Demi Uang dan Kekuasaan, Menjadi Saksi Dusta

Pada waktu kebangkitan Tuhan Yesus (Matius 28) ada 2 kelompok orang yang mengalami kejadian yang menggemparkan di kubur Yesus :

1. Maria Magdalena dan Maria yang lain
Gambar
2. Penjaga-penjaga (serdadu)

Kelompok 1 pergi kepada murid-murid seperti yang diperintahkan malaikat untuk memberitahukan apa yang terjadi yaitu bahwa Yesus telah bangkit.

Kelompok 2 pergi kepada imam-imam kepala untuk memberitahukan apa yang terjadi yaitu bahwa Yesus bangkit.

Kelompok 1 dan murid-murid meneruskan Injil yang benar, namun

Kelompok 2 berkonspirasi dengan imam-imam kepala dengan imbalan uang untuk bersaksi dusta bahwa Yesus tidak bangkit melainkan jasadnya dicuri oleh murid-murid pada malam hari.

“MANUSIA BISA DIPERDAYA OLEH UANG (Seperti Serdadu-Serdadu) DAN KEKUASAAN (Para Imam Kepala) SEHINGGA MEMUTARBALIKKAN KEBENARAN DAN MENJADI SAKSI DUSTA”

Hanya murid yang sejati yang sanggup berdiri dalam kebenaran yang sejati meski harus menderita dalam menegakkannya.



BELAJAR DARI NEHEMIA – 3

Niat Nehemia itu mulia. Ia ingin membungun kembali kotanya yang sudah hancur dan memulihkan kehormatan bangsanya.

Sebelum dia menyampaikan rencana pembangunan itu kepada orang-orang Yahudi sebangsanya, dia terlebih dahulu menyelidiki dengan seksama tembok-tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan pintu-pintu gerbanya yang telah habis dimakan api, untuk mendapat keadaan yang real (sesungguhnya).

Ada 3 hal yang penting yang disampaikan Nehemia kepada orang-orang Yahudi pada saat dia mengutarakan rencana besar dan berat ini yaitu:

Tentang betapa malangnya mereka dimana Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan betapa tercelanya mereka sebagai suatu bangsa.

  1. Betapa bermurahnya Allah yang melindungi dia, menolong dia sampai sejauh ini.
  2. Perkataan-perkataan raja – yang telah memberi izin bahkan memberinya panglima-panglima perang dan pasukan berkuda untuk menyertai (Juga karena pertolongan Tuhan)

Dengan semua itu, orang-orang Yahudi sadar akan keadaannya, sekaligus termotivasi untuk memulai pekerjaan besar itu dan berkata “Kami siap untuk membangun”

—————————————————

Janganlah bermuluk-muluk dalam hidup. Sebagai seorang pemimpin/orang beriman, nyatakan dan jelaskanlah realita yang terjadi meski pahit. Setiap orang perlu disadarkan akan keadaanya yang malang.

Namun mereka harus dikuatkan/diteguhkan/disemangati dengan kesaksian akan kemurahan Allah yang selalu terbuka kepada orang-orang yang percaya kepadaNya

Pastikan bahwa di dalam Tuhan selalu ada jalan. Dia selalu punya cara untuk membela perkara-perkara orang percaya yang berharap kepada-Nya.

BELAJAR DARI NEHEMIA – 2

Ketika Nehemia dizinkan oleh raja Artahsasta pulang ke negerinya untuk membangun kembali kotanya, raha Artahsasta juga memberi:

  1. Surat untuk para bupati supaya Nehemia dan rombongannya diperbolehkan melewati daerah mereka hingga Nehemia dan rombongannya sampai di Yehuda.
  2. Surat untuk Asaf – pengawas taman, agar Asaf memberikan kayu untuk material pembuatan balok-balok pintu gerbang di benteng Bait Suci, untuk tembok kota dan untuk rumah kediamannya.
  3. Panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda untuk menyertai Nehemia

Istimewa sekali Nehemia ini, padahal dia hanyalah seorang tawanan yang telah dipekerjakan sebagai juru minum raja.

Dengan semua keistimewaan yang dia peroleh, satu perkataan iman dia katakan “Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku”

———————————————————–

Tuhan bisa memakai siapa saja untuk membantu orang beriman mewujudkan pekerjaan mulia yang dia niatkan.

Orang beriman sadar dan mengaku bahwa tangan Tuhanlah yang membuat dia berhasil untuk semua pencapaian yang dia capai.

BELAJAR DARI NEHEMIA – 1.

Sekalipun dia telah menjadi pekerja menjadi seorang juru minum raja di Puri Susan, tetapi dia tidak melupakan tanah airnya, Yerusalem. Ia prihatin dengan keadaan bangsanya, yang kotanya sudah hancur dan kerohanian yang memprihatinkan. Niatnya untuk kembali membangun kota/negerinya (dan selalu identik dengan pembangunan keimanan) adalah sebuah mimpi besar, bahkan hampir MUSTAHIL sebab dia HANYALAH seorang tawanan yang telah dipekerjakan sebagai JURU MINUM Raja.

Tetapi dia memulainya dengan DOA meminta campur tangan Tuhan. Maka ketika ia menyampaikan niatnya itu kepada raja, sang raja mendukung dan mengizinkannya pergi dan memulai pekerjaan pembangunan Tembok Yerusalem.
———————————————————————
BERMIMPI BESAR? Jangan takut, bila itu untuk suatu pekerjaan mulia, berserah kepada Tuhan dan Tuhan akan campur tangan.

IBADAH

“Ibadah” dalam bahasa Ibrani adalah “Avodah” atau “Abodah”, arti harafiahnya adalah bakti, hormat, penghormatan, suatu sikap dan aktivitas yang mengakui dan menghargai seseorang/yang ilahi”. Dalam konteks agama, ibadah adalah ekspresi dan sikap hidup yang penuh bakti, penghormatan dan penyerahan diri kepada Tuhan, yang implikasinya nampak dalam tingkah laku dan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Ibadah dalam pengertian yang lebih khusus adalah suatu aktivitas gereja sebagai wujud baktinya kepada Tuhan melalui suatu tatanan ibadah atau liturgy. Dalam sebuah ibadah, terjadi pertemuan dan interaksi yang “luar biasa” antara Tuhan dengan Jemaat. Tuhan bertemu dan berbicara dengan umat melalui pembacaan Alkitab, renungan firman Tuhan dan doa berkat. Jemaat Tuhan meresponi pertemuan dengan Tuhan dengan turut serta/mengambil bagian dalam ibadah baik sebagai petugas ibadah maupun sebagai jemaat melalui nyanyian/pujian kepada Tuhan, doa, pengakuan iman, memberi persembahan, dll.

Liturgy atau tata ibadah adalah wujud nyata dari ibadah yang dalam pengertian yang lebih khusus ini. Memberi salam, doa masuk, bernyanyi, paduan suara, pengakuan iman, pemberian ucapan syukur, pembacaan dan pelayanan Firman Tuhan (homilia), dan lain-lain adalah elemen-elemen sebuah liturgy.

Bila ibadah adalah sikap hidup yang penuh bakti, penghormatan dan penyerahan diri kepada Tuhan yang terwujud dalam sebuah liturgy dan yang didalamnya ada elemen-elemen liturgy, maka seharusnyalah dalam pelaksanaan elemen-elemen itu petugas dan jemaat bersungguh-sungguh menunjukkan bakti, penghormatan dan penyerahan dirinya. Dengan kata lain bahwa pelaksanaannya tidak boleh dianggap remeh atau asal-asalan, melainkan dilakukan dengan maksimal atau dengan yang terbaik.

Mungkin ada saja orang yang ingin tampil sebagai petugas pelayanan; baik itu WL, Singers, Pengkotbah, dll, namun tidak mau mempersiapkan/membekali dan meningkat kwalitas diri. Tentu itu sudah keluar dari hakekat ibadah itu sendiri. Sedangkan sebagai jemaat pun dituntut untuk mempersembahkan yang terbaik melalui pujian, doa, dan pemberian. Jadi bukan hanya petugas yang harus selalu meningkatkan diri dan memberi kwalitas terbaik tetapi juga jemaat. (LH 9 Mar 2015)

DUA PERUMPAMAAN BAGI IMAM-IMAM DAN ORANG FARISI

Nats : Matius 21:45-46 (Ref. Mat.21:28-44)
Oleh : Gr. L.Hutabalian, M.Th

Ada dua perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus yang membuat imam-imam dan orang-orang Farisi marah dan berusaha menangkap Yesus:
1) Perumpamaan tentang dua orang anak (Mat. 21:28-32),
2) Perumpamaan tentang pengarap-penggarap anggur (Mat.21:32-44)

Pada perumpamaan yang pertama diceritakan tentang dua orang anak laki-laki yang disuruh oleh Ayahnya bekerja di kebun anggur. Si anak sulung berkata”Baik, bapa”. Tetapi ia tidak pergi. Sedangkan anaknya yang kedua menjawab “aku tidak mau” tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga ke kebun untuk bekerja. Dari tanya jawab yang terjadi antara Tuhan Yesus dengan orang ramai disimpulkan bahwa anak kedualah yang melakukan kehendak ayahnya.

