan jasmani atau duniawi lainnya bagi dirinya sendiri. Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan tidak mau berkorban bagi Tuhan dan orang lain sebaliknya akan sanggup mengorbankan orang lain untuk kepentingannya. Orang-orang yang tidak mengenal Allah tidak akan melakukan apa-apa yang berarti bagi pekerjaan Tuhan. Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan sama seperti orang-orang yang akan binasa yang menganggap pemberitaan salib sebagai kebodohan, sedangkan orang yang mengenal Allah sama dengan orang yang diselamatkan yang menganggap pemberitaan itu sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan (1 Kor 1:18).

Mengapa pengenalan Allah lebih mulia? Sebeb pengenalan akan Allah membawa kita kepada persekutuan yang semakin intim dengan Tuhan. Semakin kita mengenal Tuhan maka kita pasti akan semakin intim dengan Tuhan. Keintiman dengan Tuhan akan menembus batas-batas kemustahilan. Pengenalan akan Tuhan menjadikan kita tahu apa yang menjadi bagian kita. Dan bagian terbesar yang kita dapat adalah keselamatan yang dianugerahkan yang tidak dapat dilakukan oleh hukum Taurat. Bagian lainnya adalah jaminan pemeliharaan Tuhan di bumi. Kesadaran ini yang memampukan orang-orang percaya melakukan kebajikan, memberi diri dan persembaan yang terbaik. Pengenalan akan Tuhan menghasilkan kebenaran sehingga yang duniawi menjadi sampah. Namun pengenalan tidak datang begitu saja melainkan dengan membaca dan merenungkan Firman Tuhan dan persekutuan dengan Roh Kudus. Sebab Roh Kudus akan memimpin kita kedalam seluruh kebenaran Allah.

Kita ada di dalam Tuhan bukan karena kebenaran kita melakukan Hukum Taurat melainkan karena anugerah oleh iman. Perbuatan baik atau kebajikan akan mendapat upahnya masin-masing, tetapi perbuatan baik atau kebajikan bukan untuk mendapat perkenanan Allah. Justru karena perkenanan Tuhan oleh iman kita maka kita berbuat kebajikan (Band. Ibrani 11:6).

KEMULIAAN TUHAN DINYATAKAN LEWAT CIPTAAN

Nats : Maz. 19:1-5b

Tuhan, selain berbicara atau menyatakan diri lewat firman Tuhan, dia juga menyatakan kemuliaan-Nya lewat ciptaan-Nya. Apa yang kita baca dari ayat diatas adalah penyataan Tuhan lewat alam semesta. Bila merujuk kepada ilmu pengetahuan, Matahari, bulan, bumi, dan planet lainnya secara terus menerus berputar dan tetap pada porosnya dengan kecapatan tinggi.

Seorang pemain bola handal begitu mahir menendang bola ke gawang dan dapat memutar bola di ujung jarinya, namun pasti juga sesekali melakukan kesalahan sehingga tendangannya tidak tepat sasaran. Kemampuan jarinya juga tidak bisa memutar bola di ujung jarinya untuk waktu yang lama dan juga tidak selalu berhasil melakukannya. Namun Tuhan tidak sekalipun melakukan kesalahan yang mengakibatkan Matahari keluar dari porosnya dan menimbulkan kekacauan dan kehancuran alam semesta.   Maka layaklah kita bersyukur dan memuliakan Tuhan sebab tanpa kuasa-Nya, Matahari dan planet lainnya tidak akan tetap berputar pada porosnya.

Matahari diciptakan Tuhan dengan cahaya dan cahaya itu ada bukan tanpa tujuan melainkan berfungsi untuk menyinari alam semesta. dan semuah mahkluk hidup di bumi menerima manfaatnya. Tanpa cahaya Matahari maka tidak ada kehidupan di bumi. Tumbuh-tumbuhan yang menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan tidak akan tumbuh. Pernah kita merenungkan bahwa baik padi, ubi, ikan, daging dan sayur-sayuran yang sehari-hari kita makan, semua itu ada karena kuasa Tuhan? Tanpa kuasa Tuhan maka tumbuh-tumbahan tidak akan tumbuh dan hewan tidak akan hidup walau sehebat apa pun kita mengupayakannya. Maka dengan menyadari ini, layaklah kita mengucap syukur kepada Tuhan atas makanan yang kita santap setiap hari. Secara sederhana kita lihat bahwa di dalam sepiring nasi kemuliaan Tuhan nyata yang menjadikannya ada untuk memelihara kita.

Ayat 3 mengatakan “Hari meneruskan berita itu kepada hari dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan dan bagaimana alam dan kehidupan itu berlangsung menjadi sebuah cerita atau kisah. Apa yang terjadi sebelum hari dimana kita ada, disitu terdapat kisah-kisah yang sudah kita lewati; ada kuasa Tuhan dinyatakan dan pemeliharaan Tuhan sehingga kita bisa hidup hingga saat ini. Jadi seperti apa adanya kita hari ini tidak berdiri sendiri mewakili satu hari kehidupan kita melainkan mewakili puluhan tahun usia kita sejak kita lahir.

Dikatakan “Hari menceritakan kepada hari”. Hari kemarin menjadi cerita di hari ini, hari ini akan menjadi cerita di hari besok dan hari besok menjadi cerita di hari kemudian. Oleh karena itu, syair yang kita baca mengandung makna bahwa existensi alam semesta yang ada hari ini dan segala keadaan kita hari ini merupakan kelanjutan kisah penyataan kemuliaan Tuhan sejak penciptaan. Kita ada hari ini karena Tuhan sudah menyatakan kemuliaan-Nya atas kita dihari kemarin. Berkat Tuhan selalu baru tiap hari itulah nafas hidup dan pemeliharaan Tuhan dari sehari ke sehari. Oleh karena itulah kita patut selalu mengucap syukur kepada Tuhan.

Selanjutnya dikatakan “dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” Mengapa harus malam? Karena malam menjadi momen/waktu bagi kita untuk merenungkan kehidupan yang kita lakoni sepanjang hari. Sebelum kita tidur, mungkin kita akan merenungkan segala hal yang kita mulai di pagi hari sampai malam hari. Raja Daud mengatakan “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkahlah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman” (Maz 4:9). Kata “sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman” menjadi semacam konklusi dari perenungannya sebelum dia tidur.

Dari perenungan, kita akan mendapatkan hikmat dan pengetahuan baru yang menjadi bekal kita supaya kita tahu apa yang harus kita perbaiki, tingkatkatkan atau tinggalkan pada esok hari. (LH)

JAWABAN DARI ABBA

Nats : Matius 7:7-11

Meminta sesuatu kepada Tuhan sewajarnya adalah sesuatu yang kita butuhkan/perlukan dalam kehidupan. Meminta berarti kita sadar apa dan untuk apa yang kita minta tersebut. Dalam konteks kita sebagai anak Allah maka segala yang kita minta haruslah bermuara pada kehendak Tuhan, dimana semua yang kita minta akan menyatakan kemualiaan Tuhan. Dengan demikian kita tahu apa saja yang akan kita Imani dan nantikan sebagai jawaban dari Tuhan. Namun meminta dan berharap kepada Tuhan bukan berarti kita berpangku tangan tanpa usaha-usaha maksimal. Kita perlu mengambil tindakan supaya dengan jalan itu Tuhan menyatakan pertolongan-Nya atas kita, oleh karena itu dalam bagian ayat itu dikatakan “carilah”. Mencari berarti ada upaya/usaha, ada pembelajaran, ada inovasi, dll. Sedangkan “mengetok” adalah sikap “nuon” (permisi) sebagai gambaran kerendahan hati.

Kalimat “setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” pada ayat ke 8 adalah sebagai bentuk jaminan atau garansi. Namun hal itu harus dipahami dalam konteks meminta seturut kehendak Allah, sebab Tuhan tidak akan memberi JAMINAN bila hal itu bertentangan dengan kehendak-Nya.

Untuk menepis keraguan atas doa yang dipanjatkan kepada Tuhan, Tuhan membuat gambaran yang bersifat relasi atau hubungan antara bapa dengan anak. Bagaimana seorang ayah mengasihi anak-anaknya dan memikirkan yang terbaik buat anak-anaknya maka demikian bahkan lebih lagi kasih Tuhan atas kita anak-anak-Nya. Kita adalah anak-anak Tuhan oleh iman kita kepada Kristus Yesus. Yohannes 1:12, mengatakan ”Tetapi semua orang yang menerima-Nya (Yesus) diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Dengan posisi kita sebagai anak, kita memperoleh kesempatan untuk bergaul karib dan begitu dekat dengan Allah. Ini sungguh luar biasa. Dalam beberapa kesempatan Yesus Kristus menyebut Allah sebagai Abba. Abba dalam bahasa Aramic artinya deddy (B. Inggris) ayah (B.Indonesia) bukan hanya sekedar bapa. Bapa belum tentu ayah tetapi ayah sudah pasti bapa. Abba atau Ayah menunjukkan garis keturunan. Abba menunjukkan dari mana seseorang berasal. Galatia 4:6,”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”(Band Roma 8:15) Karena kita telah menyatu dengan Kristus dan telah mendapat bagian dari identitas ke-anak-anNya, maka kita juga berhak memanggil-Nya Abba.

Setiap orang sewajarnya bangga menjadi bapa (Abba) yang baik (Proud to be a good father). Seorang abba yang baik pasti memikirkan dan mengusahakan yang terbaik bagi anak-anaknya. Dan kebaikan Tuhan sebagai Abba kita lebih daripada kebaikan bapa kandung kita secara jasmani (ayat 11). Demikian pula seharusnya menjadi suami, isteri dan anak-anak dalam keluarga. Seorang suami yang baik pasti memikirkan dan mengusahakan yang terbaik buat isteri dan anak-anaknya. Seorang isteri yang baik pasti akan memikirkan dan mengusahakan yang terbaik buat suami dan anak-anaknya, dan seorang anak yang baik pasti akan memikirkan dan mengusahakan yang terbaik buat bapa, ibu dan saudara-saudaranya.

Ketika Yesus berdoa, Dia selalu mengarahkan doanya kepada Bapa. Dia menyebut Allah dalam doa-Nya sebagai Abba. Dan saat Dia mengajarkan murid-murid dalam hal berdoa dan meminta kepada Allah, Dia mengajarkan para murid untuk meminta kepada Bapa. Ini menjadi suatu pelajaran bagi kita bahwa apabila kita berdoa dan meminta kepada Allah dalam doa kita, hal yang sangat perlu kita sadari bahwa kita sedang berdoa atau meminta kepada Bapa kita. Bapa atau Abba yang mengasihi kita, yang perduli dan yang bangga memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya seturut kehendak-Nya, maka setiap orang yang meminta akan menerima dan setiap orang yang mencari akan mendapat dan setiap orang yang mengetok akan dibukakan pintu baginya. (LH)

HARI YANG BERCERITA

Maz. 19:3 “Hari meneruskan berita itu kepada hari dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam”

Mazmur itu adalah nyanyian/pujian atau syair-syair. Dalam Bahasa seniman/sastrawan setiap kata atau kalimat syair bisa mengandung maksud yang sangat luas dan dalam. Ada sebuah puisi yang terkenal dan fenomenal yang ditulis oleh seorang sastrawan angkata 45 yaitu Sitor Situmorang. Puisinya berjudul “Malam Lebaran” yang berisi satu baris saja yaitu “Bulan di atas kuburan”. Sangat singkat, namun puisi ini telah menjadi inspirasi sebuah film. Meski sangat pendek yang tertuang dalam kata-kata namun mengandung cerita yang panjang dalam benak si penulis.

Ayat ini mengatakan “hari meneruskan berita itu kepada hari..” Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan dan bagaimana alam dan kehidupan itu berlangsung menjadi sebuah cerita atau kisah. Apa yang terjadi sebelum hari dimana kita ada, disitu terdapat kisah-kisah yang sudah kita lewati; ada kuasa Tuhan dinyatakan dan pemeliharaan Tuhan sehingga kita bisa hidup hingga saat ini. Jadi seperti apa adanya kita hari ini tidak berdiri sendiri mewakili satu hari kehidupan kita melainkan mewakili puluhan tahun usia kita sejak kita lahir.

Contoh, ketika saya berdiri dihadapan jemaat Tuhan, maka jemaat hanya bisa mendiskripsikan tentang saya sebatas mereka tahu tentang saya. Secara fisik, tinggi hanya satu meter lebih, badan gemuk, seorang hamba Tuhan, dll. Tetapi keberadaan atau cerita kehidupan saya hari ini sesungguhnya sudah dimulai hampir 43 tahun yang lalu ketika saya lahir. Saya berdiri secara fisik sekarang sekaligus menghadirkan hampir 43 tahun kisah hidup saya. Dan selama hampir 43 tahun ini pula ada kemuliaan Tuhan dinyatakan dalam diri saya yang membuat saya tetap hidup, sebab tanpa Tuhan, saya sudah tidak ada sekarang ini.

Dikatakan “Hari menceritakan kepada hari”. Hari kemarin menjadi cerita di hari ini, hari ini akan menjadi cerita di hari besok dan hari besok menjadi cerita di hari kemudian. Oleh karena itu, syair yang kita baca mengandung makna bahwa existensi alam semesta yang ada hari ini dan segala keadaan kita hari ini merupakan kelanjutan kisah penyataan kemuliaan Tuhan sejak penciptaan. Kita ada hari ini karena Tuhan sudah menyatakan kemuliaan-Nya atas kita dihari kemarin.

Ratapan 3:22-23 mengatakan “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMu” Berkat Tuhan selalu baru tiap hari itulah nafas hidup dan pemeliharaan Tuhan dari sehari ke sehari. Oleh karena itulah kita patut selalu mengucap syukur kepada Tuhan.

Selanjutnya dikatakan “dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” Mengapa harus malam? Karena malam menjadi momen/waktu bagi kita untuk merenungkan kehidupan yang kita lakoni sepanjang hari. Sebelum kita tidur, mungkin kita akan merenungkan segala hal yang kita mulai di pagi hari sampai malam hari.

