Memahami PL dari kacamata PB

Kitab PL itu terdiri dari Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi. Kitab Para Nabi sendiri juga berdasarkan (bernafaskan) atau dalam paradigma Hukum Taurat. Makanya kitab PL sering disebut juga Kitab Taurat.

Contoh:

“Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu” (Yehezkiel 3:18)

Ayat ini bernafaskan atau muncul dalam paradigma Taurat.

Sanggupkah kita melakukan ini?

TIDAK, berarti MAUT.

Ada banyak orang yang pernah kita kenal dan tahu bahwa mereka pernah bahkan mungkin banyak melakukan kejahatan di DUNIA ini, yang oleh karena berbagai alasan pula (misalnya kesalahan Trum yang saya tahu dari media) tidak bisa kita peringatkan. Bila ayat ini tidak dipahami dengan terang Perjanjian Baru (Kasih Karunia) maka setiap orang akan selalu di dakwa oleh “merasa berdosanya” dan menurut ayat ini tidak seorang pun manusia di dunia ini akan lolos (selamat).

Puji syukur kita tidak hidup di dalam hukum ini, sebab keselamatan kita bukan “lagi” karena melakukan hukum Taurat tetapi iman kepada Yesus.

Namun, memperingati orang yang jahat/bersalah adalah nilai/moral yang dikehendaki oleh Allah. Sehingga kita melakukannya bukan karena hukum itu masih berlaku, tetapi karina kasih kepada Allah (yang mengasihi manusia dan menghendakinya) dan kasih kita kepada sesama.

Tetapi “ketidaksuksesan kita 100%” melakukan yang dikehendaki Allah ini, hukum “pertanggungjawaban” itu tidak berlaku bagi kita yang sudah ditebus oleh Kristus.

Contoh lainnya:

Misalnya ada hukum moral “jangan membunuh” di PL, dan jaman PL itu dilakukan karena hukum itu sendiri dan ada konsekwensi yang diterima kalau melakukan pembunuhan.

Itu nilai moral yang dikehendaki oleh Allah. Dalam PB kita tidak membunuh bukan karena hukum itu sendiri masih berlaku, tetapi karena kasih. Kasih kepada Allah yang menghendaki nilai itu kita hidupi, dan kasih kepada sesama. (ref. kasihilah sesamu manusia spt dirimu)

Demikian juga masalah persepuluhan. Tuhan memang “mengadopsi” budaya sepersepuluh sebagai hukum bagi orang Israel. Namun yang perlu kita konsen dalam perintah itu bukan jumlah persentasenya, tetapi prinsip keadilan, belaskasih dan kesetiaan. Karena orang lewi tidak mendapat bagian seperti 11 suku lainnya. Disana (dalam hukum itu) ada keadilan dimana akhirnya kedua belas suku “sama-sama mendapat bagian”, dan belas kasihan karena tidak membiarkan Lewi menderita tanpa terpelihara, dan Kesetiaan pada tercapainya maksud Allah.

Jadi dalam PB, kita melakukan persepuluhan atau perberapa puluhan pun itu, bukan lagi karena hukum itu sendiri masih berlaku, tetapi tercapainya maksud Allah, yaitu keadilan, belaskasih dan kesetiaan.

Karena itu “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat”

If you have “love” you’ll do good.

Walau mungkin tidak sempurna, sebab kasih Kristus saja yang sempurna.

Ketidakbersalahan Alkitab

PENDAHULUAN

 Adalah hal yang sangat penting bagi orang Kristen untuk mengerti dan mempercayai bahwa Alkitab yang digunakan sebagai pedoman hidup adalah kebenaran yang mutlak dari Allah, dan karena itu tidak memiliki kesalahan. Karena ketidakbersalahan Alkitab, maka Alkitab memiliki otoritas untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Segala aspek kehidupan kita harus tunduk dan diarahkan oleh prinsip-prinsip Alkitab yang adalah hukum Allah.

Alkitab memang tidak diberikan untuk menceritakan tentang segala sesuatu. Dan tidak segala suatu dapat kita pelajari dari Alkitab; misalnya sejarah lengkap peradaban manusia, informasi-informasi teknik ilmiah, bahkan sejarah masa kanak-kanak Tuhan Yesus, namun Alkitab telah diberikan kepada manusia secara cukup untuk mengajarkan tentang Allah, karya cipta-Nya dan mengenai hakikat manusia sendiri dalam hubungannya dengan Allah.

Beberapa Pandangan Tentang Alkitab

 Di dalam 2 Timotius 3:16 dikatakan bahwa Alkitab diilhamkan (diinspirasikan, dinafaskan, difirmankan) oleh Allah itu artinya bahwa setiap kata yang ada di dalamnya merupakan firman Allah dan karena merupakan firman Allah, maka tidak mungkin salah. Namun meskipun jelas-jelas Alkitab mengatakan demikian, tapi ada juga pihak-pihak yang memiliki pandangan yang berbeda tentang keberadaan Alkitab itu sendiri

Berikut ini adalah beberapa diantara pandangan-pandangan itu:

1. Pandangan Liberal

Kaum Liberal beranggapan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah secara kesuluruhan tetapi mengandung Firman Allah. Kalau dikatakan bahwa makanan mengandung garam artinya tidak semua makanan itu adalah garam, tetapi hanya sebagian yang dicampurkan dengan bahan lain. Demikian juga kalau dikatakan bahwa “Alkitab mengandung Firman Allah”, maka itu berarti bahwa dalam Alkitab itu ada bagian-bagian yang adalah Firman Allah, dan ada juga bagian-bagian yang bukan Firman Allah. Dan bagian-bagian yang bukan Firman Allah itu tentu saja bisa salah.

2. Pandangan Neo Ortodoks

Neo-Ortodoks dipelopori oleh Karl Barth. Konsep dasar dari pandangan ini adalah bahwa Alkitab menjadi Firman Allah apabila Allah memakainya untuk berbicara kepada manusia, tetapi kalau manusia itu merasa bahwa Allah tidak memakainya untuk berbicara kepada dia maka Alkitab itu bukanlah Firman Allah. Jadi Alkitab adalah Firman Allah secara subyektif, bukan secara obyektif.

Dalam kaitan pernyataan Alkitab mengenai Yesus dengan Yesus sendiri, menurut golongan ini bahwa firman Allah adalah Yesus; Firman yang telah menjadi daging, sedangkan Alkitab sendiri hanya merupakan “kesaksian”. Alkitab merupakan saksi mutlak (memberi kesaksian tentang) Yesus Kristus.[1] 

Ini jelas juga merupakan ajaran yang salah, karena kalau demikian, Firman Allah tidak memiliki otoritas untuk menghakimi manusia pada akhir jaman (bdk. Yoh 12:47-48, Roma 2:12), karena Alkitab sebagai Firman Allah hanya tergantung kepada perasaan manusia. Kalau manusia tidak merasa bahwa Allah menegur dosanya, maka manusia itu tidak akan pernah menerima teguran Allah lewat Alkitab.