Sampai disini, imam-imam dan orang Farisi tidak ada masalah. Masalah kemudian terjadi ketika terjadi “pembandingan” antara mereka (imam-imam dan orang Farisi) dengan pemungut-pemungut cukai dan orang-orang sundal. Adalah menyakitakan bagi mereka, ketika dikatakan bahwa pemungut-pemungut cukai dan orang-orang sundal akan mendahului mereka masuk ke dalam kerajaan Allah. Jelas mereka sangat terhina dengan perkataan ini, sebab sudah menjadi pandangan umum bahwa imam-imam dan orang-orang Farisi dianggap orang-orang terhormat dan suci, sedangkan pemungut-pemungut cukai dan orang-orang sundal adalah orang yang dianggap berdosa, kotor dan hina.

Status orang terhormat dan suci yang dilekatkan kepada posisi/kedudukan mereka telah menggelapkan mata mereka sehingga mereka tidak lagi memperdulikan essensi pesan Yesus dalam perumpamaan ini yaitu perlunya mereka “percaya” dan “menyesal (bertobat)” (Mat. 21:32). Penyesalan itu akan diikuti dengan ketaatan melakukan kehendak Bapa (Mat.21:30-31).

Pada perumpamaan yang kedua diceritakan tentang seorang tuan tanah yang membuka kebun anggur, memagarinya, menggali lobang pemerasan, mendirikan menara jaga lalu menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap. Namun ketika hampir tiba musim petik, tuan tanah tersebut menyuruh hamba-hambanya namun penggarap-penggarap ini mengusir dan membunuh mereka. Kemudian dia juga menyuruh hamba-hamba yang lain, mereka diperlakukan sama. Sampai kemudian tuan tanah ini mengutus anaknya, yang menurutnya mungkin disegani oleh penggarap-pengarap itu, tetapi ternyata anaknya itu juga dibunuh.

Mengapa imam-iman dan orang-orang Farisi marah atas perumpamaan ini?
1. Karena mereka disamakan dengan penggarap-penggarap tersebut yaitu orang-orang yang mengambil apa yang bukan haknya. Dalam hal ini mereka sama dengan perampas atau perampok dan pembunuh.
2. Mereka akan tersingkir dari mendapat bagian dalam kerajaan Allah, bahkan mereka akan dibinasakan.
3. Mereka dianggap tidak menghasilkan apa-apa bagi kerajaan Allah.

Pertanyaan yang tidak kalah penting dipertanyakan disini adalah mengapa imam-iman dan orang Farisi itu menarik perumpamaan itu kepada diri mereka? Tidak ada alasan lain adalah karena sesungguhnya demikianlah mereka adanya. Hati kecil mereka menyadari kebenaran yang disampaikan oleh Yesus melalui perumpamaan ini, namun mereka menolak untuk mengakuinya dan bertobat. Mereka termasuk orang-orang yang munafik yang bersikap seolah-olah taat dan suci, tetapi sesungguhnya tidak.

Dari dua perumpamaan ini yang dapat kita petik adalah:
1) Rendahkanlah dirimu, percayalah pada perkataan Tuhan dan lakukan kehendak-Nya,
2) Jangan serakah dan mengambil yang bukan bagianmu. Ambillah bagianmu dan berikan yang menjadi bagian si Tuan Tanah. Keserakahan akan membawa engkau kepada banyak kejahatan. Sadarilah bahwa Tuhanlah yang mempunyai ladang dan engkau sebagai pengusahanya. Supaya engkau tidak dibinasakan seperti penggarap-penggarap itu.

(Rangkuman kotbah Minggu, 1 Maret 2015)

Berbicaralah, hamba-Mu ini mendengar (Inspirasi Perkataan Samuel)

Nats : 1 Samuel 3:10-13

Dalam pengawasan imam Eli, Samuel kecil telah menjadi dewasa dan segera dipakai Tuhan di masa tua imam Eli. Pengalaman rohani yang tidak biasa dialaminya sebelum dia dipakai oleh Tuhan menjadi nabi bagi umat Tuhan. Dia mendengar suara yang memanggilnya yang dikiranya imam Eli. Sampai tiga kali dia menghadap imam Eli dan untuk ketiga kalinya pula imam itu berkata bahwa ia tidak memanggil Samuel. Namun imam itu kemudian mengerti bahwa Tuhanlah yang memanggil Samuel, sehingga dia mengajari Samuel apa yang harus dikatakannya bila panggilan itu datang lagi.

“Berbicaralah, hamba-Mu ini mendengar”, inilah perkataan Samuel di panggilan yang ke empat kalinya. Kemudian Tuhan berbicara dan menyampaikan bahwa Dia akan melakukan sesuatu yang luar biasa atas Israel dan juga atas keluarga Eli.
Jawaban Samuel kepada Tuhan ini telah menjadi inspirasi kepada hamba Tuhan pendahulu Gereja Pentakosta Indonesia, sehingga kalimat itu dijadikan menjadi bagian dari liturgi ibadah sebagai doa masuk sebelum doa penyerahan, dengan kalimat lengkapnya “Berfirmanlah kepadaku ya Tuhan, sebab aku mendengar-Mu. Nyatakanlah kepadaku jalan untuk memuliakan nama-Mu. Penuhilah jiwaku dengan kasih karunia-Mu”

Tentu harus dipahami bahwa doa masuk ini bukan hanya sekedar ucapan kosong belaka sebagai bagian dari liturgy, tetapi sebagai pernyataan iman bahwa kita; ketika datang ke persekutuan ibadah, dimana disana pujian/penyembahan dan penyampaian firman Tuhan – berarti kita sudah benar-benar siap mendengar Firman Tuhan, supaya dengannya kita diajari untuk mengerti kehendak Allah, memuliakan Dia dan hidup dalam pengharapan akan kasih karunia-Nya.

Tuhan berbicara kepada hamba-hambaNya untuk menyatakan diri dan maksud-Nya atas umat-umatnya. Demikian juga ketika Tuhan berbicara kepada Samuel, Dia mau menyampaikan maksudnya atas Israel dan keluarga imam Eli.

Alkitab sebagai firman yang tertulis adalah pernyataan diri dan maksud-Nya atas kita. Baik yang kita baca dan renungkan maupun yang disampaikan oleh hamba-hamba Tuhan adalah bermanfaat untuk mengajar, menegur dan mendidik kita supaya kita mengenal Allah, mengerti kehendak-Nya dan mengetahui apa yang menjadi bagian kita di dalam Dia.

2 Timotius 3:16-17 “segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”. Mengajar artinya memberi pelajaran supaya orang yang diajar memperoleh pengetahuan. Demikianlah firman Tuhan memberi pengetahuan kepada kita tentang Tuhan, maksud dan karya-Nya. Dengan terus mempelajari firman Tuhan kita akan semakin terdidik untuk tetap berjalan dalam koridor kebenaran Tuhan dan kita akan semakin elergi dengan perbuatan dosa.

Karena firman yang tertulis mewakili Allah, maka membaca dan merenungkan firman Tuhan akan memiliki kenikmatan tersendiri. Sebab Allah menyatakan diri-Nya disitu.

Yeremia 15:16 “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataanMu, maka aku menikmatnya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.”

 

FIRST IMPORTANCE

Nats: I Korintus 15:1-4

Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus khususnya Pasal 15 adalah untuk mengingatkan jemaat Korintus sekaligus menegaskan bahwa kebangkitan Kristus adalah benar adanya dan bisa dibuktikan lewat saksi-saksi. Namun timbul pertanyaan; mengapa Paulus perlu mengingatkan ini kepada jemaat di Korintus, bahkan dengan tegas dan gamblang, sedangkan di ayat pertama dikatakan: “…Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu TERIMA, dan di dalamnya kamu TEGUH berdiri”? Bukankah orang yang sudah teguh didalam Injil seharusnya tidak perlu lagi diingatkan setegas dan sejalas ini?

Ternyata setelah di bandingkan dengan terjemahan bahasa Inggris ditemukan bahwa kata “terima” menggunakan kata “Believed” dan “teguh” menggunakan “Trusted”. Kata “believed” berarti “percaya”. Ketika seseorang percaya atau menyatakan imannya maka dia menerima apa yang dipercaya itu. Percaya Yesus berarti menerima Yesus. Maka kata “terima” dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia tidak salah. Kata “Trusted” berarti “beriman, yakin/teguh pada kebenaran yang dipercayai (yang nyata dari sikap hidupnya). Maka kata “teguh” dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia adalah nyambung.

