TUHAN ADALAH BAPAKU

Pada jaman PL smpai kepada kedatangan Tuhan Yesus hampir tidak ada orang yang pernah berani mengatakan Allah sebagai Bapa. Kecuali beberapa nabi seperti Yesaya dan Yeremia. Walaupun di dalam beberapa kitab ada yang menggambarkan Allah sebagai Bapa orang Israel atau Allah sendiri menyatakan diri akan menjadi Bapa, tetapi orang pribadi tidak pernah bahkan tidak berani menyebut Allah sebagai Bapa. Bagi orang-orang yang hidup dalam perjanjian lama dan yang hidup di dalam hukum Taurat menganggap bahwa Allah terlalu kudus, sehingga untuk menyebut nama Yehova atau Yahweh (YHWH) mereka sering mengganti dengan Elohim, El, dll. Oleh karena itulah ketika Yesus menyebut Allah sebagai Bapa dan Dia berkata bahwa Dia adalah Anak, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menganggapnya sebagai suatu penghinaan kepada Allah.

Hal ini terjadi karena orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak mengenal sesungguhnya Yesus, juga tidak mengenal pribadi Allah yang sesungguhnya. Tetapi Yesus mengenal Allah karena Ia sendiri adalah Allah. Ia mengenal hati Allah sehingga Ia berani menyebut-Nya Bapa. Yohanes 1:18,”Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” Sebenarnya sebutan Anak kepada Yesus sangat erat kaitannya dengan manusia.

Ketika Yesus mengambil rupa seorang manusia maka Dia menjadi sama dengan manusia dengan tujuan agar manusia turut ambil bagian di dalam segala karya-Nya, dalam segala perbuatan-Nya. Mereka yang percaya dan menerima Kristus, akan mendapat bagian di dalam kematian-Nya, dapat bagian dalam Kebangkitan- Nya, dapat bagian dalam Kekudusan-Nya dan juga dalam Kebenaran-Nya. Oleh karena itu bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus, mereka telah dikuduskan dan dibenarkan. Dengan kata lain saudara dan saya sama kudus dan sama benarnya dengan Yesus. Dimata Allah saudara adalah orang-orang Kudus dan orang-orang benar oleh karena Kristus. Yohanes 17:19 dalam doa-Nya Yesus berkata,” dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun di kuduskan dalam kebenaran,” Juga 1 Korintus 1:30 berkata,”Tetapi oleh Dia kamu berada di dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”

Selain itu orang percaya juga mendapat bagian dalam identitas ke-anakan-Nya. Kristus disebut Anak dan Allah adalah Bapa-Nya supaya kita dapat bagian di dalamnya, sehingga kita disebut anak-anak Allah dan Allah adalah Bapa kita. Yohannes 1:12,”Tetapi semua orang yang menerima-Nya (Yesus-red) diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” (band 1 Yoh. 2:23) Jadi hubungan kita dengan Tuhan bukan hanya sekedar hubungan antara Allah dengan umat, pencipta dengan ciptaannya, bukan juga hanya seperti gembala dengan domba tetapi juga hubungan antara Bapa dengan anak. Inilah yang membedakan ke-kristenan dengan agama-agama lain. Kalau agama-agama lain mengandalkan perbuatannya melakukan hukum-hukum untuk mencapai keselamatan dan kebaikan, tetapi kekristenan mengandalkan iman atau kepercayaan kepada kasih dan anugerah Allah. Kalau agama-agama lain Allah mereka serasa sulit untuk di jangkau (dengan mencapai target yg ditetapkan untuk sembahyang beberapa kali dalam sehari atau dengan harus bertapa beberapa bulan) tetapi dalam kekristenan kita memperoleh kesempatan untuk bergaul karib atau berhubungan dengan akrab dengan Allah. Ini sungguh luar biasa.

Dalam beberapa kesempatan Yesus Kristus menyebut Allah Bapa sebagai Abba. Abba dalam bahasa Aramic artinya deddy (B. Inggris) ayah (B.Indonesia) bukan hanya sekedar bapa. Bapa belum tentu ayah tetapi ayah sudah pasti bapa. Abba atau Ayah menunjukkan garis keturunan. Abba menunjukkan dari mana seseorang berasal. Galatia 4:6,”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”(Band Roma 8:15) Karena kita telah menyatu dengan Kristus dan telah mendapat bagian dari identitas ke-anak-anNya, maka kita juga berhak memanggil-Nya Abba.

Ketika Yesus berdoa, Dia selalu mengarahkan doanya kepada Bapa. Dia menyebut Allah dalam doa-Nya sebagai Bapa atau Abba. Dan saat Dia mengajarkan murid-murid dalam hal berdoa dan meminta kepada Allah, Dia mengajarkan para murid untuk meminta kepada Bapa. Ini menjadi suatu pelajaran bagi kita bahwa apabila kita berdoa dan meminta kepada Allah dalam doa kita, hal yang sangat perlu kita sadari bahwa kita sedang berdoa atau meminta kepada Bapa kita. Bapa atau Abba yang mengasihi kita. Bapa yang perduli kepada kita. Bapa yang bangga jika memberi yang terbaik bagi kita sebagai anak-anak-Nya.