3. Pandangan Ortodoks 

Dapat dikatakan bahwa pandangan Ortodoks memiliki pertentangan dengan Neo Ortodoks. Kalau Neo Ortodoks memandang Alkitab sebagai Firman Allah secara subjektif maka Ortodoks sebaliknya yaitu secara objektif. Jadi, apakah Alkitab itu diberitakan atau tidak, didengar oleh manusia atau tidak, dimengerti atau tidak, ditaati atau tidak, Alkitab tetap adalah Firman Allah. Dan pada waktu manusia mendengar pemberitaan Alkitab, apakah ia merasakan Allah menggunakannya untuk berbicara kepadanya atau tidak, Alkitab itu  tetap  adalah  Firman Allah. Inilah pandangan yang benar

 

Bukti-bukti bahwa Alkitab adalah Firman Allah

Untuk memperkuat pandangan bahwa Alkitab adalah firman Allah, maka bukti-bukti otentik yang dibutuhkan antara lain:

 1. Pengakuan yang berasal dari dalam Alkitab sendiri.

  • Adanya perkataan secara berulang-ulang: “Allah berfirman”, “Firman Allah” dan lain-lain. Mis: Yer 1:2,4,7.
  • Dalam Alkitab berulangkali dikatakan bahwa Allah menyuruh orang menuliskan Firman-Nya. (Kel 34:27,  Yer 30:1-2,  Wah 1:11,19).
  • Roma 3:1-2 secara jelas menyebutkan bahwa Alkitab (Perjanjian Lama) adalah Firman Allah (yang dipercayakan kepada orang Israel / Yahudi).
  • Kesaksian Kristus terhadap Perjanjian Lama menuntut Perjanjian Lama diterima sebagai ilham yang berasal dari Allah. (Mat. 5:17-20; Luk.16:17, Yoh. 10:34). Dengan tegas juga Ia berkata “ada tertulis”, tentu ini mengacu kepada Perjanjian Lama.

2. Bukti-bukti lain. 

  • Alkitab ditulis dalam jangka waktu 1500-1600 tahun, oleh kurang lebih 40 orang, yang hidup pada jaman yang berbeda, mempunyai latar belakang yang berbeda (ada yang petani, gembala, nabi, nelayan, raja, dsb),  banyak yang tidak kenal satu sama lain namun tulisan mereka harmonis. Dari lebih kurang 40 orang penulis, tulisan-tulisan yang dihasilkan dan dibukukan begitu harmonis, saling melengkapi, saling mendukung dan mengarah pada satu pernyataan utama yaitu Allah dan seluruh karya-Nya melalui Yesus Kristus. Semua ini hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri. Allah menguasai dan mengarahkan semua penulis untuk menulis kitab-kitab itu dan disatukan menjadi Alkitab melalui proses kanonisasi.
  • Bukti lain adalah bahwa Alkiab tidak pernah habis untuk dipelajari. Kalau kita mempelajari sebuah buku, maka walaupun buku itu sangat tebal namun suatu waktu akan habis juga dipelajari. Tetapi Alkitab sudah dipelajari oleh jutaan manusia selama ribuan tahun, dan tidak ada seorang pun yang bisa tamat belajar Alkitab. Orang yang banyak belajar Alkitab akan semakin banyak mengerti Alkitab, tetapi justru dengan semakin banyak mengerti Alkitab, makin banyak juga hal-hal baru yang muncul dari Alkitab itu sendiri yang belum dapat dimengerti. Itu artinya bahwa Alkitab memang tidak akan pernah bisa habis dipelajari sampai kapanpun.
  • Nubuat-nubuat di dalam Alkitab yang sudah banyak terjadi juga merupakan bukti bahwa Alkitab adalah Firman Allah (Maz 22:1,8,9,16,17,19  Yes 7:14  Mikha 5:1  Yes 53:3-7,9  Mat 24:2 dll).
  • Alkitab adalah buku yang paling kuno yang terus terpelihara. Meskipun banyak orang  Alkitab untuk menghancurkannya baik secara fisik dan theologies, tetapi Tuhan sanggup terus memelihara kemurnian maksudnya di dalam Alkitab. 

Tentang Inspirasi (Pengilhaman)

Dalam sebuah artikel yang berjudul “Inspirasi – The Inspiration of the Bible” dikatakan bahwa kata “inspirasi” berasal bahasa latin yang terdiri dari dua kata yaitu “in” dan “spiro” yang berarti menghembuskan ke dalam. Dalam bahasa Ibrani kata inspirasi adalah “Neshama” dan “Nismah” yang berarti nafas.[2] Dalam bahasa Yunani kata “diilhamkan” diterjemahkan dari kata theopneustos yang secara harfiah berarti dihembuskan oleh Allah seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 3:16 “…. segala tulisan yang diilhamkan Allah”.[3]

Maka ketika dikatakan bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah, itu berarti bahwa Allah mempengaruhi orang-orang yang menulis Alkitab dengan cara sedemikian rupa sehingga apa yang mereka tuliskan merupakan perwujudan dari maksud Allah. Inspirasi berarti proses dimana Allah campur-tangan terhadap para penulis Alkitab melalui pekerjaan Roh Kudus atas diri penulis, sehingga apa yang mereka tulis merupakan kata-kata asli mereka, tetapi sekaligus juga merupakan catatan yang akurat dari wahyu Allah yang tidak mengandung kesalahan (2 Petrus 1:20-21). Ilham dari Allah menjamin bahwa pemberitaan kebenaran yang telah dinyatakan pasti tidak salah.

Campur tangan Allah terhadap penulis tidak secara otomatis menghilangkan pikiran dan kepribadian mereka, justeru Allah menggunakan pikiran dan keunikan kepribadian mereka untuk menyatakan maksud-Nya. Hal ini terlihat jelas dalam perbedaan gaya penulisan dan pendekatan yang digunakan oleh penulis-penulis itu.

Melalui keunikan pribadi penulis tersebut, Allah dapat menyampaikan Firman-Nya sehingga wajar bila para intelektual dibuat kagum mempelajari isi Alkitab, bahkan dengan keunikan itu pula orang-orang biasa pun dapat membaca dan memahaminya apabila mempelajarinya dengan kesungguhan dan dalam persekutuan dengan Roh Allah.

Pengilhaman kepada penulis Alkitab baik PL dan PB adalah wujud penyataan Allah bagi semua manusia. Penyataan Allah kepada bangsa Israel melalui nabi-nabi, malaikat dan tanda-tanda adalah penyataan kepada ruang lingkup yang terbatas, karena itu Allah telah menginsipirasikan Alkitab untuk menjangkau lebih banyak bangsa-bangsa dan seluruh dunia.