Mari kita coba lihat grammernya, ternyata di Alkitab terjemahan bahasa Inggris kedua kata yang kita garis bawahi menggunakan kata dalam bentuk PAST TENSE. Past Tense artinya sudah lampau. Disinilah terjadi pencerahan, yang tidak kita temukan dalam terjemahan bahasa Indonesia. Artinya bahwa DULU jemaat Korintus itu “percaya (menerima)” Injil dan “Teguh” di dalamnya, namun SEKARANG tidak lagi, oleh karena itu rasul Paulus perlu mengingatkan, menjelaskan kembali secara gamblang dan tegas.

Sadar atau tidak, orang Kristen pun sering melupakan ajaran dan nasehat Tuhan, entah karena ajaran dunia ini atau karena pergumulan hidup. Maka kita bersyukur bila Tuhan masih berikan waktu bagi kita untuk beribadah, belajar dan merengungkan firnan Tuhan, sebab disana kita bukan saja diajari dan dinasehati tetapi juga di ingatkan.
Kalimat “sangat penting” di ayat 3, bahasa aslinya menggunakan “Protos” (dari Sabda.org) berarti: pertama, yang pertama, yang terpenting, terdahulu, terkemuka, sangat penting. Kata ini diterjemahkan sebagai “sangat penting” di Alkitab Terjemahan Baru hanya 1 kali yaitu di ayat 3 ini saja. Sedangkan dibagian lain Alkitab ini lebih banyak diterjemahkan “pertama”, “yang pertama”, “terkemuka” dll.

Beberapa Alkitab terjemahan bahasa Inggris juga menggunakan kalimat “first of all – pertama diatas semuanya” (KJV) dan “first importance – pertama/paling penting” (NET). Dalam hal ini, meski kata “sangat penting” bisa diterima, namun “the first importance” memiliki arti yang lebih dalam. “Sangat Penting” memang adalah penting, tetapi belum tentu yang pertama/paling penting. Sedangkan “first importance” (yang pertama/paling penting) berarti tidak ada lagi yang lebih penting diatasnya.

Lalu apa yang pertama/paling penting itu? Yaitu, bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, bahwa Ia telah dikuburkan dan bahwa Ia telah dibangkitkan (Ayat 3-4)

Mengapa ini dikatakan pertama/paling penting? Karena berita tentang Kristus; kematian, kebangkitan, tentu juga kelahiran dan kenaikannnya adalah DASAR dari iman Kristen. Agama (yang disebut) Kristen atau teologi Kristen APA PUN tanpa KRISTUS adalah NOL. Sedangkan kematian dan kebangkitan Kristus seperti yang disoroti dalam ayat-ayat ini adalah dasar pengharapan akan kebangkitan orang-orang percaya kelak setelah melalui kematian fisik.

TIDAK ADA yang lebih penting selain INJIL yang adalah KABAR BAIK dimana Kristus mati bagi manusia KETIKA mereka masih BERDOSA (Roma 5:8). Dan inilah bagian kita yang percaya.

SLING

Di dunia angkat-mengangkat beban (Lifting/Rigger), seperti yang banyak terdapat di bidang cargo, konstruksi, dll, dikenal berbagai macam tali yang digunakan untuk mengikat dan mengangkat beban yang sangat berat. Model, ukuran dan materialnya bermacam-macam yang penggunaannya akan disesuaikan dengan beban yang akan di ikat dan di angkat.

Salah satu jenis tali yang digunakan adalah Sling. Sling ini juga bermacam-macam ukuran diameter sesuai dengan peruntukannya. Alat berat seperti Crane yang biasa digunakan untuk mengangkat beban ribuan ton sekaligus juga menggunakan tali sling ini. Kalau kita melihat ukuran diameter dari tali sling, bagi orang awam sepertinya tidak masuk akal. Tali dengan diameter kecil bisa mengangkat beban yang sangat besar (berat). Sling dengan diameter 8mm saja memiliki tingkat kekuatan angkat sampai 3000-an kg.

Mengapa tali yang satu ini bisa sehebat itu? Jawabannya, karena sling terbuat dari baja yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu kita tidak bisa menganggap remeh tali sling yang ukuran diameternya lebih kecil bila dibandingkan tali lain (nylon misalnya) yang berukuran jauh lebih besar, karena kekuatannya tergantung jenis dan kualitas bahannya.

Pernahkah anda mendengar perkataan seperti ini: “percuma orangnya banyak tapi entah apa saja yang dikerjakan” atau “percuma badannya besar tapi tak berguna” atau “namanya saja yang hebat tapi produknya tak berkualitas” atau perkataan lain semacam itu? Perkataan seperti ini muncul karena hasil atau dampak yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang patut seperti diharapkan. Kualitas menjadi penentu untuk mendapatkan hasil atau dampak yang luar biasa.

Kemampuan seseorang untuk menanggung beban dalam kehidupan akan sangat tergantung dengan “kualitas” imannya. Hidup yang berdampak luar biasa akan dihasilkan oleh orang-orang dengan “material/bahan” hati yang berkualitas yaitu hati yang telah dibaharui. Mereka adalah orang-orang percaya. Sebab orang percaya akan berkata “hidupku bukannya aku lagi, tapi Yesus dalamku” (LH)

JADILAH KRISTEN KTP!

Shalom,

Mungkin anjuran di judul “Jadilah Kristen KTP” kelihatan tidak wajar. Sebab apa yang umum diketahui atau dimengeri tentang Kristen KTP adalah tentang orang-orang yang mengaku dan tercatat sebagai orang Kristen di KTPnya namun dalam keseharian hidupnya tidak tercermin sebagai orang Kristen. Selain sikap dan perilaku yang tidak baik, biasanya dan utamanya “tidak beribadah” atau “sangat jarang beribadah” menjadi dasar seseorang disebut Kristen KTP.

Namun disini saya ingin mengajak anda melihat dari sisi yang berbeda tentang Kristen KTP yaitu tentang kejelasan identitas. Kita tahu bahwa KTP merupakan kartu identitas seseorang, disana tertulis: Nama, Alamat, Tanggal Lahir, Status Perkawinan, Agama, dan lain-lain. KTP menjelaskan siapa kita; nama jelas, alama jelas, status jelas, agama jelas, dll.

Bila seseorang memiliki alamat yang jelas artinya dia tinggal disana. Di rumah itu dia berlindung, makan-minum, tidur dan membangun hidupnya. Bila dia keluar untuk bekerja atau keperluan lain, sudah pasti dia akan kembali ke alamat atau rumah tersebut. Bila ada orang lain yang mau mencari dia, maka orang itu harus pergi ke alamat yang dimaksud. Inilah sebuah kejelasan.

Menjadi seorang Kristen hendaknya kita menjadi orang-orang Kristen yang jelas. Seperti jelasnya agama kita dicatat di KTP sebagai Kristen maka hidup kita pun haruslah jelas mencerminkan kehidupan sebagai pengikut Kristus. Selain rajin beribadah, juga hidup dalam iman, kasih dan kebajikan. Jadilah Kristen KTP.

Haleluya.

The Tears of Strength (Air Mata Kekuatan)

Seorang penginjil besar abad 20, Billy Graham pernah berkata “Tears shed for self are tears of weakness, but tears shed for others are a sign of strength.” (Air mata yang tumpah untuk diri sendiri adalah air mata kelemahan, namun air mata yang tumpah untuk orang lain adalah tanda kekuatan).

Umumnya manusia akan merasa sedih, pilu bahkan menangis ketika ada pergumulan yang menyangkut perihal diri atau kepentingannya, tetapi tidak demikian halnya bila menyangkut pergumulan orang lain. Apalagi di zaman sekarang, kebanyakan orang malah tega mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain.

Bila seseorang menumpahkan air mata (menangis) untuk dirinya sendiri, itu pertanda bahwa dia belum bisa menguasai hati dan pikirannya dari perasaan “patut dikasihani”. Perasaan “patut dikasihani” ini biasanya akan diikuti oleh harapan agar orang-orang lain memperhatikan dia, berbuat/bertindak sesuatu untuk. Dan bila harapan itu tidak terwujud, orang tersebut pasti akan menyalahkan orang-orang disekitarnya untuk segala kelemahan dan kegagalan yang dia alami. Bahkan tidak tertutup kemungkinan kemudian dia menyalahkan Tuhan atas pergumulan yang dia alami.
air mata
Sedangkan seseorang yang sering menumpahkan air mata untuk orang lain tentu karena memiliki rasa empati yang kuat. Empati yang timbul dari hati yang mengasihi. Orang tersebut pastilah seseorang yang menempatkan perasaannya seperti perasaan orang lain yang sedang bergumul itu.

Hati yang mengasihi tentu akan berusaha melakukan sesuatu, sebab kekuatan kasih itu nyata dari tindakan yang mewujudkan kasih itu. Meski hanya dapat melakukan tindakan kecil, yaitu tindakan yang sifatnya “pengorbanan diri”, akan dilakukannya.

