SAYA DAN GPI SIDANG TRANS MARINA – SEBUAH TESTIMONY

Panggilan Menjadi Hamba Tuhan.

Ketika masih muda, saya tidak pernah berpikir akan menjadi seorang hamba Tuhan. Meskipun banyak dari antara keluarga mulai dari kakek, paman dan bapak saya menjadi hamba Tuhan, namun saya tidak tertarik menjadi hamba Tuhan. Saya melihat bagaimana beratnya tugas sebagai hamba Tuhan yang kepadanya banyak jiwa-jiwa dipercayakan. Saya melihat banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh kakek, paman, khususnya ayah saya dalam perannya sebagai hamba Tuhan.

Berangkat dari keadaan ekonomi keluarga yang memprihatinkan, banyaknya keinginan saya sebagai remaja yang tidak dapat di penuhi dan keharusan saya untuk bekerja keras beternak babi dan mencari makannya keliling dengan mengais-ngais tong sampah orang-orang, maka hanya satu cita-cita saya waktu masih remaja yaitu MENJADI ORANG KAYA. Sungguh tidak ada cita-cita yang lain selain menjadi orang kaya, entah sebagai apa pun saya untuk memilikinya.

Namum kehendak saya bukan kehendak Tuhan. Di suatu pagi pada bulan Juni 2001 ketika saya berbaring dan tidur, di spring bed tua kami, saya mendapat visi Tuhan. Dalam tidur saya, saya bermimpi ada sepasang burung merpati warna putih cerah masuk ke rumah saya. Saya heran, dari mana datangnya merpati ini. Lalu saya menangkap sepasang burung merpati ini dan mereka langsung menurut, sangat jinak dan tidak meronta sedikit pun. Kemudian saya membuatkan mereka “rumah-rumah” dibelakang rumah saya. Mereka kelihatan senang tinggal di “rumah-rumah” yang saya buat ini.

Ketika saya bangun, saya bertanya dalam hati “Adakah arti dari semua ini? Bukankah merpati putih itu sebagai lambang dari Roh Kudus? Tapi mengapa dua?”. Malamnya semua pertanyaanku dijawab oleh Tuhan. Sepasang hamba Tuhan yaitu Bpk. Pendeta (waktu itu masih Guru) gembala sidang tempat saya beribadah beserta dengan ibu datang ke rumah saya. Mereka meminta saya untuk terlibat melayani dan diangkat menjadi Sintua.

Mendengar permintaan hamba Tuhan ini, saya menolak karena memang tidak terpikir oleh saya untuk menjadi hamba Tuhan. Saya menolak dengan halus dan mengatakan bahwa saya mau membantu pelayanan di gereja ini semampu saya bisa bantu tapi janganlah menjadi hamba Tuhan. Namun bapak Pdt ini memang sudah yakin dengan hal ini dan dengan hikmat memberi banyak masukan kepada saya supaya saya mau. Lalu saya pun teringat akan mimpi saya dan mencoba meyakinkan diri bahwa inilah yang Tuhan mau katakan kepada saya melalui mimpi. Akhirnya saya bersedia diangkat menjadi sintua.

Visi Penggembalaan

Tanggal 10 Juni 2001 saya diangkat menjadi sintua di sidang. Namun baru sinode tahun berikutnya saya di tahbiskan di GPI Pusat. Memasuki lembaran baru kehidupan sebagai hamba Tuhan tentu harus banyak belajar dan mulai lebih hati-hati dalam bersikap.

Selama menjalani tugas pelayanan, tidak sedikit tantangan yang  saya hadapi baik dari dalam maupun dari luar.  Pola pikir, konsep atau pengertian tentang sesuatu baik itu hal-hal umum, pelayanan maupun tentang firman Allah tidak selalu sama. Karena itu dibutuhkan hikmat, upaya-upaya pembelajaran yang terus menenerus, pendekatan yang baik (walau kadang sangat tegas) dengan rekan sesama pelayan.

Pernah selama empat tahun lebih sebagai pembina muda-mudi sidang, dan empat tahun menjadi pembina Biro Pemuda kota Batam, adalah merupakan tahap proses pembelajaran dalam melayani. Sebagai pembina harus menjembatani antara pemuda dengan hamba-hamba Tuhan, antara dept. pemuda sidang dan biro pemuda.  Korban waktu dan korban perasaan harus dijalani, dan diterima sebagai proses pembelajaran untuk semakin mengerti arti kesetiaan dalam tugas.

Ketika semakin mengerti betapa indah dan luar biasa arti sebuah panggilan dari Tuhan yaitu  sebuah kepercayaan dan kehormatan yg diberikan Tuhan, maka menangis menjadi wujud syukur yang meluap dari hati. Panggilan Allah adalah panggilan yang bertanggung jawab. Ia memanggil, maka Ia  memperlengkapi dengan segala sesuatu untuk kebutuhan panggilan itu sendiri.

Setelah saya tamat dari Batam School of Ministry yang saya jalani selama 2.5 tahun (seharusnya 2 tahun tapi ada satu semester saya libur) dan berlanjut ke tahun ke tiga setelah saya diangkat menjadi sintua, hati saya semakin terbeban untuk memulai sebuah penggembalaan. Ada banyak hal yang saya anggap bisa seharusnya dilakukan dalam penggembalaan namun tidak dilakukan. Puji Tuhan, memang banyak masukan-masukan saya diterima/diakomodasi untuk kami kerjakan bersama-sama di GPI sidang Tembesi. Namun saya harus akui, tidak semua visi saya bisa diterima, dan saya pun sadar bahwa tidak semua yang ada di pikiran saya mengenai pelayanan dimungkinkan dilakukan dengan berbagai pertimbangan, salah satu contoh  menjadikan gereja sebagai gereja yang memiliki beban misi.

Menjalani tahun-tahun berikutnya, visi penggembalaan ini semakin kuat. Namun demikian saya terus bergumul kepada Tuhan jangan-jangan ini hanya ambisi saja atau hanya karena ketidakpuasan saja. Seiring waktu berjalan kemudian saya merasa semakin mantap dengan visi itu. Namun meskipun sudah mantap, saya tidak serta merta membuka pelayanan sendiri. Saya masih bergumul apakah saya tetap di GPI atau tidak. Hal ini terjadi karena saya kecewa melihat banyaknya masalah perpecahan dan pengangkatan yang menimbulkan masalah. Selain itu masalah managemen pun juga menjadi perhatian saya dan menjadi pertimbangan.

Pada saat yang sama saya mulai menggumulkan suatu tempat disekitar daerah marina. Waktu itu belum banyak rumah-rumah apalagi ruko. Hanya beberapa ruli (rumah liar) di jalan lintas Marina itu. Tetapi ditempat ini bakal banyak perumahan dan memang sudah terjadi sekarang dimana ada sekitar 8 perumahan dan sudah banyak deretan ruko di jalan lintas utama ke marina.

Dalam masa pergumulan itu sendiri, beberapa kali timbul niat saya untuk memulai saja membuka sidang baru dan tetap di GPI, namun urung saya lakukan karena setiap saya mau merencanakan memulai, selalu ada selisih paham dengan pak gembala yang membuat saya kecewa dan sakit hati. Padahal saya sudah komitmen bila saya akan membuka sidang maka dua kriteria harus lolos yaitu (1) bukan karena ada sakit hati/selisih faham, dan (2) harus menjaga jarak yang ideal dari sidang asal dan tidak memecah jemaat.  Bisa jadi kriteria saya ini menjadi hal yang aneh bagi banyak orang. Bukankah justru banyak orang memanfaatkan “riak-riak” atau selisih faham, masalah-masalah kecil yang dibesar-besarkan sebagai alasan untuk buka sidang? Mungkin ya, tapi tidak bagi saya. Puji Tuhan, dengan jujur saya katakan bahwa saya tidak pernah lama-lama menyimpan sakit hati kepada pak gembala, puji Tuhan, Tuhan karuniakan ini pada saya. Namun justru beberapa kali sakit hati itu menjadi sinyal bagi saya untuk tidak memulai membuka sidang.