Penyataan Allah bertujuan untuk memperkenalkan diri-Nya kepada manusia supaya manusia dapat mencapai tujuan penciptaan, yaitu mengenal, mengasihi dan menyembah Dia. (note. Tafsiran Alkitab Masa Kini 3, Hal. 21). Walaupun manusia tidak dapat mengenal Allah dengan sempurna, namun Allah menyatakan diri sebatas manusia perlu mengetahuinya untuk mencapai tujuan Allah atas mereka.

Kanonisasi

 

Istilah kanon berasal dari bahasa Semit. Padamulanya berarti alat pengukur, kemudian dalam arti kiasan berarti “peraturan”. Dalam perjalanan sejarah kekristenan, Alkitab telah disatukan dari berbagai-bagai kitab atau tulisan-tulisan dan menjadi norma yang berotoritas bagi iman dan kehidupan bergereja, melalui proses kanonisasi yang dilakukan oleh berpuluh-puluh ahli-ahli kitab dan melibatkan ahli-ahli bahasa yang dengan teliti memilah-milah kitab-kitab atau tulisan-tulisan yang dianggap suci dan merupakan wahyu Allah.

Paling tidak ada 3 acuan yang dipakai oleh para ahli-ahli kitab dan bahasa dalam mengkanonisasikan kitab-kitab dan tulisan-tulisan menjadi Alkitab yaitu :

  1. Kitab tersebut ditulis atau disahkan oleh para nabi/rasul.
  2. Kitab tersebut diakui otoritasnya di kalangan gereja mula-mula
  3. Kitab tersebut mengajarkan hal yang selaras dengan kitab-kitab lainnya yang jelas termasuk dalam kanon.

Pembagian Kitab dalam PL sesuai kanon.

Berikut ini adalah pembagian kitab dalam kanon Perjanjian Lama.

Taurat

Terdiri dari 5 kitab: Kejadian, Keluaran, Bilangan, Imamat, Ulangan. Disebut juga Kitab Pentateuch (artinya lima volume). Penulisnya adalah Musa. Kitab Kejadian membicarakan permulaan dari segala sesuatu. Keempat kitab yang lain membicarakan hal permulaan bangsa Israel, sebuah bangsa yang dipilih Allah untuk menyatakan karya keselamatan-Nya bagi seluruh dunia.

Sejarah

Terdiri dari 12 kitab: Yosua, Hakim-hakim, Ruth, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, dan Ester. Kitab ini membicarakan tentang perjalanan bangsa Israel dan jatuh bangunnya mereka selama kurun waktu sekitar 1000 tahun.

Nyanyian

Terdiri dari 5 kitab: Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung. Mereka disebut kitab nyanyian/puisi karena bentuk tulisannya memang demikian. Ciri khusus kitab puisi Ibrani adalah ‘sense rhythm‘ atau pengulangan gagasan.

Nubuatan

Terdiri dari 5 kitab nabi besar: Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel dan Daniel dan 12 kitab nabi kecil: Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakaria dan Maleakhi.

Pembagian Kitab dalam PB Sesuai Kanon.

Sama halnya dengan kanonisasi Perjanjian Lama, Perjanjian Baru juga memiliki beberapa pembagian.

Injil

Terdiri dari empat kitab: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Mencatat tentang kehidupan dan pelayanan Yesus selama di dunia. Matius menekankan Yesus sebagai raja, Markus menekankan Yesus sebagai hamba, Lukas menekankan Yesus sebagai manusia, Yohanes menekankan Yesus sebagai Anak Allah. Meskipun keempat penulis mempunyai penekanan yang berbeda-beda, tetapi tulisan-tulisan mereka satu dengan yang lain tetap harmonis.

Sejarah

Dalam PB hanya ada satu kitab yang merupakan kitab sejarah, yaitu Kitab Kisah Para Rasul. Kitab ini mencatat perkembangan misi Kristus yang dikerjakan oleh rasul-rasul. Penganiayaan, pertobatan dan pelayanan Paulus sangat dominan diceritakan dalam kitab ini.

Surat-surat

Terdiri dari 14 surat Paulus: Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon, dan kemungkinan Ibrani, dan 7 surat bukan dari Paulus : Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, dan Yudas.

Kitab Apokaliptik

Terdiri satu kitab, yaitu Wahyu. Kitab ini merupakan kitab terklimaks dalam Alkitab, memberi kita gambaran mengenai masa yang akan datang dan penggenapan sejarah pada saat kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai Hakim yang Agung.

 

Kritik Terhadap Alkitab

Kritik Alkitab (Biblical Criticism) dapat dibagi menjadi dua bagian; yaitu Kritik Tinggi (Higher Criticism) dan Kritik Rendah (Lower Criticism).  Kritik Rendah  sering diidentikkan dengan Kritik Teks (Textual Criticism) dan membahas unsur-unsur sejarah, dan tata bahasa (gramatikal).

Kritik Rendah tidak didasari atas keraguan terhadap Alkitab dan penyangkalan sebagai Firman Allah melainkan bertujuan untuk lebih mendapatkan makna atau pengertian yang sebenarnya atau paling tidak pengertian yang lebih dekat dengan maksud dan tujuan penulisan.

Higher Criticism (Kritik Tinggi), menurut Wisma Pandia, Th.M, adalah merupakan studi dari yang terdiri dari penerapan pendapat yang berkaitan dengan teks atau naskah berdasarkan apa yang bisa dilihat dari sejarah, bentuk naskah, pokok bahasan dan argumen dari kitab-kitab lain; cirri dan kaitannya drengan teks,; hubungan antar perikop, situasi-situasi yang diketahu penulis dan hal-hal yang berkaitan dengan pribadi penulis yang ikut andil.[4]

Kritik Tinggi merupakan pendekatan harmonis atas Alkitab sama seperti pendekatan kepada buku-buku kuno lainnya. Penerapan konsep rasionalisme yang dipegang kuat oleh para kritikus menjadikan supranaturalis hampir tidak mendapat tempat. Keraguan terhadap hal-hal yang supranatural di dalam Alkitab terutama hal-hal mujizat sangat dipengaruhi pemikiran yang rasionalis.  Menurut para kritikus tinggi bahwa segala sesuatu harus dapat diselaraskan dengan hal-hal yang alamiah.

Melihat kepada latar belakang Kritik Tinggi, dapat dikatakan bahwa masalah yang terjadi pada pengkritik ini adalah bahwa mereka tidak percaya bahwa Allah sendirilah sebagai pemilik Alkitab, sehingga menolak hal-hal yang bersifat supranatural yang terdapat di dalam Alkitab. Pemikiran ini didasari oleh asumsi yang menekankan rasio diatas segala-galanya.