Matius 6:7-8,”Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepada-Nya.” Tidak sedikit orang berdoa dengan bertele-tele. Bahkan kita sendiripun mungkin terkadang terpengaruh dengan gaya doa yang bertele-tele. Ada orang yang berdoa sembari menyebutkan firman Allah seakan-akan mau mengingatkan Allah akan firman-Nya. Dikiranya Allah lupa barangkali dengan firman-Nya. Tidak sedikit orang berdoa seperti membuat suatu cerita atau naskah ; ada kata pengantar, pendahuluan, isi dan penutup. Tetapi firman Tuhan menegaskan, “janganlah kamu berdoa bertele-tele seperti kebiasan orang yang tidak mengenal Allah, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu meminta kepada-Nya.“

Bapa kita tahu apa yang kita perlukan. Sebagai ilustrasi, ada seorang bapa yang kaya mempunyai seorang anak umur kira-kira 1,5 tahun, karena dia sudah dapat berjalan dia ingin berinteraksi dengan dunia luar. Ketika dia mau berjalan-jalan di luar rumah atau halaman, kira-kira apa yang dipikirkan oleh seorang bapa atau ibu? Seorang bapa pasti berpikir bahwa si anak ini butuh sepatu sebagai alas kaki agar kaki si anak tidak cedera atau lecet. Walaupun si anak belum tahu meminta apa yang dia perlukan, tetapi karena ada ikatan batin antara bapa dengan si anak, si bapa melihat apa yang diperlukan oleh anaknya. Ketika si bapak pergi ke toko sepatu, si bapak diperlihatkan tiga jenis sepatu. Yang pertama sepatu yang biasa yang murah, kedua sepatu yang mahal tapi bagus dan yang ketiga sepatu yang lebih mahal lagi tetapi sepatu roda. Diantara tiga sepatu ini, dimanakah yang akan dibeli oleh si bapa? Melihat dari kebutuhan si anak maka yang diperlukan adalah alas kaki, artinya sepatu murahpun sebenarnya sudah cukup. Tatapi karena si bapa kaya, tentu dia akan membeli yang lebih bagus meskipun lebih mahal. Namun dia tidak akan membeli sepatu roda walaupun lebih bagus dan lebih mahal, karena si anak tidak membutuhkannya. Demikianlah Allah kita, Dia tidak hanya memberi apa yang kita perlukan tetapi lebih dari apa yang kita butuhkah supaya kita dapat menjadi berkat, supaya kita dapat menjadi saksi akan kebaikan Bapa. Bapa kita yang di sorga bangga memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya yaitu bagi saya dan saudara. Bukankah Allah telah membuktikan kasih-Nya bagi kita? Yang termahal dari segala yang mahal, yang teragung dari segala yang agung dan yang termulia dari segala yang mulia telah diberikan kepada kita yaitu AnakNya yang tunggal Yesus Kristus. Haleluya.

Tahukah saudara bahwa di dalam Yesus, segala yang kita butuhkan telah tersedia? Hanya satu warisan yang diberikan Bapa kepada kita, tetapi di dalam satu warisan ini segala yang kita butuhkan telah tersedia. Warisan itu adalah Yesus sendiri sebagai Anak Tunggal Bapa. Yoh.3 :35,”Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Juga Efesus 1:22,”Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Segala sesuatu telah diletakkan dibawah kaki Kristus untuk dikuasai-Nya, dan Dia adalah kepala sedangkan saudara dan saya adalah anggota tubuh-Nya. Kalau kita adalah anggota/bagian dari tubuh Kristus berarti apa yang diletakkan dibawah kaki Kristus, juga telah diletakkan dibawah kaki kita. Karena kita adalah bagian dari tubuh Kristus.

Masalahnya adalah mungkin kita tidak sepenuhnya mengetahui arti posisi kita di hadapan Allah, atau juga mungkin kita tahu tetapi terlalu sulit untuk meng-imaninya karena kita mengandalkan pikiran kita dan kekuatan kita. Masih banyak sebenarnya yang dapat kita gali dari firman Tuhan dalam hubungan Bapa-Anak antara kita dengan Allah. Tetapi hari ini, setidaknya kita telah mengerti sebagian dari firman Tuhan yang datang kepada kita, memberi pemahaman akan kedudukan kita dihadapan Allah. Oleh karena itu, ketika saudara berdoa, ingatlah bahwa saudara berdoa kepada Bapa, saat saudara meminta, ingatlah bahwa saudara sedang meminta kepada Bapa. Bapa yang mengasihimu, Bapa yang perduli persoalanmu, Bapa yang tahu kebutuhanmu, Bapa yang bangga memberi yang terbaik kepadamu. Firman Tuhan katakan di dalam Matius 7:11,”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Terpujilah Tuhan, Bapa kita yang baik.

Haleluya

St.L.Hutabalian

TUHAN ADALAH GEMBALA-KU (Bagian Ketiga)

Meskipun kita dalam gembalaan Tuhan, tidak berarti bahwa semuanya akan mulus-mulus saja perjalanan hidup kita. Ada kalanya kita mengalami pencobaan karena disebabkan banyak faktor. Kita hidup bersama-sama dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, orang-orang yang hatinya penuh kejahatan; pencuri, perampok, pemfitnah, orang yang iri hati, dll, namun demikian Tuhan akan selalu menolong kita. Karena itu Daud mengatakan ”sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Maz,23:4).