Memasuki tahun ke lima sebagai sintua yaitu tahun 2006, visi ini semakin mantap. Dan antara saya dengan pak gembala pun sudah semakin bisa saling memahami, sejalan, seirama bahkan saling mendukung. Walaupun terkadang masih ada riak-riak kecil tetapi bukan lagi sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Tuhan menyadarkan saya bahwa pengalaman yang saya alami dalam pelayanan ini ibarat besi menajamkan besi. Saya merasa bahwa Tuhan telah memakai pak gembala untuk menajamkan saya dan pada saat yang sama saya dipakai oleh Tuhan untuk menajamkan pak gembala.

Namun meskipun sudah mantap visi dan kami sudah bisa saling memahami, saya tidak langsung buka sidang karena saya belum yakin benar apakah akan tetap di GPI atau tidak. Namun kemudian saya berpikir adalah baik bila saya terlebih dahulu mempersiapkan/membekali diri dengan ilmu teologi sebelum terjun ke penggembalaan, terlepas apakah nanti saya tetap di GPI atau tidak. Maka tahun 2009 saya melanjutkan Diploma 2 tahun missiology saya ke jenjang S1 Teologi dan puji Tuhan telah selesai pada bulan Juni 2012.

Sungguh, bukan perjuangan yang mudah. Selama 3 tahun lebih melanjut ke S1,  selama 2 tahun lebih saya harus berangkat kerja jam 5.50 pagi, setelah itu lanjut ke kampus dan baru jam 10.30 malam saya tiba di rumah. Diantara banyaknya tugas kuliah yang menyita waktu, tenaga dan pikiran, saya terus berusaha untuk tidak ketinggalan dalam pelayanan. Saya harus mengorbankan banyak hal termasuk kurangnya waktu bersama-sama dengan isteri dan anak-anak. Puji Tuhan, saya bisa lega ketika sudah di wisuda.

Antara Visi dan Cita-cita

Seperti dalam testimony saya sebelumnya bahwa saya tidak pernah berpikir apalagi bercita-cita untuk menjadi hamba Tuhan. Cita-cita saya hanya satu yaitu menjadi orang kaya, karena dilatarbelakangi kehidupan keluarga yang susah (miskin). Tetapi kemudian berbalik dan meninggalkan cita-cita itu setelah mendapat visi dari Tuhan.

Sebenarnya saya berpeluang menjadi “orang kaya” bila saya lebih memfokuskan diri kepada pekerjaan. Dengan pengalaman kurang lebih 10 tahun di perusahaan multinational ternama bidang oil and gas, dan terlibat di commissioning dept. pada beberapa proyek asing, punya banyak kenalan orang asing yang bekerja di proyek fabrikasi platform (anjungan minyak dan gas) dan pernah mengikuti proyek pemasangan di Thailand (3 proyek), Myanmar, Vietnam dan mengikuti training keselamatan kerja di Malaysia, dan kemampuan berkomunikasi bahasa Inggris yang lumayan, maka saya bisa saja mengikuti jejak teman-teman saya untuk mengambil sertifikasi inspektor.

Untuk menjadi “orang kaya” seharusnya saya kuliah di bidang teknik dan menjadi Sarjana Teknik untuk mendukung pengalaman kerja saya di proyek-proyek asing. Paling tidak saya sekolah inspektor. Untuk mengikuti pelatihan inspektor dan sertifikasi hanya dibutuhkan 3 atau 6 bulan dengan biaya antara 15 jt sampai 30 jt. Namun konsekwensinya adalah akan sering kerja hari minggu, sering ke luar negeri dan bekerja di offshore (lautan lepas).

Beberapa teman saya satu perusahaan dulu telah melakukannya dan ketika mereka kerja untuk client mereka mendapat gaji dollar yang kalau di konversi sekitar 30-an juta/bulan, bahkan ada yang sampai 50 jt-an/bulan. Bila mereka dapat satu proyek saja (2-3 tahun) maka uangnya tentu sudah banyak. Padahal secara kemampuan bahasa Inggris saya tidak kalah dengan mereka bahkan ada diantaranya kemampuan bahasa Inggrisnya masih dibawah saya. Tak heran bila sekarang mereka sudah pada punya rumah dan mobil bagus bahkan ada yang punya beberapa mobil. Sedangkan saya, puji Tuhan sudah ada rumah yang diatas RSS tapi tidak punya mobil, hanya motor tua. 🙂

Saya meninggalkan kesempatan yang sesuai dengan cita-cita dan memutuskan melanjutkan kuliah D2 Missiologi ke S1 Teologia yang harus saya jalani tiga tahun lebih demi visi yang Tuhan taruh di hati saya.

Pra Pendirian GPI Sidang Trans Marina

Daerah Marina dan sekitarnya adalah daerah yang sangat luas. Salah satu jalan yang dibuat sekitar 8-9 tahun yang lalu untuk memperpendek/mempercapat jarak tempuh dari Batu Aji ke Marina yaitu mulai dari yang disebut Simpang Base Camp menuju Marina dan tembus ke Tanjung Uncang. Sekitar tujuh tahun yang lalu ketika saya melewati jalan ini, saya melihat ada peluang besar untuk merintis pelayanan disini. Memang waktu itu hanya ada beberapa ruli (rumah liar – istilah rumah sederhana dari papan/triplek dilahan garapan/tidak resmi) namun tempat ini akan dibangun komplek perumahan.

Sekarang ini (Sept 2012) sudah ada sekitar 8 komplek perumahan di daerah ini, sedangkan di jalan lintas menuju Marina itu sendiri sudah ada beberapa komplek ruko. Di daerah ini dalam pengamatan saya ada 4 Gereja yaitu GBI, GAPPI (baru buka), Sidang Jemaat Kristus dan satu lagi saya lupa namanya.

Kurang lebih 1.5 tahun yang lalu yaitu setelah 5.5 tahun berlalu ketika saya menggumulkan daerah ini, saya berencana memulai perintisan sidang GPI. Karena sulitnya mencari lahan garapan untuk dijadikan gereja maka saya menjajaki ruko untuk tempat ibadah. Namun sayang sekali, pemilik ruko tidak mau rukonya dijadikan gereja karena di komplek ruko itulah Sidang Jemaat Kristus (pemilik ruko) dan GBI berada. Sementara jumlah ruko waktu itu belum sebanyak sekarang di daerah itu. Padahal waktu itu saya sudah keluar dari perusahaan untuk memulai usaha sekaligus perintisan.

Akhirnya saya menyewa ruko di daerah RSS untuk usaha sedangkan perintisan saya tunda karena tidak mungkin rasanya membuka sidang di RSS karena di jarak 1 km sudah ada GPI. Lagi pun tempat ini mudah dijangkau karena sudah banyak sarana transportasi sehingga mempermudah akses jemaat GPI sidang Tembesi (sidang asal) dan Sidang Batu Aji untuk datang. Hal ini menjadi dilema bagi saya karena saya tidak mau ada kesan menyerobot jemaat yang sudah menetap di sidang-sidang. Karena itu saya tidak jadi buka sidang.

Sepanjang satu setengah tahun lebih merintis usaha, ternyata usaha pun tidak begitu menggembirakan. Setelah satu tahun masa kontrak ruko habis, usaha saya pindahkan ke rumah. Semasa ini pula timbul pikiran saya untuk pindah ke kampung sotul (Tebing Tinggi) untuk melayani di Sidang Kampung Sotul yaitu sidang yang dirintis oleh mendiang kakek saya. Kebetulan juga saya pernah menggumulkan untuk melakukan sesuatu di sidang ini yang menurut saya sudah sangat memprihatinkan keadaannya. Karena itu pernah terpikir oleh saya untuk melakukan sesuatu di sidang itu untuk waktu selama tiga-lima tahun, kemudian saya akan cari tempat lain setelah itu.