Raja Daud mengatakan “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkahlah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman” (Maz 4:9). Kata “sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman” menjadi semacam konklusi dari perenungannya sebelum dia tidur. Melalui perenungan, kita akan mendapatkan hikmat dan pengetahuan baru yang menjadi bekal kita supaya kita tahu apa yang harus kita perbaiki, tingkatkatkan atau tinggalkan pada esok hari. (LH)

 

Kemuliaan Tuhan dalam Sepiring Nasi

Maz. 19:2 “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya”

Tuhan, selain berbicara atau menyatakan diri lewat firman Tuhan, dia juga menyatakan kemuliaan-Nya lewat ciptaan-Nya. Di awal peradaban dunia sebelum manusia diciptakan oleh Tuhan, Tuhan sudah terlebih dahalu menciptakan alam semesta. Kepada nabi-nabi, Tuhan telah berfiman dan mereka mendengar suara-Nya. Tuhan juga berfirman lewat pengilhaman kepada nabi dan rasul yang menuliskan kitab-kitab yang ada ditangan kita saat ini, dan Dia sendiri yang adalah Firman telah menyatakan diri dalam wujud manusia untuk menyatakan Allah bagi manusia yaitu Yesus Kristus.

Apa yang kita baca dari ayat diatas adalah penyataan Tuhan lewat alam semesta. Bila merujuk kepada ilmu pengetahuan, Matahari, bulan, bumi, dan planet lainnya secara terus menerus berputar dan tetap pada porosnya dengan kecapatan tinggi. Bila seorang pemain bola handal begitu mahir menendang bola ke gawang dengan akurasi yang tinggi dan dapat memutar bola di ujung jarinya, namun sehebat-hebat seorang Messie dia pasti juga sesekali melakukan kesalahan sehingga tendangannya tidak tepat sasaran. Kemampuan jarinya juga tidak bisa memutar bola di ujung jarinya untuk waktu yang lama dan juga tidak selalu berhasil melakukannya. Bila Tuhan sekali saja melakukan kesalahan yang mengakibatkan Matahari keluar dari porosnya maka alam semesta ini tentu sudah kacau balau, dan kehidupan seperti yang kita hidupi sekarang tidak akan ada. Maka layaklah kita bersyukur dan memuliakan Tuhan sebab tanpa kuasa-Nya, Matahari dan planet lainnya tidak akan tetap berputar pada porosnya.

Matahari diciptakan Tuhan dengan cahaya dan cahaya itu ada bukan tanpa tujuan melainkan berfungsi untuk menyinari alam semesta. dan semuah mahkluk hidup di bumi menerima manfaatnya. Tanpa cahaya Matahari maka tidak ada kehidupan di bumi. Tumbuh-tumbuhan yang menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan tidak akan tumbuh. Pernah kita merenungkan bahwa baik padi, ubi, ikan, daging dan sayur-sayuran yang sehari-hari kita makan, semua itu ada karena kuasa Tuhan? Tanpa kuasa Tuhan maka tumbuh-tumbahan tidak akan tumbuh dan hewan tidak akan hidup walau sehebat apa pun kita mengupayakannya. Maka dengan menyadari ini, layaklah kita mengucap syukur kepada Tuhan atas makanan yang kita santap setiap hari. Secara sederhana kita lihat bahwa di dalam sepiring nasi kemuliaan Tuhan nyata yang menjadikannya ada untuk memelihara kita.

KEUTAMAAN KRISTUS

Nats : Yohanes 1:35-42

Sebutan Anak Domba Allah (ay 36) yang digunakan oleh Yohanes Pembabtis untuk memperkenal Yesus kepada murid-muridnya dan mungkin orang lain yang bersama dengan dia, merujuk kepada pengertian hukum Musa mengenai “anak domba” yang disembelih sebagai korban penebus salah/dosa. Dalam konteks dekat di ayat-ayat sebelumnya berhubungan juga dengan sebutan “Mesias”. Kedua murid, khususnya Andreas jelas mengerti arti sebutan “Anak Domba Allah” dan juga “Mesias” (merujuk kepada ayat sesudahnya). Meskipun Yesus baru akan memulai tugasnya dan belum segera akan dikorbankan, tetapi bagi Yohanes bahwa Yesus adalah Mesias adalah sudah meyakinkan karena Allah telah mengatakannya. Lebih lagi bagi kita zaman ini, ketika seluruh isi Alkitab bermuara kepada Kristus dan PekerjaanNya, maka kita tidak ada keraguan lagi bahwa Yesus adalah Mesias.

Ketika murid Yohanes mengikuti Yesus (ay 37), dia tidak berusaha melarang apalagi menjadi kecewa. Dia tidak takut kehilangan murid (abdi) sebab baginya Yesus yang utama. Yesus yang utama bukan Pendeta/Majelis/Penatua. Setiap orang pada akhirnya harus dibawa dan menjadi murid Kristus. Bagi Yohanes, Yesus harus semakin besar dan Ia harus semakin kecil (Yoh.3:30).

Dari ayat 38, ada satu pertanyaan penting untuk kita yang mengikut Yesus untuk direnungkan dan dijawab yaitu “Apa yang kamu cari?” Ketika seseorang datang ke gereja, KKR atau persekutuan, apa yang mereka cari? Apakah mencari mujizat atau berkat semata? Apakah ke gereja mencari orang yang kaya yang diharapkan bisa selalu menolong? Apakah mencari seorang manager perusahaan yang diharapkan bisa memberikan pekerjaan? Bila semua itu yang menjadi tujuan, besar kemungkin mereka akan kecewa dan tidak akan menjadi jemaat yang sungguh-sungguh. Carilah Tuhan dan temukanlah kebenaranNya, yang lain akan ditambahkan kepada kita.

Ketika kedua murid Yohanes itu mengikut Yesus lalu menanyakan dimana Ia tinggal dan akhir mereka tinggal bersama-sama dengan Tuhan (ay 39), pastilah karena mereka ingin lebih mengenal Yesus. Maka dari ayat ini dapat kita buat sebuah statement yaitu “To know more about Jesus is to stay with Him” (untuk lebih mengenal Yesus adalah dengan tinggal bersama dengan Dia). Bagaimana kita tetap tinggal di dalam Dia? Yaitu dengan persekutuan ibadah, doa, membaca dan merenungkan firman dan belajar melakukan firman-Nya.

Selanjutnya di ayat 41, dari Andreas kita belajar yaitu bagaimana kita sebagai murid Tuhan perlu terbeban untuk membawa (memberitakan) Kristus kepada orang lain dan membawa orang lain kepada Kristus, supaya semakin banyak orang diselamatkan. Itu adalah tugas orang percaya yang ditegaskan oleh Yesus dalam Amanat Agung-Nya (Mat 28:19-20).

Di ayat 42, Simon dinamai oleh Yesus sebagai Kefas yang artinya Petrus (batu karang). Pemberian nama ini mengisyaratkan bahwa Yesus meletakkan landasan gereja-Nya diatas Petrus (Mat. 16:18). Petruslah yang kemudian memimpin jemaat mula-mula setelah kenaikan Yesus. Yang menarik kalau kita lihat dari sisi Andreas, bahwa tidak masalah Petrus menjadi pemimpin rasul-rasul (dimana Andreas termasuk di dalamnya) dan jemaat mula-mula, meskipun Andreaslah sebagai murid pertama bahkan yang “menginjili” Petrus. Baginya yang terpenting adalah membawa Simon kepada Yesus, entah sebagai alat yang bagaimana Petrus dipakai oleh Tuhan, hal itu terserah pada Tuhan. Mari kita belajar prinsip ini.

FORMASI UNTUK MENGUASAI KOTA YERIKHO

Nats: Yos 6:1-5

Kisah jatuhnya kota Yerikho ke tangan orang Israel tidak terlepas dari kerja sama yang baik diantara elemen yang ada di bangsa itu. Walaupun sangat mudah bagi Allah untuk meluluh lantakkan kota Yerikho tanpa orang Israel berbuat apa-apa tapi hal itu tidak dilakukan oleh Allah. Allah menghendaki mereka memiliki andil dengan bertindak sebagai bukti kepercayaan mereka kepada perintah Tuhan.

Allah memerintahkan mereka untuk mengedari kota itu sebanyak tujuh hari dimana hari pertama sampai ke enam mereka mengitari hanya 1 kali dan hari ketujuh 7 kali mereka harus mengitari kota itu. Mereka juga diperintahkan oleh Allah membawa serta Tabut Perjanjian, membunyikan sangkakala dan bersorak dengan nyaring. Meski secara logika tidak mungkin hal itu akan dapat meruntuhkan tembok Yerikho, tetapi mereka percaya kepada Tuhan dan taat.

Adapun elemen yang dipakai oleh Tuhan menurut yang tertulis di kitab Yosua 6 adalah : Prajurit, Imam-imam dan seluruh bangsa (umat). Keterlibatan semua elemen untuk meruntuhkan tembok Yeriko dalam konteks jaman ini dapat menggambarkan kerjasama dan keterlibatan semua elemen yang ada di gereja Tuhan. Kota harus dimenangkan dan tembok iblis harus dihancurkan. Tuhan mau memakai semua elemen dan talenta yang ada untuk mendukung misi Allah. Tembok Yerikho tidak akan hancur bila hanya prajurit dan atau imam-imam saya yang mengitari kota itu sedangkan seluruh umat hanya sebagai penonton. Pun tidak akan hancur bila hanya umat saja tanpa imam dan prajurit.

Lebih jelas formasi yang diperintahkan Yosua sesuai dengan petunjuk Allah untuk mengitari kota Yeriko adalah orang bersenjata (prajurit), kemudian di ikuti oleh imam-imam yang membawa sangkakala, lalu dibelakangnya ada tabut perjanjian (juga dibawa oleh imam –ayat 12), dan yang terakhir adalah barisan penutup (Ayat 6-9). Formasi ini sangat cocok dengan model pelayanan baik di dalam pengembangan gereja/pelayanan yang sudah ada, maupun dalam penginjilan untuk menjangkau jiwa-jiwa baru bagi Tuhan. Orang bersenjata adalah para penginjil/pekerja-pekerja perintis yang dipersiapkan, imam-imam adalah hamba-hamba Tuhan yang dipercaya menggembalakan dan menyuarakan suara kenabian, Tabut adalah gambaran Yesus yang diberitakan sekaligus menjadi lambang kehadiran dan penyertaan Allah, sedangkan yang terakhir adalah barisan penutup mengacu pada jemaat yang menerima pengajaran firman dan sekaligus menjadi penopang berlangsungnya pelayanan dengan tenaga, doa dan dana.

Melalui kerjasama yang baik dan saling mendukung diantara semua elemen yang ada di tengah-tengah gereja Tuhan, sesuai dengan panggilan dan talenta masing-masing elemen/orang,   pekerjaan-pekerjaan yang besar akan dapat dilakukan. Ketika yang dibawa adalah misinya Tuhan dan oleh karena kehadiran Tuhan yang dilambangkan sebagai Tabut Perjanjian akan selalu menyertai, maka pekerjaan yang dasyat akan terjadi seperti runtuhnya tembok Yeriko dan kota itu dikuasai.

SANDIWARA ATAU KESUNGGUHAN

Nats: Yesaya 1:10-20

Penglihatan yang dilihat oleh Yesaya tentang Yehuda dan Yerusalem berbicara tentang keadaan kehidupan keimanan orang-orang Yehuda sepanjang kepemimpinan 4 orang raja-raja Yehuda. Pada ayat 10, perkataan ini ditujukan kepada pemimpin-pemimpin Yehuda namun sebutan “pemimpin-pemimpin” diikuti dengan istilah “Manusia Sodom” dan “Manusia Gomora”. Sepertinya dalam pandangan Yesaya, bahwa kejahatan orang-orang Yehuda sudah sama dengan orang-orang Sodom dan Gomora yang dihukum oleh Allah yang hidup di masa Abraham dan Lot (Kej. 18-19).

Di ayat 11-15 dan 16-17 sesungguhnya kita dapat menemukan bagian dari konsep salib yang sering dimaknai sebagai hubungan atau relasi vertical kepada Allah (ayat 11-15) dan hubungan/relasi horizontal kepada sesama (ayat 16-17), yang didalam konteks kita sekarang kita maknai bahwa oleh karena pengorbanan Kristus di kaya salib, hubungan kita dipulihkan kepada Allah dan juga kepada sesama manusia di dalam kasih Tuhan.

Masalah yang terjadi adalah bahwa meski mereka masih melakukan rutinitas “keagamaan” tetapi mereka tidak hidup di dalam kesungguhan sebagaimana orang yang beriman kepada Tuhan. Mereka layaknya sedang bersandiwara. Hal itu tercermin dari bagaimana mereka memperlakukan sesamanya, dan cara hidup mereka yang jahat seperti yang digambarkan sebagai “manusia Sodom’ dan “manusia Gomora”. Oleh karena itu, semua persembahan/korban mereka yang banyak-banyak, pertemuan-pertemuan dan perayaan-perayaan mereka sungguh menjijikkan bagi Tuhan.

Tentu hal ini perlu menjadi perenungan bagi kita yang hidup di zaman ini. Kita menyaksikan bagaimana pemimpin-pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh agama yang seharusnya menjadi panutan tetapi matanya digelapkan oleh uang atau kekayaan. Contohnya adalah bagaimana seorang menteri agama yang ditangkap karena dugaan korupsi dan yang dikorupsi pun juga berkaitan dengan kegiatan keagamaan, seorang tokoh agama yang mengatasnamakan Tuhan untuk memperdaya umat, dan masih banyak contoh lainnya. Pada saat yang sama mereka tetap melakukan rutinitas keagamaan bahkan memakai symbol-simbol keagamaan dalam diri mereka. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita lebih baik, sama atau justru lebih buruk dari mereka? Tentu diperlukan kerendahan hati, keterbukaan dan kejujuran untuk melihat dan mengakuinya.

Teguran kepada orang Yehuda ini juga berlaku bagi kita agar kita instrospeksi diri. Apakah kita hidup sebagai orang yang beriman kepada Tuhan dimana ada relasi atau persekutuan yang sungguh-sungguh, bukan sekedar rutinitas dan bukan sandiwara dengan Tuhan, dan bagaimana applikasi iman terbukti juga dari cara kita berelasi dengan sesama kita?