Untuk mendapat pengertian dari ayat 4 ini, kita perlu melihat sejarah dimana bangsa Israel dikenal sebagai peternak khususnya kambing-domba, lembu-sapi (Band: Kej. 46:32-34; Kej. 47:3). Mereka lebih dikenal sebagai peternak daripada petani oleh bangsa-bangsa lain.  Karena banyaknya ternak-ternak yang mereka miliki, maka rerumputan yang ada di dekat pemukiman akan cepat habis, karena itu para gembala harus membawa ternak mereka semakin jauh ke arah hutan untuk memastikan ternak-ternaknya mendapatkan rerumputan yang segar dan cukup. Tidak heran bila para gembala-gembala Israel sering tidak pulang dan bermalam di tempat penggembalaan. Kebiasaan ini masih berlaku hingga saat kelahiran Yesus, malaikat Tuhan menjumpai para gembala di padang penggembalaan pada malam hari (Luk. 2:8).

Ketika para gembala dan kawanan dombanya semakin dekat ke hutan, maka disana banyak ancaman yang akan dihadapi. Singa, Serigala dan binatang buas lainnya dari hutan akan mengincar ternak-ternak mereka. Karena itu para gembala selalu siap dengan gada dan tongkat. Gada adalah sejenis alat pemukul yang ujungnya besar. Di berbagai belahan dunia, gada ini memiliki macam-macam bentuk dan terbuat dari kayu atau besi. Seorang gembala pemilik akan berusaha menjaga domba-domba dari segala macam ancaman. Itu pula yang dilakukan oleh Daud ketika dia masih sebagai gembala domba (1 Sam.17:35-36). Sedangkan tongkat akan sangat dibutuhkan untuk mengait/menarik apabila ada domba yang tergelincir, masuk ke jurang atau terperangkap dalam semak. Baik gada dan tongkat juga berfungsi untuk menghalau domba-domba agar tidak keluar dari kawanannya. Bagi Daud, tindakan Allah sangat jelas yaitu menjaga kawanan domba itu dengan gada dan tongkat (Kekuasaan) yang dia miliki. Patutlah domba-domba merasa nyaman (terhibur).

Dalam Yohanes 10:11 Tuhan Yesus berkata:”Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-domba-Nya.” Tuhan Yesus tentu tidak sedang membual, tapi Dia sedang menjadikan ”gembala” sebagai tipe yang menggambarkan pengorbanan yang akan Dia lakukan bagi umat-umat-Nya sebagai domba-domba-Nya.  Seorang Gembala yang bertanggung jawab atas kebutuhan domba-domba, dan lebih daripada itu bertanggungjawab menjaga umat-umat dari segala ancaman yang membahayakan keselamatan dari umat.

Lomser Hutabalian

TUHAN ADALAH GEMBALA-KU (Bagian Kedua)

”Takkan kekurangan aku” berbicara tentang kecukupan atau terpenuhi. Daud percaya bahwa dia tidak akan pernah kekurangan apabila ia ada dalam penggembalaan Tuhan.  Dia sangat percaya bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang bertanggung jawab atas kehidupan domba-domba-Nya.

Dulu, dalam kurangnya pengenalan saya akan Tuhan, saya sering mengalami stress memikirkan kehidupan ini. Ketika anak saya yang kedua akan lahir, saya sedang dalam status PBB alias pengangguran besar-besaran. Terpaksa saya utang sana-utang sini untuk memenuhi biaya bersalin yang harus melalui operasi. Dalam keadaan yang susah itu, saya malah sering menggunakan akal pikiran saya yang terbatas ini untuk mimikirkan segala sesuatu. Saya sering berharap kepada manusia. Berharap hamba Tuhan melihat keadaan kami dan mengasihani kami. Tapi kenyataannya adalah kekecewaanlah yang saya dapat.

Ada masa sekitar dua tahun saya tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang jelas, ditengah tuntutan biaya hidup yang tinggi di perantauan. Tetapi saya bersyukur bahwa selama masa pengangguran ini, Tuhan kemudian membimbing saya untuk kembali kepada firman-Nya, dan semakin rajin untuk membaca firman Tuhan dan bersekutu dengan Dia. Saya diteguhkan dengan firman Tuhan (Maz. 37:25) :” Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.”

Hal yang luar biasa terjadi, Dia menuntun saya untuk mengambil tindakan apa yang harus saya ambil. Ide-ide mengalir dalam otak saya. Dan Saya belajar percaya sungguh-sungguh kepada-Nya. Dan semenjak itu kami tidak pernah kekurangan dalam kebutuhan sehari-hari; sandang dan pangan, karena ada saja jalan yang Tuhan tunjukkan, bahkan kadang-kadang diluar dugaan saya.