Beberapa kali saya coba mendiskusikan dengan isteri supaya kami pindah ke Tebing dan melayani di sidang kampung sotul, tetapi dia tidak bersedia. Memang terlalu banyak yang menjadi pertimbangan selain karena anak harus pindah sekolah di tengah semester, saya pun masih kuliah waktu itu. Namun setelah selesai kuliah di bulan Juni 2012, saya kembali membicarakannya dengan isteri, tetapi dia tidak mau karena kwatir saya tidak ada kerja disana sedangkan untuk merintis usaha pun bukan perkara mudah.

Setelah saya bergumul dengan semua yang saya alami, maka terpikirlah kemudian untuk kembali ke rencana perintisan yang tertunda 1.5 tahun yang lalu, karena untuk persiapan perintisan itulah sebenarnya saya kuliah teologi. Kalau memang tidak jadi ke kampung sotul maka saya akan mulai lagi menjajaki perintisan. Itulah yang ada dalam pikiran saya.

Kira-kira satu setengah bulan sebelum sinode tahunan GPI 2012, ada dua pergumulan penting yaitu pindah ke Tebing atau Merintis sidang GPI di Batam. Lalu saya mencoba mencari sponsor dari rekan di Singapore, bila mungkin mereka bisa mensponsori saya sebagai misionaris lokal. Kalau ada sponsorship, maka isteri saya mau untuk pindah ke Tebing dan melayani di sidang Kampung Sotul.
Lalu pergumulan itu saya bagikan melalui kesaksian di ibadah. Saya menyaksikan kepada HT dan jemaat supaya di doakan apa yang saya gumulkan, yaitu bila Tuhan berkehendak saya ke Tebing maka sponsorship akan berhasil, kalau tidak berarti ada rencana Tuhan yang lebih baik yang akan saya kerjakan sesuai visi yang saya terima dulu. Itulah kesaksian saya.
Dua minggu sebelum sinode saya mendapat jawaban dari ministry di singapore bahwa mereka tidak ada alokasi dana untuk keperluan seperti yang saya minta. Oleh karena itu saya gumulkan lagi untuk kembali ke rencana perintisan. Lalu saya mencoba menghubungi lagi si pemilik ruko yang dulu (1.5 tahun lalu) tidak bersedia memberikan rukonya utk dijadikan gereja. Puji Tuhan, ternyata sekarang mereka bersedia menyewakan rukonya utk gereja sekaligus tempat usaha. Bahkan yang membuat saya semakin yakin dengan rencana perintisan ini adalah bahwa pemilik ruko ini juga memberikan harga sewa setengah harga. Bila harga sewa ruko ditempat itu Rp. 30 juta untuk 1 tahun, tetapi kepada saya diberikan Rp. 30 jt untuk dua tahun. Itu pun kata pemilik ruko bisa saya cicil beberapa kali.

Mendapat Pertentangan

Ketika saya sudah memastikan akan memulai perintisan ini, ternyata tidak berjalan mulus. Istri saya yang tadinya tidak mau pulang ke Tebing dan melayani di kampung sotul, sekarang malah terbalik. Dia bilang lebih baik pindah ke Tebing daripada harus sewa ruko lagi. Dia sempat stress karena memang secara keuangan kami tidak punya lagi untuk dipakai memulai perintisan. Sedangkan dua kapling yang kami miliki juga sudah mulai saya bangun karena terancam akan diambil (ditimpa) oleh pemerintah bila tidak dibangun.
Sempat terjadi ketegangan antara saya dengan istri. Dan dia mencoba menggalang dukungan dari adik-adik saya supaya mereka bicara kepada saya agar tidak meneruskan rencana perintisan ini dan lebih baik pindah saja ke Tebing. Saya sempat merasa sendiri dalam rencana ini. Namun setelah saya kasih penjelasan kepada adik-adik mereka tidak bisa bilang apa-apa. Saya katakan bahwa ini bukan main-main. Rencana ini bukan tanpa proses juga bukan tanpa digumulkan. Rencana perintisan ini muncul kembali setelah beberapa tahap, mulai dari istri yang tidak mau pindah dan upaya sponsorship dari singapore. Semua ini didoakan dan Tuhan telah menjawab dengan tidak adanya sponsor dan juga dengan kesediaan pemilik roku agar roku itu dijadikan gereja dengan harga yang murah pula.
Sungguh hati saya semakin menggelora untuk memulai perintisan ini bahkan saya siap untuk menjual rumah saya untuk memulainya, tetapi istri malah menjadi penghalang. Jujur saya pun sempat stress menghadapi keadaan ini, ingin rasanya mengalah saja dan mengikuti kemauan istri, namun hati kecil saya berontak. Timbul rasa takut kalau saya pulang kampung itu malah melawan kehendak Tuhan, sebab menurut saya rencana ini sudah melewati proses dan sudah disaksikan dan didoakan. Dan Tuhan sudah menjawab melaui tahapan proses yang saya sebutkan diatas.
Dalam suatu siang, ketika saya pulang ke rumah dari kavling untuk makan siang, hati saya diliputi kepiluan. Waktu itu saya makan sendiri saja di meja sedangkan istri saya golek-golek di depan TV. Rasanya ingin menangis saja waktu itu. Lalu saya bilang kepada Tuhan: “Tuhan, mengapa Engkau kuatkan visi ini kepada saya? Lihatlah, istri saya tidak setuju akan rencanan ini” Setelah saya mengatakan itu dalam hati kepada Tuhan, tiba-tiba seperti ada bisikan hati yang kuat yang mengatakan kepada saya “Bukankah engkau akan menggembalakan jemaat? Bukankah engkau akan memenangkan jiwa-jiwa? Ini tantangan awal buat kamu, bagaimana kamu memenangkan istrimu yaitu orang yang terdekat denganmu” Setelah itu spontan keluar dari mulut saya, “haleluya..haleluya” dan mata saya berkaca-kaca.
Setelah saya makan, saya mendekati isteri saya sembari meyakinkan diri bahwa Tuhan akan menolong saya. Lalu saya ajak isteri bicara baik-baik dan singkat cerita, puji Tuhan dia setuju dan mendukung rencana perintisan ini. Saya bersyukur kepada Tuhan.
Setelah kami sepakat, maka saya kumpulkan adek-adek saya yang ada di Batam (3 KK) untuk makan bersama dan menyampaikan bahwa kami (saya dan isteri) sudah sepakat, sekaligus membicarakan langkah selanjutnya. Mereka mengatakan kesiapan mereka untuk mendukung saya dalam perintisan ini. Dan mereka akan menjadi jemaat mula-mula dan sekaligus pelayan. Seorang adek saya adalah pemain musik dan satu lagi (ipar) adalah seorang sintua yang baru diangkat.
Selesai dengan keluarga, saya juga harus menghadapi gembala sidang. Beliau sempat tidak setuju dengan alasan yang kurang logis yaitu karena ada 3 KK jemaat di daerah marina itu. Sedangkan kami ada 110 KK ditambah kurang lebih 100-an muda/i. Bila memang benar-benar mau mendukung, tentu bila tiga KK diarahkan ke sidang yang baru sangat logis. Apalagi bila mengingat dan menimbang bahwa saya sudah ikut melayani di GPI sidang Tembesi sejak awal pembukaan sidang ini. Artinya perkembangan GPI sidang Tembesi ini sampai sekarang, tidak terlepas dari pertisipasi saya juga bersama hamba Tuhan yang lain.
Namun setelah saya sampaikan rencana ini secara resmi kepada forum hamba Tuhan GPI sidang Tembesi, dan kami adakan rapat khusus (9 sept 2012), puji Tuhan semua berjalan mulus, karena memang tidak ada alasan untuk menghalangi rencana ini. Secara jarak, saya cari tempat yang jauh ( 4 km lebih dari GPI Sidang Tembesi) dan tempat itu tidak mudah di jangkau bagi jemaat yang tidak punya kendaraan pribadi. Secara pelayanan, saya tidak ada bermasalah dengan HT dan jemaat. Selama saya melayani saya sudah berusaha semaksimal mungkin, dan semua HT dan jemaat tahu hal itu. Pak gembala sidang pun akhirnya bisa memahami semuanya.
Dalam perbincangan saya dengan seorang rekan HT dan juga dengan adek-adek saya, bahwa kemungkinan alasan pak gembala tidak setuju bukan murni karena 3 KK jemaat itu, tetapi lebih karena tidak rela harus saya tinggalkan mengingat kinerja dan hubungan yang sangat baik selama ini dalam pelayanan. Saya pun bia memahaminya namun visi Tuhan harus tetap dijalankan.
Puji Tuhan rapat khusus HT mengenai rencana saya ini berjalan mulus dan semua HT sudah jelas mengetahui keberadaanya. Memang GPI sidang Tembesi tidak membantu saya dalam hal dana dengan alasan bahwa pembukaan sidang ini bukan program sidang melainkan program pribadi, namun sebagai ucapan terima kasih gereja atas pelayanan saya selama hampir 12 tahun, gereja akan memberikan 5 Juta rupiah. Dan saya akan tetap melayani di GPI Tembesi sampai pada hari peresmian sekaligus ibadah perdana di sidang yang baru.