 

Kesimpulan

Hal yang sangat penting dalam kekristenan adalah menerima Alkitab sebagai Firman Allah yang diilhamkan oleh Allah sendiri. Meskipun manusia yang menulis, tetapi para penulis tidak lepas dari kontrol Allah.

Pandangan-pandangan yang berseberangan yang meragukan Alkitab sebagai Firman Allah atau yang menerima Alkitab berisi Firman Allah atau yang mengatakan bahwa Alkitab hanya menjadi Firman Allah ketika disampaikan kepada jemaat adalah pandangan yang salah. Bukti-bukti dari dalam yaitu Alkitab sendiri dan bukti-bukti dari luar adalah otentik menyatakan bahwa Alkitab adalah Firman Allah.

Proses kanonisasi pun tidak luput dari control Allah, sehingga menghasilkan kitab-kitab yang benar-benar merupakan wujud dari pernyataan Allah bagi manusia. Pernyataan Allah adalah sangat penting bagi manusia agar menusia mengerti dan dapat mencapai tujuan penciptaan, yaitu mengenal, mengasihi dan menyembah Dia.

Kritik terhadap Alkitab yang bertujuan untuk mendapatkan maksud yang sama atau paling tidak sangat mendekati dengan maksud penulisan adalah penting dan sangat membangun (Lower Criticism), sedangkan hasil pemikiran dari Kritik Tinggi (Higher Criticism) harus ditolak karena mereka membangun pandangan terhadap Alkitab atas dasar rasio dan mengesampingkan hal-hal yang supranatural. Alkitab sungguh tidak memiliki kesalahan.

L.Hutabalian

[1] James Barr, Alkitab di Dunia Modern, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989), 30

[2] Artikel dari Internet berjudul “Inspirasi  – The Inspiration of the Bible

[3] Yayasasan Komunikasih Bina Kasih, Tafsiran Alkitab Masa Kini 3, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), 27

[4] Sumber Interner “Kritik Tinggi Terhadap Alkitab” oleh Wisma Pandia, Th.M.

Pentingnya Ber-oikumene bagi Gereja

PENGERTIAN OIKUMENE

            Oikumene umumnya dipahami secara terbatas yaitu sebagai suatu istilah yang dipakai untuk perkumpulan lintas denominasi berupa kegiatan-kegiatan atau ibadah bersama, tanpa menekankan tata cara peribadatan atau liturgi dan doktrin gereja tertentu. Kata Oikumene sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti “rumah” dan Monos yang berarti ‘satu”.  Yang dimaksud “rumah” adalah dunia ini, sehingga kata oikumene berarti dunia yang didiami oleh seluruh umat manusia.[1]

            Manusia yang berada di dalam dunia yang sama, memiliki latar belakang budaya dan agama yang berbeda-beda (majemuk), karena itu oikumene menjadi dasar pendekatan bagi hubungan persekutuan dalam kemajemukan tersebut.  Disini budaya dan agama tertentu tidak lebih menonjol dan lebih utama, tetapi kemajemukan itu secara bersama-sama memberi tempat bahkan mengupayakan apa yang menjadi kepentingan bersama/umum.

            Dalam kekristenan, oikumene dapat dimaknai sebagai upaya untuk mempersatukan orang-orang Kristen lintas denominasi di dalam satu kesatuan tubuh Kristus untuk secara bersama-sama melaksanakan misi Tuhan bagi dunia.

 

 

DASAR DAN TUJUAN GERAKAN OIKUMENE DI INDONESIA

            Gerakan oikumene di Indonesia berawal dari pembentukan Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI) pada tanggal 25 Mei 1950 di Jakarta dalam Konperensi Pembentukan DGI tanggal 22-28 Mei 1950 di Jakarta. DGI kemudian berganti nama menjadi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sejak Sidang Raya DGI di Ambon (1984) dengan pertimbangan bahwa “persekutuan” lebih mencerminkan kesatuan lahir batin, lebih mendalam, lebih gerejawi daripada nama “dewan”. Pembentukan organisasi ini bertujuan untuk mewujudkan gereja kristen yang esa di Indonesia.[2]

Signifikansi gerakan oikumene di Indonesia adalah karena melihat keadaan gereja-gereja yang sering diwarnai perkelahian dan perpecahan. Harus diakui bahwa persoalan perbedaan pandangan teologis dan ambisi memiliki andil dalam perpecahan tersebut. Munculnya banyak denominasi di dunia dan terus ke Indonesia justeru mengkotak-kotakkan umat-umat Tuhan. Dan tidak jarang satu denominasi merasa lebih benar, lebih baik dan layak dibandingkan yang lain. Karena itu perlu dicarikan solusi dari keadaan ini melalui gerakan oikumene dengan melihat kepentingan terbesar dari semua kepentingan denominasi yaitu misi Tuhan di emban dengan penuh tanggung jawab oleh gereja-gereja.  Dengan gerakan oikumene diharapkan terjalin komunikasi dan interaksi diantara umat-umat Tuhan dan denominasi-denominasi dapat meninggalkan sikap isolasinya. Demikianlah cita-cita oikumene dalam kekristenan diharapkan, bahwa denominasi-denominasi secara bersama-sama membangun persekutuan yang kuat dalam satu kesatuan sebagai tubuh Kristus tanpa menonjolkan dogma/doktrin masing-masing

Doa Tuhan Yesus yang ditulis oleh Yohanes di Yoh.17:21 “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”, menjadi dasar alkitab beroikumenenya gereja. Yesus merindukan supaya orang-orang Kristen sebagai tubuh Kristus bersatu menjadi saksi-saksi Kristus.

Dalam perkembangannya gerakan oikumene di Indonesia juga semakin berkembang. Setelah PGI, kemudian lahirlah organisasi-organisasi lokal yang oikumenis antara lain :

  1. Sinode Am Gereja-gereja Sulawesi Utara/Tengah (SAG SULUTTENG).
  2. POUK (Persekutuan Oikumene Umat Kristen) di tempat-tempat seperti pemukiman, perusahaan dll di mana umat Kristen dari berbagai gereja bertemu. POUK ini bukan gereja karena itu anggota POUK tetap menjadi anggota gereja masing-masing.
  3. BK3 (Badan Kerjasama Kegiatan Kristen).
  4. BKSAG (Badan Kerjasama Antar Gereja).
  5. Forum Komunikasi Antar Gereja. Forum tidak melembaga, hanya merupakan pertemuan untuk membahas masalah-masalah atau maksud-maksud lain. Wadah-wadah ini tumbuh dari prakarsa gereja-gereja setempat. Anggotanya tidak terbatas pada gereja-gereja anggota PGI

 

TANTANGAN OIKUMENE

Setidaknya ada 3 masalah utama yang menghambat usaha-usaha penyatuan gereja dan upaya oikumene yaitu:

  1. Masalah baptisan. Ada gereja-gereja yang menyetujui baptisan anak dan ada yang menolaknya.
  2. Masalah perjamuan kudus. Menurut Roma Katolik dan Gereja Ortodoks, dalam Perjamuan Kudus terjadi transubstansiasi. Artinya, roti dan anggur berubah menjadi daging dan darah Yesus. Gereja-gereja Protestan menganggap bahwa roti dan anggur itu merupakan lambang dari tubuh dan darah Yesus.
  3. Masalah jabatan. Gereja RK, Ortodoks dan Anglikan berpendapat bahwa uskup sebagai pejabat gereja adalah pengganti rasul Petrus. Gereja-gereja Protestan berpendapat bahwa rasul tidak diganti.