Daud menggambarkan tindakan Tuhan dalam memelihara domba-domba-Nya seperti gembala yang membaringkan di rumput yang hijau (fresh), membimbing ke air yang tenang, menyegarkan jiwa dan menuntun di jalan yang benar. Kalau mau dimaknai secara ”radikal”, ”membaringkan di rumput yang hijau” bisa berarti memberi kesempatan makan sambil berbaring. Ini pernah saya lihat. Sebagai mantan gembala kambing, saya melihat ada kalanya sang kambing berbaring nyamping, sambil mulutnya meraih rumput yang ada disekitarnya. Ini terjadi karena ada banyak rumput segar disekitarnya. Tentu yang dimaksudkan disini bukanlah menyuruh anak-anak Tuhan hidup bermalas-malasan, karena sang domba ketika berbaringpun, kepala dan mulutnya masih harus berusaha untuk meraih rerumputan yang ada disekitarnya.  Tapi yang dimaksud adalah bahwa Tuhan akan menolong dan mempermudah setiap usaha-usaha kita.  Intinya dari yang digambarkan oleh Daud adalah berkat yang selalu baru setiap hari, baik itu berkat jasmani dan juga berkat rohani.

St.LH

TUHAN ADALAH GEMBALA-KU (Bagian Pertama)


Mungkin bagi sebagian orang, pekerjaan seorang gembala dianggap sebagai pekerjaan yang hina dan dipandang sebelah mata, namun kalau kita merenungkan lebih dalam, tugas seorang gembala adalah tugas yang berat dan mulia. Karena jaminan kehidupan seluruh domba sangat bergantung kepada gembala. Oleh karena itulah raja Daud mengumpamakan Tuhan sebagai Gembala dimana jaminan kelangsungan hidup umat-umat sebagai domba sangat bergantung kepada-Nya.

Mazmur 23: 1-4 berkata :”..Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku dipadang yang berumput hijau, ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau bersertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

Daud, pada masa mudanya adalah seorang gembala domba. Oleh karena itu dia tahu betul bagaimana tugas seorang gembala, dan bagaimana hubungan antara gembala dengan domba-dombanya.. Dalam hal ini apa yang ditulis dalam kitab Mazmur bukan sekedar teori tetapi juga didasari oleh pengalamannya sendiri sebagai gembala. Tanpa gembala maka domba-domba akan tersesat, liar dan tidak tahu arah. Tanpa gembala tidak ada jaminan keselamatan bagi domba-domba terhadap serangan binatang buas, juga tidak ada jaminan terhindar dari pencurian.

Kata ”ku” pada gembalaku menunjukkan relasi yang sangat pribadi antara Daud dengan Tuhan.  Hubungan yang dekat dan rasa memiliki yang kuat. Umat Tuhan perlu mengalami sendiri pribadi Allah itu dalam hidupnya, sehingga kesaksiannya mendasar dan kuat, bukan berdasarkan pada ”kata orang” atau ”kata pendeta” saja.

Jujur, saya kadang merasa ”terganggu” mendengar ucapan jemaat ketika bersaksi di gereja yang mengatakan ”Tuhan Yang Maha Esa” untuk menyebut pribadi Tuhan itu. Sebutan Tuhan Yang Maha Esa adalah sebutan yang berlaku umum (general), dimana setiap orang beragama dan aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menyebut demikian. Tidak ada sesuatu yang terlalu istimewa dalam sebutan itu dibandingkan dengan agama-agama lain. Padahal dalam kekristenan kita mengalami keistimewaan dari Allah, dimana Allah kita berkenan untuk menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan, Gembala, Bapa dan Sahabat.

Tentu tidak ada yang salah dengan sebutan Tuhan Yang Maha Esa, karena memang Tuhan yang kita sembah adalah Esa adanya. Namun sebutan itu terlalu umum dan  tidak mencerminkan relasi yang specifik (dekat) dengan Tuhan.  Sebutan: ”Tuhan kita”, ”Bapa kita yang baik”, ”Tuhan, Gembala hidup kita”, dll., menunjukkan relasi yang spesifik dan dekat. (bersambung).

St.Lomser Hutabalian.

Saudara Adalah Utusan Allah

 

Suatu ketika Yesus menyuruh murid-muridNya untuk memberitakan Kerajaan Allah kepada orang-orang Israel saja. (Mat. 10:5) tetapi kemudian dalam amanat agung yang disampaikan kepada murid sebelum Dia terangkat ke surga, Yesus mengutus mereka untuk menjangkau semua bangsa (Matius 28:19 band. Kis. 1:8). Ini artinya bahwa adalah lebih baik berita keselamatan dimulai ditempat dimana kita berada dan dilingkungan terdekat kita yaitu keluarga. Tetapi tidak tertutup kemungkinan supaya kita menjangkau orang lain walaupun belum semua keluarga dapat terjangkau dan bertobat. Mengapa? Karena orang-orang yang dekat dengan kitalah yang mengenal kita sebelum bertobat. Mereka akan melihat perubahan yang terjadi dalam diri kita sebelum menerima keselamatan dan setelah menerima keselamatan. Perubahan itulah yang akan menguatkan pemberitaan kita kepada mereka.