Berdirinya GPI Sidang Trans Marina

Setelah tidak ada masalah lagi di internal keluarga dan Hamba Tuhan dalam rencana pendirian GPI Sidang Trans Marina, dan pak gembala atas nama GPI Sidang Tembesi akan mengeluarkan dari kas gereja sebesar 5 jt rupiah sebagai ucapan terima kasih gereja atas pelayanan saya selama hampir 12 tahun, maka saya pun mengucapkan terima kasih kepada semua hamba Tuhan.

Sejujurnya saya bukan orang berada. Keadaan keuangan/ekonomi kami pun sedang tidak baik. Pada saat yang sama dua saya kavling wajib dibangun walaupun tidak harus selesai, paling tidak sudah ada pembangunan terjadi di kavling itu. Usaha saya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Makanya ada beberapa orang yang meragukan rencana perintisan ini. Ada juga yang heran darimana uang pak St itu? (ini menurut pengakuan orangnya sendiri ke saya dalam suatu pertemuan). Beberapa rekan HT dan keluarga pun sempat mempertanyakan, bagaimana nanti setelah masa kontrak dua tahun selesai. Apakah masih tetap dikasih murah? Kalau tidak bagaimana? Saya menjawab dengan santai bahwa itu biarlah Tuhan yang mengatur. Pergumulan saya hanya satu yaitu supaya ruko itu bisa saya beli sebelum dua tahun masa kontrak selesai. Sebab tidak ada yang mustahil jika Tuhan campur tangan.

Untuk memulai perintisan ini saya sudah rela bila harus menjual rumah saya. Entah orang bilang saya sinting atau gila saya tidak perduli, karena saya sudah mantap dengan visi ini.  Namun puji Tuhan setelah rapat hamba Tuhan yang kami adakan berjalan  mulus, dan saya sudah menetapkan bulan oktober akan mulai (meskipun waktu itu belum ada kepastian antara minggu ke dua atau ketiga untuk pelaksanan ibadah perdana sekaligus peresmian), saya meng-sms salah seorang teman saya dari ministry di singapore untuk meminta dukungan doa agar perintisan dan acara peresmian berjalan dengan baik.

Puji Tuhan jawaban sms-nya mengatakan bahwa dia akan membantu saya beberapa dollar secara bertahap yang kalau dikoversi ke rupiah adalah sebesar 25 Jt-an. Ketika menerima sms ini, spontan saya teriak “Haleluya”.  Tuhan tahu saya tidak punya banyak dana dan Tuhan tolong lewat teman seiman.  Kalau dijumlahkan 5 Juta dari Tembesi dan 25 Juta dari teman saya ini, maka tuntaslah uang sewa ruko untuk dua tahun sebesar Rp. 30 juta. Dana yang saya pinjam dari adik saya untuk mendahului keperluan selama ini dapat saya kembalikan, dan rumah saya kemudian kami sepakati untuk tidak jadi dijual, melainkan akan diagunkan saja untuk kebutuhan penambahan modal usaha.

Memang masih banyak dana yang perlu utk beberapa peralatan yang dibutuhkan selain pembuatan altar, mencat ruko, pembuatan vodium, pembatas ruangan dan menambah instalasi listrik yang sudah saya dikerjakan, tapi saya yakin Tuhan akan cukupkan. Dan saya terus belajar bergantung/percaya kepada Tuhan. Isteri saya memberi masukan agar saya meminta tolong orang-orang dekat saya namun saya katakan kepada isteri supaya tidak berharap kepada manusia meski keluarga sekalipun. Biarlah Tuhan yang menggerakkan hati orang-orang untuk mendukung pelayanan ini. Percaya saja kepada Tuhan.

Akhirnya pada bagian akhir testimony ini, saya memohon dukungan doa dari semua member, supaya acara peresmian sekaligus ibadah perdana pada tanggal 21 oktober 2012 berjalan dengan baik dan lancar dan Tuhan mencukupkan segala yang diperlukan. Doakan juga supaya nanti sidang ini bisa berkembang, menjadi contoh dan memberkati dan membawa sebanyak-banyak orang kepada Tuhan sesuai dengan motto, visi dan misi sidang ini :

Motto : Kemampuan kami adalah pekeraan Allah (2 Kor. 3:5)

Visi : Menjadi gereja yang dewasa dan misioner

Misi :   1. Meningkatkan spiritualitas yang berpusat pada Kristus.

            2. Meningkatkan persekutuan dan persaudaraan sebagai tubuh Kristus

            3. Mengambil peran dalam misi kabar baik.

Kemuliaan hanya bagi Tuhan.  Haleluya.

St.L.Hutabalian, S.Th.

SEMBILAN TAHUN KE-SINTUA-ANKU

SEMBILAN TAHUN KE-SINTUA-ANKU

(10 Juni 2001 – 10 Juni 2010)

Tidak ada niat dalam diriku untuk menjadi seorang hamba Tuhan di GPI. Walaupun aku anak seorang pimpinan sidang  (Alm. Gr. Kostan Nainggolan), cucu dari seorang perintis beberapa sidang disekitar kecamatan Bandar Khalipah (Alm. Gr. Ambersius Sitanggang) bahkan dari keluarga yang banyak jadi hamba Tuhan, tapi bagiku menjadi hamba Tuhan adalah pekerjaan susah. Aku melihat betapa sulit dan banyaknya tantangan yang dialami oleh mereka dalam pelayanan.

Namun, tidak berpikir jadi hamba Tuhan bukan berarti aku orang yang malas beribadah dan belajar firman Tuhan.  Bagiku itu wajib ku lakukan. Memang pada masa mudaku ada waktu-waktu dimana aku seperti jauh dari Tuhan karena aku jarang beribadah karena beberapa hal, tetapi secara iman hatiku masih terpaut kepadaNya.