Ayat 18-20 memberi jaminan bahwa setiap orang yang bertobat maka mereka akan diampuni, dan orang yang mendengar dan menuruti perkataan Tuhan maka akan diberkati. Sebaliknya bagi mereka yang memberontak dan melawan, akan dimakan oleh pedang. Artinya akan dibiarkan dikalahkan oleh musuh (dalam konteks perang) atau dibiarkan mengalami kekalahan dan menderita dalam kehidupannya.

SIAP, RELA DAN BERDAMPAK

Nats: Hakim-hakim 5:1-2

Meskipun dalam tradisi Yahudi posisi perempuan dan perannya tidak mendapat hitungan secara personal, tetapi Tuhan juga menggunakan perempuan untuk menjalankan misinya atas bangsa Israel dan dunia ini. Selain Hawa, Naomi, Ester dan perempuan lainnya, Tuhan juga membangkitkan seorang hakim perempuan di masa hakim-hakim yaitu Debora untuk memimpin bangsa Israel melawan musuh-musuh mereka dan menjadi hakim ditengah bangsa itu.
Dua ayat diatas adalah bagian dari nyanyian kemenangan oleh Debora dan Barak. Mereka bernyanyi setelah mereka mengalami kemenangan oleh karena pertolongan Tuhan yang dikisahkan pada ayat sebelumnya.
Beberapa hal yang menjadi pembelajaran bagi kita dari 2 ayat dan dari latarbelakang di pasal 4:

1. Tuhan tidak membatasi gender (Jenis Kelamin) untuk menjalankan misi-Nya. Dia bisa menggunakan baik laki-laki atau perempuan, sekalipun fungsi keimaman harus tetap pada laki-laki. Persoalan zaman sekarang yang terjadi adalah laki-laki (suami-suami) justru tidak menjalankan fungsi sebagai imam tetapi cenderung sebagai “raja”. Dia menyuruh dan menghantar istri dan anak-anaknya ke gereja tetapi dia sendiri tidak ke geraja. Dia membiarkan istri pergi ke persekutuan-persekutuan doa sedang dia sendiri sibuk di warung atau menonton di rumah. Ini sungguh memprihatinkan.

2. Bagian lirik nyanyian Debora mengatakan “karena pahlawan-pahlawan Israel siap berperang”. Tentu Deboran dan Barak dalam hal ini tidak sedang mengesampingkan peran Tuhan dalam kemenangan mereka, tetapi lewat kesiapan pahlawan-pahlawan itu Tuhan memberi kemenangan kepada mereka. Baik dalam dunia pelayanan rohani maupun dalam dunia sekuler, kesiapan seseorang untuk menghadapi atau mengerjakan sesuatu, akan mempengaruhi hasil yang dicapai. Kata “Siap” yang dimaksud bukan hanya tentang kesiapan mental tetapi juga skill (keahlian). Untuk itu perlu membekali diri dengan terus belajar, berlatih dan berdoa. Jangan hanya berdoa tanpa melakukan apa-apa. Doa harus diikuti dengan tindakan dan tindakan disertai doa. Ada banyak berkat Tuhan menanti kita, tetapi yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah kita siap untuk meraihnya?

3. Pada ayat itu juga dikatakan “karena bangsa itu menawarkan dirinya dengan sukarela”. Saudara, betapa luar biasa kuasa dari “kerelaan”. Orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela akan jauh lebih maksimal dan berdampak daripada bila seorang melakukan sesuatu karena didorong-dorong atau ditarik-tarik, karena orang yang didorong-dorong atau ditarik-tarik mengesankan keadaan yang terpaksa. Ketidakrelaan seringkali terjadi karena kurangnya kesadaraan akan dirinya dan tanggungjawabnya. Bisa juga karena kedegilan hatinya yang tidak mau menerima ajaran. Bukankah demikian yang banyak terjadi dalam kehidupan banyak orang zaman ini? Mereka acuh tak acuh dan tidak melakukan apa-apa di dalam pelayanan. Jangankan untuk menjadi alat bagi Tuhan sedangkan untuk beribadah rutin saja banyak yang bermalas-malasan. Karena itu mereka tidak bertumbuh apalagi berdampak. Maka sadarilah akan hidupmu dan tanggungjawabmu, supaya karena kerelaan itu engkau bertindak dan berdampak, dan kemualiaan Tuhan nyata atas dirimu.

Bukti Orang Percaya

Nats : Yoh. 10:22-29
Ayat 24 ini menjelaskan bahwa orang Yahudi sesungguhnya sedang menantikan Mesias, sang Juruselamat. Tentang Mesias ini telah dinubuatkan di kitab Perjanjian Lama dan diajarkan turun-temurun. Mesias yang telah dijanjikan jauh sebelum Kristus lahir menjadi sebuah bukti kasih Tuhan yang akan menyelamatkan manusia.

Menjawab pertanyaan orang Yahudi yang bimbang ini, Yesus berkata bahwa Ia telah mengatakannya dan perbuatan muzijat adalah bukti-bukti yang meneguhkan hal itu, tetapi mereka sendiri yang tidak percaya. Demikian juga kehidupan orang yang tidak percaya, bahwa kebimbangan yang terjadi dalam hidup manusia seringkali bukan karena kurangnya pertanyaan-pernyataan dan bukti-bukti yang telah dikerjakan Allah, melainkan karena tidak percaya kepada Tuhan.

Yesus menegaskan bahwa mereka yang tidak percaya itu karena mereka bukan domba-domba-Nya Tuhan, sebab domba akan selalu mendengar, percaya dan mengikuti kemana saja gembala membawa kawanan itu. Pertanyaan bagi kita adalah “apakah yang menjadi bukti bahwa kita adalah kawanan domba Tuhan?” Buktinya adalah bila kita mendengar suara (Firman) Tuhan dan mengikuti Dia atas dasar percaya kepada-Nya sebagai Gembala Agung yang memelihara jiwa kia.

Diantara orang-orang Yahudi yang mengikut Yesus ketika itu, terdapat orang-orang Yahudi yang percaya dan orang-orang Yahudi yang tidak percaya. Mereka sama-sama mendengar pengajaran Tuhan, dan mengikuti Yesus. Perbedaannya adalah bahwa yang satu percaya dan yang lainnya tidak. Yang percaya tetap mengikuti Dia dengan setia sedangkan yang tidak percaya mau melempari Dia.

Mungkin saja banyak orang datang ke gereja setiap minggunya, mereka sama-sama mendengar firman Tuhan dan memberi persembahan, namun seorang murid akan mengikuti Tuhan dengan setia atas dasar percaya kepada Tuhan dimana hidupnya memuliakan Tuhan, sedangkan yang bukan murid akan “melempari” (mempermalukan) dengan kehidupannya yang tidak benar.
Bagian orang percaya adalah menerima hidup yang kekal; tidak binasa sampai selama-lamanya, demikian kata Firman Tuhan.

PEMIMPIN HEBAT UNTUK INDONESIA HEBAT

Puji syukur kepada Tuhan, Indonesia telah selesai melakukan satu pesta demokrasi yang penting yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014. Berdasarkan hasil keputusan KPU maka pasangan Jokowi-JK terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden masa bakti 2014 – 2019. Tentu sudah banyak waktu, tenaga bahkan dana yang terkuras khususnya dari kedua pasangan selama masa kampanye, namun itulah konsekwensi berdemokrasi dimana harus ada yang menang dan kalah. Harapan kita sebagai warna negara dan sebagai jemaat Tuhan, kiranya pasangan terpilih ini nantinya akan bisa mengemban tugas dan tanggungjawab sebaik-baiknya untuk memajukan bangsa dan negara republik Indonesia ini, sebab kemajuan bangsa dan negara adalah kemajuan kita juga.

Adalah wajar semua rakyat Indonesia berharap besar kapada pemimpin-pemimpin baru yang muncul beberapa tahun belakangan ini. Sebab selama puluhan tahun sejak Indonesia merdeka, masyarakat tetap dalam kesusahan dan penderitaan. Padahal kalau dibandingkan dengan kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah, masyarakat Indonesia sejatinya jauh lebih sejahtera dibanding masyarakat di beberapa negara di dunia ini. Namun karena mental Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang merajalela mengakibatkan rakyat tetap hidup dalam kesusahan kecuali para pejabat atau pengusaha yang bisa “kong kali kong” dengan para pengurus pemerintahan.

Munculnya beberapa pemimpin baru beberapa tahun belakangan ini seperti memberi angin segar perubahan untuk Indonesia lebih baik. Sebutlah Joko Widodo atau Jokowi (Mantan Walikota Solo, Gubernur DKI dan Presiden terpilih 2014), Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok (Mantan Bupati Belitung Timur dan sekarang sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta), Risma (Walikota Surabaya), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tangah), dll. Mereka bisa dikatakan hebat bukan saja karena dikenal bersih dari KKN tetapi juga transparan dan tegas mengambil keputusan. Pejabat-pejabat seperti ini menjadi harapan bagi bangsa ini. Maka marilah kita berdoa agar muncul pejabat-pejabat seperti mereka di Indonesia ini, supaya Indonesia lebih maju dan hebat. (LH, Juli-14)

BERSATU HATI MENCARI TUHAN

2 Taw. 20:3-4 “Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.”

1. Yosafat Mencari Tuhan

Yosafat adalah raja Yehuda yang mengikuti jejak iman kakek moyangnya yaitu Daud. Kata “mencari” bukan berarti bahwa Ia tidak memiliki persekutuan dengan Tuhan selama ini, namun yang dimaksud adalah dia mengadukan persoalannya kepada Tuhan. Selama kita masih ada di dalam dunia ini, tidak ada seorang pun yang menjamin bahwa kita tidak akan menghadapi masalah atau tantangan hidup, meskipun kita adalah orang percaya. Dan rasa kwatir dan takut bisa saja menyelimuti hati kita. Bila itu terjadi maka tindakan pertama dan terpenting adalah “carilah Tuhan”.

2. Yehuda Bersatu Hati

Yosafat sebagai raja, menyerukan kepada bangsa itu sapaya berkumpul meminta pertolongan Tuhan dan semua orang Yehuda datang dari semua kota. Pelajaran penting disini adalah mereka bersatu hati. Orang-orang Yehuda mengikuti pemimpin mereka yang menyerukan untuk berkumpul dan berpuasa meminta pertolongan kepada Tuhan.

Kesatuan hati tidak boleh dianggap remeh. Kerjasama yang baik dan sinergi antara masyarakat/jemaat dan pemimpin memiliki dampak yang besar dalam segala pekerjaan yang dipercayakan Tuhan. Visi dan Misi pemimpin akan bisa berjalan dengan baik bila seluruh masyarakat/jemaat meresponi dan bersatu hati untuk mewujudkannya. Pemimpin tidak bisa berjalan sendiri. Dia membutuhkan peran serta setiap elemen masyarakat/jemaat.

Di teks berikutnya di Tawarikh 20 ini dikisahkan kemenangan yang dialami oleh bangsa Yehuda bahkan ketika mereka belum memulai peperangan. Tuhan membuat penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda. Setelah bani Amon dan Moab memusnahkan penduduk pegunungan Seir, mereka sendiri yang justru saling bunuh-membunuh.

Saya pernah mengalami seperti yang dialami oleh Yehuda ini, dimana ketika beberapa preman yang sering menganggu usaha penyewa-penyewa di tempat saya, yang tentu saja secara tidak langsung mengganggu usaha. Saya mengalami bagaimana Tuhan membela saya, ketika oleh karena berbagai kasus preman-preman itu ditangkap polisi dan bagaimana yang lain saling hantam-menghantam, dan saya hanya sebagai penonton, sampai kemudian suatu masa semua preman di seluruh Indonesia ditangkapi oleh aparat.

Tentu tidak harus sama pengalaman itu. Ada banyak cara Tuhan membela umat-umat yang berseru kepada-Nya. Maka tetaplah mencari Tuhan dan peliharalah kesatuan iman. (LH)

HIKMAT UNTUK ORANG-ORANG MUDA

Bulan Juni sampai bulan Juli tahun 2014 ini merupakan masa liburan sekolah setelah para pelajar menerima raport atau pengumuman kelulusan. Mereka yang naik kelas akan bergembira sama seperti pelajar yang lulus untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi dari SD ke SLTP, dari SLTP ke SLTA dan dari SLTA ke jenjang perguruan tinggi (universitas). Biasanya, mereka yang tidak melanjutkan pendidikan dari SLTA ke Perguruan Tinggi, dan mereka yang baru  lulus dari Perguruan Tinggi akan mengalami kegalauan setelah terjun ke masyarakat bila tidak langsung mendapatkan pekerjaan. Hal ini terjadi karena mereka sudah tidak memiliki akivitas rutin di sekolah/perkuliahan seperti biasa, mereka juga mulai memikirkan masa depan mereka, dan pada saat yang sama mereka mulai menyadari bahwa hidup itu ternyata tidak semudah yang mereka pikirkan ketika mereka masih duduk di bangku sekolah.

Persoalan selanjutnya yang terjadi bila mereka tidak mendapat pekerjaan, usaha atau kegiatan yang jelas adalah timbulnya rasa kurang percaya diri yang semakin tinggi bahkan lebih buruknya adalah merasa hidupnya tidak berarti. Karenanya mereka cenderung melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Oleh karena itu, pada masa-masa ini mereka perlu tetap mendapat bimbingan/arahan/dorongan dari orang tua maupun keluarga.

Orang tua sering dikatakan “sudah banyak makan asam-garam kehidupan” ketika harus berhadapan dengan orang-orang muda dalam menyikapi persoalan atau tantangan hidup. Maksudnya adalah bahwa orang tua sudah melewati banyak masa dimana ada kejadian, tantangan, kesuksesan, kegagalan, manis dan pahit, dan lain-lain yang belum banyak di alami oleh orang-orang muda. Atas dasar itulah orang tua sering memberi bimbingan, nasehat bahkan teguran dengan tujuan agar orang-orang muda tidak salah langkah melainkan menjadi orang yang berhasil.  Sebab orang tua selalu menghendaki orang-orang muda, terlebih anak-anaknya agar berhasil dalam menjalani kehidupannya.