Seringkali hal-hal ini menjadi perdebatan antara gereja-gereja yang tidak sepaham. Anggapan yang lain tidak alkitabiah dalam pengajaran atau doktrin menjadi penghalang utama terjadinya oikumene.

 

KEESAAN GEREJA

            Sebagaimana disebutkan bahwa tujuan pendirian DGI/PGI adalah mewujudkan gereja Kristen yang esa di Indonesia. Pada awalnya digumulkan suatu kemungkinan gereja-gereja di Indonesia menjadi satu gereja nasional dengan nama “Sinode Oikumene Gereja-gereja di Indonesia”, disingkat SINOGI. Pendekatan untuk mewujudkan SINOGI ini ialah dengan menyatukan pengakuan iman dan tata gereja. Ternyata gagasan ini ditolak dalam sidang raya di Makassar tahun 1967.

Pada sidang raya PGI pada tahun 1971 di Pematang Siantar pendekatan keesaan gereja itu ditekankan pada soal fungsi gereja. Sidang tiba pada suatu kesimpulan yaitu “keesaan dalam kepelbagaian”. Kepelbagaian gereja-gereja diakui tetapi dengan satu ikatan yaitu melalui PGI. Gereja-gereja melaksanakan tugas panggilannya masing-masing.

Menurut Suara GKYE Peduli Bangsa 2002, Hal 5-29, yang dikutip oleh Pdt. Bahtera untuk diktat mata kuliah oikumene STT BASOM, Keesaan gereja bermakna:

  1. Keesaan gereja itu berlawanan dengan perpecahan (keterpisahan) dan keseragaman. Didalam keesaan gereja terkandung: keutuhan, sinergi dan kemajemukan atau pluralitas. Ketiga aspek ini berinteraksi secara dinamis dan berkelanjutan.
  2. Dasar keesaan gereja adalah Tuhan Yesus Kristus yang mengasihi secara sempurna yaitu Dia menjadi manusia sampai mati disalib. Dengan kasih-Nya memerintah melalui Roh-Nya di dalam hati setiap orang percaya, setiap gereja.
  3. Keesaan gereja yang majemuk dan sinergi, mempunyai potensi menjadi berkat secara efektif bagi masyarakat di dunia yang memerlukannya. Keesaan gereja adalah jawaban iman terhadap doa Tuhan Yesus dan jawaban akan panggilan gereja menjadi berkat bagi bangsa Indonesia.

Gereja bukanlah gereja yang sempurna dalam arti sempurna dalam segala aspek. Setiap gereja mempunyai keunikan, kekuatan dan keterbatasan masing-masing. Oleh karena itu dibutuhkan keterbukaan berkomunikasi, saling menghargai dan kerja sama, maka akan terjadi kesatuan dalam hal fungsi.

Tidak mungkin orang kristen bisa berperan aktif dalam memikirkan solusi-solusi permasalahan-permasalahan yang ada di tengah-tengah gereja dan bangsa, apalagi  memikirkan langkah-langkah kongkrit bagi kemajuan gereja dan bangsa apabila gereja sendiri tidak bisa hidup harmonis, rukun dan terbuka. Karena itu keesaan dalam fungsi yang berpijak pada dasar dan tujuan yang sama yaitu Yesus Kristus adalah mutlak.

OIKUMENE GEREJA BAGI PERSATUAN NKRI

Jika ditelusuri sejarah kebangsaan Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa negara Republik Indonesia ini terbentuk melalui perjuangan seluruh komponen bangsa. Baik sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan RI maupun pada masa sekarang ini, keterlibatan umat kristen dalam perjuangan dan pembangunan nasional selalu di inspirasikan dan dimotivasi semangat kekristenan yang okumenis dan Injili serta rasa memiliki dan semangat perjuangan sebagai bagian dari bangsa.

Yeremia 29:7 ”Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”.  Nats ini mengindikasikan bahwa umat Tuhan tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan dan masyarakat dimana dia berada.  Meskipun kondisi umat Tuhan sedang dalam pembuangan di Babilonia, dimana mereka berada dalam tekanan dan penderitaan, tapi mereka diperintahkan Tuhan untuk mengusahakan kesejahteraan kota itu. Tentu perintah ini mempunyai alasan karena mereka sendiri hidup di kota itu. Kesejateraan yang tercipta di kota dimana mereka berada akan merimbas kepada mereka.

Orang kristen di Indonesia bukan saja hanya tinggal di Indonesia tetapi juga merupakan bagian dan pemilik negeri ini. Karena itu orang kristen mutlak harus memikirkan kesejahteraan negeri ini. Mengusahakan kesejahteraan Indonesia merupakan tanggung jawab orang kristen baik sebagai warga negara terlebih sebagai utusan Tuhan.

Memang sekarang ini tantangan bagi umat Tuhan semakin berat karena maraknya persoalan yang mencabik-cabik rasa persatuan dan kesatuan ditengah anak bangsa. Penghargaan terhadap perbedaan/pluralisme budaya, suku terlebih agama seakan tidak lagi mendapat tempat dihati kebanyakan orang. Istilah minoritas dan mayoritas yang diwariskan orde baru untuk pemuluk agama di Indonesia secara tidak langsung telah juga mengkotak-kotakkan warga negara. Merasa lebih berhak karena lebih mayoritas bagi pemeluk salah satu agama di Indonesia berimplikasi pada tindakan dan keputusan-keputusan yang merendahkan hak-hak setiap warga negara.  Keputusan demokratis atas dasar jumlah suara terbanyak di dalam masyarakat, lembaga-lembaga negara, legislatif akhirnya lebih memihak pada kepentingan mayoritas. Maka muncullah berbagai perundangan yang tidak mencerminkan semangat kebersamaan.