Lalu mengapa dikatakan bahwa seseorang yang menumpahkan air mata untuk orang lain adalah pertanda kekuatan? Alasannya adalah karena dia sudah dapat mengatasi pikiran dan perasaannya dari orang merasa “patut dikasihani” menjadi “patut mengasihani”.

Hidup kita terus berproses. Pergumulan akan tetap ada. Sikap kita menghadapi pergumulan hidup akan dipengaruhi oleh seperti apa hubungan kita dengan Tuhan. Semakin kita mengenal Tuhan dengan segala karya-Nya. Itulah salah satu alasan perlunya membangun hubungan yang semakin intim dengan Tuhan lewat doa, ibadah, merenungkan firman Tuhan dan melakukan Firman Tuhan. Dan kita pun memiliki kekuatan untuk mengasihani orang lain.

Bukankah Yesus juga pernah menangis dalam kematian Lazarus (Yoh.11:35)? Padahal dia tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan dia “sengaja” tidak langsung datang ketika ada utusan untuk memanggil-Nya sehingga Lazarus harus sudah terkubur dulu beberapa hari dan membusuk baru Dia datang. Mungkin banyak orang bertanya mengapa Yesus menangis. Tangisannya tentu bukan sandiwara, airmata-Nya bukan air mata buaya, sebab Ia menempatkan perasaanNya seperti perasaan Maria dan Marta yang sangat berduka. Dan Ia kemudian bertindak membangkitkan Lazarus.

lazarus

“Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Mazmur 56:8)

“Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.” (Mazmur 139:2)

SEANDAINYA PUN TUHAN TIDAK MENOLONG

Tidak mudah untuk hidup setia dan benar di tengah-tengah orang-orang fasik. Seperti Sadrak, Mesak dan Abednego, mereka lebih memilih di masukkan ke dapur perapian daripada menyembah patung raja. Memang Tuhan menolong mereka sehingga mereka tidak terbakar bahkan sehelai rambut pun tidak terbakar. Namun yang paling penting bukanlah “terbebas dari dapur perapian” tetapi komitmen mereka bahwa “seandainya pun Tuhan tidak menolong mereka, mereka tidak akan menyembah patung raja”. Mengapa? Karena mereka memiliki pengharapan akan kekekalan. Tubuh jasmani hanya sementara, tp yang menjadi utama bagi mereka adalah Eternal Life (Kehidupan yang Kekal).

AKU, DEBU


Perjalanan telah panjang.   Menjadi orang baik hanya sebuah mimpi, sebab tidak ada mata yang sempurna mampu melihatnya.   Memuaskan semua orang tidak ada matinya, maka yang terbaik adalah memuaskan diri dengan usaha maksimal.   Usaha terbaik tidak pernah sia-sia. Kukatakan itu dalam kegetiran untuk mengajari diriku, bila mungkin dapat juga menghiburku.

Ketulusan adalah mulia di mata sang Khalik.  Siapakah yang sempurna dibawah matahari? Hanya MANUSIA yang sempurna mampu menjawabnya.  Sebab manusia hanya debu yang terkutuk dan akan kembali menjadi debu.  Kehidupan hanya nafas Tuhan.
 
Aku, debu, berdiri di atas debu yang dipisahkan oleh nafas Allah.  Dada siapa yang tidak sesak mendapat hinaan dari orang yang dicintai?   Aku, debu, mungkin bagianku adalah kehinaan di mata manusia yang juga adalah debu yang hina.  Aku, debu, kehidupan hanya nafas Tuhan. Milik-Nya saja kemuliaan

SAMPAI AKHIR HIDUP

Di dalam Alkitab diceritakan tentang murid-murid Yesus dan bagaimana pelayanan mereka sejak mereka dipanggil menjadi murid sampai fase kenaikan Yesus Kristus. Setiap orang yang membaca akan mengetahui sebahagian kisah hidup mereka. Namun bagaimana akhir hidup mereka tentu menjadi sebuah pertanyaan besar sebab hal itu tidak ditemukan di Alkitab.

Menurut sumber internet, ada buku yang berjudul Eusebius (History of The Christian Church) yang ditulis berdasarkan penelitian dan bukti-bukti sejarah menceritakan kisah-kisah tragis kematian murid Tuhan Yesus. Matius disebut meninggal karena disiksa dan dibunuh di Etiopia, Markus meninggal dunia di Alexandria (Mesir), setelah badannya diseret hidup-hidup dengan kuda melalui jalan-jalan yang penuh batu. Lukas mati digantung di Yunani, setelah ia berkhotbah di sana kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Petrus telah disalib dengan kepala di bawah. Kayu salib untuk Petrus dipasangnya berbeda, ialah secara huruf X, karena itulah permohonan yang ia ajukan sebelum ia disalib,dimana ia memohon untuk disalib dengan cara demikian. Ia merasa tidak layak untuk mati dan disalib seperti Yesus.

Yakobus saudara tiri dari Yesus dan pemimpin gereja di Yerusalem, dilempar ke bawah dari puncak bubungan Bait Allah. Yakobus anak Zebedeus adalah seorang nelayan dan ia adalah murid pertama yang dipanggil untuk ikut Yesus, ia dipenggal kepalanya di Yerusalem. Pada saat-saat ia disiksapun, ia tidak pernah menyangkal Yesus, bahkan ia berusaha untuk berkhotbah terus, Bartolomeus yang lebih dikenal sebagai natanael ia menjadi misionaris di Asia, antara lain ia memberikan kesaksian di Turki. Ia meninggal dunia di Armenia setelah ia mendapat hukuman pukulan cambuk, dan banyak kisah lainnya.

Mereka mengalami penderitaan, cercaan bahkan siksaan demi mempertahankan iman mereka dan karena pemberitaan Injil yang mereka lakukan. Sungguh kontras bila kita bandingkan dengan orang Kristen zaman sekarang, dimana jiwa patriotisme sudah sulit ditemukan, baik dalam pemberitaan Injil itu sendiri maupun dalam mempertahankan iman atau beriman sesuai tuntutan firman Tuhan. Jangankan menderita dan mati bagi Kristus, untuk datang ibadah saja pun banyak acuh tak acuh. Beginilah memang di zaman akhir yang sudah dinubuatkan, hanya mereka yang bertahan dan setia sampai akhir yang akan mendapat mahkota kemuliaan. (LH-Mei’14)

“TANGISILAH DIRIMU DAN ANAK-ANAKMU”

Nats : Lukas 23:26-31

Bila banyak orang merasa beruntung bisa bertemu dengan artis atau pejabat, maka Simon dapat dikatakan orang yang jauh lebih beruntung karena berkesempatan memikul salib Yesus dalam perjalanan salib menuju Getsemane. Simon ini baru datang dari kota lalu dia ditahan untuk memikul salib Yesus. Ada banyak orang yang mengiringi perjalanan salib ini, lalu mengapa simon ini yang ditahan untuk memikul salib? Pastilah simon ini datang secara menyolok dan menjadi pusat perhatian. Mungkin saja terjadi dalam usaha kita untuk “bertemu” dengan Kristus melalui kebenaran-Nya kita mendapatkan berbagai tantangan yang membebani hidup kita. Tetaplah teguh sebab pada waktunya kelak kita akan bersukacita pernah mengalaminya.

Yesus berpaling kepada perempuan-perempuan yang menangisiNya sebagai bukti perhatian-Nya kepada mereka, sekaligus Dia memberi teguran agar mereka menyadari bahwa yang pantas ditangisi bukanlah Yesus tetapi diri mereka dan anak-anak mereka. Sebab Dia bukan tidak berkuasa untuk melepaskan diri dari penderitaan itu tetapi semua dijalaniNya dengan taat demi melepaskan manusia dari dosa.

Apa maksud perkataan Yesus “tangisilah dirmu dan anak-anakmu”?

Pertama, karena dosa merekalah yang ditanggung oleh Yesus. Kedua, perkataan ini menjadi semacam nubuatan bahwa akan ada waktunya dimana manusia susah diatur oleh karena pengaruh zaman. Banyak anak-anak yang melawan orang tua, tidak ada rasa hormat, tidak ada kasih, tidak tahu berterima kasih. Pengaruh media yang mudah untuk diakses dengan berbagai macam program yang tidak semua baik, seperti game-game kekerasan, game yang menarik perhatian anak-anak sampai lupa waktu. Juga akses kepada pornografi. Di tambah lagi pergaulan di luar rumah yang mungkin tidak baik. Semua keadaan ini dapat membuat seorang ibu dan tentu juga ayah (orang tua) tertekan batin dan stress.

Pada tingkat stress yang tinggi, sangat mungkin ada orang tua yang akan merasa menyesal telah memiliki anak, dan berkata dalam hatinya seperti di ayat 29 ini “…berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan dan yang susunya tidak pernah menyusui” Keputusasaan dapat terjadi berikutnya hingga dia berharap kematian datang padanya dan berharap dalam hatinya seperti di ayat 30 “Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami!”