Orang yang terkenal berhikmat, dia yang terkenal bijaksana dan memiliki persekutuan dengan Tuhan, seorang raja yang besar yaitu Raja Salomo pernah menulis “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu” (Amsal 1:8). (LH-Juli 2014)

Tetap Bersukacita

Nats : Amsal 17:22

Oleh: Lamron Sagala (GPI Malaysia)

Meski para dokter memiliki obat medis, tetapi mereka juga meyakini bahwa hati yang bergembira akan lebih cepat memulihkan keadaan orang yang sakit. Dan itu sesuai dengan penelitian. Jauh sebelum medis berkembang, firman Tuhan sudah mengatakan bahwa hati yang gembira adalah obat tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. Saudara bisa menguji  hidup saudara apakah saudara seperti ranting yang rapuh atau sebaliknya seperti kayu yang kuat untuk menopang sebuah bangunan.

Bagaimana kita beribadah untuk menyenangkan hati Tuhan bila kita tidak bersuka-cita? Ketika seorang suami letih dari pekerjaan, apakah tetap membawa sukacita sampai ke rumah? Ketika ibu-ibu begitu sibuk dengan pekerjaan di rumah, mengurus anak-anak dan lain-lain, apakah masih tetap bersukacita? Dalam segala keadaan kita perlu menjaga hati supaya tidak hilang kontrol dan menjadi emosional, marah-marah. Bila tidak bisa menjaga hati  bisa berdampak buruk ke mana mana.

Bagitu pun dalam hal keuangan. Mungkin ada saat-saat dimana keuangan menipis bahkan mengalami kesulitan, ibu-ibu harus tetap sayang kepada suami-suami. Jangan seperti orang yang tidak mengenal Tuhan, ketika ada uang abang disayang, tidak ada uang abang melayang, tetapi harus berprinsip : ada uang abang disayang, tak ada uang tetap disayang.

Beban kehidupan memang bisa membuat orang kehilangan sukacita. Seorang anak hendaklah membahagiakan orang tua, sebab orang tua adalah wakil Tuhan di dunia ini. Dan orang tua hendaklah mengasihi anak-anak dan jangan menimbulkan  kepahitan di hati anak-anak supaya dengan itu sukacita tetap ada di tengah-tengah keluarga.  Orang percaya harus berbeda dengan orang dunia. Dalam segala tantangan yang kita hadapi , kita meresponi persoalan dengan iman kepada pertolongan Tuhan.

Segala hal butuh kesungguhan untuk  keberhasilan. Pelayanan tidak mungkin berkembang kalau tidak sungguh-sungguh di dalam Tuhan.  Kesungguhan kita akan tampak dalam kita bersikap, dan sukacita yang tetap memancar adalah satu bukti kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dan orang dunia akan melihat kehidupan kita.

TUHAN MENDAHULUI KITA

Nas : Yosua 5:13-15

Hadirnya sosok yang mengaku sebagai Panglima Bala Tentara Tuhan ini perlu menjadi perenungan bagi kita, siapa dan apa tujuannya tiba-tiba muncul di hadapan Yosua. Seseorang yang tidak sedang ditunggu, tidak pula diketahui dari mana datangnya. Dengan melihat pada sikap Yosua kepada sosok ini yaitu Yosua menyembahnya dan ia mau menerima sembahan itu, maka mungkin Dia adalah Tuhan sendiri yang menampakkan diri. Dalam istilah teologi disebut “Teofani” yaitu penampakan Allah dalam wujud yg bisa dilihat. Bandingkan dengan hadirnya Tuhan dalam nyala api yang keluar dari semakduri tetapi semak itu tidak terbakar (Kel. 3:1-6). Paling tidak sosok itu adalah Malaikat yang mewakili Allah untuk satu misi.

Sebutan diri sebagai Panglima Bala Tentara Tuhan, bersesuaian dengan keadaan orang Israel yang akan menghadapi peperangan untuk merebut kota Yeriko, karena Panglima Bala Tentara berbicara tentang seorang pemimpin yang memegang komando dan memimpin pasukan dalam peperangan.

Pasal 6 adalah sambungan dari ayat-ayat diatas. Disana disebutkan bahwa Tuhan memberi petunjuk kepada Yosua untuk menghancurkan tembok Yeriko. Mereka disuruh untuk mengelilingi kota itu sekali selama enam hari berturut-turut tetapi pada hari ketujuh, tujuh kali mereka harus mengelilingi tembok itu. Ada tujuh sangkakala yang dibawa oleh imam-imam. Setelah selesai dikelilingi, sangkakala dibunyikan dan jemaat berteriak. Akhirnya mereka berkemenangan.

Tuhan hadir dan menyatakan diri bagi kita untuk kebutuhan kita; sebagai Gembala, Ia memelihara kita, sebagai sahabat Dia membantu kita dalam kesulitan, Dia juga menyatakan diri sebagai Penolong, Penghibur dan Juruselamat bagi kita. Betapa penyertaan Tuhan luar biasa dalam hidup kita, dan adalah hasrat hati-Nya untuk selalu menyertai umat-umat-Nya. Hal itu telah dibuktikan sejak penciptaan dan lebih nyata lagi ketika Tuhan menyuruh umat Israel meninggal Mesir dan pergi ke kanaan. Sepanjang perjalanan mereka, Tuhan menyatakan kehadiran-Nya melalui   Malaikat yang mendahului mereka, Tiang Awan dan Tiang Api, lalu melalui Tabut Perjanjian.

Di dunia ini setiap saat kita berperang. Kita berperang dengan keinginan daging, berperang melawan bujuk rayu iblis, berperang melawan kemalasan, dan lain-lain. Kita mau terus meyakini bahwa Tuhan menyertai kita. Hasrat hati Tuhan adalah menyertai kita. Dia akan berjalan di depan kita untuk mendahului kita dalam peperangan yang kita harus hadapi. Namun begitu, kita harus selalu mengikuti petunjuk dan arahan Tuhan supaya kita berkemenangan.

MULUT DAN BAHASA ROH

Istilah “Pentakosta” adalah dari asal kata bahasa Yunani, yaitu “pentekoste” yang artinya hari yang kelima puluh. Karena itu pelaksanaan hari raya Pentakosta yang dirayakan oleh gereja pada masa ini adalah dihitung 50 hari sejak hari raya Paskah, yang bertepatan dengan hari pencurahan Roh Kudus seperti yang dialami oleh murid-murid Tuhan diawal

Hari Pentakosta mengandung beberapa arti. Di Perjanjian Lama (PL) hari Pentakosta sebagai hari raya panen gandum, yang mengingatkan bahwa Allah telah memberikan berkat yang berlimpah kepada umatNya sebagai bukti bahwa Tuhan memelihara umat-Nya. Juga adalah hari yang dirayakan untuk memperingati peristiwa turunnya Taurat yang diwahyukan oleh Allah kepada Musa di gunung Sinai. Sedangkan di PB, hari Pentakosta adalah hari dicurahkannya Roh Kudus.

Salah satu karunia Roh Kudus yang diberikan kepada pengikut Tuhan adalah barbahasa roh. Oleh sebagian teolog dikatakan bahwa bahasa di KPR 2 adalah bahasa lidah bukan bahasa roh, yaitu bahasa manusia yang dimengerti oleh bangsa pemilik bahasa itu, oleh kuasa Roh mereka diberi kemampuan untuk mengucapkannya. Sedangkan di Korintus dikatakan karunia bahasa itu adalah bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia. Inilah yang disebut bahasa Roh.

Lepas dari pendapat bahwa bahasa di KPR 2 dapat disebut juga sebagai bahasa roh atau tidak, yang pasti bahasa yang diberikan Roh itu keluar dari mulut orang percaya untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Semua karunia yang diberikan kepada orang percaya bertujuan untuk membawa umat memiliki pengenalan dan persekutuan yang semakin intim dengan Tuhan. Milikilah karunia-karunia Tuhan, dan muliakanlah Tuhan dengan segala apa yang kita peroleh dari-Nya.

Dengan Roh Kudus kita akan menjaga hidup yang kudus dan berkenan kepada Tuhan. Jangan sampai sikap dan perilaku kita kontradiksi dengan keinginan Roh itu. Bila mulut kita dipakai untuk memuliakan Tuhan jangan pula kita gunakan untuk memperkatakan perkataan kotor dan tercela supaya karunia bahasa roh tidak menjadi batu sandungan dan cela bagi pekerjaan Tuhan. (LH-Juni 14)

SIKAP MENGHADAPI TANTANGAN

Nas : Kis. 4:27-31

Situasi yang terjadi dalam konteks ini adalah murid-murid Tuhan sedang dalam tekanan. Yesus tidak lagi bersama dengan mereka. Tetapi  pekerjaan Tuhan luar biasa dinyatakan dalam pelayan murid-murid sehingga banyak orang yang berpaling kepada mereka.  Tentu mereka dianggap ancaman bagi imam-imam dalam hal kehilangan jemaat (pengikut) juga bagi orang Farisi yang ketat di dalam hukum Taurat dan yang tidak percaya kepada Yesus.

Tidak heran bila ada hamba-hamba Tuhan yang menganggap hamba Tuhan lain sebagai ancaman dan takut kehilangan jemaat. Alhasil mereka hidup dalam kebencian dan melakukan tindakan-tindakan yang salah.

Menarik untuk disimak ayat 29, ketika mereka mengalami ancaman di dalam mengikut dan memberitakan Injil Tuhan, mereka tidak meminta supaya Tuhan menjauhkan ancaman itu tetapi mereka meminta supaya Tuhan memberi keberanian untuk memberitakan firman. Tentu tidak salah bila kita meminta agar Tuhan menghalau rintangan/tantangan dari kehidupan kita, tetapi yang paling penting adalah meminta hikmat dan kekuatan dari Tuhan sepaya mampu tetap berdiri dalam segala keadaan yang diizinkan Tuhan.

Di ayat 30 ini pun para murid tidak meminta bencana terjadi kepada orang-orang yang mengangap mereka sebagai ancaman, mereka justru meminta Tuhan mengulurkan tangan dan “mendemonstrasikan” kuasa-nya melalui kesembuhan, tanda-tanda dan mujizat. Agar setiap orang tahu bahwa mereka ada di pihak Tuhan dan Tuhan di pihak mereka dan olehnya pemberitaan Injil semakin meluas.

Belajar dari para murid, daripada mengumpat, kesel dan marah dengan orang-orang yang mengecewakan, mengecam/mencela kita, orang yang menyakiti dan berbuat jahat, lebih baik kita berdoa agar Tuhan mengulurkan tangan dan menyatakan kuasa-Nya. Biarlah Tuhan yang menyatakan pembelaan-Nya dengan cara-Nya.

Akhirnya, orang-orang yang berserah kepada Tuhan akan menerima janji Tuhan. Janji Tuhan adalah menyertai orang percaya sampai akhir zaman. Dan Roh Kudus adalah pribadi Allah yang bekenan menyertai dan tinggal di dalam diri orang percaya. Roh Kudus menjadi dasar keberanian untuk memberitakan firman Tuhan dan untuk hidup di dalam kebenaran.

DIPULIHKAN DARI PENDERITAAN

Nats: Maz. 107:1-32

Melalui nats ini pemazmur mengatakan kepada kita bahwa Tuhan menjawab seruan orang-orang yang ada dalam pergumulan/penderitaan. Dan dengan itu mereka tahu untuk mengucap syukur kepada Tuhan.

Pemazmur melukiskan 4 macam penderitaan yang termasuk extrim dengan alasan yang melatarbelakanginya.

1. TERSESAT (4-5)

Di ibaratkan orang yang ada di padang gurun, tersesat dan tidak menemukan jalan ke kota yang melambangkan kehidupan. Tidak ada sesuatu yang dapat diharap untuk mereka tetap hidup. Sebuah situasi tanpa harapan (hopeless). Mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. Mungkin kita tidak ada di dipadang gurun yang sebenarnya, tetapi situasi yang digambarkannya, mungkin sedang ada atau pernah kita alami yaitu situasi yang tanpa harapan (hopeless).

2. TERPENJARA DALAM KESENGSARAAN (10-12)

Terjemahan BIS ayat 10 menulis “ada orang yang meringkuk dalam kegelapan, orang tahanan yang menderita dalam belenggu besi” Disini digambarkan orang-orang yang terpenjara dengan penjara khusus. Kata yang digunakan untuk “dalam kegelapan” adalah “choshek” yaitu “darkness” atau “secret place”. Sedangkan untuk “kelam” digunakan “tsalmeveth” artinya “death shadow”. Jadi orang-orang yang dimaksud disini adalah orang-orang yang sangat menderita karena mereka terpenjara di tempat rahasia yang gelap dan dalam bayangan kematian. Keadaan itu diizinkan Tuhan karena pemberontakan mereka kepada perintah-perintah Tuhan. Demikianlah digambarkan orang-orang yang memberontak terhadapa perintah Tuhan.

3. MENDERITA SAKIT KARENA KELAKUAN YANG BERDOSA (17-18)

Interlinier menyebut orang-orang yang sakit itu sebagai “(be) foolish” yaitu orang-orang yang menjadi bodoh, dengan keterangan tambahan “karena menghina hikmat”. Orang-orang yang dimaksud adalah mereka memiliki perilaku yang menyimpang dari apa yang patut, karena mereka menghina (menolak) hikmat maka mereka melakukan tindakan-tindakan yang membuat mereka menderita.

4. MENDERITA KARENA AMBISI DAN KESERAKAHAN

Orang-orang ini melihat pekerjaan dan perbuatan Tuhan di tempat yang dalam. Mereka bukan saja mengambil hasil laut untuk dibawah ke darat dan diperdagangkan, tetapi mereka juga mengadakan perdagangan dilautan yang luas. Kalimat “perdagangan dilautan yang luas” ini menjadi penting karena hal itu sesuatu yang tidak lumrah. Maka ada beberapa kemungkinan, 1) Mereka menjadi serakah dan melakukan perdangan dengan tidak jujur, 2) Mereka dipenuhi ambisi sehingga hidup mereka hanya untuk berdagang mengumpulkan kekayaan sehingga mereka melupakan Tuhan. Sebab pasti ada alasan mengapa Tuhan “murka” atas mereka seperti yang dinyatakan di 25-27. Karena murka Tuhan mereka menjadi sangat menderita.