Jadi kita mengemban tugas untuk memberitakan kabar baik (Injil) kepada dunia sejauh kita dapat jangkau, agar mereka tidak masuk dalam penghakiman. Dalam konteks jaman ini, tentu tidak semua kita dapat menjangkau seluruh bangsa-bangsa di seluruh negara, kota-kota sampai kepelosok-pelosok. Tetapi kita tetap diharapkan memiliki andil walaupun kita tidak dapat pergi menjangkau mereka. Oleh karena itulah kita perlu mengutus orang-orang yang mau memberi diri sebagai missionaris atau penginjil-penginjil atau setidaknya kita dapat membantu penginjil-penginjil yang telah diutus dengan dana misi, supaya mereka tidak terhalang menjalankan tugas penginjilan.


Roma 10:13-15: Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Sama seperti Yesus telah diutus Bapa untuk menyelamatkan dunia dan menggenapi seluruh nubuatan tentang Dia (Gal. 4:4 ; Luk. 4:18-19), demikian juga kita telah diutus memberitakan kabar baik tentang keselamatan itu bagi orang-orang yang belum percaya. Allah sangat merindukan semua manusia untuk diselamatkan oleh karena itulah Dia mengutus murid-muridnya termasuk kita sekarang ini, untuk menjangkau dunia dimulai dari tempat dimana mereka berada.

Saudara Adalah Terang Dunia.

 

Sebagai orang percaya kita juga disebut terang dunia yang menerangi dunia ini dengan cahaya kebenaran. Dalam Matius 5:14 Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya juga termasuk kepada kita bahwa kita adalah terang dunia. Terang yang kita miliki bersumber dari terang Kristus dalam persekutuan kita denganNya. Terang Kristus tidak hanya memungkinkan kita berjalan di dalam terang (kebenaran) tapi kita sendiri menjadi terang bagi orang-orang yang masih tinggal di dalam kegelapan. Yoh. 8:12 :“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

 

            Sama seperti kita ketika belum percaya dan belum mengenal kebenaran itu, demikian juga jiwa-jiwa masih banyak yang tinggal di dalam kegelapan. Orang yang tinggal di dalam kegelapan tidak dapat melihat apa yang benar dan yang berkenan kepada Tuhan. Orang yang tinggal di dalam kegelapan tidak memiliki kepastian dalam hidup. Oleh karena itu kita sebagai anak-anak terang harus bercahaya supaya mata rohani mereka dapat melihat kemuliaan Allah yang dapat mereka miliki dengan demikian mereka juga akan memuliakan Allah. Matius 5:16,“ Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.“ (Band. Filipi 2:15)

 

Yohanes 1:4-5 mengatakan:“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.“ Kristus tidak akan pernah dikuasai oleh kegelapan, demikianlah kiranya kita sebagai anak-anak terang. Justeru terang yang ada pada kita akan dapat memperlihatkan hal-hal yang tersembunyi di dalam kegelapan. Efesus 5:11 berkata :“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.“

 

             Kristus telah memberikan contoh ketika ia menelanjangi segala dosa dan kemunafikan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, demikianlah kita juga harus mampu menunjukkan hal-hal yang salah yang tidak sesuai dengan firman Allah walaupun memang kadang-kadang menyakitkan.

Saudara Adalah Garam Dunia.

 

           Semua kita mengetahui bahwa garam sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia. Garam berfungsi untuk memberi rasa pada hampir semua jenis makanan untuk menyedapkan makanan tersebut. Garam juga berfungsi untuk mengawetkan jenis makanan tertentu.

 

            Matius 5:13 berkata:”Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tida ada lagi gunanya selain di buang dan di injak orang.” Kita disebut garam dunia, itu artinya bahwa kita harus memberi rasa kepada dunia ini.

 

            Agar garam itu berfungsi memberi rasa atau mengawetkan, maka garam itu garus membaur dan larut dengan makanan itu. Hal ini berbicara tentang pengaruh yaitu garam itu mempengaruhi makanan itu sehingga menjadi sedap rasanya. Demikianlah kita diharapkan dapat mempengaruhi dunia ini dengan segala apa yang kita miliki dari Allah secara khusus hikmat, pengetahuan dan perbuatan, sehingga kehadiran kita membawa manfaat yang baik dimana kita berada.

 

            Namun kita tetap harus hati-hati. Karena sama seperti garam yang terlalu banyak akan membuat makanan terlalu asin dan garam yang terlalu sedikit akan membuat makanan menjadi hambar, dan keduanya akan menjadi sia-sia, demikianlah kehadiran kita sebagai garam dunia haruslah dalam kewajaran dan tidak terlalu sensasional. Artinya kita harus menempatkan diri sedemikian rupa agar kita beroleh kesempatan memberi pengaruh (rasa) kepada orang-orang disekeliling kita. Misalkan untuk memasak sayur, garam yang ditaruh kira-kira 1 sendok, sedangkan untuk mengawetkan, garam ditaruh 5-6 sendok. Nah, kalau komposisi garam ini terbalik, maka dapat dipastikan fungsi garam itu akan menjadi sia-sia.