Pergumulan di zaman akhir memang akan semakin berat. Umat Tuhan harus memikirkan dan mengusahakan persekutuan yang kuat dalam keluarga sejak dini. Dan peran ibu diusia anaknya masih kanak-kanak sangat penting dalam pembentukan karakternya. Sebagai orang tua kita butuh hikmat dan kekuatan dari Tuhan. Kita akan kuat dalam kekuatan kuasa-Nya (Ef. 6:10).

TUNDUK DAN TANDUK

Hanya satu huruf yang berbeda antara kata “Tunduk” dengan “Tanduk” yaitu abjad “u” dan “a” diurutan kedua pada kedua kata tersebut.  Karena kedua kata itu berbeda arti, maka harus hati-hati dalam hal penulisan dan pengucapannya apalagi bila kata tersebut memiliki makna lain untuk maksud tertentu.

Definisi atau arti kata “tunduk” adalah 1) menghadapkan wajah ke bawah (tentang kepala), 2) melengkung ke bawah (tentang  padi atau lainnya), 3) takluk (tentang perang), 4) patuh/menurut (tentang perintah atau aturan). Kata dengan awalan “me” – “menunduk” berarti 1) menghadapkan wajah ke bawah (tentang kepala), 2) melengkung ke bawah (tentang  padi atau lainnya), bisa juga bermaksud “kepasrahan”, “kepatuhan” dan “merendahkan hati”. Sedangkan “tanduk” adalah cula yang tumbuh di kepala pada beberapa binatang seperti lembu, kerbau, kambing, dan sebagainya. Kata tanduk juga dipakai sebagai kata kerja dengan menambahkan awalan “me” – “menanduk” yaitu menyeruduk dengan tanduk atau menyandul dengan kepala.

Dalam arti kiasan, “menanduk” sering diartikan sebuah tindakan yang merugikan orang lain. Misalnya, anak-anak berandal di sekolah yang sering meminta uang kepada teman-teman sekolahnya dengan memaksa (mengancam) disebut “menanduk”, atau preman-preman yang suka meminta uang dengan paksa disebut juga “menanduk”. Seorang bawahan yang dengan cara-cara licik berusaha untuk menggulingkan atasannya termasuk juga “menanduk”. Seperti sebuah peribahasa berkata seperti ini “Kerbau menanduk, kerbau pergi” yang artinya siapa yang bersalah mesti dihukum setimpal dengan kesalahannya. Dalam peribahasa ini “menanduk” diartikan sebagai suatu tindakan jahat yang merugikan orang lain.

Mempertimbangkan penjelasan diatas maka kedua kata yang hanya berbeda satu huruf diatas justru dapat memiki makna yang bertolak belakang. Tunduk (menunduk) bisa  berarti kepatuhan, kepasrahan, kerendahan hati  sedangkan tanduk (menanduk) adalah sebaliknya. Nah, berkaitan dengan kehidupan kita sebagai umat Tuhan, kita diharapkan menjadi umat-umat yang tunduk kepada perintah (Firman) Tuhan. Penundukan diri dihadapan Tuhan adalah sikap yang diperkenan oleh Tuhan agar umat Tuhan mengalami kuasa Tuhan di dalam kehidupannya.  “Karena Allah merendahkan orang yang angkuh tetapi menyelamatkan orang yang menundukkan kepala” (Ayub 22:29).  Menunduklah jangan menanduk!

Harmoni Beriman

Mungkin dapat diistilahkan sebagai “Harmoni Beriman” tentang bagaimana orang-orang yang dipakai Tuhan dan diberkati luar biasa oleh Tuhan dalam kehidupannya seperti Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Daud, Salomo, dan lain-lain. Mereka bukan saja diberkati tetapi juga menjadi orang-orang yang berpengaruh pada zamannya, dan menjadi inspirasi pada zaman sesudah mereka. Karena itu mereka termasuk orang-orang yang dijadikan Tuhan luar biasa diantara sekian banyak manusia di dunia ini.

Kalau saya mempelajari kehidupan mereka, saya menemukan rahasia “keluarbiasaan” mereka yaitu adanya “harmoni” antara cara hidup mereka dengan tindakan Tuhan. Sebuah harmoni yaitu “mereka percaya kepada Tuhan, mereka bertindak dan Tuhan memberkati mereka”

Tidak sedikit orang yang ingin diberkati luar biasa, tetapi mereka tidak percaya; ingin menjadi orang-orang yang berhasil tetapi tidak mau bertindak; ingin mendapat nilai yang bagus tetapi tidak mau belajar. Hidupnya hanya sebatas keinginan yang membangun mimpi diatas mimpi dengan dengkuran yang keras tetapi tidak menghasilkan apa-apa selain kebisingan yang mengganggu orang disekitarnya.

Bangun! Mari bangun! Hidup dalam harmoni sebagai orang beriman. Percaya dan kerjakan, dan lihatlah tangan-Nya yang penuh kuasa akan memberkati kita dan menjadikan kita menjadi orang-orang yang luar biasa. Renungkanlah Firman Tuhan yang berkata “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak” (Maz. 37:5). Di dalam ayat ini kita menemukan harmoni itu “serahkan” (bertindak), “percaya” dan “Tuhan bertindak” (memberkati). Haleluya! (LH)

Aku Ada, Aku Berpikir, Aku Merenung

Seorang Filsuf  yang bernama  Descartes pernah berkata “Saya berpikir karena itu saya ada”.  Perkataan ini bila tidak disimak secara mendalam dapat menghasilkan pengertian yang salah karena kalimat perkataan itu mengandung makna filsafat.  Berbeda dengan kalimat “saya berpikir karena saya ada” yang mengandung arti yaitu bahwa oleh keberadaan (adanya) kita secara fisik dengan kemampuan berpikir yang dimiliki maka kita berpikir, namun tidak semua yang tampak ada secara fisik secara otomatis dia berfikir.

Kata “itu” dalam kalimat “Saya berpikir karena itu saya ada” memiliki peran penting yang mengubah makna atau maksud yang dipikirkan oleh sang Filsuf.  Maka kalau kita coba renungkan maksud dari perkataan Descartes adalah bahwa Existensi atau keberadaan kita sebagai manusia hanya dianggap ada/nyata bila kita melakukan aktifitas berpikir. Tanpa ada aktivitas berpikir maka  manusia itu tidak lebih dari suatu benda yang mati.

Tentu saja setiap manusia yang hidup pasti berpikir. Aktivitas apapun yang dilakukan oleh fisik bisa dilakukan karena ada proses berpikir. Suatu kesimpulan disimpulkan karena ada proses berpikir.  Bila pun ada sebuah perkataan, misalnya “dia tidak berpikir dulu sebelum bertindak maka begini jadinya” atau mungkin sebuah pertanyaan “kenapa kamu tidak pikir-pikir dulu?” – sesungguhnya mereka itu berpikir sebelum melakukan tindakannya, hanya saja mungkin tidak merenungkan sesuatu itu dengan begitu rupa.

Ketika firman Tuhan disampaikan, maka setiap orang yang mendengar pastilah memikirkannya dan karena dia berpikir maka dia mendengar. Namun tidak semua orang yang memikirkannya akan merenungkannya.  Sedangkan tindakan yang berkwalitas yang didasari Firman Tuhan adalah tindakan yang sudah melalui proses berpikir dan merenungkan Firman itu. Itu berarti merenungkan Firman Tuhan adalah hal yang sangat penting.   Berbahagialah orang yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam (Band. Maz.1:1-2)

HANYA SEBENTAR

Memasuki minggu ke tiga di bulan Januari ini, sukacita suasana tahun baru masih terasa. Meskipun mungkin ada kelelahan dengan berbagai kegiatan dan kunjungan kasih kepada keluarga dan handai tolan serta adanya pengeluaran dana lebih dari bulan biasanya, namun rasa syukur kita atas berkat Tuhan menjadikan semuanya indah.

Pada kesempatan ini ijinkan saya menyampaikan sebuah statemen yang mungkin sering kita dengar bahkan bisa jadi pernah kita ucapkan kepada orang lain yaitu statement  “Hidup ini hanya sebentar”. Biasanya kalimat itu disampaikan untuk mengingatkan sesama manusia bahwa hidup di dunia ini tidak abadi  melainkan hanya sebentar saja, sedangkan hidup yang abadi akan dialami di surga setelah melalui kehidupan yang sebentar di bumi

Adalah pantas bila kata “sebentar” itu digunakan dalam perbandingannya dengan kehidupan kekal.  “Sebentar” berarti bersifat sementara, dan kesementaraan adalah sebuah keterbatasan yang bila waktunya tiba maka segala yang ada dalam keterbatasan itu akan lenyap.