Dimana kebaikan Tuhan dalam hal ini? Ketika Tuhan menolong mereka dalam situasi penderitaan yang berat. Dalam keadaan tanpa harapan, penderitaan karena pemberontakan, sakit penyakit oleh karena perilaku yang berdosa dan karena ambisi dan keserakahan. Meskipun perilaku mereka yang memberontak/menentang dan menghina hikmat Tuhan, tetapi ketika mereka bertobat dan berseru kepada Tuhan, Tuhan menolong mereka dan memulihkan keadaan mereka.

Mari kita bercermin kepada empat hal diatas. Bagaimana kehidupan kita sesungguhnya selama ini. Jika kita ada seperti yang dimaksud oleh firman Tuhan maka bertobatlah dan berseru kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh supaya Tuhan memulihkan keadaanmu. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Sekalipun dosa merah seperti kermiji akan putih seperti salju ketika engkau menerima pengampunan dari Tuhan. Seperti apa pun keadaanmu, seperti apapun penderitaanmu berserulah kepada Tuhan, supaya Dia memulihkan keadaanmu.

Ada empat tahap penting yang perlu kita renungkan juga dalam nats ini adalah : Menderita – Berseru – Tuhan Menolong – Yang ditolong bersyukur.

ORANG YANG BERDALIH TIDAK MENDAPAT BAGIAN

Nats : Lukas 14:15-24

Yesus menyampaikan perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih ini untuk meresponi seorang tamu yang mengatakan “Berbahagialah orang yang akan di jamu dalam Kerajaan Allah”. Disini Yesus mau menyampaikan bahwa untuk mendapat bagian di perjamuan dalam Kerajaan Allah, haruslah meninggalkan keutamaan pada diri sendiri untuk melakukan kehendak Allah sebagai keutaamaan dalam hidup.

Menurut Kamus Pintar Bahasa Indonesia, “dalih” adalah alasan yang dipakai untuk membenarkan diri atau membenarkan suatu perbuatan, alasan yang dibuat-buat atau alasan yang dicari-cari. Orang yang berdalih adalah memberi alasan yang dicari-cari untuk membela atau membenarkan diri.Orang-orang yang berdalih tidak mendapat bagian dalam perjamuan Kerajaan Allah. Dalam perumpamaan ini digambarkan, kalau kita tidak bisa meninggalkan kepentingan kita pribadi untuk memenuhi panggilan Allah, maka kita tidak layak. Tuntutan yang lebih keras digambarkan pada ayat 25-36 dari Lukas pasal 14 yaitu untuk menjadi murid kita harus dapat melepaskan segalanya demi Kristus

Berdalih sebagai wujud ketidaksungguhanPerumpamaan orang-orang yang berdalih , pada ayat 17 dikatakan “menjelang perjamuan itu dimulai” lalu si hamba mengatakan kepada undangan “Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap”, artinya disini mereka sudah diundang sebelumnya yaitu sebelum hari perjamuan tiba. Sehingga seharusnya mereka sudah bisa mengatur waktu dan kegiatan supaya bisa hadir pada hari perjamuan itu. Padahal dalam konteks budaya saat itu memenuhi undangan adalah kehormatan. Disini tampak tidak ada niat yang sungguh-sungguh.

Berdalih sebagai wujud ketidakjujuranBerdasarkan defenisi berdalih tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa berdalih merupakan wujud kebohongan atau ketidakjujuran. Memberi alasan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya adalah kebohongan. Kebohongan atau ketidakjujuran itu ibarat bibit penyakit, yang kalau tidak segera dituntaskan akan berkembang. Semakin sering seseorang berbohong akhirnya akan menjadi kebiasaan dan ia akan merasa nyaman dengan kebohongan. yakitkan, tetapi dia akan berbuah kekudusan.

 Berdalih sebagai wujud ketidaktaatanKitab 1 Samuel 15 Tuhan memerintahkan Saul melalui Samuel agar pergi mengalahkan orang Amalek dan menumpuas semua penduduk dan ternak mereka, tetapi Saul dan rakyat itu tidak taat dengan menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun. Saul berdalih kepada Samuel bahwa semua yang dibawa daripada orang Amalekakan dikorbankan kepada Tuhan. Maka Tuhan mengatakan melalui Samuel, “Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan. Karena engkau telah menolak firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.”

Bukankah seringkali manusia berdalih untuk membenarkan ketidaktaatannya kepada Allah? Dalih tidak lahir begitu saja. Ia lahir sebagai wujud ketidaksungguhan, ketidakjujuran dan ketidaktaatan kepada Tuhan. Dan orang-orang yang berdalih tidak mendapat bagian dalam perjamuan Kerajaan Allah.

TELADAN YUDAS

Nats : Yudas 1:1-2

Surat ini ditulis oleh Yudas. Kalau kita mendengar tentang Yudas, maka yang mungkin pertama muncul dalam pemikiran kita adalah tentang tindakan penghianatan yang dilakukan oleh Yudas Iskariot. Tindakan Yudas telah memberi kesan kurang baik terhadap orang yang bernama Yudas. Padahal tidak semua orang yang bernama Yudas adalah penghianat seperti Yudas Iskariot.  Tidak jarang memang tindakan seseorang dikaitkan dengan namanya. Dan kejahatan yang dilakukan oleh seseorang biasanya meninggalkan kesan lebih kuat daripada yang baik.

Siapakah Yudas penulis kitab ini? Secara umum diyakini berdasarkan beberapa pertimbangan bahwa penulis kitab ini bukanlah Yudas Iskariot, juga bukan Yudas murid Yesus yang lain. Melainkan Yudas adik (tiri) Tuhan Yesus sendiri yaitu anak dari Yusuf dan Maria (Mat. 27:5 ; Luk. 6:16 ; Kis. 1:13-14 ; Mat. 10:3 ; Mat. 13:55 ; Mark 6:3 ; 1 Kor 9:5). Mungkin akan timbul pertanyaan, kalau dia adalah adik Yesus lantas mengapa dia menyebut diri sebagai hamba Yesus?

  1. Dia memiliki kerendahan hati.  Meskipun secara manusia dia punya alasan untuk bermegah sebagai saudara Tuhan, tetapi dia merendahkan hati. Tentu hal ini kontras dengan manusia pada umumnya ; jangankan punya saudara kandung sebagai artis atas pejabat, hanya hubungan satu kampung saja pun orang sudah bangga dan menggembar-gemborkannya.
  2. Disini Yudas menekankan hubungan rohani daripada jasmani. Itu berarti orientasi Yudas adalah kepada Tuhan.  Dalam kehidupan sehari-hari dan pelayanan, meski kita terikat hubungan saudara secara jasmani tetapi  terikat dalam hubungan rohani adalah mutlak, sebab hubungan secara rohani inilah yang memberi kekuatan, ketabahan dan kesabaran, ketika kita mungkin tanpa sengaja membuat saudara jasmani kita kecewa, tersinggung, dll.
  3. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Ia milik Tuhan. Seorang hamba tidak berhak atas dirinya melainkan tuannya. Fokus hidup seorang hamba adalah melayani Tuannya, dan kemuliaan seorang hamba adalah menyenangkan hati tuannya. Demikianlah hakekat kita dihadapan Tuhan, bahwa hidup kita telah ditebus dan kita adalah milik-Nya yang menjadi hamba untuk pekerjaan kemuliaan-Nya.

Surat ini ditujukan “kepada mereka yang terpanggil, yang dikasihi dan dipelihara untukYesus Kristus”, yaitu pengikut-pengikut Kristus. Yudas mengingatkan supaya mereka waspada terhadap guru-guru palsu yang muncul ditengah-tengah mereka.  Hal ini mengatakan kepada kita adanya “keperdulian” dari Yudas kepada mereka, supaya pikiran mereka tidak disesatkan.  Pada zaman ini banyak hal yang digunakan iblis untuk menyesatkan manusia, baik itu melalui media, budaya, ajaran, dan lain-lain. Siapakah yang akan perduli hal ini? Bukankah kita hamba-hamba Kristus?

Ayat 2 pada bagian salam ini berisi doa dan harapan Yudas untuk pengikut Tuhan.  Memang sudah sepatutnya kita sebagai hamba-hamba Tuhan memiliki keperdulian kepada pengikut Kristus lainnya, dengan itu kita melakukan tindakan-tindakan yang menolong mereka tetap berdiri diatas kebenaran dan iman yang teguh.

DIBALIK NAMA

Meskipun nama yang diberikan orang tua kepada anaknya tidak selalu memiliki arti khusus, tetapi secara umum nama yang diberikan merupakan wujud harapan dan doa orang tua untuk anaknya. Nama-nama itu bisa merupakan kata atau penggabungan beberapa kata. Misalnya, nama “Romauli” adalah merupakan penggabungan kata-kata dari bahasa Batak yaitu “roma” artinya “datanglah” dan “uli” artinya “kebaikan”, jadi “Romauli” berarti “datanglah (kiranya) kebaikan”.

Dalam bahasa Jawa ada nama “Sugiarto” berasal dari kata “Sugih” artinya “kaya/banyak” dan “arto” artinya “harta/uang”. Nama ini mengandung harapan orang tuanya agar kelak dia menjadi orang yang memiliki banyak uang/harta. Nama “Joyo Seputro” berasal dari kata “Joyo” artinya “Jaya/Berjaya” dan “Seputro” artinya “semua anak-anak”

Nama juga bisa berasal dari nama benda atau istilah tertentu yang telah dimaknai secara umum sebagai sebuah lambang, misalnya : Bunga (indah, cantik,dll), Bintang (terang, penerang, indah, dll), Tiurma (terang-lah), Banyu (air – kehidupan), Budi (baik/bijak) dan lain sebagainya.

Nama-nama tokoh atau orang-orang terkenal pun tidak jarang digunakan oleh orang tua kepada anaknya dengan harapan kelak si anak bisa mengikuti jejak ketokohan sang tokoh yang dimaksud atau menjadi orang yang terkenal atau yang berhasil. Tokoh-tokoh atau istilah yang ada di Alkitab pun tidak luput digunakan oleh sebagian orang tua kepada anaknya dengan harapan anaknya itu mengikuti citra yang baik dari tokoh-tokoh tersebut.

Jelaslah bahwa orang tua selalu mengharapkan dan mendoakan yang terbaik terjadi kepada anak-anaknya. Latarbelakang pemberian nama anak seperti yang dijelaskan diatas menjadi salah satu bukti yang menguatkan hal itu. Tidak ada orang tua yang menginginkan yang tidak baik buat anak-anaknya. Lebih dari sekedar memberi nama yang bermakna, orang tua bahkan merencanakan, bertindak dan bekerja keras untuk anak-anaknya.

Tahukah anda bahwa Tuhan juga menginginkan yang terbaik buat anda? Bahkan kebaikan Tuhan sesungguhnya melebihi kebaikan orang tua kepada anak-anaknya (Mat. 7:11, Yer.29:11). Kepada manusia diberi seorang Juruselamat yang bernama “YESUS” yang artinya “TUHAN adalah keselamatan” atau “TUHAN menyelamatkan”. Dia juga disebut “Immanuel” yang berarti “Allah menyertai kita” (LH-Apr 14)

KEHIDUPAN PRIBADI YANG MENEGUHKAN PEMBERITAAN

Nats : Yoh. 3:25-30

Ayat 25 mengatakan bahwa murid-murid Yohanes pembabtis berselisih (pendapat) dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Tentu yang dimaksud penyucian disini adalah  Babtisan, mengacu pada ayat sebelum dan sesudahnya dan sesuai dengan arti babtisan itu sendiri  yang  bisa juga berarti “dicuci dengan air. Disini murid Yohannes diuji pemahamannya tentang apa yang diajarkan dan dilakukan oleh sang guru yang kemudian juga dilakukan oleh Yesus Kristus. Bagi kita hal ini memberi hikmat bagaimana kita mempertanggungjawabkan iman kita. Karena bisa saja orang lain (yang tidak percaya) mempertanyakan dasar iman kita; yaitu mengapa kita percaya dan menjadi pengikut Kristus.

Keterbatasan pemahaman dapat menimbulkan perselisihan, tetapi murid Yohanes tidak larut dalam perselisihan melainkan  mereka pergi kepada Yohanes untuk untuk bertanya (ayat 26).  Tujuan mereka bertanya tentu supaya mereka semakin tahu dan jelas tentang babtisan itu. Untuk tujuan agar kita semakin memahami  kebenaran Allah , kita pun perlu terus belajar firman Tuhan, baik melalui Hamba Tuhan dalam PA atau Kotbah maupun dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan dalam pimpinan Roh.

Ketika murid-murid bertanya tentang penyucian, Yohannes justru membawa mereka pada pengajaran yang lebih mendasar yaitu tentang pribadinya dan Kristus yang melakukan babtisan itu untuk meneguhkan apa yang diajarkan dan dilakukan. Hal ini sangat penting supaya mereka tidak meragukan keabsahan babtisan.

1. Ayat 27 – Yohanes percaya bahwa sumber segala karunia adalah surga. Surga adalah tempat Allah bersemayam dan dari sana Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, surga sebagai sumber karunia mengacu kepada Allah sendiri. Allah-lah sumber segala karunia. Apa yang diterima Yohanes sebagai panggilan hidupnya termasuk posisinya sebagai orang yang dipilih mempersiapkan jalan bagi Kristusadalah karunia Tuhan. Dan setiap orang yang dibawa kepada Kristus adalah juga karunia Allah.

2. Ayat 28 – Yohanes hidup dalam kejujuran dan dapat dipercaya. Muridnya menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan gurunya.  Itu berarti Yohannes menjadi kesaksian bagi muridnya dan orang lain. Betapa indah bila kita tidak dapat didakwa oleh karena perbuatan yang jahat dan berbosa, itu berarti kita harus  menjadi kesaksian yang baik dan membangun.