 

            Kita boleh tampil alim sealim-alimnya ditengah orang yang sudah percaya, tetapi janganlah kita terlalu alim ditengah-tengah orang yang belum percaya karena sikap itu justeru akan membuat mereka menjaga jarak dengan kita, sehingga kita tidak mempunyai banyak kesempatan memasukkan pikiran-pikiran kita kepada mereka.

 

Saudara Adalah Anak-Anak Allah.

 

Dalam banyak firman Tuhan, Yesus disebut Anak Allah. Bahkan Dia sendiri menyebut diri-Nya sebagai Anak. Sebenarnya sebutan Anak kepada Yesus sangat erat kaitannya dengan manusia agar setiap orang yang percaya juga mendapat bagian dalam identitas ke-anakan-Nya. Kristus disebut Anak dan Allah adalah Bapa-Nya supaya kita dapat bagian di dalamnya, sehingga kita disebut anak-anak Allah dan Allah adalah Bapa kita.  Yohannes 1:12,”Tetapi semua orang yang menerima-Nya (Yesus-red) diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” (band 1 Yoh. 2:23; Galatia 3:6)

 

Jadi hubungan kita dengan Tuhan bukan hanya sekedar hubungan antara Allah dengan umat, pencipta dengan ciptaannya, bukan juga hanya seperti gembala dengan domba tetapi juga hubungan antara Bapa dengan anak. Dengan posisi kita sebagai anak, kita memperoleh kesempatan untuk bergaul karib atau berhubungan dengan akrab dengan Allah. Ini sungguh luar biasa. Tuhan bergaul karib dengan Allah. Ketika Yesus menyebut Allah sebagai Abba

 

Dalam beberapa kesempatan Yesus Kristus menyebut Allah sebagai Abba. Abba dalam bahasa Aramic artinya deddy (B. Inggris) ayah (B.Indonesia) bukan hanya sekedar bapa. Bapa belum tentu ayah tetapi ayah sudah pasti bapa. Abba atau Ayah menunjukkan garis keturunan. Abba menunjukkan dari mana seseorang berasal. Galatia 4:6,”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”(Band Roma 8:15) Karena kita telah menyatu dengan Kristus dan telah mendapat bagian dari identitas ke-anak-anNya, maka kita juga berhak memanggil-Nya Abba.

 

Ketika Yesus berdoa, Dia selalu mengarahkan doanya kepada Bapa. Dia menyebut Allah dalam doa-Nya sebagai Bapa atau Abba. Dan saat Dia mengajarkan murid-murid dalam hal berdoa dan meminta kepada Allah, Dia mengajarkan para murid untuk meminta kepada Bapa. Ini menjadi suatu pelajaran bagi kita bahwa apabila kita berdoa dan meminta kepada Allah dalam doa kita, hal yang sangat perlu kita sadari bahwa kita sedang berdoa atau meminta kepada Bapa kita. Bapa atau Abba yang mengasihi kita, yang perduli dan yang bangga memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya Matius 6:7-8,”Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepada-Nya.” 

 

Dalam suatu kesaksian, raja Daud pernah berkata : Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku dipadang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. (Maz. 23:1-2). Jadi karena nama-Nya yang agung, Ia bangga memberi yang terbaik bagi anak-anakNya, dan juga mau agar anak-anakNya bangga memiliki Bapa seperti Dia.

 

Yoh.3 :35 mengatakan :”Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya.” Ini artinya bahwa segala sesuatu yang telah diserahkan kepada Kristus, kita juga dapat bagian di dalamnya karena kita telah mendapat bagian dari identitas ke-anakan-Nya (Yoh. 1:12 & Galatia 4:6). Juga Efesus 1:22,”Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Oleh karena itu sebagai anak yang telah menyatu dengan Kristus, maka apa yang diletakkan dibawah kaki Kristus, kita juga mendapat bagian di dalamnya.

Kita Orang Merdeka.

 

Lukas 4:18-19:” Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Firman Tuhan ini adalah nubuatan nabi Yesaya tentang Yesus yang dibacakan oleh Yesus sendiri setelah genap waktunya. Dari firman Tuhan ini kita bisa melihat misi Kristus di dalam dunia yaitu untuk membebaskan atau memerdekaan orang-orang tawanan. Yang dimaksud dengan orang tawanan disini adalah bukan tawanan-tawanan yang ada dipenjara dalam arti yang sebenarnya, melainkan manusia yang tertawan dalam hukum dosa (Taurat) dan hukum maut (Hukum akibat perbuatan dosa) – Roma 8:1-2.

           

            Menurut ensiklopedia, Taurat atau Tora adalah kumpulan peraturan dalam tatanan sosial dan keagamaan yang ada ditengah-tengah masyarakat. Dalam perkembangannya, lima kitab Musa yang berisi tata upacara keagamaan dan tatanan kemasyarakatan diletakkan oleh Ezra menjadi dasar hukum yang mengatur tatanan kehidupan orang Yahudi setelah masa pembuangan. (Krn 450 sm, Neh. dan di ikuti kemudian dengan kitab para nabi. Dari sinilah dipercaya asal usul kelompok ahli-ahli Taurat, yang bertugas memelihara hukum-hukum itu dan mengajarkannya (Luk. 2:46; Yoh. 18:20).