Latarbelakang keluarga yang sangat sederhana (kategori miskin barangkali), memicu lahirnya cita-cita dalam diriku yaitu menjadi orang kaya.  Ya, hanya itu cita-citaku dulu; menjadi orang kaya.  Teringat ketika SMP, waktu teman-teman pergi tour ke tempat wisata, aku harus gigit jari karena tidak punya uang untuk ikut. Keinginan menambah ilmu dengan kursus sewaktu SLTA kuurungkan, dan niat untuk kuliah setelah taman SLTA kukubur dalam-dalam. Oleh karena itu ketika aku melihat orang-orang yang sekolah atau kuliah tidak serius, miris rasanya. Padahal orang tua mereka mungkin sudah begitu bersusah payah untuk memenuhi biaya kuliah mereka. Namun walau dengan segala keterbatasan pendidikan yang kumiliki, aku tetap berani untuk bercita-cita menjadi orang kaya dan bukan menjadi hamba Tuhan.

Tetapi kehendak Tuhan lain dengan kehendakku.  Seperti yang aku saksikan di http://hutabalian72.wordpress.com/2008/08/13/di-atas-spring-bed-tua/, Akupun akhirnya harus tunduk kepada panggilan Tuhan, dan mau diangkat menjadi Sintua. Selama menjalani tugas pelayanan, tidak sedikit tantangan yang kuhadapi baik dari dalam maupun dari luar.  Pola pikir, konsep atau pengertian tentang sesuatu baik itu hal-hal umum, pelayanan maupun tentang firman Allah tidak selalu sama. Karena itu dibutuhkan hikmat, upaya-upaya pembelajaran yang terus menenerus, pendekatan yang baik (walau kadang sangat tegas) dengan rekan sesama pelayan.

Pernah selama empat tahun lebih sebagai pembina muda-mudi sidang, dan empat tahun menjadi pembina Biro Pemuda kota Batam, adalah merupakan tahap proses pembelajaran dalam melayani. Sebagai pembina harus menjembatani antara pemuda dengan hamba-hamba Tuhan, antara dept. pemuda sidang dan biro pemuda.  Korban waktu dan korban perasaan harus dijalani, dan diterima sebagai proses pembelajaran juga mengenai arti kesetiaan dalam tugas.

Ketika semakin mengerti betapa indah dan luar biasa arti sebuah panggilan dari Tuhan, sebuah kepercayaan dan kehormatan yg diberikan Tuhan, terkadang menangis menjadi wujud syukur yang meluap. Panggilan Allah adalah panggilan yang bertanggung jawab. Ia memanggil, maka Ia  memperlengkapi dengan segala sesuatu untuk kebutuhan panggilan itu sendiri.

Jauh sebelum menjadi hamba Tuhan, kuyakini  Ia telah mempersiapkan segala sesuatu, dan Ia terus bekerja di dalamnya.  Septintas ada pertanyaan dalam benakku ketika aku harus bekerja sebagai janitor (tukang sapu/office boy – http://hutabalian72.wordpress.com/2008/08/26/lomserhurry-up/ ) yang  dianggap pekerjaan hina bagi banyak orang terlebih umumnya orang yang batak yang semuanya adalah “raja”. Tapi kemudian kusadari bahwa Tuhan telah mempersiapkan yang lebih besar bagiku dengan menjawab mimpi kubangun) ketika aku menjadi janitor  (http://hutabalian72.wordpress.com/2009/01/30/janitor-itu-bermimpi/.

Hari demi hari, Tuhan membawaku pada pengalaman-pengalaman rohani yang luar biasa, semua itu menjadi kekuatan, semangat, sukacita dan iman yang terus bertumbuh.  Tuhan memang dahsyat. Terima kasih Tuhan.

LH

JANITOR ITU BERMIMPI.

JANITOR ITU BERMIMPI.

(Kisah lanjutan dari Lomser…Hurry Up)

 

Seperti biasa, pagi itu aku dibangunkan oleh kebisingan jam waker tepat pukul 5 pagi. Itu artinya aku harus bersiap-siap untuk mengadapi rutinitas pekerjaan. Aku harus cepat-cepat sampai di kantor, membersihkan seluruh ruangan kantor, toilet dan menyediakan air panas, kopi/teh, gula sebelum semua staf masuk pukul 7 pagi, kecuali pimpinan dari client representative yang selalu masuk kantor sebelum jam 6 pagi. John Donachie namanya. Ia seorang warga negara Scothlandia yang  rajin, tegas tapi juga humoris. Ia pernah bercanda dengan berkata bahwa nanti yang pasti ada dua J di sorga, yang satu JC (Jesus Christ) dan yang satu lagi JD (John Donachie) yaitu namanya sendiri.

 

Kurang lebih 25 menit lamanya naik ojek dari rumah paman tempat aku kost menuju tempat kerja. Dinginnya pagi selalu aku lawan bersenjatakan jaket lusuh yang aku beli dari loakan atau tempat jual barang second. Di kantor pekerjaan sudah menunggu. Yang paling utama harus aku siapkan yaitu rebusan kopi dengan coffee maker besar, menyediakan teh, gula dan creamer, memastikan toilet bersih dan ruangan-ruangan di pel sebelum para staff dan karyawan yang lain datang. Sesungguhnya pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang biasa aku lakukan, namun bukan berarti tidak bisa kukerjakan, karena waktu sekolah kami biasa mandiri karena orang tua harus banting tulang cari nafkah. Biasanya mereka pagi buta sudah pergi belanja ikan untuk mereka jual. Jadi bisa dikatakan gak banyak waktu mereka untuk mengurusin kami anak-anaknya.

 janitor

Jujur saja, aku sering bermimpi ingin seperti karyawan yang lain. Datang ke kantor tanpa harus buru-buru, dengan pakaian bagus dan rapi. Mereka yang berstatus engineer atau staff, sekretaris, document control, teknical clerk dan yang selevel dengan itu biasanya datang ke kantor dengan santai dan pakaian rapi.  Mimpiku “Bisa gak suatu saat nanti aku seperti mereka?”.

 

Disela-sela pekerjaan atau ketika break time, aku kadang-kadang cari kesempatan berbincang-bincang dengan inspektor-inspektor yang ada dikantor itu. Kebetulan waktu itu sebagian inspektor adalah orang Malaysia dan Indonesia.  Topik pembicaraan bermacam-macam. Mereka sering kali bercerita tentang banyak hal, baik itu mengenai keluarga, situasi politik, perjuangan hidup, pekerjaan, dan lain-lain. Yang paling mengesankan bagiku adalah dimana melalui pekerjaan, mereka sudah malang melintang ke beberapa negara. Sungguh pengalaman yang membanggakan. Apa yang mereka alami di beberapa negara yang sudah mereka jalani mendorong pikiranku untuk bermimpi “Bisa gak suatu saat aku mengalami seperti yang mereka alami, menginjakkan kaki di beberapa negara lain?”

 

Bisa jadi orang bilang bahwa aku ini bagai seekor burung pungguk yang merindukan bulan. Suatu impian yang mustahil dengan statusku yang adalah seorang tukang sapu. Aku yang tidak punya sekolahan dan tidak punya pengalaman. Jangan bilang aku orang yang malas sekolah atau tidak mau kuliah. Bukan. Bukan aku yang tidak mau kuliah, tetapi orang tuaku yang tidak sanggup mengkuliahkan aku. Untuk meluluskan aku STM-pun orang tuaku sudah kewalahan, apalagi ada banyak adik-adikku yang antri masuk SMP dan SLTA waktu itu.

 

Tapi Tuhan-ku sungguh baik bagiku. Ketika aku memberi hatiku kepada-Nya, Ia melihat semua yang ada di dalam hatiku. Aku tidak meminta kepada-Nya apa yang aku impikan, tapi tanpa aku minta Dia sudah melihat kedalam hatiku yang paling dalam. Selang beberapa bulan aku sebagai Janitor, aku kemudian diangkat menjadi Document Control. Sungguh diluar dugaanku. Mimpiku yang pertama terjawab sudah.  Dan seiring waktu berjalan, berbagai posisipun berganti-ganti aku jalani, dari document control, field clerk, commissioning clerk, dossier coordinator dan menjadi pims administrator.  Dan lagi-lagi Tuhan mewujudkan impianku. Melalui beberapa posisi itu pula, aku telah menginjakkan kaki di beberapa negara. Aku pernah ke Myanmar, Thailand (4 kali), Vietnam, Malaysia dan Singapura.