Namun hidup yang sebentar bukan berarti sia-sia tanpa arti. Kehidupan yang kekal sesungguhnya ditentukan pada masa yang sebentar ini. Ada banyak hal yang bisa kita kerjakan, baik untuk kehidupan kita pribadi/keluarga maupun untuk pelayanan kita kepada Tuhan,  baik untuk masa sekarang maupun untuk masa yang akan datang.  Berkesempatan untuk hidup lama adalah hal yang kita harapkan dan syukuri, namun menjadi orang yang berguna bagi Tuhan dan sesama adalah hal terpenting.

Haleluya

DI DALAM SUMUR YANG DALAM – SIAPA YANG DAPAT MENOLONG?

DI DALAM SUMUR YANG DALAM – SIAPA YANG DAPAT MENOLONG?

Tidak mungkin orang-orang yang sama-sama terjerumus ke dalam sumur yang dalam akan bisa menolong dan menyelamatkan dirinya dan orang lain yang di dalam sumur itu. Mereka membutuhkan orang lain dari atas, yang tidak sedang berada di sumur untuk menolong dan menyelamatkan mereka.

Orang berdosa itu seumpama orang yang terjerumus dalam sumur yang dalam. Dan semua manusia telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, sehingga manusia yang ada di dalam dosa tidak mungkin akan menolong dan menyelamatkan dirinya dan orang lain yang di dalam dosa itu. Oleh karena itu mereka membutuhkan sosok yang lain dari atas (surga) yang tidak berdosa untuk menolong dan menyelamatkan mereka. Dia adalah Kristus Yesus.

Keputusan di Tanganmu

2 Taw. 20:1-4 “Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi. Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.”

Selama kita masih ada di dalam dunia ini, tidak ada seorang pun yang menjamin bahwa kita tidak akan menghadapi masalah atau tantangan hidup, meskipun kita adalah orang percaya. Mengapa? Karena dunia ini penuh dosa dan kejahatan, kita hidup di dunia ini bersama-sama dengan orang yang tidak percaya. Dalam hal ini, tidak keistimewaan orang percaya dengan yang tidak percaya. Perbedaannya hanya pada bagaimana kita menyikapi tantangan yang kita hadapi dan kepada siapa kita meminta pertolongan dalam setiap tantangan hidup yang kita alami.

Tuhan tidak pernah menjanjikan kepada kita orang percaya bahwa hidup kita akan bebas dari tantangan hidup. Kita juga harus tahu mengerti bahwa terkadang Tuhan justru mengijinkan persoalan menghampiri kita, supaya kita belajar dan mengerti situasi dunia ini dan dari situ kita memperoleh hikmat untuk mengambil tindakan yang tepat dalam hidup kita, dan supaya kita senantiasa bergantung kepada-Nya.

Ketika mengalami tantangan, sering kali kita merasa tidak sanggup untuk menghadapi. Kita mungkin akan takut dan kawatir. Dan itu sangat manusiawi. Namun sebagai orang percaya, hal itu seharusnya tidak boleh berlarut-larut dalam hidup kita, karena ada janji Tuhan bagi kita ketika kita mau berseru kepada-Nya meminta pertolongan. Karena itu, apa pun masalah yang kita hadapi yang membuat kita takut dan gentar, ambil keputusan untuk berseru kepada TUHAN. Keputusan ada di tanganmu.

Bila Tuhan Undur

Saul dan prajuritnya ketakutan mendengar tantangan musuhnya yaitu prajurit Filistin yang dikomandoi oleh Goliat yang bertubuh besar (6 hasta sejengkal = Kira-kira 3 meter). Mengapa Saul ketakutan? Karena Saul tahu bahwa Tuhan telah undur daripadanya. Dia takut melihat tantangan yang besar dihadapannya karena Tuhan tidak lagi menyertai mereka. Mengapa Tuhan undur dari Saul? Karena Saul tidak taat kepada Tuhan. Ia membuat kebenarannya sendiri yang bertentangan dengan Tuhan. (Kisah Saul di 1 Samuel)

Pelajaran : Tantangan yang kita hadapi dalam hidup ini seringkali membuat kita takut Namun ketakutan itu timbul sebenarnya bukan karena terlalu besar persoalan itu melainkan karena kita tidak yakin kehadiran Tuhan yang akan menolong kita. Ketidakyakinan pada pertolongan Tuhan sering dipengaruhi oleh perasaan berdosa akibat ketidaktaatan kita kepada firman Tuhan. Bukankah kita manusia ini sering membuat kebenaran kita sendiri dengan kompromi kepada cara-cara dunia. Sangat jelas bahwa ketaatan itu menjadi penting supaya Tuhan tidak undur dari kehidupan kita.

Jangan Memandang Penampilan Luar

Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, dia berpikir bahwa Eliab-lah yang dipilih Allah untuk diurapi menjadi raja karena parasnya dan perawakannya yang tinggi. Tetapi Tuhan berkata “…..Jangan pandang parasnya dan perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah, manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”(1 Sam 16:7).

Pelajaran : Jangan tertipu dengan penampilan luar seseorang, atau jangan mudah menilai seseorang dengan penampilan luarnya, atau dengan kata-kata manisnya tetapi lihatlah bagaimana hati dan kepribadiannya yang terbukti dari cara hidup (perbuatannya) yang baik.

Jahat di Mata Tuhan

Hak. 3:7 “Orang Israel melakukan apa yang jahat  di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN,Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera”.

Di era abad 21 ini dapat dikatakan bahwa hampir setiap hari yang kita jalani selalu ada berita/informasi mengenai kejahatan yang terjadi di dunia ini.  Semakin hebatnya tekhnologi informatika memungkinkan informasi-informasi yang ada di bagian belahan bumi yang sangat jauh dapat kita ketahui dalam hitungan menit bahkan mungkin detik.  Informasi-informasi itu di dapat melalui mulut ke mulut, media cetak, elektronik seperti radio, TV, telephon dan internet.

Jenis kejahatan yang terjadi bermacam-macam;  pembunuhan, pencurian, penipuan, penggelapan, perampokan, pemukulan, perkosaan, pemalsuan, cyber crime, korupsi, dan lain-lain.  Pelaku kejahatan pun tidak hanya berasal dari masyarakat biasa tetapi juga para pejabat pemerintah dan legislatif. Yang  juga memprihatinkan adalah ketika penegak hukum sendiri justru “bermain-main” dengan hukum itu.

Berbagai macam tindakan kejahatan itu mungkin membuat kita merinding, kesal, was-was dan takut. Namun tahukah saudara bahwa kita sangat mungkin sering melakukan apa yang jahat di mata Tuhan? Kejahatan yang dimaksud bukanlah jenis kejahatan seperti yang kita sebutkan diatas, melainkan melupakan Tuhan dan beribadah kepada Baal.

Menurut ayat diatas, bahwa tindakan manusia yang jahat di mata Tuhan yaitu melupakan Tuhan dan beribadah kepada Baal dan para Asyera. Yang dimaksud “melupakan” bukanlah berarti usaha untuk tidak mengingat lagi melainkan lebih bermaksud bahwa mereka tidak lagi percaya (mempercayakan) hidup mereka kepada Tuhan.

Hal yang sangat perlu kita renungkan setelah membaca FT diatas adalah apakah selama ini kita sungguh-sungguh percaya dan mengandalkan Tuhan? Mungkin kita tidak beribadah kepada Baal dan Asyerat atau tidak percaya kepada dukun, namun mungkin kita selama ini mengandalkan diri kita dan bukan Tuhan, atau mungkin kita selama ini bergantung kepada jabatan/kedudukan dan harta yang kita miliki dan bukan Tuhan. Renungkanlah! Hal itu jahat di mata Tuhan.

 

LH (03-09-12)

Perubahan Setelah Panggilan.

Filipi 3:7-8,“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.”

Ada perubahan yang besar terjadi dalam kehidupan rasul Paulus sejak dia mengenal dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya. Dia rela meninggalkan segala kemewahan dan jabatan yang begitu baik dalam kehidupannya demi untuk mengikut Yesus. Bahkan apa yang dahulu dianggapnya sebagai keuntungan kini dianggapnya sebagai kerugian.

Ayat-ayat ini mengajak kita untuk melihat kembali diri kita dan mempertanyakan perubahan apa yang telah terjadi setelah kita mengenal dan menerima Yesus dalam hidup kita. Sudahkah kita sanggup mengutamakan Tuhan lebih dari pada yang lain dalam hidup kita. Perubahan yang semakin baik haruslah semakin nyata bagi orang yang telah mengenal Tuhan. Seseorang yang telah mengenal Tuhan harus sanggup berkata tidak untuk kesenangan/keuntungan duniawi jika bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kita harus sanggup berkata seperti rasul Paulus bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Ketika Tuhan masih menghendaki kita ada di dunia ini, itu artinya kita harus menghasilkan buah-buah yang manis.

PENGAJARAN

Yesaya 8:20; “Carilah pengajaran dan kesaksian!” Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar.