 

            Karena Hukum Taurat telah menjadi landasan hukum orang Yahudi, maka ahli-ahli Taurat ini dipercaya untuk urusan hukum sebagai hakim-hakim di Mahkamah Agama (Matius 22:35; Mrk. 14:43,53; dst) Mereka juga menyampaikan keputusan-keputusan tidak tertulis seperti adat istiadat sebagai hukum sosial yang harus dikerjakan. (Mrk. 7:5). Keinginan ahli-ahli Taurat untuk menerapkan hukum Taurat dan adat-istiadat secara ketat cenderung melahirkan legalisme sehingga mengesampingkan kasih. Karena menurut mereka, untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan hidup harus mematuhi hukum taurat, kitab para nabi (yang juga mengacu pada cara berpikir Taurat) dan adat istiadat Yahudi dengan sempurna. Di dalam Taurat Allah lebih digambarkan sebagai pribadi yang tegas bahkan cenderung kejam dan minim kasih. Maka tidak heran mereka yang hidup ketat di dalam hukum Taurat menjadi orang yang kejam sama seperti rasul Paulus sebelum dia menjadi pengikut Kristus.

 

            Namun ternyata tidak satu orangpun yang dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna, termasuk ahli Taurat sendiri seperti yang disaksikan oleh rasul Paulus sendiri dalam Kis. 15:10 :”Kalau demikian, mengapa kamu mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk (hukum Taurat), yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita, maupun oleh kita sendiri?”  Oleh karena itu tidak satu orangpun yang dapat selamat dengan mengandalkan hukum Taurat.

 

            Untuk itulah juga Kristus menjadi manusia, untuk menggenapi dan memenuhi semua tuntutan hukum Taurat di dalam diri-Nya, sehingga manusia beroleh kesempatan untuk selamat tanpa harus memenuhi/melaksanakan hukum Taurat. Gal 3:13,’Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”

 

            Dalam suratnya ke jemaat Efesus, rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus telah membatalkan hukum Taurat. Efesus 2:15-16 :”sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.”  Karena Taurat telah dibatalkan, maka Taurat itu tidak lagi berlaku sebagai dasar hukum dalam menjalani kehidupan. Manusia telah bebas dimerdekakan dari ikatan hukum Taurat. Oleh karena itulah kepada jemaat di Galatia rasul Paulus berpesan agar mereka jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.  Galatia 5:1:”Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”

 

            Lalu, ketika hukum Taurat tidak lagi berlaku bagi kita, apakah itu berarti kita bebas melakukan apa saja sesuai dengan kehendak kita? Tentu tidak. Karena kemerdekaan yang kita terima dari Allah adalah kemerdekaan dari hukum Taurat, bukan kemerdekaan untuk melakukan kejahatan dan dosa. Kemerdekaan yang kita terima bukan merupakan tiket atau surat ijin untuk bebas melakukan apa saja yang kita kehendaki. Justru kemerdekaan kita dari hukum Taurat menjadi awal atau titik tolak untuk memiliki persekutan yang indah dengan Tuhan di dalam ketaatan. Dalam kemerdekaan, kita tidak lagi dibatasi aturan Taurat dan adat istiadat untuk berhubungan dengan Allah. Kita sudah bisa berbicara secara pribadi langsung kepada Allah dari hati ke hati.

 

            Telah kita pelajari bahwa ketika kita percaya dan menerima Kristus, kita menjadi ciptaan baru yaitu kita menerima roh yang baru yang berasal dari Allah yang memungkinkan Roh Allah/Roh Kristus tinggal di dalamnya. 2 Korintus 3:17 berkata:”Sebab Tuhan adalah Roh, dimana ada Roh Allah disitu ada kemerdekaan”.  Roh Allah yang ada di dalam kita itulah yang memerdekakan kita, dan Roh Allah itu pula yang kemudian menuntun kita untuk melakukan kehendak Allah dan firman Allah. 1 Korintus 2:10 &11 :”Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah…Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.”  Ketika kita tidak hidup oleh hukum Taurat maka kita hidup oleh Roh Allah. Orang yang hidup oleh Roh Allah, tidak menuruti keinginan daging (Galatia 5:16. Band. Tentang keinginan daging dan roh ; Galatian 5:17-23 & Roma 8:5-9).

Saudara Adalah Orang Benar

 

Tidak sedikit orang yang mengaku sudah lama menjadi orang kristen tidak mengerti identitasnya sebagai orang benar.  Mereka berupaya giat beribadah, juga giat mengikuti pelayanan-pelayanan bukan untuk mewujudkan ucapan syukur mereka kepada Tuhan, melainkan untuk menyandang predikat sebagai orang benar atau setidaknya supaya dianggap sebagai orang benar. Maka tidak heran sering kita mendengar orang berkata: “saya belum layak, kehidupan saya belum benar, saya belum pantas, saya begini, saya begitu, masa lalu saya hitam, dll” Tapi kita harus menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa ketika kita percaya kepada Kristus, dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru selamat dalam hidup kita, maka saat itu juga kita menjadi orang benar, betapapun hitam atau gelamnya masa lalu kita.