            Kondisi ini diperparah dengan sikap pemerintah yang tampaknya kurang tegas dalam menyikapinya. Berbagai kasus anti pluralisme berupa pelanggaran hak, kekerasan dan konflik yang timbul tidak ada penyelesaian yang memadai. Dalam pandangan Pdt.Dr.W.J. Hendriks,[3] bahwa sampai sekarang belum melihat adanya pemimpin yang punya integritas nasional, malah kecenderungan pemimpin sekarang memanfaatkan situasi untuk mengokohkan kedudukan dan kepentingannya.  Padahal bangsa Indonesia yang majemuk ini memerlukan seorang pemimpin yang mempunyai integritas nasional yang tinggi dan mencintai rakyatnya sehingga kebijakan-kebijakannya bermuara kepada kepentingan rakyat bukan kepentingan kelompok tertentu saja. Adanya semangat identitas keagamaan yang berlebihan pada kelompok masyarakat tertentu dengan kecenderungan mengenyahkan pihak lain yang berbeda pandangan dan tafsir agama juga memperparah keadaan.

            Ditengah kondisi-kondisi Indonesia yang semakin retak akibat lunturnya rasa kebangsaan dan penghargaan pluralisme yang semakin kandas, apa yang harus dilakukan oleh gereja untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan NKRI? Ini menjadi pertanyaan penting yang mau tidak mau harus dijawab oleh umat Tuhan, sehubungan tanggung jawabnya sebagai warga negara dan sebagai pengemban misi Tuhan seperti yang dimaksudkan pada Yohanes 17:21 yaitu ”bersatu menjadi saksi” dan Yeremia 29:7 ”mengusahakan kesehteraan kota”.

Dalam kaitan gerakan oikumene dalam dinamika pluralisme agama di negara republik Indonesia, menurut Elga J. Sarapung[4] bahwa gereja memiliki 2 tugas panggilan:

  1. Gereja dipanggil untuk mengembangkan hubungan positif, kreatif, realistis dan trasnformatif dengan pemerintah dan semua pihak di masyarakat.
  2. Gereja dipanggil untuk mengambil bagian dalam mewujudkan perdamaian, keadilan (bagi seluruh rakyat dan tanah tumpah darah Indonesia) dan keutuhan ciptaan di Indonesia.

Menurutnya bahwa permasalahan yang terjadi di negeri ini tidak semata-mata kesalahan dari pemerintah tatapi juga karena gereja belum mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan maksimal.

Gereja dalam hal ini tidak boleh tinggal diam. Gereja baik secara sendiri-sendiri dan bersama-sama (oikumene) perlu terus menyuarakan dan mengingatkan bahwa keadaan yang ada sekarang ini merupakan ancaman yang serius terhadap NKRI di masa depan. Gereja perlu berupaya agar usaha-usaha penggantian ideologi Pancasila menjadi ideologi yang lain tidak menjadi kenyataan, karena ideologi Pancasila sudah final yang mampu menjadi perekat bagi bangsa Indonesia yang majemuk. Pancasila lahir dari wawasan kebangsaan dan kebersamaan yang kuat.

Pdt. Fince Sopamena Latumahina, Ketua GKSS  dalam artikelnya[5] mengatakan bahwa gereja harus berjuang besatupadu dengan semua orang yang berjuang untuk mempertahankan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara. Gereja berjuang bersama dengan mereka yang memiliki keprihatinan yang sama terhadap nasib NKRI.

Eksistensi gereja sebagai terang dan garam harus lebih nyata bagi Indonesia dan dunia. Eklusifisme harus dikikis dari kehidupan gereja. Gereja yang hidup adalah gereja yang dinamis, gereja yang menjadi berkat bagi sekelilingnya. Selama ini peran gereja sebagai terang sepertinya semakin melemah.  Mungkin ini disebabkan karena gereja sudah lebih banyak melayani diri sendiri, pelayanan yang bersifat internal saja, dan puas dengan ritual-ritual keagamaan.

Gereja sebagai elemen bangsa tidak boleh tinggal diam dengan semua permasalahan yang ada. Persoalan politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain haruslah disikapi dengan bijak dan dicarikan solusinya. Gereja perlu aktif berperan dalam melakukan transformasi menuju Indonesia yang lebih baik ke depan.

Dalam hal kemiskinan misalnya, gereja harus berperan. Pdt Dr A.A Yewangoe menyatakan harapannya agar gereja juga peka dan ikut serta mengatasi problematika kehidupan berbangsa, khususnya menyangkut masalah kemiskinan, karena gereja juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia.  “Kemiskinan bukanlah sebuah sebab, tetapi lebih kepada akibat ketidakadilan dan korupsi. Gereja tidak dapat bekerja sendiri dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan,” tegasnya.[6]

Gereja harus semakin menyatu dengan keadaan dalam arti dapat melihat dan merasakan persoalan bangsa, dan berperan nyata terhadap persoalan yang ada ditengah-tengah masyarakat. Gereja dipanggil bukan semata-mata mengurus dirinya sendiri tetapi melayani sesama tanpa pandang bulu.

Jemaat-jemaat gereja harus di dorong dan diajar untuk perduli terhadap orang-orang miskin.  Jemaat bisa diberdayakan dengan saling membantu untuk memperhatikan keadaan ekonomi anggota-anggota jemaat dan masyarakat. Salah satu upaya kecil yang mungkin dilakukan adalah dengan memberi pelatihan untuk membuat kerajianan tangan, bercocok tanam, melatih memanfaatkan lahan sempit, dll.

Dalam mengatasi masalah kemiskinan yang kompleks,  gereja juga perlu bekerja sama dengan umat agama lainnya dan dengan rendah hati bersama tanpa membedakan suku, agama dan ras.

Jadi, melihat realitas yang ada, harapan yang dimiliki, tugas panggilan Allah bagi gereja untuk bangsa dan dunia, maka umat Tuhan perlu terus beroikumene, bekerja sama menyuarakan suara kenabian bagi bangsa Indonesia, memikirkan dan mengupayakan terjadinya persatuan dan kesatuan, keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat dalam NKRI.


[1] Makalah Mata Kuliah Oikumene STT BASOM oleh Pdt. Bahtera.

[2] Artikel di Internet berjudul “Gerekan Oikumene Nasional dan Lokal”.

[3] Berita Oikumene, Edisi Januari 2009, Hal 13.

[4] Berita Oikumene, Edisi Januari 2009, Hal. 8.

[5] Berita Oikumene, Edisi Januari 2009, Hal. 15.