Setiap orang butuh pengajaran firman. Pengajaran akan menjadikan kita lebih dewasa dalam iman sejurus kemudian akan di ikuti dengan kedewasaan sikap dan tindakan. Dengan pengajaran firman, kita semakin mengenal Allah dengan segala apa yang dapat Dia perbuat bagi kita. Kita mengenalNya sebagai gembala yang baik, yang selalu memperhatikan dan memelihara ; memberika proteksi/perlindungan dalam setiap langkah yang kita jalani.

Sangat dibutuhkan hati sebagai seorang murid ketika menerima pengajaran. Seorang murid memiliki kerinduan untuk dibekali ilmu pengetahuan (pengajaran) dan untuk itu dibutuhkan tekad untuk terus belajar dan penerima pengajaran dari guru. Seorang murid akan mematuhi dan mengikuti arahan gurunya dan pada akhirnya seorang murid akan mempraktekkan pengajaran yang dia tarima. Dengan kata lain bahwa perjalanan hidup seorang murid akan dipengaruhi oleh pengajaran yang dia terima.

Demikianlah diharapkan bagi umat-umat Tuhan. Sebagai murid Tuhan, kita sepantasnya memiliki kerinduan untuk terus belajar firman Tuhan, mematuhi dan menerima arahan dari sang guru kita yang Agung Yesus Kristus dan pada akhirnnya diharapkan kita mempraktekkan firman Allah sebagai buah dari pengajaran itu.

PANDANGAN

 

Amsal 16:2 berkata :”Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.”

 Firman Tuhan ini, mencerminkan sikap hidup manusia secara umum yang selalu berbicara dan bertindak sesuai dengan apa yang dianggap benar menurut pandangannya. Sekalipun menurut pandangan orang lain belum tentu sama.

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi pandangan seseorang, antara lain : pendidikan/pengetahuan dan pengalaman hidup dari sejak kecil baik di keluarga maupun di lingkungannya.  Perbedaan pandangan bisa saja menjadi sumber malapetaka jika masing-masing pihak mempertahankan pendapatnya yang dianggapnya paling benar.

Ibaratkan seseorang yang melihat sebatang pohon yang berdaun ke ungu-unguan dari balik kaca jendela yang berwarna merah dan seorang lagi melihat pohon yang sama dari balik kaca jendala yang berwarna biru, mereka akan melihat warna daun pohon itu dengan warna yang berbeda-beda berdasarkan warna kaca jendela yang mereka gunakan untuk melihat pohon itu. Nah, untuk membuktikan warna daun pohon yang sebenarnya, mereka harus meninggalkan kaca jendala itu dan bersama-sama  mendekati pohon itu.  Artinya mereka haruslah keluar dulu dari merasa paling benar masing-masing  dan mengkomunikasikannya.

Dialog/Komunikasi yang terus menerus sangat dibutuhkan untuk menyatukan pandangan. Dan tentu saja kerendahan hati dan keterbukaan menjadi modal utama dalam menghasilkan komunikasi yang berhasil. Selain itu egoisme dan sifat mau menang sendiri haruslah dihilangkan. Masing-masing pihak harus bersedia mendengar lawan bicara mengungkapkan pendapatnya. Komunikasi yang baik akan menghasilkan keputusan-keputusan yang baik pula. Orang yang hatinya murni akan selalu terbuka mengevaluasi diri dan mengoreksi diri dan pandangan-pandangannya.

Evaluasi Diri

Mazmur 90:12 “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”

Untuk mengetahui secara jelas perkembangan suatu program kerja maka diperlukan adanya evaluasi.  Dengan evaluasi kita dapat mengetahui realisasi program dan menelusuri kendala-kendala yang dihadapi serta kemudian mencari dan merumuskan langkah-langkah pemecahannya, sehingga target yang ingin dicapai dengan program itu bisa terlaksana atau setidak-tidaknya sangat mendekati sasaran.

Mungkin kita tidak punya program tertulis menyangkut masa depan kita, tetapi kita punya impian dan harapan untuk masa depan. Untuk itu kita juga perlu mengevaluasi diri, mengevaluasi segala tindakan yang telah kita lalui, merenungkan perkembangan apa yang telah kita capai dan mengidentifikasi kendala-kendala atau kelamahan-kelemahan apa yang perlu diperbaiki.

Pun dalam hal rohani perlu mengevaluasi diri. Bagaimana peningkatan pengenalan kita akan Tuhan, pertumbuhan rohani, buah-buah yang kita hasilkan, dan lain-lain. Untuk meningkatkan kemampuan dan kwalitas diri baik intelektual maupun rohani, modal yang paling penting adalah sikap mau diajar dan mau belajar. Seringkali Tuhan kasih kesempatan bagi kita untuk belajar tatapi waktu itu tidak kita manfaatkan dengan baik, sehingga dari tahun ke tahun kemampuan intelektual kita hanya begitu-begitu saja dan secara rohani tidak bertumbuh.

Dengan kemampuan intelektual dan kedewasaan rohani, bukan saja akan meningkatkan kwalitas hidup kita sendiri tatapi kita juga dapat menjadi berkat bagi orang lain. Hanya orang-orang yang berkwalitaslah yang dapat membuat gebrakan perubahan positif bagi kemajuan kehidupan umat manusia.

Keputusan di Tanganmu.

 

2 Taw. 20:1-4 “Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi. Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.”

Selama kita masih ada di dalam dunia ini, tidak ada seorang pun yang menjamin bahwa kita tidak akan menghadapi masalah atau tantangan hidup, meskipun kita adalah orang percaya. Mengapa? Karena dunia ini penuh dosa dan kejahatan, kita hidup di dunia ini bersama-sama dengan orang yang tidak percaya.  Dalam hal ini, tidak keistimewaan orang percaya dengan yang tidak percaya.  Perbedaannya hanya pada bagaimana kita menyikapi tantangan yang kita hadapi dan kepada siapa kita meminta pertolongan dalam setiap tantangan hidup yang kita alami.

Tuhan tidak pernah menjanjikan kepada kita orang percaya bahwa hidup kita akan bebas dari tantangan hidup.  Kita juga harus tahu mengerti bahwa terkadang Tuhan justru mengijinkan persoalan menghampiri kita, supaya kita belajar dan mengerti situasi dunia ini dan dari situ kita memperoleh hikmat untuk mengambil tindakan yang tepat dalam hidup kita, dan supaya kita senantiasa bergantung kepada-Nya.

Ketika mengalami tantangan, sering kali kita merasa tidak sanggup untuk menghadapi. Kita mungkin akan takut dan kawatir. Dan itu sangat manusiawi. Namun sebagai orang percaya, hal itu seharusnya tidak boleh berlarut-larut dalam hidup kita, karena ada janji Tuhan bagi kita ketika kita mau berseru kepada-Nya meminta pertolongan. Karena itu, apa pun masalah yang kita hadapi yang membuat kita takut dan gentar, ambil keputusan untuk berseru kepada TUHAN. Keputusan ada di tanganmu

Dalam Pelbagai Cara

Ibrani 1:1-4 “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Sejak jaman dahulu Allah terus menyatakan diri-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. “Dengan berbagai cara” memberi makna bahwa pernyataan Allah kepada manusia itu kontekstual dan progressive supaya manusia itu bisa memahami maksud Allah. Pernyataan diri Allah tidak dibatasi oleh waktu atau jaman, situasi dan kondisi dunia dan juga budaya. Lebih dalam adalah betapa Allah itu sangat menginginginkan umat-Nya mengenal dia dan mendengarnya ketika Ia berbicara atau menyatakan diri-Nya.

Pastilah Allah punya rencana yang indah mengapa Dia menyatakan diri, dan tentu manusia akan beruntung apabila mengenal Allah.  Mengapa? Karena mengenal Allah berarti mengenal kuasa, dan kebaikan-Nya,  Nabi-nabi telah menjadi perantara sampai peryataan diri-Nya melalui perantara Anak-Nya Yesus Kristus.  Dengan perantara Yesus Kristus, kita bisa mengerti isi hati Allah. Pengorbanan Yesus di kayu salib dengan meninggalkan kemuliaan-Nya di sorga demi manusia adalah bukti cinta Allah. Yesus adalah gambar wujud Allah.

Di PL dalam pernyataan diri Allah kepada bangsa Israel, Ia sering mengatakan kepada bangsa Israel “Aku..YHWH”  yang dalam alkitab LAI terjemahan baru ditulis “TUHAN” (huruf besar semua),   Disini Allah sekaligus menyatakan bahwa pada nama-Nya itu melekat seluruh keberadaan atau jati diri Allah. YHWH (Yahwe) atau TUHAN,  adalah berbicara tentang existensiNya yang tidak berasal-usul atau ada dari kekekalan, unlimited power (kuasa yang tidak terbatas) dan absolute, dan yang keputusan-keputusanNya tidak dipengaruhi oleh manusia atau oleh apapun.