3. Ayat 29- Yohanes memiliki suka cita seperti sukacita sahabat mempelai. Seorang mempelai pastilah orang yang sangat berbahagia. Seorang sahabat mempelai juga bersukacita seperti sukacita mempelai. Ketika mempelai wanita dan pria bersatu maka disitu ada sukacita besar. Demikianlah sukacita Yohanes, bila Kristus sebagai mempelai Pria surga bersatu dengan jemaat sebagai mempelai wanita surga. Persatuan itu terjadi oleh karena pertobatan yang diproklamirkan melalui babtisan. Pertanyaan yang perlu kita renungkan kemudian adalah apakah kita memiliki sukacita yang sama dengan Yohannes. Jika ya, maka marilah kita membawa jiwa-jiwa untuk bersatu dengan Kristus sebagai mempelai.

4. Ayat 30 – Yohannes memiliki kerendahan hati. Dia sadar bahwa dia hanya membuka jalan bagi misi Yesus.  Yesuslah yang kian besar, Yesuslah yang harus menonjol bukan dia. Maka kemuliaan harus tertuju kepada Kristus.  Apapun yang dipercayakan untuk kita kerjakan di dunia bagi Tuhan bukan untuk kehormatan dan kemuliaan kita tetapi untuk kemuliaan Tuhan.

MASA LALU BUKAN PENGHALANG (Rangkuman Kotbah Minggu, 30 Mar 14 By Pdt.J.Simbolon)

Paulus bersyukur kepada Tuhan karena kasih Tuhan yang telah memanggil dia menjadi pemberita Injil. Dia yang tadinya seorang penghujat bahkan penganiaya pengikut-pengikut Kristus, telah memperoleh kasih karunia keselamatan. Bukan hanya itu, Tuhan juga mempercayakan pelayanan pemberitaan Injil kepadanya, supaya melalui dia, Tuhan menyelamatkan banyak orang.

Ketika Tuhan mempercayakan sesuatu untuk kita kerjakan maka kepercayaan itu haruslah kita terima dengan rasa syukur dan dikerjakan dengan penuh tanggungjawab, sebab keparcayaan itu juga merupakan kehormatan yang diberikan Tuhan. Kita mungkin memiliki memiliki latarbelakang yang tidak baik/tidak benar, namun bila Tuhan telah memanggil kita bahkan mempercayakan tugas pelayanan, maka masa lalu tidak akan menjadi penghalang untuk maju, sebab pengampunan telah diberikan untuk segala dosa, serta kekuatan yang diberikan melalui penyertaan Roh Kudus. Iblis dan dunia ini boleh saja mendakwa kita berdasarkan masa lalu kita, tapi percayalah Tuhan telah menyelesaikannya.

Rasul Paulus telah menjadi contoh bagi dunia. Seorang berdosa yang diselamatkan; seorang penghujat dan penganiaya telah menjadi pemberita Injil yang rela menghadapi banyak tantanga dan  menderita demi pemberitaan Injil.  Memang, dalam mengikut Tuhan apalagi dalam melakukan tugas-tugas yang secara khusus diberikan kepada kita, akan mengalami banyak tantangan, namun oleh karena Tuhan kita akan cakap menanggung segala perkara.

Sama seperti Paulus, kesadaran kita akan kasih karunia Tuhan yang diberikan bagi kita dan penyertaanNya oleh Roh Kudus yang menuntun dan memberi kekuatan dalam menjalani kehidupan dan pelayanan yang dipercayakan bagi kita, akan mendorong kita untuk selalu bersyukur dan memuliakan Dia, Raja segala zaman, Allah yang kekal.

UPAH ORANG PERCAYA

NATS : Gal. 3:6-14

Menurut ayat diatas, paling tidak ada tiga hal yang akan diterima sebagai upah orang percaya yaitu:

1. Orang percaya dibenarkan (ayat 6)

Kita sebagai manusia dilahirkan dalam dosa, dan memiliki kecenderungan atau tabiat dosa.  Dalam dosa dan kelemahan kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri . Namun oleh karena kasih Allah akan dunia ini, maka ia menyelamatkan manusia dari dosa dengan pengorbanan Yesus melalui iman kita. . Keselamatan itu adalah anugerah, bukan karena perbuatan kita. Perbuatan dalam konteks ini adalah melakukan Hukum Taurat.  Berbeda dengan perbuatan yang dimaksudkan Yakobus yaitu tindakan-tindakan keseharian kita sesuai dengan firman Tuhan yang diimani. Orang beriman adalah orang yang bertindak (berbuat).  Dimulai dari kesadaran akan kebobrokan diri, kesadaran akan ketidakberdayaan dan kebutuhan akan anugerah Allah untuk menyelamatkan, kesadaran bahwa anugerah itu diberikan oleh karena kasih Allah, kemudian kasih Allah itu bertumbuh dalam hati kita dan itulah yang mendorong kita untuk berbuat/bertindak.

2. Orang percaya diberkati dan bebas dari kutuk (ayat 8-13)

Setiap orang yang hidup oleh Hukum Taurat namun tidak bisa melakukannya maka dia berada dibawah kutuk.  Orang yang hidup oleh kasih karunia Tuhan melalui iman mereka kepada Kristus akan dibebaskan dari kutuk.  Kutuk berarti “the absence of God’s love” (ketidakhadiran kasih Tuhan). Oleh karena itu orang-orang yang tidak hidup di dalam Kristus adalah orang-orang terkutuk yang jauh dari berkat Tuhan. Kita yang hidup di dalam Kristus terbebas dari kutuk, baik itu kutuk Taurat maupun kutuk sumpah serapah manusia.

3. Orang percaya menerima Roh yang dijanjikan (ayat 14)

Dalam “kegelapan” dunia ini kita butuh penuntun yang membawa kita kepada seluruh kebenaran Tuhan. Kita butuh kekuatan untuk berjalan di jalan yang berkerikil dan berbatu-batu. Kita butuh Tuhan menyertai kita didalam semua tantangan dan rintangan. Untuk itu Roh Kudus diberikan kepada orang percaya seperti yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus sebelum Dia naik ke Sorga. Sebagai anak-anak Allah, Rohlah yang memimpin kita (Band Roma 8:14).  Dia akan mengantarkan kita pada destinasi (tujuan) yang dikehendaki oleh Tuhan dalam hidup kita; baik itu Surga maupun ketika masih di bumi.

Tantangan, masalah atau cobaan akan selalu ada selama kita masih di dunia ini. Namun janganlah kita takut dan putus asa. Percayalah kepada Tuhan sebab Tuhan akan memberi upah kepada orang-orang percaya.  Sebagai orang percaya kita diselamatkan dari penghakiman, diberkati dan terbebas dari kutuk apa pun, dan Dia akan membawa kita pada destinasi atau tujuan hidup kita oleh Roh Kudus yang kita terima. Orang-orang percaya akan semakin bersinar seperti cahaya fajar yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari (Ams. 4:18)

Giat dan Maksimal

Nats: Ulangan 31:2

Sama seperti Musa, kita sebagai manusia juga memiliki umur yang terbatas. Karena kita memiliki umur yang terbatas maka otomatis kesempatan yang kita miliki pun terbatas. Seiring dengan umur yang semakin senja (tua), sudah menjadi natur manusia kemampuan pun akan semakin terbatas.  Oleh karena itu di masa tuanya, Musa harus menyerahkan kepemimpinan atas orang Israel kepada Yosua yang telah dipilih oleh Tuhan menggantikannya.

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah kita selama ini bergiat dalam kehidupan kita atau tidak? Mungkin kita selama ini telah bergiat dalam belajar, bekerja dan berusaha untuk kepentingan Jasmani, itu tidak salah. Namun janganlah melupakan hal yang terpenting yaitu bergiat untuk kepentingan rohani. Sebab kepentingan jasmani hanya bersifat sementara yang dapat kita nikmati beberapa puluh tahun saja, tetapi kepentingan rohani bersifat kekal yaitu hidup kekal dalam kemuliaan Allah di surga.

Bagaimana supaya kita bisa giat dan maksimal dalam kehidupan kita?

1. Temukan Bidang Panggilanmu.

Kehendak Tuhan yang utama bagi umatnya adalah mereka diselamatkan. Destinasi orang percaya adalah terwujudnya keselamatan.  Namun selagi masih di dunia, Tuhan memanggil setiap orang untuk fungsi yang tidak selalu sama. Sebagai contoh, Musa dipilih oleh Tuhan sebagai pemimpin umat, sedangkan kakaknya Harun sebagai Imam dan kakaknya Miriam sebagai pemimpin Lewi yang mengangkat puji-pujian. Atas kehendak Tuhan, Musa juga mengangkat pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang, dan pemimpin sepuluh orang.  Setiap orang memiliki fungsi termasuk umat itu untuk mewujudkan rencana Tuhan atas bangsa Israel (Kel. 18:25)

Demikianlah kita sebagai umat Tuhan juga memiliki panggilan masing-masing. Tidak semua menjadi Hamba Tuhan, Pengerja, Singer, dll, pun tidak semua harus menjadi pelayan di gereja, tetapi Tuhan juga memanggil umat Tuhan sebagai pekerja di dunia sekuler dimana dengan jalan itu, mereka melayani dan memuliakan Tuhan.

2. Fokus Pada Tujuan

Orang Israel bersungut-sungut kepada Musa karena mereka selalu menoleh ke belakang ketika mengalami tantangan dalam perjalanan mereka. (Kel. 16:2-3).  Mereka tidak fokus pada tujuan yaitu Tanah Kanaan yang melimpah susu dan madu, tempat dimana mereka menjadi orang-orang merdeka. Selalu melihat kebelakang justru membuat beban atau tantangan semakin terasa berat, sebaliknya bila fokus kepada tujuan yaitu meraih janji Tuhan maka akan timbul semangat dan kekuatan baru untuk berjuang hingga sampai pada tujuan itu.  Paulus mengatakan “Sebab aku tidak berlari tanpa tujuan dan bukan petinju yang sembarangan saja memukul (1 Kor. 9:26)

Usia memang terbatas, kekuatan pun akan menurun seiring usia yang semakin tua. Tetapi bergiat di dalam Tuhan sepanjang usia adalah kehendak Tuhan. Menemukan bidang panggilan kita dan focus kepada tujuan akan membuat kita bergiat dan maksimal dalam hidup.

CONFESSION (PENGAKUAN)

Nats : Maz. 119:141

Raja Daud adalah raja yang memiliki nama besar. Keperkasaannya sangat terkenal sejak muda karena penyertaan Tuhan. Dia adalah raja yang percaya dan dalam hampir keseluruhan hidupnya yang dikisahkan di Alkitab, dia selalu mengandalkan Tuhan. Namun kebesaran kuasa dan nama yang dia miliki tidak membuat dia menjadi sombong atau congkak tetapi tetap merendahkan diri.  Menyatakan diri sebagai orang kecil dan hina adalah sebuah pengakuan (confession) yang wajar bila diperhadapkan dengan kemuliaan (keagungan) Tuhan.  Pengakuan ini lahir dari kesadaran bahwa tanpa Tuhan, ia tidak berarti apa-apa.

Dalam sebuah pengakuan (confession) paling tidak ada 3 hal yang terkait dengannya. Tentu confession disini bukan sekedar pengakuan yang keluar dari mulut kita melainkan pengakuan yang jujur di dalam hati. 3 Hal yang terkait dengan pengakuan itu adalah :

1. Pengenalan/Kesadaran diri.

Sebelum sebuah pengakuan terjadi, kesadaran akan diri dengan segala kekuaran yang ada akan mendahuluinya. Seseorang mengaku bersalah atas kesalahannya karena dia sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Dalam konteks yang lebih luas, pengenalan/kesadaran diri itu sangat penting karena dengan itu kita mengenal segala kekurangan/kelemahan dan kelebihan yang kita miliki.  Kesungguhan kepada Tuhan tidak mungkin ada dalam kehidupan seseorang bila dia tidak sadar bahwa dia sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan. Sebagai umat Tuhan kita harus menyadari bagaimana seharusnya kita bertindak/bersikap dalam kehidupan dengan segala tantangan yang kita hadapi.

2. Keterbukaan diri.

Keterbukaan diri (self-disclosure) merupakan reaksi kita terhadap situasi atau keadaan yang kita alami.  Kita perlu terbuka untuk melihat detail-detail kehidupan kita supaya kita bisa menemukan secara maksimal kekurangan dan kelebihan kita. Dengan keterbukaan inilah kita dapat mengenal diri kita sesungguhnya tentang sisi baik atau buruk yang kita miliki. Untuk itu dibutuhkan keberanian melihat segala kekurangan/kepahitan/kesombongan dan segala macam yang ada dalam kehidupan kita.

3. Tekad

Kesadaran dan keterbukaan hati untuk melihat detail-detail diri haruslah diikuti oleh tekad untuk mengakuinya. Tekad itu mendorong kita untuk memberikan/menyampaikan sebuah pengakuan dan tekad itu  pula yang mendorong kita untuk memperbaiki diri dalam hal kekurangan/kelemahan yang dimiliki. Ada sebuah statemen yang mengatakan “orang bijak memperbaiki diri”. Ketika kita menemukan banyak kekurangan/kelemahan atau keterlanjuran seringkali kita sibuk menyalahkan diri sendiri atau orang lain, sehingga karena kesibukan itu maka lupa untuk membenahi diri.

Confession atau pengakuan adalah wujud dari adanya keterbukaan, pengenalan dan tekad diri. Kita sebagai manusia dilahirkan tidak sempurna. No body is perfect, demikian sering dikatakan orang. Oleh karena itu confession (pengakuan) adalah hal yang penting, supaya kita dapat mengevaluasi diri dengan jujur dan kemudian tahu menempatkan diri atau bersikap dalam menjalani kehidupan dengan segala seluk-beluknya.

Kristus di dalam kamu, bukan?