 

Ah..sunguh baik Tuhan-ku itu kepadaku, Ia telah memungkinkan yang tidak mungkin bagiku. Terpujilah Engkau Tuhanku. I Love You so much.

 

Januari 2009.

Lomser Hutabalian

BEBAN (BURDEN)

Suatu ketika kira-kira setahun yang lalu selepas pulang dari kantor, saya pergi berbelanja untuk keperluan warung yang dikelola isteri saya, dengan menggunakan sepeda motor.  Anak saya yang laki-laki umur 8 tahun ketika itu meminta ikut. Pulang dari belanja kemudian saya menurunkan barang-barang belanjaan itu untuk dibawa ke warung.


Wahyu, anak saya itu membawa sebahagian belanjaan itu, namun saya larang karena terlalu berat. “Gak usah nak, biar papa aja yang bawa. Barang itu terlalu berat untuk wahyu angkat”. Tapi anak saya bukannya nurut malah dengan bangga berkata “Wahyu kan kuat, pa”. “Wahyu pasti bisa angkat ini” lanjutnya dengan mengangkat dan menunjukkan otot lengannya dengan membentuknya 90 derajat, seperti bina ragawan.

Saya tahu kantong belanjaan itu terlalu berat bagi dia, tapi saya menuruti keinginannya walau dalam hati sebenarnya tidak tega. Namum hanya beberapa langkah setelah anak saya berusaha mengangkat dengan bersusah payah karena egonya,  ia kemudian menyerah. Lalu saya mengambil  kantong itu dari tangannya dan menggantikannya dengan kantong belanja yang jauh lebih ringan.


Saat itu Tuhan tiba-tiba mengingatkan saya. Betapa banyak anak-anak Tuhan yang merasa sanggup memikul beban yang sangat berat karena egoisme ketidakdewasaan iman. Tuhan sebagai Bapa sesungguhnya tidak tega melihat anak-anaknya memikul beban yang sangat berat, tapi seringkali anak-anaknya terlalu sombong dengan kemampuannya, dan mau mengangkat sendiri beban persoalan itu.


Air mataku menetes. Saya katakan “Tuhan terima kasih Engkau mengingatkanku, betapa Engkau sangat baik bagiku yang mau memikul bebanku. Terima Kasih Tuhan”.


Jan. 2008

L.Hutabalian


English Version.

BURDEN

One time about a year ago after returning from office, I went shopping for a stall for my wife managed, with a motorbike. My child was 8 years old on that time asked to come along. When coming home from shopping and then I unloaded the groceries were to be brought to the shop.

Wahyu, my son was carrying some of groceries, but I was forbidden because it was too heavy. “No need son, let daddy wrote a carry. Goods were too heavy for you to lift”. But not according to my son and he even proudly said “Wahyu is very strong, pa, I will bring them up easily” he said with a raised and showed his biceps with the shape 90 degrees, such as athletes coached.

I knew the bag was too heavy for him, but I let him bring the bag as his wanted; although in fact do not have the heart to heart. However the only a few steps after my son tried to lift the struggling because of his ego, he then gave up. Then I took the bag from his hand and replace it with a much lighter shopping bag.

At that time the Lord was suddenly reminded me. There are many children of God think that they are strong enough to carry on the very heavy burden with their own power because of immaturity egotism. God the Father really has no the heart to see His children bear a very heavy burden, but very often His children too cocky with their ability, and want to lift their own weight problem.

My tears drop down. I say “Thanks God you remind me, how good You are to me that would carry my burden in the cross. Thank You Lord “.

January 2008
L. Hutabalian


KUE LUPIS

 

 

Pagi ini di ruang makan kapal di sediakan kue Lupis sebagai salah satu menu sarapan pagi. Kue ini terbuat dari beras dimasak seperti lontong berbentuk segi tiga dan bertabur kelapa parut dan air gula merah.  The taste is nice. I really enjoyed it. Lupis ini memang salah satu makanan kesukaan saya.

 

Entah mengapa, setiap saya menemukan kue Lupis dimana saja, saya selalu teringat kesaksian seorang ibu penjual Lupis yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Waktu itu saya masih remaja. Ibu yang telah lelah berkeliling itu beristirahat sejenak di rumah kami. Sebagai pedagang keliling dengan berjalan kaki, wajarlah bila dia lelah dan butuh istirahat barang sejenak.

 

Tidak disangka bahwa dalam perbincangan dengan keluarga saya di teras rumah, ibu penjual Lupis keturunan India ini didalam istirahatnya, masih menyempatkan diri menyaksikan kepada keluarga kami akan pertolongan Tuhan yang dia alami.

 

Suatu waktu, seperti biasa, ibu ini melangkahkan kakinya dari rumah dengan menjunjung tampi Lupis diatas kepalanya.  Langkah yang penuh harapan bahwa Lupis jualannya akan laku dan dia akan membwa pulang uang untuk kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

 

Tetapi hari itu merupakan kejadian yang aneh. Suatu kejadian yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sejak  pagi dia berangkat dari rumah hingga menjelang siang, tidak satu orang pun yang membeli kue Lupisnya.  Menyadari keadaan itu, si ibu inipun mulai kwatir. Dia kwatir tidak dapat membawa uang pulang ke rumah untuk membeli beras dan sedikit lauk untuk keperluan keluarga besok hari. Sedangkan suaminya yang biasanya kerja mocok-mocok dengan penghasilan yang tidak dapat diharapkan, sedang tidak bekerja sejak beberapa minggu.

 

Siang pun berlalu, ibu ini terus berkeliling sambil meneriakkan nama dagangannya yaitu Lupis. Sedang peluh sudah membasahi tubuhnya yang kurus yang diselimuti baju yang warnanya mulai pudar. Semakin sore, semakin sering pula dia meneriakkan Lupisnya. Mungkin karena perasaan kesal bercampur dengan kwatir yang semakin menjadi-jadi. Tapi sungguh aneh, sampai jam 5 sore, semua usahanya sepertinya sia-sia. Tidak satu orang pun yang membeli lupis dagangannya. Ini sungguh belum pernah terjadi.

 

Dalam kelelahan dan putus asa, dia pun duduk di pinggir jalan sambil merenungkan nasibnya hari itu. Air matanya mulai menetes. Ibu ini menangis bukan karena menyesali segala usaha dan jerih payahnya yang seakan sia-sia, karena ia sadar bahwa itu adalah tanggung jawab yang harus dilakukannya. Tetapi ia menangis karena memikirkan apa yang akan dimakan oleh anak-anaknya besok.

 

Di tengah isak-tangis dan kegalauannya, tiba-tiba ia teringat kepada Tuhan. Diatas rerumputan di pinggir jalan itu ia duduk dan berdoa di dalam hati ;” Tuhan, hari ini aku tidak mendapat apa-apa. Aku sudah berusaha, tapi tidak seorangpun membeli daganganku. Aku tidak menyesal atas jerih payahku yang sia-sia. Tetapi Engkau tahu Tuhan, anak-anak yang Engkau berikan kepadaku butuh makan besok hari. Terserah Engkaulah Tuhan.”

 

Setelah berdoa, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan bermaksud untuk membuang ke Tong Sampah semua kue Lupisnya. Tapi kemudian tiba-tiba ia berpikir untuk membuang dagangannya itu ke sebuah sangai kecil yang terdapat di pinggiran komplek perumahan kami. Dia pun berjalan menuju kesana sambil tetap menjunjung tampi dagangannya, tapi tidak lagi meneriakkannya.