G E R E J A R U M A H

PENDAHULUAN

Menurut Kis. 1:8, setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Kristus bagi manusia, sedangkan dalam Matius 28:19, Tuhan Yesus mengamanatkan kepada orang Kristen – yang dimulai dari ke 12 rasul – untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid Kristus. Berdasarkan ini, gereja meresponi dengan melaksanakan penginjilan, baik itu Penginjilan Massa (KKR), Penginjilan Pribadi maupun Penginjilan Kelompok (Kelompok/Gereja Sel, Kelompok Tumbuh Bersama, Gereja rumah)

Mengapa Injil penting disampaikan? Karena Injil adalah kehendak Allah bagi keselamatan umat manusia. Injil, yang dalam bahasa Yunani : Euangelion, yang mengacu pada suatu pengertian yaitu kabar baik bahwa Allah di dalam Yesus Kristus telah memenuhi janji-janjiNya kepada Israel dan bahwa suatu jalan keselamatan telah dibuka bagi semua orang yang berdosa[1]. Roma 3:23 berkata:“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.“  Dan Roma 6:23 berkata:“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.“

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam ibadah skala besar, sangat sulit untuk bisa saling mengenal dan saling memperdulikan secara pribadi. Pelayanan pribadi jadi sering terabaikan. Pada kasus lain yaitu para petobat-petobat baru juga membutuhkan bimbingan yang intensive untuk lebih mengerti Allah dan firman-Nya. Karena itu gereja rumah menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keadaan ini.

 

DEFINISI, DASAR DAN TUJUAN GEREJA RUMAH

Wikipedia memuat definisi dari gereja rumah yaitu sebuah istilah tidak resmi untuk suatu kelompok kaum Kristen yang berkumpul atau bersekutu bersama-sama baik reguler maupun spontan di sebuah rumah atau tempat atau lapangan yang biasanya bukan untuk tempat ibadah resmi. Dalam bahasa Inggris istilah ini adalah House Church atau Home Church.[2]

Ada beberapa alasan muncul dan berkembangnya Gereja rumah yaitu belum atau tidak adanya gedung gereja, adanya tekanan karena tidak ada pengakuan dari pemerintah – seperti yang terjadi di Cina -, Adanya anggapan bahwa Gereja rumah jauh lebih efisien dan efektif untuk saling melayani dan menjangkau jiwa dan pembinaan petobat baru, juga  adanya anggapan bahwa gereja rumah itu lebih alkitabiah dan mencerminkan kekristenan jaman para rasul.

Dasar pembentukan gereja rumah adalah Matius 18:19 & 20 “Dan lagi Aku berkata kepadamu: jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di sorga. Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, disitu Aku ada ditengah-tengah mereka.” Jemaat mula-mula termasuk gereja rumah karena mereka tidak memiliki tempat ibadah khusus seperti gedung gereja, sedangkan di sinagoge jelas mereka tidak diterima karena mereka dianggap orang-orang yang sesat.

Keluarga Adam adalah gereja rumah pertama. Kelurga Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf dan banyak tokoh lainnya adalah juga termasuk gereja rumah dalam Perjanjian Lama. Melihat kepada kisah kehidupan mereka, dan pernyataan Alkitab bahwa mereka hidup bergaul dengan Tuhan, itu artinya ada persekutuan antara keluarga-keluarga ini dengan Tuhan.

Ada beberapa tujuan diadakannya gereja rumah menurut “Simple Church“[3]:

  1. 1.      Saling Memperhatikan.

Seperti yang disampaikan diatas bahwa ibadah yang berskala besar sulit untuk saling mengenal ataupun saling memperdulikan antara satu dengan yang lain. Dengan gereja rumah yang skalanya kecil interaksi kesatuan dan kesehatian yang tulus lebih bisa dirasakan antara sesama anggota. Hal ini akan menunjang pertumbuhan rohani setiap anggota dan bisa saling menguatkan.

  1. 2.      Penjangkauan Keluar (Pkh. 4:9-12; Mat. 28:18-20)

Pertumbuhan rohani yang sehat di gereja rumah, mendorong tiap individu untuk terlibat dalam pelebaran Kerajaan Allah. Kasih Kristus yang meraka rasakan di dalam Gereja rumah menjadi dorongan yang kuat menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan.

  1. 3.      Mengembangkan Karunia Rohani (Ef. 1:13-14, Kis. 2:38, 1 Kor. 12:4-11)

Dalam gereja rumah, setiap anggota lebih dapat saling memperhatikan, mendoakan dan mendorong dalam pertumbuhan hingga seorang jemaat yang dimuridkan dalam gereja rumah dapat mengembangkan karunia rohani yang ada padanya.

  1. 4.      Mempersiapkan gereja di masa sulit (Di dalam tiap kondisi).

Gereja rumah bukan hanya menyiapkan seorang Kristen kuat dan bertumbuh namun mempersiapkan jemaat bertahan di masa sulit sebab ibadah tidak bergantung pada sebuah gedung, sebab dapat bertemu di mana saja, “dua atau tiga orang berkumpul di situ Aku hadir”. Kekristenan merupakan gaya hidup dan ibadah dapat dilaksanakan dimana saja sebab Allah Maha Hadir dan Ia sangat mendambakan hubungan yang intim bukannya ritual agamawi yang membosankan (Kis 7:47-50, Mat 18:20).

 

BEBERAPA KELEBIHAN

Menurut Wolfgang Simson, dalam bukunya “Gereja rumah Yang Mengubah Dunia“[4] ada 12 kelebihan pergerakan gereja rumah dengan dasar sel bila dibandingkan dengan gereja tradisional kongregasional, beberapa diantara adalah:

  1. 1.      Multiplikasi dan Pemuridan.

Pembinaan, multiplikasi dan pemuridan adalah inti dari konsep ini. Orang-orang yang telah ditebus saling bertanggung jawab satu sama lain, dengan begitu mereka cepat dewasa dan kuat untuk memultiplikasi.

  1. 2.      Struktur yang Tahan Aniaya.

Melalui cara hidup yang sederhana dan fleksibel, rasa persaudaraan dan saling memiliki yang kuat, akan cenderung membuat mereka tahan aniaya.

  1. 3.      Bebas dari Penghalang Pertumbuhan Gereja.

Ketika anggota sudah semakin banyak, maka gereja rumah akan bermultiplikasi, suatu proses reproduksi sel, dan pertumbuhan pergerakan tidak menjadi penghalang pertumbuhan gereja.

  1. 4.      Semakin Banyak yang Terlibat, semakin Efisien.

Dalam gereja kongregasional biasanya hanya melibatkan 20% dari jumlah anggota yang ada untuk terlibat dalam pelayanan. Dalam gereja rumah, hampir setiap orang dengan mudah dan secara alami akan terlibat. Karena mereka yang terlibat merasa bahagia dan dipuaskan, sehingga kualitas dan efisiensi gereja secara keseluruhan terus bertumbuh.

  1. 5.      Menghancurkan Dilema Pelayanan Pastoral

Dalam gereja kongregasional, seiring dengan pertumbahan jumlah anggota, kwalitas pelayanan pastoral biasanya akan menurun karena gembala sidang tidak sanggup lagi melayani seluruh jemaat dengan baik.  Gereja rumah dapat mengatasi dilema ini.

PENUTUP.

