PERNIKAHAN KRISTEN YANG LANGGENG

Pernikahan yang bahagia tentu menjadi impian setiap pasangan Kristen, tetapi faktanya impian tidak selalu seperti kenyataan.  Ada banyak proses yang harus dilewati sebuah pasangan, dimana di dalam menjalani proses itu, kedua pasangan tidak selalu ada dalam kebahagian. Liku-liku jalan berkerikil sering tidak dapat dihindari dalam perjalanan berumah tangga, tetapi kaki harus terus berjalan pada tujuan yang diharapkan.

Suka dan duka, tawa dan air mata pasti akan mengisi hari-hari perjalanan. Tetapi kesakralan pernikahan Kristen bukan untuk digugat oleh persoalan yang ada. Oleh karena itu, pernikahan yang langgeng haruslah menjadi “materai hati” mengatasi riak-riak yang ada.

Ada 3 hal yang ingin saya sampaikan untuk mewujudkan pernikahan yang langgeng:

  1. Sebuah pasangan harus menyadari sepenuhnya bahwa pernikahan adalah inisiatif Allah. Dia yang mendirikan lembaga pernikahan.

Kejadian 2:18: “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”

Kejadian 1:28: “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:  “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Tuhanlah yang berinisiatif membentuk lembaga pernikahan, Dia pula yang menguduskan sebuah ikatan pernikahan.  Untuk mewujudkan kehendak-Nya agar manusia beranakcucu, bertambah banyak, menaklukkan dan menguasai bumi adalah melalui lembaga pernikahan.

Karena Pernikahan adalah inisiatif Allah dan yang mendirikan lembaga itu, maka orang kristen tidak boleh menganggap remeh pernikahan.  “Ah, kami sudah tidak cocok lagi”, “dulu dia tidak seperti ini, sekarang sudah beda”, adalah mungkin alasan-alasan yang dapat dibuat orang untuk menyudahi ikatan pernikahan, tetapi dalam pernikahan Kristen “We have no excuse” alias tidak ada alasan untuk itu.

Karena itu di dalam Matius 19:6 dikatakan: “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

  1. Sebuah pasangan harus menyadari sepenuhnya bahwa pernikahan adalah suatu ikatan kesatuan yang utuh.

Kejadian 2:24 “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Kalimat “meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya” dapat digambarkan seperti organization chart dibawah ini:John chart

Gracia Chart

John-gracia chart

Pada gambar 1, adalah struktur keluarga dari Jhon, dimana John masih dibawah “kekuasaan” ayah dan ibunya. Sedangkan gambar 2 adalah struktur keluarga dari Gracia dimana ia masih dibawah “kekuasaan” dari ayah dan ibunya.  Dan pada gambar 3, John dan Grace masing-masing sepakat untuk meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu membentuk lembaga baru dimana mereka berdua yang memimpin dan menguasai lembaga itu.

Kalimat “meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya” juga bermaksud bahwa suami-isteri harus menjadikan pasangannya sebagai prioritas utama dalam relasi keluarga. Apakah itu terhadap ayat dan ibu, saudara, family, tetangga, atau siapa saja. Oleh karena itu tidak boleh ada intervensi dari pihak keluarga yang ditinggalkan atau dari pihak manapun yang menjadi keputusan atas apa pun yang ada/terjadi di dalam keluarga yang baru. Sebagai bahan pertimbangan tentu tidak ada masalah dengan masukan/nasehat dari pihak-pihak yang dimaksud.

Bagian berikutnya dari ayat itu dikatakan  “menjadi satu daging” artinya mereka tidak lagi terpisahkan. Mereka menyatu dalam satu ikatan yang utuh, menjadi sama rasa dan sepenanggungan dimana pahit manisnya kehidupan itu akan dinikmati bersama, mudah atau sukar arus dan gelombang yang harus dilalui, perahu pun didayuh bersama.

  1. Selalu membangun Dialog secara terbuka (Kumunikasi yang baik)

Ada sebuh cerita tentang sebuah keluarga yang hampir bercerai oleh karena suatu masalah. Dan setelah seorang Pendeta mengkonseling mereka, ternyata ditemukan bahwa akar persoalan ternyata sepele.

Persoalannya bermula dari kebiasaan membuang sampah rumah tangga. Rupanya kebiasaan yang terjadi di keluarga si suami, bahwa sampah rumah tangga itu dibuang pada sore hari, sehingga sepanjang malam di rumah tidak ada sampah lagi. Sedangkan si isteri setiap hari membuang sampah di pagi hari mengikuti kebiasaan yang ada di keluarganya sebelumnnya.

Melihat kebiasaan isterinya ini si suami mulai bertanya-tanya di dalam hati dan berharap istrinya mengubah kebiasaan itu. Persoalannya adalah bahwa dia tidak pernah mengkomunikasikan hal itu kepada isterinya, tentu saja istrinya tidak tahu apa yang menjadi keinginaan si suami.

Karena didiamkan, lama-lama si suami mulai kesal dan mulailah timbul akar pahit. Tentu kalau sudah ada akar, maka kemudian dia akan “bertumbuh” dan “menghasilkan buah”.  Kalau sudah seperti ini, maka apa pun yang dilakukan pasangan itu menjadi serba salah dimatanya.

Ketika iblis mencobai Hawa, Ia tidak berdialog dengan Adam. Hawa pun mengikuti bujukan si ular lalu jatuh kedalam dosa. Dan Adam pun ikut “terseret” masuk dalam jerat iblis.

Oleh karena itu, dialog atau komunikasi yang baik dan terbuka harus selalu dibangun dalam perjalanan rumah tangga, sebab terlalu banyak kebiasaan atau prinsip-prinsip yang berbeda baik yang dibawa dari keluarga, maupun dari pengalaman hidup masing-masing sebelumnya. Semua hal terbuka untuk dibicarakan termasuk mengenai seksualitas. Sebab kalau melakukan hubungan suami-isteri saja tidak tabu, apalagi cuma membicarakannya.

Kiranya setiap pasangan keluarga Kristen, tetap utuh dan langgeng sampai maut memisahkan. Tuhan memberkati.