 

Saat menuju ke sungai itulah, tiba-tiba seorang anak kecil memanggilnya. Ia pun menoleh dan mendatangi anak kecil yang berdiri di teras rumahnya itu. “Beli Lupis, bu” kata anak itu. Dia sempat tertegun, tapi ia terus mendekati anak kecil itu.  Rupanya di teras itu ada beberapa orang dewasa dan anak-anak sedang berkumpul dan bercanda ria.  Dan sesampai di teras itu, bukan anak kecil ini yang membeli kue Lupisnya, tapi seorang ibu, yang mungkin ibu anak itu malah memborong semua kue Lupisnya. Sungguh kejadian yang luar biasa. Tuhan menjawab doanya.

 

Begitu kuatnya kesaksian ibu ini tertanam dalam ingatan saya, sehingga pagi inipun saya menceritakan kesaksian ibu ini kepada teman yang  satu meja dengan saya di ruang makan, sambil saya memakan kue Lupis kesukaan saya.

 

 

 

 Vietnam, 29-09-08

Just like a Vietnamese
Just like a Vietnamese

 

 

LOMSER..HURRY UP!

 

Kisah ini terjadi tahun 1995-1996 yang lalu. Sebagai seorang karyawan yang berprofesi sebagai Office Boy atau CS (Cleaning Service) yang di perusahaan tempat aku bekerja disebut “Janitor”, aku harus selalu siap kalau ada staf atau karyawan yang lain memintaku untuk mengerjakan sesuatu atau membantu mereka sekitar pekerjaan kantor.

 

Pekerjaan utamaku sebagai seorang Janitor adalah membersihkan kantor mulai dari ruangan-ruangan kantor, koridor sampai membersihkan WC. Juga menyediakan kopi atau teh, air minum dan kertas photo copy. Selain mengerjakan pekerjaan tersebut, aku juga sering diminta untuk membantu photo copy, mengantar surat, menyusun file/drawing, dll yang bersifat clerical job.

 

Tersebutlah seorang perempuan bernama ibu SM yang bekerja sebagai Front Officer di kantor itu. Ibu SM ini meski sudah tua tapi masih terlihat cantik dan energic. Jika para bosses ada yang menyuruh dia untuk mengerjakan sesuatu maka dia akan bereaksi extra cepat. Dia selalu ingin memberi the best service kepada semua orang dalam hal ini Client Representative, dimana kantor ini memang disediakan khusus untuk mereka.

 

Para boss-boss itu kalau menginginkan sesuatu misalnya untuk photo copy, mengantar surat, atau butuh kopi/teh/softdrink, tissue kotak, dan lain sebaginya, biasanya mereka menyampaikannya kepada ibu SM. Dan sudah pasti ujung-ujungnya instruksi ini jatuhnya kepadaku juga sebagai “executor”.

 

Karena aku kerja rangkap-rangkap maka sering sekali kalau ibu SM ini membutuhkan aku, tidak selalu ada di hadapan dia secepat yang ia inginkan, sementara dia maunya selalu extra cepat. So, tidak mengherankan kalau dia selalu memanggil aku minimal dua kali. Yang pertama “Lomser…” lalu kalau saya sudah jawab “ya. bu” maka akan disusul dengan panggilan kedua “Lomser…hurry up!”.

 

Sangat seringnya ibu SM ini memanggil aku dengan cara seperti itu, maka panggilan ini menjadi “istilah’ atau “trade mark” untuk memanggil aku. Jadi sepanjang proyek berlangsung yang kurang lebih 2 tahun itu, setiap orang yang memanggilku “Lomser..Hurry Up!”. Sungguh aneh.!!

 

 

chalk-batman-rescue

DI ATAS SPRING BED TUA

Di atas spring bed tua itu aku berbaring. Spring bed tua yang aku beli dari salah satu tetanggaku yang pindah kota. Saat aku beli, spring bed ini belumlah seburuk ini, tapi usia yang sudah beberapa tahun telah menjadikannya renta. Sudah empat tahun ia membiarkan dirinya sebagai tempat pembaringan kami; kami tiduri, kami duduki bahkan diinjak-injak oleh anak-anakku. Pula sudah 2 tahun ia membiarkan dirinya dipakai oleh pemilik dia sebelumnya. Rasanya cukup wajar ia cepat renta karena harganya pun murah. Mana ada sih yang harga murah dengan kwalitas yang bagus? Namun meski harga murah dan rendah kwalitas, spring bed ini tentu sudah menjadi saksi bisu tentang banyak hal yang aku lakoni bersama isteriku dan dua buah hatiku.  Di spring bed ini aku bercanda ria dengan anak-anakku yang masih kecil, berbagi cerita dan cinta dengan isteriku dan juga menumpahkan air mata dalam doa-doaku.

 

Di spring bed tua ini pulalah, pada bulan Juni 2001 aku mendapat visi Tuhan. Visi yang mengubah pendirianku di kemudian hari. Dulu aku tidak terpikir untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Walaupun banyak dari keluargaku menjadi hamba Tuhan bahkan menjadi perintis beberapa sidang, tapi aku tidak mau menjadi hamba Tuhan. Mendiang kakekku dari ibu adalah seorang perintis beberapa sidang di daerah kecamatan Bandar Khalipah, Gr. Ev. Ambersius Sitanggang namanya. Sebagai murid jajaran pertama dari pendiri Gereja Pentakosta Indonesia yaitu mendiang Bpk. Pdt.Ev.R.Siburian, dia menjadi murid dan penginjil yang gigih dan berkuasa. Aku kagum kepadanya dan aku ingin seperti dia yang memberi rasa kepada banyak orang. Tapi aku tidak ingin menjadi hamba Tuhan. Cukuplah sebagai jemaat biasa. Paman-pamanku adik ibuku dan ayahku juga menjadi hamba Tuhan dan disusul oleh abangku juga menjadi hamba Tuhan dan sekarang sudah menjadi pendeta.

 

Ketika mendiang ayahku ikut merintis salah satu pelayanan kurang lebih 20 tahun yang lalu, yang kemudian menjadi suatu sidang, ia belum menjadi hamba Tuhan. Mulai dari ibadah perdana pada pos pelayanan ini sampai menjadi sidang diadakan di rumah kami. Ada kurang lebih 2.5 tahun ibadah raya minggu dan ibadah malam diadakan di rumah kami hingga akhirnya kami memiliki lahan dan membangun gedung gereja. Baik pada ibadah raya maupun pada ibadah-ibadah malam kami duduk dilantai beralaskan tikar, bersempit-sempit hingga ke teras rumah. RSS tipe 18 yang walaupun sudah direnovasi tidak terlalu luas. Sehingga dua set kursi di ruang tamu harus kami keluarkan ke teras setiap ada ibadah. Memang melelahkan, tapi puji Tuhan kami tidak mengeluh melakukannya. Hati kami justeru bersyukur dan semangat melihat semangat jemaat Tuhan yang luar biasa.

 

Kami juga bersyukur kepada Tuhan, kalau kami berkesempatan mengalami sedikit penderitaan dan penghinaan oleh karena pekerjaan Tuhan. Rumah yang merangkap gereja itu berada ditengah-tengah perumahan yang sempit dan berderet. Pujian dan doa yang kami adakan ternyata menjadi sumber kebisingan bagi tetangga kami yang umumnya non kristen. Sering mereka tidak nyaman dengan keadaan ini dan kemudian bereaksi. Kadang-kadang mereka melempari atap rumah kami dan juga meneriakkan penghinaan dengan kata-kata kotor. Kami di hina dan dikucilkan. Ah, itu belum seberapa dibandingkan dengan kehinaan dan penderitaan Yesus.