Ketika Yesus mengambil rupa seorang manusia maka Dia menjadi sama dengan manusia dengan tujuan agar manusia turut ambil bagian di dalam segala karya-Nya dan identitasnya. Mereka yang percaya kepada Kristus juga dapat bagian dari Kekudusan-Nya dan Kebenaran-Nya. Oleh karena itu bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus, mereka telah dikuduskan dan dibenarkan. Dengan kata lain dimata Allah saudara sama kudus dan sama benarnya dengan Yesus. Karena Yesus telah mengambil dosa kita dan memberikan kebenaran-Nya bagi kita. 2 Korintus 5:21,”Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Yohanes 17:19 dalam doa-Nya Yesus berkata,” dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun di kuduskan dalam kebenaran,” Juga 1 Korintus 1:30 berkata,”Tetapi oleh Dia kamu berada di dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”

Predikat sebagai orang benar ini adalah pemberian cuma-cuma dari Allah, bukan karena usaha kita atau karena kebaikan kita melakukan ibadah-ibadah atau karena keberhasilan kita meninggalkan kebiasaan masa lalu. Kebaikan apapun yang dilakukan oleh orang berdosa, tetaplah dipandang dosa karena penglihatan Allah yang utama bukan pada perbuatan baiknya melainkan pada statusnya sebagai orang berdosa. Jadi hanya karena anugerah Allah lewat penebusan yang dikerjakan Kristus kita dibenarkan. Roma 3:23-24 berkata :”Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”

Rasul Paulus adalah orang yang mempunyai keyakinan yang teguh kepada Taurat sebelum dia menerima Yesus. Fanastismenya kepada Taurat telah menjadikan dia seorang teroris yang membunuh banyak pengikut Kristus. Tetapi ketika dia mengenal Kristus, suatu kali dia berkata bahwa apa yang dulu dianggapnya keuntungan dianggapnya suatu kerugian atau sampah karena pengenalannya kepada Kristus. (Filipi 3:7-8). Tetapi kita lihat, bahwa Paulus tidak menjadikan masa lalunya yang jahat sebagai beban yang harus terus dipikul. Masa lalunya tidak membuat dia merasa bersalah dalam penyesalan yang berkepanjangan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena dia mempunyai keyakinan bahwa dia telah dibenarkan dan dosanya telah dihapus.

Yesaya 1: 18 mengatakan:”…sekalipun dosamu merah seperti kermiji akan menjadi putih seperti salju..” Jadi betapapun gelapnya masa lalumu, hitam pekatnya sepekat-pekatnya latar belakang kehidupanmu, detik dimana saudara percaya detik itu juga saudara menjadi orang benar dihadapan Allah.  Let by gone be by gone

Saudara Adalah Ciptaan Baru

 

Ketika Allah menciptakan segala sesuatu, firman Tuhan katakan bahwa semua baik. Manusia diciptakan dengan kemuliaan Allah dalam kekudusan dan kebenaran.  Tetapi ketika manusia yang pertama itu jatuh kedalam dosa, mereka kehilangan kemuliaan Allah demikian juga keturunannya. Kejadian 2:17 yang berkata,”pada hari engkau memakannya, engkau akan mati”, tidak berarti mereka akan mati secara jasmani melainkan secara rohani dimana mereka akan menjadi terpisah dari Allah. Dosa manusia pertama sesungguhnya adalah bukan dosa ketidakpatuhan melainkan dosa ketidak percayaan. Ketika iblis menggoda dia, dia lebih percaya kepada perkataan iblis daripada perkataan Allah sehingga ia memakan buah terlarang itu. Ketidak percayaan itulah yang membuat Adam dan Hawa tidak patuh pada perkataan Allah untuk tidak memakan buah terlarang itu.

           

Tetapi karena kasih Allah yang besar, Dia mau mengembalikan hubungan yang terputus dengan manusia, sekaligus mengembalikan hakekat kemuliaan dan kekudusan manusia itu. Untuk itulah Dia mengutus Pribadi Kristus sebagai penebus dosa manusia untuk memulihkan hubungan antara Allah dengan manusia. Namun sama seperti Adam dan Allah berdasarkan pada hubungan kepercayaan, demikian juga antara manusia dengan Kristus. Yohanes 3:16,”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

 

2 Korintus 5:17,”Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ayat ini menunjukkan bahwa ketika seseorang percaya kepada Yesus, maka pada saat itu terjadi “penciptaan kembali” dalam diri manusia. Namun yang diciptakan kembali bukanlah daging dan jiwa melainkan roh manusia itu. Menurut 1 Tesalonika 5:23, kita adalah suatu makhluk yang terdiri dari tiga bagian yaitu tubuh, jiwa dan roh. Roh manusia inilah yang diganti dengan roh yang baru dan yang kudus, yang berasal dari Roh Allah yang memungkinkan Roh Allah berdiam di dalamnya. Epesus 4:24,“Dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.“. Bandingkan Yohanes 3:5-6,” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.”  Juga 1 Korintus 3:16 :”Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Jadi di dalam roh kita yang baru itulah dimungkinkan Roh Allah berdiam dan membawa serta segala kebaikan-Nya ke dalam roh kita.