Nats : 2 Korintus 13:5

Kata uji berdasarkan kamus bahasa Indonesia mengandung pengertian sebagai “percobaan untuk mengetahui mutu/kualitas”. Maka pengujian selalu berkaitan dengan kualitas, apakah baik atau buruk. Kata uji pada ayat ini dimaksudkan agar mereka mau memeriksa diri sendiri apakah mereka tetap tegak dalam iman. Berarti ada kemungkin iman seseorang menjadi lemah atau menjadi layu. Atau jangan-jangan murasa beriman padahal tidak. Hanya orang yang tegak yang dapat membawa beban yang besar, sedangkan bila dalam posisi membungkuk atau berdiri miring tidak bisa menahan beban.

Sebuah pertanyaan disini, apakah kamu tidak yakin akan dirimu bahwa Yesus ada di dalam kamu? Mengapa perlu hal ini dipertanyakan pada diri sendiri?

  1. Dengan meyakini (percaya) bahwa Yesus di dalam kita maka kita memiliki kepastian bahwa kita akan mengalami penyertaan-Nya. Dalam percobaan/tantangan hidup, Dia ada. Ketika kita membutuhkan pertolongan, Dia ada. Ketika kita merencanakan apa pun dalam hidup kita, Dia juga ada.
  2. Dengan menyakini (percaya) bahwa Yesus ada di dalam kita maka kita terdorong untuk selalu hidup dalam kebenaran dan kasih. Karena Yesus adalah kebenaran dan yang Dia kehendaki adalah kebenaran dan kasih. Hidup dalam kebenaran dan kasih berarti menuruti firman Tuhan, tidak ada tipu muslihat, Egoisme/Kesombongan, Cinta diri, Cinta uang., dll.
  3. Dengan meyakini (percaya) bahwa Yesus ada di dalam kita maka kita akan menjadi orang-orang yang berdampak bagi dunia ini, menjadi garam dan terang dunia. Kita mengalami kuasa Tuhan untuk melakukan banyak perkara karena Tuhan ada di dalam kita.  Di PL kita melihat Tabut Perjanjian sebagai tipologi Kristus. Kemana Tabut dibawah maka disitu kuasa Allah yang luar biasa terjadi, baik untuk memberkati bangsa itu, melewati tantangan dan memberi kemenagan.

Bila kita tidak percaya bahwa Yesus di dalam kita maka kita tidak akan mengalami hal-hal yang disebutkan diatas. Dalam versi Bahasa Inggris (Gideon), “sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan aji” ditulis “unless indeed you are disqualified” artinya kalau tidak demikian maka kamu didiskualifikasi. Didiskualifikasikan berarti: a) larangan turut bertanding bagi seorang atau sebuah regu karena melanggar peraturan pertandingan, b) pencabutan hak, c) tidak di loloskan karena tidak memenuhi syarat akibat kelainan atau cacat tubuh. Dalam sebuah pertandingan ada syarat/peraturan yang harus diikuti supaya tidak didiskualifikasi, oleh karena dalam pertandingan iman, syarat yang mutlak adalah percaya kepada Allah dan bahwa Tuhan ada di dalam kita.

RELA, TERPUJI DAN TERUJI

Nats : 2 Korintus 8:16-24
By. Pdt. Lomser Hutabalian

Paulus, dalam surat ini meminta supaya jemaat Korintus turut ambil bagian dalam pelayanan kasih dengan memberi bantuan khususnya untuk pelayanan yang sedang membutuhkan yaitu di Yerusalem. Untuk tujuan ini, Paulus menulis surat sekaligus mengutus Titus dan dua orang lainnya bersama dengan dia. Sangat jelas bagi kita bahwa Paulus menghendaki adanya usaha saling mendukung diantara  umat-umat Tuhan supaya ada keseimbangan. Namun kenyataan yang kita lihat di zaman ini agak kontras dengan apa yang diharapkan rasul Paulus, dimana banyak orang tidak lagi perduli dengan jemaat (gereja/sidang) lain, bahkan ada kecenderungan membangun “kerajaan” sendiri dalam pelayanan.

Ayat 16 menyebutkan bahwa Titus (dan tentu kedua orang yang bersama dia) diutus untuk membantu jemaat Korintus. Oleh karena itu tujuan mereka diutus bukan semata-mata untuk mengumpulkan uang bagi pelayanan di Yerusalem tetapi juga membantu jemaat itu, walau tidak spesifik disebutkan wujud bantuan itu.

Keputusan untuk mengutus Titus dan dua orang lainnya untuk pekerjaan Tuhan ini pastilah bukan keputusan yang asal-asalan melainkan dengan pergumulan dan berbagai pertimbangan. Dengan kata lain, orang-orang yang diutus ini bukanlah orang-orang sembarangan. Hal itu terlihat ketika Paulus menyampaikan kelebihan-kelebihan yang menonjol pada masing-masing mereka yang diutus.

1. Rela/Sukarela (ayat 17).

Titus menerima tugas ini dengan kerelaan hati. Meskipun Paulus dan yang lain menganjurkan, tetapi dia melakukannya karena kerelaan hatinya.  Sukarela berkaitan dengan “ketulusan” atau “keiklasan”, sedangkan antonimnya adalah “terpaksa”.  Kerelaan akan berdampak hasil yang sangat baik karena seseorang yang relahati itu akan menikmati setiap apa yang dia kerjakan. Kerelaan akan menghasilkan sebuah kekuatan sehingga tidak akan menimbulkan sungut-sungut.

Dalam hal memberi, kerelaan dihubungkan dengan sukacita. Dan orang yang memberi dengan sukacita dikasih oleh Tuhan. Dan untuk itu Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karunia. (Bd 2 Kor. 9:7).  Apapun yang kita kerjakan dengan relahati untuk pekerjaan Tuhan, maka Allah berkenan atas pekerjaan itu. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunianya kepada kita.

2. Terpuji karena pekerjaannya (ayat 18)

Orang pertama yang diutus bersama Titus adalah orang yang ditunjuk oleh jemaat-jemaat karena ia terpuji dalam pekerjaan pemberitaan Injil.  Ketika seseorang dipuji dalam pekerjaannya, pastilah karena pekerjaan itu memberi dampak (hasil) yang luar biasa. Hasil yang luar biasa didapat karena dikerjakan dengan luar biasa pula, penuh dedikasi dan tanggungjawab.  Dalam hal ini pengutusan atas orang ini terjadi karena pertimbangan pekerjaannya yang terpuji.

Seseorang yang terpuji dalam pekerjaan-pekerjaannya akan selalu mendapat perhatian khalayak dan dipertimbangkan untuk dipercayakan suatu tanggungjawab yang lebih besar. Demikian halnya dalam bekerja di ladang Tuhan, sebab setia dalam perkara kecil maka kepadanya akan dipercayakan perkara yang besar.

3. Teruji Komitmennya (Ayat 22)

Orang kedua yang diutus bersama Titus adalah orang sebelumnya telah beberapa kali diuji oleh Rasul Paulus dan orang-orang yang bersama dia tentang perbuatannya. Mereka mendapati bahwa orang ini selalu berusaha untuk membantu.  Bila orang ini “selalu berusaha” artinya dia berkomitment untuk selalu membantu.  Teruji berarti kuat, tahan banting, tahan godaan.  Orang yang teruji akan tetap konsisten berusaha melakukan yang terbaik.

Orang yang berkomitmen akan berkata: “sekali Yesus tetap Yesus”, “Sekali setia tetap setia”, “sekali merdeka tetap merdeka”. Dia akan konsisten terhadap apa yang dikomitmenkan.  Paulus sendiri adalah contoh orang yang mempunyai komitmen yang kuat terhadap panggilannya.  Ia tetap setia dalam iman dan pekerjaan pelayanan meskipun banyak tantangan yang dihadapinya.

Kerelaan hati, terpuji dalam pekerjaan-pekerjaan baik, dan komitmen yang teruji adalah 3 hal yang penting untuk kita miliki, agar kita “diutus” (dipercayakan) untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar untuk kemuliaan Tuhan.

SIKAP HATI ORANG YANG DIBELA TUHAN

Nats : Mazmur 9:2-5
Oleh : Pdt. L. Hutabalian

Daud, sama seperti beberapa tokoh besar dalam Alkitab mengalami banyak keberhasilan yang gemilang. Tetapi Dia juga mengalami banyak tantangan dalam perjalanan hidupnya; baik sebelum dia menjadi raja maupun saat memimpin Israel sebagai raja. Satu sikap yang menonjol dalam diri Daud adalah dia percaya dan mengandalkan Tuhan.  Satu contoh adalah ketika dia harus melawan “sang raksasa” Goliat dengan postur tubuh dan peralatan perang yang tidak sebanding, dia dengan penuh keyakin maju melawan Goliat karena Dia mengandalkan Tuhan. Disitu dia mendapat pembelaan dari Tuhan untuk kemenangan bangsa itu. Kesaksian tentang pembelaan itu juga dia nyatakan pada ayat 4-5 dari Nats diatas.

Lalu bagaimana sepatutnya sikap orang-orang yang dibela Tuhan?

Dari ayat-ayat kita baca, paling tidak ada 3 hal yaitu:

1. Orang yang dibela Tuhan akan bersyukur dengan segenap hati. (ayat 2a)

Definisi “syukur” dalam kamus bahasa Indonesia adalah rasa terima kasih kepada Tuhan. Itu berarti ucapan syukur hanya ditujukan kepada Tuhan bukan kepada manusia . Meskipun wujud syukur itu bermcam-macam dan mungkin terkadang disampaikan lewat manusia dan pelayanan, namun semua itu ditujukan kepada Tuhan. Bila mengacu kepada Maz. 65:2, maka wujud syukur itu bisa berupa puji-pujian dan membayar nazar. Kata “dengan segenap hati” berarti tulus, tidak ada kepalsuan atau kepura-puraan.

2. Orang yang dibela Tuhan akan menceritakan perbuatan Tuhan yang ajaib (bersaksi). (ayat 2b)

Menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib kepada keturunan (anak-cucu) adalah perintah Tuhan kepada  orang  Israel. Hal itu penting karena dengan cara itu mereka dapat mengenal Tuhan. Amanat Tuhan Yesus kepada murid-muridnya adalah supaya mereka memberitakan kabar baik.  Kesaksian tidak dapat dianggap sepele, sebab lewat kesaksian banyak orang  dapat diberkati atau dimenangkan bagi Kristus.  Dengan bersaksi berarti : kita membagikan kabar baik, meneruskan berkat dan memuliakan Tuhan.

3. Orang yang dibela Tuhan akan bersukacita, bersukaria dan bermazmur bagi Tuhan.(ayat 3)

Orang yang dibela perkaranya pasti akan bersuka cita, apalagi kalau kemenangan berada di pihaknya. Tuhan telah dan akan terus membela perkara kita dan bila Tuhan dipihak kita maka kita akan berkemenangan. Suka cita akan mendorong hati kita untuk bermazmur bagi Tuhan.

Mari kita hitung berkat yang kita terima setiap hari! Renungkanlah pembelaan Tuhan dari satu perkara ke perkara yang lain, supaya kita tahu bersyukur, bersaksi dan bersukacita dan bermazmur bagi Tuhan.

SIKAP POSITIF

Nats : II Korintus 2:5-11
Oleh Pdt. L. Hutabalian

Selalu ada dua hal yang bertolak belakang di dunia ini, yaitu baik-buruk, sehat-sakit, terang-gelap, putih-hitam, positif-negatif, dan lain-lain. Bila “positif” dimaknai sebagai hal-hal yang baik, berguna/bermanfaaat atau berdampak baik, maka “negatif” dimaknai sebaliknya.

Sebagai umat Tuhan, kita dituntut untuk memiliki sikap yang positif dalam menjalani hidup, supaya kita memiliki atau berdampak pasitif bagi orang lain. Lalu seperti apakah sikap yang positif itu?

Tentu banyak point-point yang bisa menjelaskan seperti apa sikap positive itu, namun menurut nas diatas paling tidak ada 3 tindakan sebagai bentuk sikap positif yaitu:

1. Memberi Teguran (Ay. 6).
Bila ada tindakan atau perilaku yang tidak baik atau salah, maka seorang yang memiliki sikap positif akan memberikan teguran kepada yang bersalah. Namun teguran haruslah bertujuan untuk mengingatkan/menyadarkan supaya orang yang bersalah tersebut tidak tinggal dalam kesalahannya atau supaya tidak semakin mendalam masuk dalam dosa.

2. Memberi Motivasi (Ay.7)
Setelah menegur orang yang bersalah, maka sikap positif yang harus dilakukan selanjutnya adalah memberi motivasi. Motivasi ini sangat penting agar seseorang yang bersalah tidak larut dalam rasa bersalah. Dia perlu dimotivasi untuk meyakinkan dia bahwa dia bisa bangkit dari kesalahan dan tidak tinggal dalam rasa bersalah yang berkepanjangan.

3. Menunjukkan Kasih (8-11)
Kesalahan seseorang dalam bertindak tidak selalu karena orang tersebut memang berniat jahat tetapi bisa juga karena kurang faham atau mengerti tentang hal yang dia lakukan. Untuk orang seperti ini perlu bimbingan dari mereka yang dewasa dalam iman untuk mengarahkannya. Lepas dari apa yang menjadi penyebab seseorang berlaku tidak baik, setiap mereka yang mau ditegur, perlu ditolong dalam proses pembelajaran atau usahanya untuk menjadi lebih baik. Menjukkan kasih berarti menerima dia kembali dan tidak lagi mengungkit-ungkit kesalahannya. Menunjukkan kasih juga berarti menyedikan pundak untuk membantu atau menolong seorang yang bersalah dalam kelemahannya untuk bangkit.

Mari kita miliki sikap positif dengan terus belajar Firman Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan, dengan sikap itu kita membangun diri kita dan membantu orang lain untuk hidup dalam kebenaran.

Step Ahead in Faith (Selangkah di depan dalam Iman)

Nats : Bilangan 13:25-33, 24:1-10

Istilah “Step Ahead” atau “Selangkah di depan” sering disampaikan dalam kaitannya dengan suatu produk atau perusahaan yang menyatakan keunggulan dibanding yang lain. Kita mungkin pernah melihat iklan dengan jorgan “selangkah di depan”, “selangkah lebih maju” , “yang lain semakin ketinggalan” atau jorgan lainnya yang menyatakan keunggulannya dibanding yang lain.