Kalau kita meyakini bahwa Yesus adalah gambar wujud Allah, Dia adalah gambar wujud Yahwe, pada-Nya melekat seluruh keberadaan atau jati diri Allah, Dia yang existensiNya yang tidak berasal-usul atau ada dari kekekalan, unlimited power (kuasa yang tidak terbatas) dan absolute, dan yang keputusan-keputusanNya tidak dipengaruhi oleh manusia atau oleh apapun. Betapa dahsyat Dia bagi kita sebagai milik kepunyaan-Nya.

Orang Percaya itu Bertindak

1 Raja-raja 17: 13-13, Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.”

Elia adalah abdi Allah yang setia dengar-dengaran firman Allah. Suatu waktu dia disuruh oleh Tuhan pergi ke Sarfat, sebuah daerah yang sudah beberapa lama kekeringan karena kemarau yang panjang sehingga mereka yang tinggal di daerah itu menjadi kesulitan dalam hal kebutuhan jasmani.

Seorang janda yang tinggal di Sarfat bersama seorang anaknya, bukan saja kesulitan karena kemarau yang panjang tetapi mereka juga memang adalah keluarga yang miskin. Ke rumah janda inilah Elia disuruh Allah  setelah sebelumnya disuruh untuk menyendiri ke suatu tempat dimana Allah memenuhi kebutuhannya melalui burung-burung yang disuruh oleh Allah untuk mengantarkan makanan.

            Yang menarik dari kisah ini adalah bahwa Allah memakai janda miskin ini menjadi berkat bagi nabi Elia dan memakai nabi Elia untuk menjadi berkat bagi janda miskin ini. Ketika Tuhan menyuruh Elia pergi ke Sarfat, Ia telah menjamin keperluannya walaupun melalui seorang janda miskin. Pada awalnya janda miskin ini mungkin kaget atas permintaan nabi Elia untuk member kepada nabi itu sepotong roti, sementara yang dia miliki hanya tinggal segenggam tepung dan sedikit minyak di dalam buli-buli. Dan ia dengan jujur meresponi nabi Elia dengan berterus terang mengungkapkan keadaannya yang sebenarnya.

            Nabi Elia tahu apa yang dikawatirkan ibu ini, oleh karena itu dia memberi jaminan kepada ibu itu sesuai dengan yang Allah firmankan bahwa tepung dan minyak itu tidak akan habis sampai hujan membasahi bumi dan tanah-tanah menghasilkan. Janda itu percaya pada perkataan nabi itu sehingga ia membuat roti seperti permintaan nabi itu. Dan Tuhan memenuhi firman-Nya yaitu bahwa tepung dalam tempayan itu dan minyak dalam buli tidak habis sampai hujan membasahi bumi.

            Nabi Elia percaya kepada perkataan Tuhan, lalu dia pergi ke Sarfat. Janda miskin ini percaya kepada firman Allah yang disampaikan nabi-Nya, lalu ia membuat roti seperti yang dimintakan oleh nabi Elia. Orang yang sungguh-sungguh percaya pastilah ia bertindak, karena tidak ada keraguan di dalam hatinya (Yakobus 1:18-20). Ketidakpercayaan dan keraguanlah yang sesungguhnya menghambat orang untuk tidak bertindak.  Hanya iblis saja yang percaya tetapi dengan sengaja membantah Allah. Selebihnya adalah orang-orang yang tidak percaya atau yang masih ada keraguan di hatinya.

KUAT KARENA MENGAKAR

“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya” (Maz. 92:13-16)

Pohon Korma adalah sejenis pohon tanaman keras yang hidup di daerah tandus disekitar padang pasir. Walau hidup di daerah tandus namun pohon ini berdaun lebat karena akarnya tertanam jauh hingga ke tanah yang berair, dan pohon ini menghasilkan buah yang sangat manis sampai pohon ini tua. Sedangkan pohon aras adalah pohon keras yang sangat kuat, tahan segala cuaca bahkan memiliki kecenderungan tahan api.

Demikianlah digambarkan seorang yg benar. Orang benar akan bertunas dan bertumbuh walaupun ditengah-tengah kegersangan hidup manusia dan kerasnya kehidupan yang terjadi di dunia ini. Berakar dengan kuat pada firman Tuhan akan menghasilkan pertumbuhan rohani yang baik dan mengeluarkan buah-buah yang manis yaitu perbuatan baik yang menyenangkan hati Tuhan.

Kita memang tidak akan kuat menghadapi dunia ini tanpa kita berakar di dalam firman. Akar pada pohon berfungsi untuk menyerap sari-sari makanan dan air yang akan menunjang pertumbuhannya. Selain itu, akar yang tertanam kuat akan dapat menahan pohon dari terpaan angina kencang. Demikianlah kehidupan orang yang berakar di dalam firman, yang bergantung kepada Allah akan terus bertumbuh dan akan kuat menghadapi terpaan angin pencobaan yang mungkin terjadi.

Kita membutuhkan firman Tuhan terus menerus. supaya kita juga dapat bertindak bijaksana sepanjang waktu hidup kita, untuk memutuskan langkah-langkah apa yang harus kita jalani. Pengajaran firman akan membantu kita dalam bersikap untuk menjalani kehidupan itu dengan baik dan benar, dan bersama Tuhan Gunung Batu kita akan kuat menghadapi tantangan.

BERJAGA-JAGA

 Matius 24:37-39 “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk kedalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.”

Menantikan kedatangan Anak Manusia yaitu Yesus Kristus pada kali yang kedua ke dalam dunia adalah moment yang dinantikan oleh orang-orang yang percaya. Sebab saat itu semua orang yang percaya dan menerima-Nya akan diangkat bersama-sama untuk menerima janji Allah yaitu kehidupan yang kekal.

Selama dunia masih ada, maka dunia akan terus beraktifitas dan berinovasi sehingga jaman akan terus berubah. Kemajuan diberbagai bidang khususnya teknologi industri dan informatika membuat seakan tidak ada jarak penghalang yang berarti lagi antara belahan dunia yang satu dengan belahan dunia yang lain. Manusia bisa menjelajah dunia hanya dengan ujung-ujung jari.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan itu sendiri selain membawa hal-hal yang positif bagi manusia juga membawa serta hal-hal yang negatif pada dirinya. Seperti misalnya dunia internet yang dapat dipergunakan untuk hal yang baik juga yang tidak baik, demikian juga si pengakses informasi bisa menerima informasi yang baik dan juga yang salah.

Lewat firman Tuhan ini, kita diingatkan supaya dalam segala aktifitas dan gaya hidup dalam konteks jaman dimana kita berada, supaya kita berjaga-jaga dan tidak terlena dangan keduniawian yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan. Menjaga hubungan yang erat dengan Tuhan melalui doa, ibadah dan belajar/merenungkan dan melakukan firman Tuhan akan menolong kita menjalani kehidupan dengan berhikmat. Sehingga kita siap menanti kedatangan Anak Manusia itu.

In Christ.

LH

Pondasi dan Bangunan

Pondasi dan Bangunan.

Umumnya, bentuk suatu rumah akan mengikuti bentuk bondasi yang telah dibuat. Kekuatan bangunan akan sangat dipengaruhi oleh kekuatan pondasi dan tulang bangunan. Semakin kuat pondasi dan tulang bangunan maka semakin kuatlah rumah itu dan lebih aman untuk di tempati.

Namun, meski struktur utama sebuah bangunan akan mengikuti bentuk pondasi, tetapi seorang arsitek/designer dan tukang bangunan dapat membuat tambahan bentuk bangunan untuk memberi nilai tambah pada bangunan itu, misalnya nilai artistik (Seni dan keindahan). Penggunaan bahan-bahan yang berkualitas dan kemampuan (skill) membangun yang baik, akan menghasilkan suatu bangunan yang kokoh dan indah.

Dua unit rumah yang memiliki bentuk pondasi dan struktur tulang yang sama, belum tentu akan menghasilkan rumah yang sama bagus dan indahnya antara satu dengan yang lain. Bisa saja rumah yang satu menggunakan material yang murahan, bentuk kosen dan pintu yang biasa-biasa saja, sedangkan rumah yang lainnya menggunakan material kualitas tinggi dengan design kusen dan pintunya yang artistik.

Rasul Paulus suatu saat dalam suratnya kepada jemaat di Korintus berkata : …tiap-tiap orang harus memperhatikan bagaimana ia harus membangun diatasnya……Entah orang membangun diatas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami……. (1 Kor 3: 10-12). Firman ini mengajak kita untuk melihat kehidupan kita, bagaimana kita telah membangun diri kita. Dalam kekristenan kita bisa mengatakan kita sama-sama memiliki pondasi yang sama yaitu Yesus Kristus, tetapi perlu diperhatikan apakah kita sudah membangun dengan benar hidup kita diatas pondasi yang benar itu? Apakah bangunan hidup kita termasuk murahan (kualitas rendah) dengan design yang biasa-biasa saja atau suatu bangunan dengan kualitas tinggi serta yang memiliki nilai artistik? Dengan kata lain : Orang kristen yang bagaimanakah kita ini?

Sep 2006 – Edit Nop 2010