            Harus diakui bahwa gereja rumah memiliki kelebihan-kelebihan yang patut diperhitungkan dibandingkan gereja kongregasional umumnya, walaupun tidak tertutup juga memiliki kelemahan theologis karena struktur pengurus yang fleksible. Tetapi menurut penulis perlu memikirkan pola pengkombinasian antara gereja kongregasional dan gereja rumah sehingga menghasilkan pelayanan yang lebih baik.


[1] Penginjilan – Artikle Lomser Hutabalian (www.hutabalian72.wordpress.com)

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_rumah

[3] http://gerejaperjanjianbaru.blogspot.com/2008/01/gereja-rumah.html

[4] Disarikan menjadi artikle berjudul “Kelebihan Gereja Rumah Dibandingkan dengan Gereja Tradisional” sumber : www.kristenonline.com/download/book/komsel.doc

BIDANG-BIDANG TEOLOGI

1. TEOLOGI BIBLIKA.

          – Pengantar PL dan PB

          – Teologi PL dan PB

          – Hermeneutik

          – Ibrani dan Yunani

          – Tafsir PL dan PB

 2. TEOLOGI SISTEMATIKA/DOGMATIKA

          – Prolegomera dan Bibliologi

          – Propper (Doktrin ttg Allah), Pneumatologi (RK), Angelogi dan Setan-setan

          – Man and Sin

          – Kristologi dan Seteorologi.

          – Eklesiologi (Doktrin tentang gereja) dan Bidat-bidat.

          – Eskatologi (Akhir Zaman)

 3. TEOLOGI HISTORIKA

          – Sejarah Gereja Umum/Indonesia

          – Dll yang berbau sejarah.

4. TEOLOGI PRAKTIKA

          – Homiletika (Kotbah)

          – Etika

          – Pendidikan Agama Kristen

          – Pastoral/Konseling.

 5. TEOLOGI PHYLOSOPHICAL

          – Apologetika

          – Filsafat Modern/Kontemporer/Kristen

PERANAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR.

Psikologi dan Pendidikan.

Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata psyche berarti ”jiwa”, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Namun apabila mengacu pada salah satu syarat ilmu yaitu adanya objek yang dipelajari maka tidaklah tepat mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa karena jiwa bersifat abstrak.  Oleh karena itu yang sangat mungkin dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yaitu dalam wujud perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan dasar ini maka psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Menurut Whiterington (1982:10) bahwa pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar.[1] Itu artinya bahwa tindakan-tindakan belajar yang berlangsung secara terus menerus akan menghasilkan pertumbuhan pengetahuan dan perilaku sesuai dengan tingkatan pembelajaran yang dilalui oleh individu sendiri melalui proses belajar-mengajar. Karena itu untuk mencapai hasil yang diharapkan, metode dan pendekatan yang benar dalam proses pendidikan sangat diperlukan.

Kalau kita berbicara tentang individu yaitu manusia, maka kita akan bertemu dengan beberapa keunikan perilaku/jiwa (psyche), dan faktor ini akan berhubungan erat bahkan menentukan dalam keberhasilan proses belajar. Didasari pada begitu eratnya antara tugas psikologi (jiwa) dan ilmu pendidikan, kemudian lahirlah suatu subdisiplin yaitu psikologi pendidikan (educational psychology).

Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari dua definisi ini maka jelas fokus dari psikologi pendidikan adalah proses belajar mengajar.

Peran Psikologi Pendidikan Dalam Proses Belajar-Mengajar

Dalam bukunya, Drs. Alex Subor, M,si.[2] mendefinisikan bahwa Psikologi Pendidikan adalah subdisiplin psikologi yang mempelajari tingkah laku individu dalam situasi pendidikan, yang meliputi pula pengertian tentang proses belajar dan mengajar.

Secara garis besar, umumnya batasan pokok bahasan psikologi pendidikan dibatasi atas tiga macam[3]:

  1. Mengenai belajar, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip dan ciri khas perilaku belajar peserta didik dan sebagainya.
  2. Mengenai proses belajar, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik dan sebagianya.
  3. Mengenai situasi belajar, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun non fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik.

Sementara menurut Samuel Smith, setidaknya ada 16 topik yang perlu dibahas dalam psikologi pendidikan, yaitu :

  1. Pengetahuan tentang psikologi pendidikan (The science of educational psychology)
  2. Hereditas atau karakteristik pembawaan sejak lahir (heredity)
  3. Lingkungan yang bersifat fisik (physical structure).
  4. Perkembangan siswa (growth).
  5. Proses-proses tingkah laku (behavior proses).
  6. Hakikat dan ruang lingkup belajar (nature and scope of learning).
  7. Faktor-faktor yang memperngaruhi belajar (factors that condition learning)
  8. Hukum-hukum dan teori-teori belajar (laws and theories of learning).
  9. Pengukuran, yakni prinsip-prinsip  dasar dan batasan-batasan pengukuran/ evaluasi. (measurement: basic principles and definitions).

10. Tranfer belajar, meliputi mata pelajaran (transfer of learning subject matters)

11. Sudut-sudut pandang praktis mengenai pengukuran (practical aspects of measurement).

12. Ilmu statistic dasar (element of statistics).

13. Kesehatan rohani (mental hygiene).

14. Pendidikan membentuk watak (character education).

15. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah menengah. (Psychology of secondary school subjects).

16. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah dasar (psychology of elementary school).

Dalam proses belajar-mengajar dapat dikatakan bahwa ini inti permasalahan psikiologis terletak pada anak didik. Bukan berarti mengabaikan persoalan psikologi seorang pendidik, namun dalam hal seseorang telah menjadi seorang pendidik maka ia telah melalui proses pendidikan dan kematangan psikologis sebagai suatu kebutuhan dalam mengajar. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”

Guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik bagi peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.

Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :

1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat.

Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.

2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.

Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.

3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.

Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.

4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.

Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.

5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif.

Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.

6. Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.

Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.

7. Menilai hasil pembelajaran yang adil.

Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.

Penutup.

Sebagi objek sasaran dalam proses belajar mengajar adalah anak didik sebagai manusia individu yang memiliki perilaku, karakteristik dan kemampuan yang berbeda satu sama lain, maka dalam proses belajar mengajar, seorang pendidik perlu memperhatikan faktor psikologi karena pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku yang diperolah melalui belajar mengajar, tidak dapat dipisahkan dari psikologi.

Guru sebagai pendidik/pengajar menjadi subjek yang mutlak harus memiliki pengetahuan psikologi sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik, setidaknya dalam meminimalisir kegagalan dalam menyampaikan mataeri pelajaran.


[1] Makalah BASOM Mata Kuliah Psikologi Pendidikan oleh Ev. Sang Putra Immanueal Duha, S.Th

[2] Psikologi Umum – Drs. Alex Subor, M,si

 

[3] Internet – Sumbangan Psikologi dalam pendidikan