Dalam berbagai bidang usaha/bisnis, hasil usaha yang diperoleh tidak terlepas dari keunggulan yang dimiliki; baik itu keunggulan produk, management, pemasaran, dll. Sedangkan keunggulan itu dicapai dengan melakukan inovasi-inovasi. Dan inovasi yang menghasilkan keunggulan itu sendiri tidak terlepas dari adanya  harapan dan keyakinan akan mampu mencapai hasil yang lebih baik.  Harapan dan keyakinan yang dimiliki seseorang membuat dia berani melangkah untuk sesuatu yang baru dan lebih baik.

Dari ayat-ayat firman Tuhan diatas, kita akan menemukan dua “jenis” atau kelompok manusia, dimana yang satu lebih unggul dalam iman atau “step ahead in faith” dengan yang lain. Yang satu adalah mental pemenang sedangkan yang lain adalah pencundang.

Ketika Musa mengirim 12 orang pemimpin-pemimpin yang mewakili 12 suku Israel untuk mengintai tanah Kanaan, dan setelah 40 hari mengintai, mereka kembali  kepada Musa, Harun dan bangsa itu untuk melaporkan hasil pengintian mereka.  Mata jasmani mereka tentu melihat hal yang sama, baik itu hasil alam yang luar biasa baiknya maupun keadaan alam dan orang-orang yang ada disana. Namun mata rohani mereka tidak melihat hal yang sama, dimana 10 orang pengintai yang pecundang itu tidak melihat harapan kemenangan karena mereka mengandalkan diri mereka dan tidak mempercayai janji Tuhan yang akan menyerahkan tanah itu kepada mereka. Sedangkan 2 orang yang unggul dalam iman yaitu Yosua dan Kaleb tidak melihat keadaan orang-orang di Kanaan yang besar-besar bagai raksasa itu sebagai penghalang bagi mereka untuk memiki tanah itu karena mereka percaya pada janji Tuhan.

Bilangan 13:27-29 dan ayat 31-33 adalah merupakan perkataan-perkataan yang keluar dari mulut 10 orang pecundang yang melapor itu. Perkataan-perkataan mereka menunjukkan ketakutan, ketidakpercayaan dan melemahkan.  Perkataan mereka telah membuat bangsa itu ciut. Mereka menjadi lemah dan takut.   Sedangkan Bilangan 13:30, dan Bilangan 14:6-9 adalah perkataan-perkataan yang keluar dari mulut orang-orang yang unggul dalam iman yaitu Yosua dan Kaleb.  Perkataan mereka menunjukkan keberanian, kepercayaan dan meneguhkan.  Sayangnya umat-umat itu sudah terlanjur takut dan gentar karena mereka mendengar perkataan para pecundang itu dan mereka sendiri juga tidak memiliki iman yang unggul seperti Yosua dan Kaleb.  Sebagai akibatnya, maka semua orang-orang Israel dewasa (20 tahun keatas) mati dalam perjalanan dan tidak sampai ke tanah perjanjian Kanaan kecuali Yosua dan Kaleb. Yosua dan Kaleb mendapat tempat istimewa dihati Tuhan karena mereka mengikut Tuhan dengan setia. (Bil. 32:11-12).

Bila anda melihat “raksasa-raksasa” persoalan dalam hidupmu, janganlah ciut. Maju dan melangkah dalam iman. Percayalah pada janji Tuhan dan berlakulah setia, maka engkau akan tampil sebagai pemenang.

 

PEMENANG   (UNGGUL)

 

 

PECUNDANG

  1.   Mengandalkan Tuhan
  2.   Percaya pada Janji Tuhan
  3.   Perkataannya menguatkan/ memberi   semangat
  1.   Mengandalkan Diri
  2.   Tidak Percaya pada Janji Tuhan
  3.   Perkataannya melemahkan

EMPAT JALAN TUHAN MEMBERKATI (Ringkasan Kotbah di GPI Trans Marina 05 Jan 2014)

Dan Allah sanggupmelimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupandi dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. (2 Kor 9:8)

Kita bersyukur bahwa Allah yang kita sembah adalah yang mengasihi kita. Dengan kuasa-Nya  Ia sanggup mencukupkan apa yang kita perlukan dan memberi kita kelimphan supaya kita bisa melakukan berlbagai kebajikan.

Berikut ini kita mau mempelajari paling tidak ada Empat jalan Tuhan untuk memberkati  kita yaitu:

  1. Berkat Melalui Penciptaan (Berkat yang Pertama).

Sebelum Allah menciptakan manusia, Ia terlebih dahulu menciptakan berbagai macam untuk memenuhi kebutuhan manusia itu. Dia tidak saja menciptakan matahari, bulan dan ciptaan lainnya tetapi juga air dan tumbuh-tumbuhan.  Dari sini kita melihat bahwa Allah kita bukanlah Allah yang lalai tetap Allah yang bertanggungjawab. Dia tahu bahwa manusia memerlukan semua itu sesuai rancangan-Nya maka Ia menyediakannya.

Berkat ini bersifat universal yang tidak pernah dicabut oleh Tuhan meskipun manusia telah jatuh ke dalam dosa. Hanya saja akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa itu, maka tanah dikutuk dan tidak lagi memberi hasil seperti semula dan manusia  harus bersusah payah mengusahakannya (Kej. 3:17).

Berkat ini dapat kita peroleh dengan kerja keras, mau belajar, menggali potensi yang kita miliki dan percaya bahwa meski  tanah telah terkutuk, bagi orang percaya  selalu ada pertolongan Tuhan untuk membuat segala sesuatu lebih mudah. (Ul. 8:18)

  1. Berkat Melalui Kesetiaan.

Alkitab mengisahkan bahwa orang –orang yang setia kepada Tuhan kehidupan mereka diberkati luar biasa oleh Tuhan. Abraham, Ishak, Yakub, Daud, Salomo, dll adalah orang-orang yang diberkati ketika mereka berlaku setia kepada Tuhan.  Mereka bukan saja diberkati secara finansial, tetapi mereka juga memberi pengaruh besar kepada orang-orang sezamannya dan juga generasi setelah mereka.

Memang ada masa tertentu yang mereka alami sebagai proses dimana mereka harus mengalami banyak tantangan, tetapi apabila mereka setia maka mereka memperoleh upah yaitu berkat yang luar biasa dari Tuhan.

Sebagai pengikut Kristus kita diberi tanggungjawab. Dimulai dari yang kecil sampai kepada yang besar. Dan kalau kita setia dalam perkara-perkara kecil maka Tuhan akan memberikan perkara-perkara beser dalam kehidupan kita  (Mat. 25:21-23)

  1. Berkat Melalui Persembahan

Tuhan memberi ketetapan bagi orang Israel untuk memberikan persembahan persepuluhan, ucapan syukur dan persembahan lainnya.  Di dalam PL, suku Lewi telah ditetapkan Tuhan untuk menjadi pelayanan di rumah Tuhan sehingga mereka tidak mendapat bagian di Tanah Kanaan seperti kepada suku-suku lainnya.

Pada zaman Maleakhi ada kemunduran ahlak sehingga menganggap remeh semua persembahan yang seharusnya diberikan sesuai perintah Allah. Dan para imam pun telah merendahkan perintah Allah karena menerima persembahan yang cacat.  Para imam pun tidak lagi mengkhususkan diri untuk perkerjaan Tuhan karena mereka harus memikirkan kebutuhan mereka.

Oleh karena itu Tuhan “menantang” mereka, untuk kembali kepada firman, maka mereka akan melihat bahwa Tuhan akan membukakan bagi mereka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat sampai berkelimpahan. (Mal. 3:10)

Perkembangan gereja, program-program dan misi tidak terlepas dari kebutuhan akan dana (keuangan). Oleh karena itu perbendaharaan di rumah Tuhan diperlukan untuk merealisasikannya dengan maksimal.

  1. Berkat Melalui Pemberian.

Janji Allah kepada Abraham bahwa dia akan diberkati dan olehnya semua kaum di bumiakan mendapat berkat (Kej.12:2-3).  Abraham diberkati bukan hanya untuk kepentingannya sendiri melainkan agar melalui dia orang lain juga diberkati.

Kita yang hidup oleh iman adalah anak-anak Abraham yang juga menerima janji Allah (Gal 3:7,29), dan ketika kita diberkati oleh Tuhan, kita juga seharusnya menjadi berkat bagi orang lain dan lewat itu Tuhan akan terus bahkan semakin memberkati kita. “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk 6:38)

Hal yang sulit bagi banyak orang adalah memberi dari apa yang dia punya. Tetapi justru lewat hal yang sulit ini iman kita diuji apakah kita percaya  kepada Tuhan yang berjanji membalaskan segala perbuatan baik yang kita lakukan  Jadi jangan takut mengulurkan tangan dan menjadi berkat bagi orang lain.

IMAN UNTUK DIPERKENAN

Ibrani 11:16 “tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barang siapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah itu ada, dan bahwa Allah itu memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Saya melihat bahwa firman ini merupakan dasar dari semua Theologia Kristen, karena Firman Tuhan ini dengan jelas mengatakan bahwa siapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah itu ada. Orang bisa saja percaya pada theologia kemakmuran yang mengatakan bahwa setiap orang percaya pasti makmur (kaya), atau Teologia Penderitaan bahwa orang percaya harus hidup menderita atau mungkin theologia-theologia yang lain, tetapi tanpa pengakuan bahwa Allah itu ada, maka semua theologia tidak memiliki dasar alias kosong.

Demikianlah kehidupan kita, perlu meyakinkan diri kita bahwa Allah itu ada. Ketika kita datang beribadah kita perlu bertanya kepada diri kita , kepada siapa kita beribadah? Tentu kita beribadah kepada Allah karena kita percaya bahwa Allah itu ada. Kita datang melayani, siapakah yang kita layani? Tentu saja Allah yang kita layani, kenapa? karena kita percaya bahwa Allah itu ada. Bahkan kita menyerahkan hidup kita dan menggantungkan pengharapan kita kepada Allah karena kita percaya bahwa Allah itu ada dan bahwa ia memberi upah kepada setiap orang yang mencari Dia.

Setelah kita lahir baru (percaya dan menerima Yesus) Allah berkeinginan agar kita mengalami pertumbuhan iman. Allah menghendaki kita agar tidak hanya mengimani keselamatan kita di akhirat, tetapi Allah juga menghendaki kita mengimani segala kebaikan Allah yang sempurna yang dapat kita terima selagi kita masih di dunia ini. Karena dengan imanlah kita dapat masuk dalam persekutuan dengan Allah dan dengan iman itu kita dapat mengalami kuasa dan berkat.

Dalam beberapa kejadian mujizat yang terjadi di dalam injil, Yesus mengatakan “iman mu telah menyelamatkan engkau atau imanmu telah menyembuhkan engkau” Ini artinya bahwa iman merupakan hal yang penting karena iman merupakan suatu pengakuan akan kekuasaan Allah yang dapat terjadi bagi kita. Kekuasaan yang sanggup menyelamatkan, menyembuhkan dan memberkati.

Di dalam Alkitab kita dapat melihat pertumbuhan iman para murid dalam tingkatan iman.

1. Mereka percaya Yesus, ketika Yohannes berkata-kata tentang Dia dan mendengar Yesus berbicara (Yoh. 1:35-40).

Hal ini terjadi ketika Yesus memanggil murid yang pertama yaitu Andreas, Andreas ini pula yang membawa saudaranya yaitu simon Petrus untuk mengikut Yesus. Kemudian sebagian murid-murid yang lain juga mengikut Dia karena mereka mendengar dan percaya perkataan Yesus. Disana Yesus belum pernah mengadakan atau meperlihatkan mujizat.
Ini sangat berbeda dengan prinsip duniawi. Kalau prinsip dunia “melihat dulu baru percaya, tetapi prinsip iman adalah “percaya dulu baru melihat”.

2. Iman mereka bertumbuh ketika melihat mujizat Yesus (Perkawinan di Kana -Yoh. 2:11)

Sebagaimana Alkitab jelaskan, bahwa mujizat yang terjadi di pesta perkawinan di Kana, adalah yang pertama sekali dilakukan oleh Yesus. Sampai sejauh Yesus belum melakukan mujizat, murid-murid belum tahu sedahsyat apa pekerjaan yang bisa dilakukan Yesus. Nah, ketika mujizat itu terjadi, mereka semakin percaya.

Tahap 3: Akhirnya mereka bertumbuh dalam iman kepada Yesus dan perkataan-Nya walaupun Yesus tidak bersama-sama dengan mereka.(Yoh. 2:22 ; 4:50) Dan murid-murid itu sendiri menghidupi kehidupan yang disertai dengan tanda-tanda mujizat (Kis.3:1-8)

Ini pulalah yang terjadi kepada Abraham, ketika Allah menyuruh dia untuk meninggalkan keluarganya menuju tanah kanaan yang dijanjikan oleh Allah kepadanya, ia berangkat walaupun ia tidak tahu jalan kesana dan tidak melihat bagaimana keadaan tanah Kanaan itu, namun ia percaya pada perkataan Allah. Dalam perjalanannya Allah menunjukkan kuasanya bagi Abraham, kemenangannya melawan musuh-musuh bahkan berkat-berkat yang melimpah diberikan kepadanya.

Abraham menyuruh Lot memilih tanah.

Demikian juga yang terjadi dengan Musa ketika pertama sekali Ia di panggil oleh Allah untuk membawa umat Isreal dari Mesir menuju tanah Tanah Perjanjian, Musa percaya pada perkataan Allah. Selanjutnya Allah menunjukkan kuasa-Nya yang dahsyat membela orang Israel terhadap orang Mesir , mujizat dan berkat manna Allah sediakan bagi mereka. Dengan iman kita masuk dalam persekutuan dengan Allah. Dan dengan iman itu kita mengalami kekuasaan Allah yang sanggup menyelamatkan, menyembuhkan dan memberkati.