 

Semua pengalaman manis dan pahit yang kami alami dan garis keturunan hamba-hamba Tuhan tidak mengubah pendirianku. Aku tidak mau menjadi hamba Tuhan. Saat aku berniat dan mewujudkan untuk mendalami alkitab lewat sekolah alkitab pun tidak didasari keinginan untuk menjadi hamba Tuhan tapi karena ingin belajar dan mengetahui lebih dalam firman Tuhan. Juga karena termotivasi oleh sepupuku yang dalam setiap perbincangannya sering dikaitkan dengan firman Tuhan.

 

Tapi, di suatu pagi pada bulan Juni 2001 ketika aku berbaring dan tidur, di spring bed tua itu akan mendapat visi Tuhan. Ketika itu aku sedang menganggur, kalaupun ada kerja, cuma kerja serabutan alias mocok-mocok. Pagi itu aku tidur di spring bed tua itu karena tidak ada pekerjaan. Dalam tidurku aku bermimpi ada sepasang merpati putih masuk ke rumahku. Aku heran, dari mana datangnya merpati ini. Lalu ketika aku menangkap sepasang burung merpati ini, mereka dengan sangat jinak, tidak meronta sedikit pun. Lalu aku buatkan mereka “rumah-rumah” dibelakang rumahku. Mereka kelihatan senang tinggal di “rumah-rumah” yang aku buat ini. Ketika aku bangun, aku bertanya dalam hati “Adakah arti dari semua ini? Bukankah merpati putih itu sebagai lambang dari Roh Kudus? Tapi mengapa dua?”. Malamnya semua pertanyaanku dijawab oleh Tuhan. Sepasang hamba Tuhan yaitu Bpk. Pendeta (waktu itu masih Guru) gembala sidang tempat aku beribadah beserta dengan ibu datang ke rumahku. Mereka meminta aku untuk menjadi bagian dari hamba-hamba Tuhan dan menjadi Sintua. Sempat aku tolak dengan halus, aku bilang aku mau membantu pelayanan di gereja ini semampu aku bisa bantu tapi janganlah menjadi hamba Tuhan. Tapi oleh karena hikmat bapak pendeta ini dan juga karena teringat dengan mimpiku pagi tadi, akhirnya aku bersedia menjadi sintua.

 

2 Agustus 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

On the way to Batam.

 

 

Februari 1994, aku memasuki kota Batam. Waktu itu Batam masih belum seramai dan semaju sekarang ini. Disana sini masih banyak hutan dengan pohon-pohon yang rindang diantara kumpulan komplek perusahan dan daerah-daerah pemukiman. Rumah-rumah triplek dan kayu yang beratapkan getah masih mendominasi jumlah rumah di kota ini. Rumah-rumah ini menjamur diatas tanah otorita atau tanah yang telah dialokasikan kepada pengusaha namun belum digunakan. Sering terjadi masalah ketika pemilik lahan itu akan menggunakanya, biasanya ada perlawanan dan tuntutan ganti rugi. Mungkin karena itu pula rumah-rumah ini disebut rumah bermasalah menggantikan sebutan sebelumnya yaitu rumah liar (RULI).

 

 

 boat1

 

Perjalananku dari Medan ke kota ini tidaklah mulus. Karena mobil yang aku tumpangi dari Pekan Baru menuju pelabuhan Buton rusak, terpaksa kami terlambat sampai di pelabuhan Buton. Sementara kapal yang seharusnya membawa kami ke Batam sudah pergi beberapa jam sebelumnya. Semua penumpang tentu saja kebingungan. Apalagi aku yang belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Aku memang tidak pernah bepergian jauh kecuali ke Sibolga tempat tinggal pamanku. Di sini tidak ada penginapan. Yang ada beberapa rumah-rumah penduduk yang kebanyakan kecil dan tidak terlalu bagus.

 

 

Untunglah, ternyata masih ada satu kapal kecil. Tapi kapal ini seharusnya tidak sampai ke Batam, hanya kepulau sekitar pulau Batam. Beberapa orang dari pengurus pelabuhan itu akhirnya sepakat dengan orang kapal untuk membawa kami sampai ke Batam. Puji Tuhan, meskipun jumlah penumpang sudah over capacity tapi akhirnya kami sampai juga di Batam.

 

Jam 10 malam kami sampai di pelabuhan. Masalah belumlah selesai. Tapi aku bersyukur karena masih bisa berkata: “Dalam nama Yesus aku menginjakkan kaki di tanah ini” pada pijakan yang pertama ketika aku turun dari kapal. Aku meyakinkan diri bahwa di tanah ini aku akan diberkati luar biasa oleh Tuhan.

 

Ada beberapa taksi pelabuhan yang sedang menunggu. Tidak banyak, karena jam tiba kapal sudah lewat beberapa jam. Masalah timbul karena aku hanya memiliki alamat perusahaan tempat tanteku bekerja. Tidak ada alamat rumah karena merekapun masih tinggal di ruli. Juga tidak ada nomor telepon. Handphone sendiri masih barang yang sangat langka waktu itu. Sedangkan malam hari menurut orang yang duduk sebangku dengan aku di kapal  perusahaan umumnya tidak bekerja. Aku bingung kemana aku harus pergi. Ketakutan sempat menyelimuti diriku. Untunglah teman yang duduk sebangku dengan aku di kapal mengerti keadaanku. Aku memang sempat bercerita kepada dia di kapal bahwa aku tidak punya alamat selain alamat perusahaan. Lalu dia minta tolong kepada supir taksi agar aku diantar ke sebuah penginapan. Tentu saja penginapan yang murah, karena ia tahu aku perantau.

 

mobil-tua

 

Di dalam taksipun aku sempat diselimuti ketakutan. Jalan-jalan yang kami lewati begitu gelap. Tidak ada cahaya lain kecuali cahaya dari lampu mobil ini. Kucoba melihat dari kaca ke sisi kanan jalan yang ada hanya kegelapan. Juga kelemparkan pandangan ke arah kiri, akupun tidak melihat apa-apa selain pekatnya malam.  Aku coba beranikan diri bertanya kepada pak sopir, “kok, gelap seperti ini?”. “Wah, ini masih hutan semua dek” jawabnya. Aku sempat bimbang kalau-kalau supir ini tidak sedang membawa aku ketempat yang seharusnya yaitu ke penginapan seperti yang dipesankan oleh teman yang sebangku denganku di kapal. Tapi puji Tuhan setelah kurang lebih setengah jam perjalanan mulailah tampak cahaya dari lampu penerangan jalan dan juga dari gedung-gedung. Tidak terlalu lama kemudian akhirnya akupun sampai di penginapan.

Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak di penginapan. Hatiku belum benar-benar nyaman sebelum aku bertemu dengan tanteku. Akupun tidak terlalu yakin dengan kebersihan tempat ini. Dalam benakku tempat ini mungkin sering dipakai sebagai tempat maksiat. Tempat untuk melakukan apa yang disebut “short time“. Sebuah istilah yang aku ketahui dari temanku yang kebetulan pernah bekerja di sebuah hotel kecil. Hotel Melati kalau tidak salahnya sebutannya. Aku coba mengisi waktu dengan membaca Alkitab. Tapi akhirnya akupun “tumbang“ ketiduran. Mungkin karena sudah terlalu lelah.

 

Aku terbangun sekitar jam 9 pagi. Cepat-cepat aku mandi, berkemas dan keluar dari penginapan ini. Aku bertanya kepada penjaga penginapan ini bagaimana aku bisa sampai ke alamat yang aku miliki. Lalu dia menghantarkan aku untuk mengambil taksi. Kurang lebih setengah jam perjalanan aku tiba di perusahaan tempat tanteku bekerja. Akupun kemudian bertemu dengan dia.  Oh..Puji Tuhan legalah hatiku. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena menghantarkan aku dengan selamat.

batamview